Catatan Perjalanan menuju Museum ‘Keris’ Neka Ubud

3

Category : tentang PLeSiran

Hari masih pagi ketika kami melintasi ruas jalan Jagapati Tinggas kecamatan Abiansemal dalam perjalanan menuju Museum Neka Ubud, minggu 18 Juli 2010 kemarin. Beberapa semeton Yowana yang sempat dihubungi ada yang sudah mencapai daerah Sayan, ada juga yang masih berada di Darmasabha.

Kali ini kami berangkat bertiga dalam satu kendaraan. Saya, Bapak dan Mahendra Sila, adik sepupu saya. Bapak saya ajak lantaran Beliau begitu dekat dengan Uwe Sutedja Neka, pemilik Museum Neka dan juga karena saya janjikan Beliau untuk diajak mampir di Geriya Peliatan. Adik sepupu saya ajak ikut serta mumpung kesibukannya di sekolah sudah mulai senggang. Dua semeton lain, Pande Donny dan Dek Jun Pande membatalkan keikutsertaan mereka lantaran kesibukan kerja yang tidak bisa dihindarkan.

Sempat pangling ketika kendaraan masuk wilayah Pengosekan dan Peliatan Ubud. Lama sudah saya tak pernah lagi melewati daerah ini. Banyak yang berubah, termasuk angkul-angkul pintu masuk Geriya Peliatan yang kini tampak lebih gagah. Bersyukur saya menggunakan Pura Penataran Pande Ubud sebagai patokan, yang kebetulan berada tepat didepan Geriya Peliatan, jadi lebih mudah ditemukan.

Kami meluncur beriringan sekitar 7 kendaraan menuju Museum Neka Campuhan tepat pukul sepuluh pagi. Lokasinya tidak begitu jauh dari Geriya Peliatan, sekitar 4,4 km dekat jalan menuju Museum Blanco. Rombongan diterima langsung oleh Uwe Sutedja Neka yang rupanya telah menanti kami sejak pukul 9 pagi. Untuk kegiatan ini Beliau secara khusus mengundang Prof. Dr. Pande Kt. Tirtayasa, Msc seorang guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana yang kebetulan sempat menulis tentang Prapen dan juga tentang (gagang) Keris yang ditinjau dari segi ilmu Ergonomi.

Setelah dipersilahkan untuk menikmati snack, sedikit perkenalan dan silaturahmi temu kangen, kami diajak turun kelantai bawah untuk mendengarkan pengantar dari Uwe Sutedja Neka tentang keris dan sejarahnya. Di sela pemaparannya, Beliau bahkan sempat mendemonstrasikan tentang ‘keseimbangan’ yang dimiliki oleh setiap keris yang dibuat oleh seorang Mpu Keris (sebutan bagi mereka yang membuat Keris). Dalam kesempatan ini pula Yande Putrawan, Dancuk (komanDan puCuk ; meminjam istilah dari Anton Muhajir, Bapak Blogger Bali) Yowana Paramartha Kodya Denpasar menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami serta memohon jadwal terkait kunjungan resmi bulan Agustus ditambah kesediaan Uwe Sutedja Neka kembali berbagi pengetahuan kepada Generasi Muda Pande nanti.

Sebagai ungkapan rasa bangga Sutedja Neka pada kami generasi muda Warga Pande,  Beliau mengajak untuk melihat dan bercerita tentang Keris secara lebih nyata di ruang Galeri. Disini kami bisa lebih bebas untuk bertanya tentang apapun yang berkaitan tentang Keris dimana (untungnya) Beliau menjawab sekaligus menunjukkan beberapa contoh nyata sesuai dengan apa yang kami tanyakan.

Sebelum pamit, kami dibekali satu buku sejarah tentang Keris yang barangkali nanti akan saya rangkum dalam sebuah tulisan bersambung agar bisa dibaca dan dinikmati oleh Semeton Pande maupun masyarakat secara luas.

Jujur saja. Jika dahulu saya sempat menulis tentang “Kadang Saya Malu Mengaku ‘nak PanDe”, kini setelah semua yang saya alami selama tiga bulan terakhir membuat saya dengan percaya diri mengatakan bahwa “Saya Bangga menjadi ‘nak PanDe”. Semoga apa yang kami jalani kedepannya dapat memberikan kebanggaan bagi semua pihak. Salam dari PuSat KoTa DenPasar.

GooGLe adopsi BackGround Image Microsoft Bing

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Ngomong-ngomong, pernah dengar Microsoft Bing gak ?

Menurut Wikipedia, Microsoft Bing  itu merupakan sebuah mesin pencari (search engine) website yang bernaung di bawah bendera Microsoft. Bing adalah bentuk reinkarnasi yang dilakukan Microsoft terhadap ketiga mesin pencari produksinya terdahulu, yakni Live Search, Windows Live Search, dan MSN Search. Produk mesin pencari yang baru ini secara resmi dilucurkan pada tanggal 3 Juni 2009 menggantikan mesin pencari sebelumnya, yaitu Live Search. Bing diciptakan dengan menggunakan suatu teknologi, yakni teknologi PowerSet. Teknologi ini memungkinkan pengguna untuk memperoleh hasil pencarian yang lebih akurat.

Saya pribadi mengenal Bing kurang lebih kuartal ketiga tahun 2009 dari sebuah tabloid lokal dan sempat mencobanya beberapa kali. Satu hal yang kemudian menjadi ciri khas Bing adalah adanya fitur Interface Features. Fitur Interface ini menampilkan gambar background yang akan terus mengalami perubahan setiap harinya. Gambar yang ditampilkan ini merupakan gambar yang unik dari seluruh dunia. Gambar background yang ditampilkan ini juga dilengkapi dengan informasi berkenaan dengan gambar tersebut. Gambar background pada mesin pencari ini bersifat fleksibel, artinya dapat diaktifkan dan dinon-aktifkan.

