Menu
Categories
Catatan Perjalanan menuju Museum ‘Keris’ Neka Ubud
July 19, 2010 tentang PLeSiran

Hari masih pagi ketika kami melintasi ruas jalan Jagapati Tinggas kecamatan Abiansemal dalam perjalanan menuju Museum Neka Ubud, minggu 18 Juli 2010 kemarin. Beberapa semeton Yowana yang sempat dihubungi ada yang sudah mencapai daerah Sayan, ada juga yang masih berada di Darmasabha.

Kali ini kami berangkat bertiga dalam satu kendaraan. Saya, Bapak dan Mahendra Sila, adik sepupu saya. Bapak saya ajak lantaran Beliau begitu dekat dengan Uwe Sutedja Neka, pemilik Museum Neka dan juga karena saya janjikan Beliau untuk diajak mampir di Geriya Peliatan. Adik sepupu saya ajak ikut serta mumpung kesibukannya di sekolah sudah mulai senggang. Dua semeton lain, Pande Donny dan Dek Jun Pande membatalkan keikutsertaan mereka lantaran kesibukan kerja yang tidak bisa dihindarkan.

Sempat pangling ketika kendaraan masuk wilayah Pengosekan dan Peliatan Ubud. Lama sudah saya tak pernah lagi melewati daerah ini. Banyak yang berubah, termasuk angkul-angkul pintu masuk Geriya Peliatan yang kini tampak lebih gagah. Bersyukur saya menggunakan Pura Penataran Pande Ubud sebagai patokan, yang kebetulan berada tepat didepan Geriya Peliatan, jadi lebih mudah ditemukan.

Kami meluncur beriringan sekitar 7 kendaraan menuju Museum Neka Campuhan tepat pukul sepuluh pagi. Lokasinya tidak begitu jauh dari Geriya Peliatan, sekitar 4,4 km dekat jalan menuju Museum Blanco. Rombongan diterima langsung oleh Uwe Sutedja Neka yang rupanya telah menanti kami sejak pukul 9 pagi. Untuk kegiatan ini Beliau secara khusus mengundang Prof. Dr. Pande Kt. Tirtayasa, Msc seorang guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana yang kebetulan sempat menulis tentang Prapen dan juga tentang (gagang) Keris yang ditinjau dari segi ilmu Ergonomi.

Setelah dipersilahkan untuk menikmati snack, sedikit perkenalan dan silaturahmi temu kangen, kami diajak turun kelantai bawah untuk mendengarkan pengantar dari Uwe Sutedja Neka tentang keris dan sejarahnya. Di sela pemaparannya, Beliau bahkan sempat mendemonstrasikan tentang ‘keseimbangan’ yang dimiliki oleh setiap keris yang dibuat oleh seorang Mpu Keris (sebutan bagi mereka yang membuat Keris). Dalam kesempatan ini pula Yande Putrawan, Dancuk (komanDan puCuk ; meminjam istilah dari Anton Muhajir, Bapak Blogger Bali) Yowana Paramartha Kodya Denpasar menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami serta memohon jadwal terkait kunjungan resmi bulan Agustus ditambah kesediaan Uwe Sutedja Neka kembali berbagi pengetahuan kepada Generasi Muda Pande nanti.

Sebagai ungkapan rasa bangga Sutedja Neka pada kami generasi muda Warga Pande,  Beliau mengajak untuk melihat dan bercerita tentang Keris secara lebih nyata di ruang Galeri. Disini kami bisa lebih bebas untuk bertanya tentang apapun yang berkaitan tentang Keris dimana (untungnya) Beliau menjawab sekaligus menunjukkan beberapa contoh nyata sesuai dengan apa yang kami tanyakan.

Sebelum pamit, kami dibekali satu buku sejarah tentang Keris yang barangkali nanti akan saya rangkum dalam sebuah tulisan bersambung agar bisa dibaca dan dinikmati oleh Semeton Pande maupun masyarakat secara luas.

Jujur saja. Jika dahulu saya sempat menulis tentang “Kadang Saya Malu Mengaku ‘nak PanDe”, kini setelah semua yang saya alami selama tiga bulan terakhir membuat saya dengan percaya diri mengatakan bahwa “Saya Bangga menjadi ‘nak PanDe”. Semoga apa yang kami jalani kedepannya dapat memberikan kebanggaan bagi semua pihak. Salam dari PuSat KoTa DenPasar.

"3" Comments
  1. Mantaplah menyandang nama Pande ntu pak, kenapa pula dirisaukan ?
    kenyataanya banyak ahli dalam bidang Teknologi dan persenjataan jg tokoh besar dibali yang namanya Pande, bapak juga tentunya tak usah berkecil hatilah, karena saya yakin bapak juga punya sesuatu yang bisa dibanggakan.
    Kalu soal fanatik yang berlebihan, selama itu baik kenapa juga bikin gak enak. Salam untuk Pande Pande yang lain pak. Ha ha..

    [Reply]

    pande Reply:

    Nah itu dia yang saya maksudkan. Jujur, baru pada saat inilah rasa bangga itu ada. Setelah berbagai hal yang kami lakukan secara bersama-sama… Terima kasih untuk Semangatnya.

    [Reply]

  2. Pingback: Keris Dalam Kebudayaan oleh Neka Art Museum | PanDe Baik

Leave a Reply
*