Ide Interface Features inilah yang kemudian diadopsi oleh GooGLe sebuah mesin pencari (search engine) website yang sudah familiar dikenal orang selain Yahoo. Saya pribadi mengetahui kabar ini kurang lebih awal tahun 2010 lalu, kalau tidak salah dari KoRan FesBuk yang rajin memberikan informasi terkini secara berkala lewat jejaring sosial pertemanan FaceBook.

Untuk dapat mengaktifkan fitur ‘Background Image’ pada mesin pencari GooGLe, diperlukan satu syarat mutlak yaitu akun email GooGLe.

* *

Caranya, Login terlebih dahulu dengan akun email tersebut, kemudian akses alamat mesin pencari milik GooGLe dan arahkan pointer mouse ke bagian kiri bawah halaman. Disitu akan muncul tulisan ‘change background image’. Adapun image/gambar/foto yang dapat digunakan adalah yang disediakan secara default, dari pc atau laptop hingga akun album Picasa yang dimiliki. Agar image/gambar/foto dapat ditampilkan dengan baik pada halaman GooGLe, disarankan agar memenuhi syarat resolusi minimal 800×600 pixel.

Salah satu daya tarik GooGLe dibandingkan mesin pencari Yahoo adalah ketiadaan iklan ataupun puluhan images yang kadang tidak dapat ditampilkan dengan baik ketika koneksi menurun. Sayangnya kesederhanaan tampilan yang disajikan GooGLe kadang menimbulkan rasa bosan walaupun logo GooGLe kerap berganti-ganti sesuai tema atau event yang berlaku saat itu. Dengan adanya fitur ‘BackGround Image’ ini diharapkan masing-masing pengguna (dibedakan menurut akun email) dapat menikmati halaman GooGLe secara lebih personal dan menarik.

Mau mencobanya ?

AirHeads

Category : tentang InSPiRasi

Ngomong-ngomong soal Film, sebetulnya ada satu film yang sudah lama menjadi incaran bahan tontonan dan rupanya Tuhan baru mengabulkannya setelah berselang 16 (enam belas) tahun. Benar, enam belas tahun. AirHeads.

Sebuah film yang menceritakan tentang usaha grup band ‘The Lone Ranger’ (yang mengundang tanda tanya lantaran beranggotakan 3 musisi) untuk mengembalikan nafas Rock n Roll sebuah stasiun radio KPPX-FM Rebel Radio 103.6 dengan memaksa memutarkan demo musik mereka. hal itu dilakukan lantaran stasiun radio tersebut belakangan mulai berpindah aliran ‘sedikit lembut dari biasanya. Aksi ketiga musisi tersebut dilakukan dengan cara membajak dan menyandera pimpinan beserta karyawan stasiun radio berbekal senjata mainan.

Pertama kali saya menontonnya kalau tidak salah tahun 1994, saat masih bersekolah di SMAN 6 Denpasar. Dari film ini pula saya kemudian mengenal nama sebuah band aliran hardcore ‘White Zombie’ yang kedapatan tampil pula ditengah film tepatnya ketika polisi mencari tahu keberadaan pacar salah satu musisi ‘The Lone Ranger’ tersebut. Beberapa nama band yang ikut serta dalam barisan soundtrack album AirHeads ini adalah Motorhead, 4 Non Blondes, Primus, Anthraz dan Ramones. Grup band metal yang pernah eksis di masa itu.

Saya sendiri belakangan baru menyadari bahwa para aktor yang terlibat dalam film AirHeads malahan saya kenal dari film lain seperti Wedding Singer (Adam Sandler), George of The Jungle (Brendan Fraser) dan Godfather III (Joe Mantegna yang saat itu berperan sebagai bos mafia Joey Zaza). Tak hanya itu, saat berkesempatan menontonnya kembali, saya masih sempat tertawa ngakak ketika musisi ‘The Lone Ranger’ mendapatkan telepon dari dua tokoh kartun terkenal ‘Beavis and Butthead’ yang juga (harap dicatat) belakangan dibuat versi ‘the Movie-nya (tahun 1996) dan mencatatkan nama-nama sekelas Red Hot Chili Peppers, White Zombie, Rancid, AC/DC dan si dewa Ozzy Osbourne sebagai musisi pengiring dalam film tersebut.

Rupanya memerlukan waktu selama enam belas tahun, Tuhan baru berkenan dengan kemurahan hati-NYA mengabulkan impian saya yang sudah berusaha mencarinya disetiap rental video yang saya temui. Plus penyedia video dunia maya seperti YouTube dan situs file sharing lainnya. Tidak sengaja sebenarnya yaitu saat menunggu jam pulang hari terakhir Pendidikan LPSE di Jakarta beberapa waktu lalu. Bersyukur saya bisa menontonnya sedari awal hingga selesai film dengan kepuasan setara ejakulasi berkali-kali. Ups Maaf…

Percaya atau tidak saya bahkan masih menyimpan kaset album soundtrack film AirHeads dan masih berusaha mencari versi digitalnya di dunia maya. Bagi yang punya boleh dong dibagi link-nya.

Menikmati Jatah Sisa Penghobi (nonton) Film

12

Category : tentang KeseHaRian

Entah satu kebetulan atau tidak, sehari setelah publikasi tulisan Sialnya Penghobi (nonton) Film, saya dihubungi pihak ZeeneMax Gatsu yang kemudian menyatakan bahwa akun saya telah dipindahkan ke ZeeneMax lain dan menutup Rental Video pilihan terakhir saya tersebut. Masih ada sekitar 21 judul yang bisa dinikmati hingga tanggal 8 Agustus nanti. Seakan tidak ingin membuang kesempatan, saya segera meluncur ke salah satu ZeeneMax terdekat dan mencoba kembali berburu film sebagai bahan tontonan berikutnya.

ZeeneMax rupanya memberikan opsi jumlah maksimal yang boleh dipinjam dalam sekali waktu yaitu 8 judul film. Dari kuota yang diperbolehkan saya memutuskan untuk membaginya dalam beberapa jenis tema yaitu lokal dengan tema serius, lokal yang saya duga bakalan asal-asalan, komedi luar serupa aktingnya Adam Sandler barangkali, film box office rilis dua tiga tahun lalu dan satu dua film baru.

Jujur, saya sempat tidak percaya ketika melihat begitu banyak pilihan film lokal Indonesia yang diproduksi selama dua tahun terakhir. Sayangnya kendati secara kuantitas jumlahnya cukup lumayan, saya yakin tidak demikian halnya dengan kualitas film tersebut, baik ditinjau dari tema ataupun sinopsis singkat yang tertera di cover belakang film. Rata-rata masih berkiprah pada jenis Horror (yang berkembang menjadi pengumbar syahwat) seperti Kain Kafan Perawan atau Raped By Saitan dan jenis komedi (yang lebih banyak meniru film sejenis produksi luar).

Dari banyaknya pilihan tersebut, saya mengambil ‘Cinta Setaman’ yang menampilkan Lukman Sardi, Nicholas Saputra dan Slamet Rahardjo yang sekiranya saya duga sebagai salah satu karya lokal yang ‘agak’ serius. Sebaliknya yang agak ‘kurang serius dengan tema, saya memilih ‘Air Terjun Pengantin’ dengan alasan sederhana, penasaran dengan penampilan para aktrisnya. Hehehe… ada juga ‘Serigala Terakhir’ yang kabarnya punya tema Action menarik.

Untuk tema komedi produksi luar saya memilih ‘Run FatBoy Run’ sebuah film yang sebetulnya memiliki tema sederhana namun dipilih gara-gara ‘yang sempat saya tonton hanya sebagian saat beristirahat malam disela pendidikan LPSE kemarin. Penasaran juga ingin tau cerita awalnya. Hehehe… Pada awalnya saya pikir film ini merupakan film lama yang tidak masuk dalam hitungan box office, lha ternyata ketemua jua di ZeeneMax kali ini.

Entah karena keteledoran penjaga atau bisa jadi karena saya ceroboh tidak memeriksa kembali film pesanan yang diambil, satu film lama yang sebenarnya ingin saya tonton adalah si Bajak Laut Carribbean jilid 3. Akan tetapi yang diberikan malah sebuah film Thriller berjudul Séance. Baru nyadar pada saat melakukan aksi copy film kedalam hard disk laptop. Sempat bingung juga jadinya.

Ada juga ‘Paranormal Activity’ yang saya ambil atas review filmnya Eka Dirgantara di midnightshadow.info bersama ‘3 Idiot’ sebuah film India yang kabarnya punya kualitas diatas rata-rata. Ditambah satu film dokumenter milik grup band Slank yang dahulu pernah menjadi musisi favorit, tepatnya album yang dirilis sebelum Minoritas.

Delapan buah film minus satu yang tidak diharapkan sudah siap menjadi bahan tontonan seorang Penghobi (nonton) Film dalam waktu dekat. Mau menontonnya bareng ?

Ancaman Serius Ledakan Tabung Gas Elpiji 3 Kg

7

Category : tentang Opini

Sempat tergelitik dengan karikatur Wahyu Kokkang yang disajikan Jawa Pos terkait maraknya ledakan akibat tabung gas elpiji 3 Kg (produksi dalam negeri-pertamina- dan sudah teruji berkali-kali) yang disandingkan dengan bom rakitan sendiri para teroris. Miris memang.

Bukan sekali dua saja bangsa ini dihebohkan dengan pemberitaan sejumlah media ketika tabung gas elpiji 3 kg meledak dan menghancurkan rumah tinggal warga. Malah kalau tidak salah sudah mencapai hitungan tiga puluhan kasus. Bayangkan, berapa besar kerugian warga baik secara materi maupun fisik.

Tampaknya konversi minyak tanah menjadi elpiji yang dicanangkan pemerintah belum dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Entah karena minimnya sosialisasi cara penggunaan, pengamanan hingga cara mengatasi masalah yang dipicu oleh tabung gas elpiji tersebut atau barangkali bisa jadi lantaran kualitas tabung gas elpiji itu sendiri yang kabarnya rentan dipalsukan.

Sangat disayangkan memang apabila Pemerintah kurang menanggapi kasus ledakan tabung gas elpiji ini. Padahal untuk menyukseskan sebuah program yang pernah dijalankan jauh sebelumnya, sebenarnya tidak lepas dari pengawasan dan pembaharuan teknologi yang seharusnya tetap berjalan hingga kini.

Ditemukannya cara pengamanan terkini untuk mencegah kebocoran gas seperti pemberitaan yang ditayangkan oleh sebuah sebuah stasiun televisi tempo hari sebenarnya dapat menjadi contoh atau bahkan solusi bagi pemerintah untuk lebih menggalakkan sosialisasi maupun pemahaman pada masyarakat terkait penggunaan tabung gas elpiji 3 kg. Hal ini saya rasa wajar dan barangkali harus dilakukan karena belum semua masyarakat mengetahui bagaimana cara penggunaan, pengamanan hingga cara mengatasi masalah yang ditimbulkan. Tidak mudah memang untuk mengubah kebiasaan masyarakat yang sudah kadung nyaman menggunakan minyak tanah ketimbang gas.

Jangan Bugil didepan Lensa Kamera

5

Category : tentang Opini

Permohonan maaf yang dilontarkan oleh dua artis cantik terkait dugaan keterlibatan mereka dalam skandal video porno beberapa hari lalu sesungguhnya bisa dikatakan sudah sangat terlambat. Bagaimana tidak ? sekian lama mereka berusaha untuk tetap kukuh pada pendirian dan tidak mengakui akan dugaan ‘kemiripan’ yang menjadi isu masyarakat. Baru meminta maaf setelah status mereka berdua di’naik pangkatkan menjadi ‘Tersangka. Sangat disayangkan memang.

Kendati demikian, yang seharusnya lebih disayangkan adalah pemberitaan media (baca: Info’TAI’ment dan sejenisnya setiap hari tiga kali sehari) yang seakan-akan men-judge mereka (Ariel PeterPan, Luna Maya dan Cut Tary) sebagai bintang film porno yang siap menghancurkan moral bangsa ini. Padahal jujur nih, kalo memang dikatakan mengancam moral bangsa, kenapa lokalisasi gak dibasmi dan dilarang ? kenapa Dolly atau bahkan tempat-tempat elit yang tersebar di seantero kota besar dan menawarkan paket syur gak diblokir sekalian ? mereka semua malah aman-aman saja… Malahan salute saya berikan pada mereka bertiga karena pada akhirnya mau mengaku salah atas perbuatan yang mereka lakukan. Berbeda dengan para pejabat yang sudah ketahuan korupsi tapi malah mengelak dengan sejuta alasan sakit.

Apa yang terjadi pada ketiga artis kenamaan negeri ini bisa saya katakan ‘hanya kebetulan saja karena oknum yang terlibat dalam video porno tersebut sudah dikenal banyak orang dengan mudahnya. Padahal diluaran ada puluhan bahkan ratusan video porno lokal yang bisa didapatkan dengan mudah hanya saja akan sangat sulit mencari identitas asli mereka. gak percaya ?

Coba main ke warnet-warnet yang ada disekitaran rumah, hunting pada data server mereka dan temukan puluhan bahkan ratusan video porno lokal yang dibuat dengan berbekal kamera video amatiran. Saya yakin sebagian besar dari video-video tersebut dibesut dari kamera ponsel yang memang bisa didapatkan dengan harga yang murah. Ciri khas yang paling kentara adalah durasi kisaran rata-rata 10 detik, ukuran file yang dibawah 100 kb untuk sebuah format 3gp ataupun frame rate yang terputus-putus dan dimensi video standar kamera.

Makanya sungguh sangat disayangkan apabila kemudian ketiga artis tersebut di-cap sebagai perusak moral bangsa. Padahal ada banyak artis lainnya yang malah secara terang-terangan memproduksi dokumentasi digital berbau porno baik foto dan video yang malahan sama sekali tidak tersentuh hukum.

Ada satu pelajaran berharga yang sebenarnya dapat dipetik dari skandal video ini. Jangan bugil didepan lensa kamera.

Ketika memutuskan untuk bugil didepan lensa kamera, baik berupa gambar statis maupun bergerak, entah besok atau satu hari nanti apa yang terekam dalam media tersebut saya yakin bakalan terekspose jua secara luas. apalagi kalo sampai media yang digunakan untuk mengambil gambar tersebut berpindah tangan ke orang lain, dalam usaha perbaikan sekalipun.

Pernah membaca tulisan saya terkait usaha untuk mengembalikan data yang telah terhapus/dihapus dengan bantuan sebuah aplikasi PCI File Recovery yang sangat mudah digunakan oleh orang awam sekalipun ? belajarlah dari situ.

Anda boleh-boleh saja (Maaf) berhubungan Seks dengan siapa saja, tapi jangan sekali-sekali merekamnya dalam bentuk media apapun. Sekali melakukannya, siap-siap saja untuk menghadapi masalah seperti yang dialami oleh ketiga artis kenamaan tersebut. Penyesalan yang tiada guna akibat kecerobohan yang seharusnya sudah saatnya disadari.

Keseimbangan Iwan Fals meretas Tahun 2010

4

Category : tentang InSPiRasi

Dari 12 (dua belas) lagu yang ditawarkan Iwan Fals dari album terbarunya Keseimbangan, ada 3 (tiga) yang sudah familiar saya dengar. Tiga lagu ini kalau tidak salah pernah didendangkan saat Iwan tampil di layar televisi swasta. ‘Suhu’, ‘Aku Menyayangimu’ dan ‘Kuda Coklatku’. Sayangnya saya agak kurang sreg dengan aransemen musik yang mengiringi ‘Suhu’. Kurang nyambung menurut saya. Bisa jadi lantaran saya lebih suka apabila ‘Suhu’ hanya diiringi dengan gitar bolongnya mas Iwan saja seperti yang dahulu ditayangkan. Selain tiga yang sudah familiar ada tiga lagu lagi yang saya suka saat pertama kali mendengarnya. ‘Ayolah Mulai’, ‘Sepakbola’ dan ‘Jendral Tua’.

Keseimbangan merupakan album terbaru milik Iwan Fals yang dirilis pada pertengahan tahun 2010 ini. Kalo tidak salah ingat ini adalah album yang ke-27, atau bahkan lebih ? satu jumlah yang fantastis untuk ukuran Artis Indonesia juga kalau disandingkan di tingkat dunia. Jumlah album tersebut belum termasuk dengan (kalau tidak salah) 5 album kolaborasi dengan musisi lain seperti Kantata, Swami dan Dalbo. Juga belum termasuk dengan album mini yang hanya menghadirkan satu dua lagu baru dan sisanya diramaikan oleh musisi lain, seperti Terminal, Lagu Pemanjat atau Mata Hati. Dalam versi media kasetnya saya sendiri memiliki sekitar 20-an buah yang masih tersimpan dalam kondisi baik saat ini.

Seperti yang pernah saya ceritakan dalam tiga tulisan tentang Iwan Fals, masa vakum pasca album Orang Gila (1994) hingga penampilan pertama mas Iwan dengan wajah baru (2002), saya sudah mulai jarang menyelami karya-karyanya jauh lebih dalam. Hanya mendengarkannya sepintas begitu saja. Dari satu album yang dirilis paling hanya satu dua lagu saja yang saya suka dan kerap nikmati. Ini jelas satu kebiasaan yang jelas jauh berbeda dengan saat mas Iwan dalam keadaan jaya di tahun 1990-an. Adapun yang album yang menjadi favorit saya hingga kini adalah Cikal (1991) dan Hijau (1993).

Iwan Fals memang sosok yang pantas untuk dikagumi. Terlepas dari karyanya yang terkenal kerap memicu kontroversial. Beberapa teman yang saya jumpai di situs jejaring sosial FaceBook bahkan dengan terang-terangan menyatakan bahwa mereka memang menyukai sosok musisi Indonesia satu ini. Seorang Iwan Fals tampil dengan penuh kesederhanaan dan kharisma yang bersahaja, berteriak lantang dalam nyanyiannya yang multi tema, sedikit mengingatkan saya pada sosok Phil Collins si pelantun tembang Everyday yang easy listening itu.

Ohya, bagi yang mengaku penggemar sejatinya, tiga hari terakhir saya ada menemukan alamat blog PlayList Indo yang menyediakan 4 (empat) buah album lama milik mas Iwan Fals loh. Saya sendiri malah gak punya versi kasetnya. Album Canda dalam Nada (1979), Canda dalam Ronda (1979), Perjalanan (1980) dan 3 Bulan (1981). Kebetulan salah satu tembangnya ‘Perjalanan’ pernah pula dilantunkan mas Iwan di sebuah stasiun televisi swasta saat Lebaran tahun 2008 kalo gak salah. Bagi yang mau mengunduhnya siapkan saja koneksi yang memadai. Total ukuran filenya 95,2 MB untuk keempat album tersebut. Hehehe…

Bersantai di Tukad Yeh Penet Desa Ayunan

Category : tentang PLeSiran

Ada sedikit kekhawatiran dalam benak ketika kendaraan kami mulai memasuki wilayah Desa Penarungan. Memilih akses melewati ruas jalan Ayunan – Cengkok yang kalau tidak salah masih dalam kondisi rusak berat sama saja dengan membunuh kendaraan kami secara pelan-pelan. Maka dengan percaya diri saya mengambil akses ruas jalan Blahkiuh – Kedampal yang baru saja selesai diaspal. Sayangnya kendati pada ruas jalan tersebut kendaraan dapat melaju dengan mulus, tidak demikian ketika berbelok menuju ruas jalan Blahkiuh – Ayunan yang rupanya selain berkelok-kelok, kondisinya pun malah jauh lebih parah dari ruas jalan Ayunan tadi. Waaaahhh… kacau !!!

Istri, MiRah putri kecil kami dan saya, diundang oleh rekan kerja seruangan Istri ke Desa Ayunan untuk ikut serta menemani putrinya yang baru saja naik kelas, bermain di sungai dekat kampung mereka. Berhubung hari Jumat adalah hari pendek, sepulang kerja kami memutuskan untuk berangkat bertiga dengan kendaraan kijang lama menuju wilayah Desa Ayunan dengan membawa serta sedikit bekal camilan.

Kami sampai dilokasi hampir bersamaan dengan keluarga kecil Desak Bobo, rekan kerja Istri yang rupanya juga mengajak serta putri kecilnya Tita dan sang suami. Akhirnya ada temannya nih. Wajar saja saya khawatir ketika mendapatkan tawaran ini, karena perkiraan saya tidak semua suami akan mau ikut serta mendampingi istri dan anak-anak mereka mengingat pekerjaan dan waktu yang dimiliki berbeda satu sama lainnya.

Tukad Yeh Penet yang akan menjadi tujuan kami hari itu, letaknya tidak jauh dari Banjar Griya, kampung Bu Dayu Putri, rekan kerja seruangan Istri. Tinggal berjalan kaki kurang lebih seratusan meter melewati abian atau lahan perkebunan tetangga, jalan desa dan akhirnya jalan setapak yang masih berupa tanah dan bebatuan.

Jujur saja, dengan berat badan saya yang sudah melewati angka 1 kuintal, ditambah MiRah yang tidak bisa diam dalam gendongan cukup membuat saya frustasi dengan sulitnya medan yang harus kami lalui. Selain licin, tingkat kecuraman antar tangga batu satu sama lain tidak senyaman yang kami bayangkan. Diperlukan nafas dan stamina yang tidak biasa agar kami bisa sampai dibawah dengan selamat.

Jernihnya air yang kami harapkan mengalir di sepanjang alur Tukad Yeh Penet rupanya tidak dikabulkan oleh-Nya. Derasnya hujan yang mengguyur daerah sekitar pagi harinya membuat lapisan tanah ikut hanyut dan bercampur dengan air sungai hingga mengubah warna menjadi cokelat. Kepalang tanggung, lantaran sudah sampai dengan selamat dan berpeluh serta menyaksikan wajah MiRah yang sumringah melihat aliran air sedemikian banyak, kami memutuskan untuk tetap terjun dan berendam di hilir aliran sungai.

Setelah mengabadikan beberapa pose yang ‘menantang’ sesuai pesanan, saya sendiri memilih untuk duduk di atas sebuah batu besar ditengah sungai dan mulai mengambil beberapa gambar pemandangan alam dan beberapa ekspresi unik secara diam-diam. Paparazi kuangan gae (kurang kerjaan) kata Semeton Yowana Warga Pande yang kebetulan sempat menjadi korban ekspresi, saat ngayah bersama di Pura Penataran Pande Tamblingan beberapa waktu lalu. Yah, mumpung ini adalah momen yang sangat jarang kami lakukan, kenapa tidak ?

*Tulisan lama… tapi baru inget buat di-Publish. kalo gak salah jalan-jalannya tanggal 18 Juni 2010. Hehehe…

Sialnya Penghobi (nonton) Film

4

Category : tentang DiRi SenDiri

Sebelum dilanjutkan Harap dicatat bahwa seorang Penghobi (nonton) Film punya pemahaman sedikit berbeda dengan seorang Penghobi Film. Bedanya kurang lebih kalo isi pikiran seorang Penghobi Film itu biasanya Movie Minded, mengetahui segala hal seluk beluk film yang pantas ditonton saat ini, mana yang termasuk incaran mana yang termasuk daftar tunggu, siapa nama aktor/aktris maupun sutradara yang terlibat didalamnya hingga rela antre berjam-jam di bioskop setempat. Berbeda dengan seorang Penghobi (nonton) Film yang isi pikirannya ya Cuma pengen nonton aja tanpa peduli masuk film laris atau tidak, dan tidak terbatas pada film dengan tema jelas saja. Video panas artis lokal juga terkadang masuk didalamnya. Hehehe…

Untuk seorang Penghobi (nonton) Film, saya (hahaha… pemahaman diatas sebenarnya lagi ngomongin saya…) gak terlalu ngoyo musti nonton film Harus di bioskop agar mendapatkan sajian yang gambarnya berkualitas mantap setingkat keping dvd plus dengan tata suara yang gak kalah mantapnya. Kalopun tu film baru dirilis di bioskop saya lebih suka nyari yang versi bajakan di pasar malam sedangkan kalo kebetulan dah merilis versi keping originalnya, saya lebih memilih yang berformat video cd ketimbang dvd.

Alasannya sederhana. Pertama, Film dalam format keping vcd lebih mudah dicopy ke laptop ketimbang yang dvd, selain cepat juga gak bakalan menghilangkan subtitle yang menyertainya. Untuk mengcopy film dalam format keping dvd diperlukan aplikasi khusus yang dapat mengubah format tersebut dalam bentuk image dan harus diputar dalam sebuah virtual cdrom. Kedua, nonton dalam format keping cd lebih asyik ketimbang nonton bioskop. Ini sebenarnya ada hubungannya dengan kemampuan otak dalam menerima alur dan jalannya cerita yang ditawarkan sebuah film, yang sayangnya otak saya terkadang suka bingung di pertengahan film. Menonton dalam keping cd menawarkan sebuah kelebihan ketimbang menonton film di bioskop yaitu bisa di-rewind kembali ke scene sebelumnya untuk mengulang pemahaman. Hihihi… Terus, kenapa musti di-copy ke laptop ? karena untuk menonton film terkadang saya musti ngumpulin mood atau berada dalam situasi yang lowong dulu. Hahaha…

Demi mendukung hobi menonton film ini, sayapun hunting ke beberapa tempat rental video yang ada diseputaran Kota Denpasar. Ada satu kriteria pokok yang saya tetapkan untuk memilihnya yaitu berada dalam satu jalur aktifitas kantor. Tujuannya untuk mempermudah proses peminjaman dan pengembalian keping film. Bisa dilakukan pada saat pulang kantor. He…

Sasaran pertama saya sedari empat tahun lalu adalah ArmaDisc yang berlokasi di wilayah Banjar Kayumas, sebelah selatan kantor Catatan Sipil. Secara kriteria ni Rental yang paling ideal, karena satu jalur dengan akses kantor. Paket yang ditawarkan saat itu cukup menarik perhatian. Dapat bonus 1 keping film apabila mengembalikan pinjaman lebih awal dari jadwal yang ditentukan. Sayangnya setahun terakhir lokasi ArmaDisc telah berubah fungsi menjadi outlet yang menjual optik atau kacamata. Masih belum berubah fungsi menjadi rental hingga saya pindah kantor ke Mangupura Mengwi.

Sasaran kedua saya ambil di Artha Media yang berlokasi di Tanjung Bungkak, sebelah utara kampus Warmadewa. Secara lokasi sebenarnya agak menyimpang jauh, tapi ya kadang suka nyambi sambil beli keping dvd kosong atau malah minjem software bajakan. :p Sayangnya meski sampe hari ini tempat tersebut masih setia menyewakan keping film, dendanya tetap diberlakukan meskipun saya sudah dikenal oleh penjaganya. Hehehe… hal yang tidak berlaku di ArmaDisc.

Sasaran ketiga saya coba di New Release Gatot Subroto, sebelah barat apotik Anugerah. Rental ini kebetulan berada dalam satu jalur yang asyik saat pulang kantor. Sayangnya baru juga mendaftar dan meminjam beberapa keping film, ni rental malah menghilang. Ealah…

Sasaran keempat adalah Bromo, lokasinya didepan sekolah Dwijendra jalan Kamboja. Kejadiannya siy gak sengaja, nemu pas balikin komik Kariage. Sayangnya mereka blom punya database yang jelas, gak ada daftar film yang bisa dilihat dan dijadikan panduan dalam mencari film-film lama. Masih dijejer begitu saja tanpa cover. Malah bikin bingung karena musti melihat isinya satu persatu.

Terakhir yang saya lakoni adalah ZeeneMax Gatot Subroto, sebelah barat perempatan Ubung Cokroaminoto. Ni Rental berada dalam jalur pulang kantor yang mengambil jalur kearah selatan (dari Mangupura Mengwi). Dengan penawaran paket 100ribu rupiah untuk 38 buah film atau 50ribu untuk 18 film. Sayangnya akibat kekurangan karyawan, ZeeneMax Gatsu sempat tutup untuk jangka waktu yang panjang. Hal ini malah membingungkan saya sebagai salah satu konsumen yang agak was-was juga karena masih dalam posisi meminjam film. Khawatir masuk dalam daftar DPO mereka. Seminggu terakhir baru ada pemberitahuan bahwa mereka hanya buka diatas pukul 6 sore saja. Waaaahhh… artinya gak bisa minjem atau balikin film sepulang kerja lagi.

Entah apakah memang karena minat meminjam film para warga Penghobi yang memang menurun :p ataukah karena laris manisnya keping bajakan yang dijual dengan harga murah baik di Pasar malam maupun disebuah toko Elektronik kawasan Diponegoro ? Pastinya saya sebagai salah satu Penghobi (nonton) film kini malah jadi kebingungan sendiri…

Mari Berbagi sekantong Darah Untuk Sesama

10

Category : tentang InSPiRasi

Saya pribadi tidak menyangka bahwa apa yang saya lakukan ternyata bakalan diganjar dengan sebuah penghargaan dari Palang Merah Indonesia. Saya malah baru tahu ada penghargaan ini setelah seorang rekan blogger bali yang kebetulan bekerja di bagian Radiologi Rumah Sakit Sanglah, Putu Adi Susanta menyambangi saat mengantarkan Bapak suntik VAR beberapa waktu lalu. Sebuah penghargaan yang diberikan setelah dengan sukarela menyumbangkan darah 25 (dua puluh lima) kali untuk kepentingan kemanusiaan.

Kalo tidak salah ingat pertama kalinya saya memutuskan untuk ikut aksi donor darah ya waktu masa sekolah SMA. Tepatnya saya tidak ingat, apalagi tanggal yang tertera pada kartu sudah memudar.

Sebagai seorang pendonor darah bisa dikatakan saya merupakan pendonor yang malas. Karena kalo dihitung secara matematis, dalam kurun waktu 15 tahun seharusnya saya sudah menyumbangkan darah paling tidak 60 (enam puluh) kali. Dengan pertimbangan dalam jangka waktu satu tahun, seorang pendonor secara rutin menyumbangkan darahnya tiga bulan sekali. Itu kalo tidak salah merupakan waktu standar jeda yang disarankan meskipun waktu minimum yang diperbolehkan adalah dua bulan sekali.

Kemalasan ini disebabkan oleh faktor ingatan yang artinya baru melakukan donor darah jika ingat. Hehehe… makanya kalo dilihat lagi pada kartu donor yang saya miliki, ada jeda waktu yang beragam antara waktu donor yang satu dengan lainnya. Dari lima bulan, satu tahun, dua hingga ada juga yang jeda tiga tahun. Waduh…

Untuk waktu atau tanggal donornya sendiri ada satu keunikan yang bisa saya ingat. Bahwa saya biasanya melakukan donor saat momen atau event tertentu. Misalkan saja hari lahir, hari kasih sayang, akhir tahun atau saat kepulangan dari perawatan istri atau anak di Rumah Sakit Sanglah seperti beberapa waktu lalu dan juga saat bom Bali I dan II. Entah karena di saat-saat seperti itu saya baru mampu mensyukuri hidup hingga meluapkan keinginan untuk berbagi atau hanya sekedar bersimpati saja.

Sekantong darah setiap tiga bulan barangkali masih tergolong pelit untuk sebuah maksud berbagi pada sesama. Namun setidaknya saya sudah berusaha untuk selalu berbuat baik sepanjang hidup yang saya miliki. Itu saja.

Dari Yowana Paramartha menuju Pura Penataran Pande Tamblingan (2)

6

Category : tentang PLeSiran

Tulisan berikut merupakan tulisan kedua dari dua tulisan yang versi aslinya dipublikasikan dalam bentuk Notes di sebuah jejaring sosial FaceBook oleh Yande Putrawan, seorang generasi muda Warga Pande dari Pedungan Denpasar dimana untuk sementara ini didaulat sebagai Koordinator Pembentukan Yowana Paramartha Warga Pande, sebuah wadah berkumpulnya Teruna Teruni Semeton Pande untuk bertukar informasi tentang kePandean.

* * *

Kami berempat, saya, Pande Yadnya (Pande Bali), Pande Karsana (Pande Lukis) dan Nyoman Yogi Triana berangkat bersama menggunakan satu kendaraan menuju Pura Penataran Pande Tamblingan kamis 24 Juni 2010 lalu. Agenda Karya pada hari tersebut adalah Ngeresi Gana, Melaspas, Mepedagingan dan Mecaru balik sumpah.

Sesampainya dijalan tanah menuju lokasi pura, pada awalnya kami tidak diperbolehkan masuk mengendarai mobil karena memang parkir yang ada saat itu sudah dipadati pemedek yang tangkil lebih dulu. Tapi berhubung kami membawa logistik (punia yang dikonversi menjadi beberapa dus air mineral, kopi, gula dan telor), akhirnya kami diperbolehkan masuk oleh pihak Panitia. Dari pengamatan secara visual bisa jadi ada ribuan orang yang datang tangkil pada waktu bersamaan.

Bagi yang belum pernah tangkil ke pura, bisa kami gambarkan betapa magisnya Pura Penataran Pande Tamblingan saat itu, suci dan asri. Pada areal depan (jaba sisi) tampak adanya Prapen tempat yang digunakan untuk membuat senjata dan alat alat dari besi dan logam, pada areal atau jaba tengah ada Beji yaitu sumber air yang tak pernah habis dan pada area utama ada beberapa pelinggih tempat berstana Ida Betara Brahma, Lingga Yoni sebagai lambang kemakmuran dan juga Padma Capah. Pada kawasan paling atas, terdapat sebuah pohon suci yang disakralkan dan dipercaya sebagai tempat untuk menguji kekuatan keris yang dibuat oleh warga Pande Bangke Maong jaman dahulu, yaitu keris yang dioleskan racun sehingga siapa yang terkena bangkainya akan membusuk dan kotor seperti berjamur.

Pasca upacara, kami kembali merancang sebuah kegiatan ngayah serta mekemit di Pura Penataran Pande Tamblingan yang awalnya direncanakan pada tanggal 28 Juni 2010, namun karena keterbatasan waktu yang kami miliki maka jadwal dipindahkan ke tanggal 26 Juni 2010 malam minggu. Ada Sepuluh orang yang positif ikut serta. Saya, Pande Yadnya (Pande Bali) beserta istrinda Merlin, Novie, Dego Suryantara, Pande Lukis, Yogi Triana, Agus Pande, Koming Sri dan Bli Wayan Pande Tamanbali. Minus Putu Adi Susanta karena shift kerja yang tidak bisa digantikan serta Bli PanDe Baik yang harus menunggui putrinya dirawat di Rumah Sakit Sanglah.

Kami mengawalinya dengan persembahyangan yang kemudian dilanjutkan dengan tari-tarian dan bondres. Meskipun cuaca dingin dan kabutnya membasahi kepala kami tapi semeton Pande yang hadir saat itu tetap setia menonton. Yang unik, diantara pemain Bondres ada dua yang kami kenal betul selama proses tangkil dan ngayah, yaitu pak Dedes dan pak Wayan Balik. Hebat betul kedua orang ini. Mereka yang sedari awal pembangunan pura selalu ikut serta, tidak pernah pulang kerumah, tidur di tenda yang dibangun di luar pura, totaaaaaal ngayah dan sempat-sempatnya juga menghibur kami. Bukankah seharusnya kami yang menghibur mereka ? salut buat mereka.

Perubahan cuaca akibat pemanasan global menyebabkan dinginnya malam seakan menusuk tulang, meskipun sudah memakai jaket bulu tebal, tinggal di dalem mobil plus selimut, dingin masih terasa. Semeton Dego selain memakai kemben plus celana panjang, menyiapkan dirinya dengan sepasang kaus kaki tebal, sarung tangan dan penutup kepala, namun tetap aja kedinginan. Hahaha… Entah karena keampuhan doa yang kami panjatkan malam tersebut atau memang sudah ditakdirkan, hujan tak satupun yang turun jatuh ke bumi. Demikian pula dengan kabut yang biasanya menutupi pandangan kami juga tidak ada. Saya katakan demikian karena menurut informasi disekitaran Pura Penataran Pande Tamblingan, seperti Candi Kuning, hujan turun begitu derasnya.

Anehnya, hujan hanya turun pada tanggal 28 Juni pagi. Saat itu pak Wayan Balik membuka pintu Beji dan melukat disana. Spontan hujan turun dengan derasnya. Pak Dedes yang mengetahui hal tersebut sampe berteriak meminta pak Balik untuk keluar dari areal Beji. Begitu pintu Beji ditutup, hujan seketika mereda. Waaaahhh…

Beberapa semeton seperti Putu Yadnya, Pande Lukis dan Yogi Triana mencoba beraktifitas di prapen. Dibantu semeton Pande yang biasa mengerjakan keris, akhirnya mereka bertiga berhasil membuat sebuah mata tombak, yang kemudian dipasupati dan disimpan oleh Putu Yadnya. Hebat… Salut.

Ketika matahari pagi mulai memberikan kehangatannya, kami sempat berbincang dengan pak Dedes yang berpesan agar kami dapat dengan gigih memperjuangkan niat untuk mempersatukan semeton yowana Pande. Pesan ini sempat menimbulkan satu pertanyaan di kepala “Bisakah kami melakukan ini semua ? adakah orang lain seperti kami, hanya dengan niat untuk bisa berkumpul bersama meneruskan cita cita leluhur kami ?”

Kami memang harus yakin bahwa kami bisa mewujudkannya. Karena toh masih ada orang tua dan penglingsir yang akan membantu nantinya. Bahkan Pak Sutedja Neka yang kebetulan ikut hadir waktu itu pun sudah menyatakan siap membantu.

Siang mulai benderang, entah kemana perginya dingin yang kemarin malam menghantui kami, berganti dengan panas terik matahari yang nyatanya tak jua mampu mengeringkan niat kami. Sebelum upacara selesai sudah tekad kami tidak akan pamit.

Eedan Karya di Pura Penataran Pande Tamblingan diakhiri dengan upacara Penyineban, nuek dan mendem bagia. Oh iya, pada hari itu juga dibaca prasasti yang dibuat untuk mengingatkan kami nanti. Prasasti itu dibuat untuk menjawab isi prasasti yang terdahulu berangka tahun 1302 Saka, yang memerintahkan penduduk Pande Tamblingan yang cerai berai agar kembali ke Tamblingan. Permintaan prasasti itu baru terwujud pada tanggal 26 Juni 2010, dimana semeton Pande dari berbagai daerah sudah berkumpul dan bersatu. Om awighnam astu namo sidham. Berkat restu Ratu Bagus Pande.

Selesai sudah perjalanan karya dan perjuangan semeton Pande selama ini, kerja keras dan letih terbayar dengan suksesnya kegiatan pemelaspasan ini. Walaupun kami bukan bagian dari kerja keras itu, namun kami bangga dan merasa ikut memiliki. Pura Penataran Pande Tamblingan sudah serasa Rumah Kedua bagi kami dan kamipun akan datang kembali bersama semeton lain pada upacara bulan pitung dina atau 42 hari nanti. Semoga kelak kami bisa menyatukan Yowana Pande dalam sebuah wadah Yowana Paramartha Warga Pande seperti apa yang kami cita-citakan sejak lama. Semoga Ida Sang Hyang Widhi Waca, Tuhan Yang Maha Esa selalu berkenan membantu kami.

Matur Suksma.

I Wayan Putrawan, SH (Yande Putrawan)