Mari Berbagi sekantong Darah Untuk Sesama

10

Category : tentang InSPiRasi

Saya pribadi tidak menyangka bahwa apa yang saya lakukan ternyata bakalan diganjar dengan sebuah penghargaan dari Palang Merah Indonesia. Saya malah baru tahu ada penghargaan ini setelah seorang rekan blogger bali yang kebetulan bekerja di bagian Radiologi Rumah Sakit Sanglah, Putu Adi Susanta menyambangi saat mengantarkan Bapak suntik VAR beberapa waktu lalu. Sebuah penghargaan yang diberikan setelah dengan sukarela menyumbangkan darah 25 (dua puluh lima) kali untuk kepentingan kemanusiaan.

Kalo tidak salah ingat pertama kalinya saya memutuskan untuk ikut aksi donor darah ya waktu masa sekolah SMA. Tepatnya saya tidak ingat, apalagi tanggal yang tertera pada kartu sudah memudar.

Sebagai seorang pendonor darah bisa dikatakan saya merupakan pendonor yang malas. Karena kalo dihitung secara matematis, dalam kurun waktu 15 tahun seharusnya saya sudah menyumbangkan darah paling tidak 60 (enam puluh) kali. Dengan pertimbangan dalam jangka waktu satu tahun, seorang pendonor secara rutin menyumbangkan darahnya tiga bulan sekali. Itu kalo tidak salah merupakan waktu standar jeda yang disarankan meskipun waktu minimum yang diperbolehkan adalah dua bulan sekali.

Kemalasan ini disebabkan oleh faktor ingatan yang artinya baru melakukan donor darah jika ingat. Hehehe… makanya kalo dilihat lagi pada kartu donor yang saya miliki, ada jeda waktu yang beragam antara waktu donor yang satu dengan lainnya. Dari lima bulan, satu tahun, dua hingga ada juga yang jeda tiga tahun. Waduh…

Untuk waktu atau tanggal donornya sendiri ada satu keunikan yang bisa saya ingat. Bahwa saya biasanya melakukan donor saat momen atau event tertentu. Misalkan saja hari lahir, hari kasih sayang, akhir tahun atau saat kepulangan dari perawatan istri atau anak di Rumah Sakit Sanglah seperti beberapa waktu lalu dan juga saat bom Bali I dan II. Entah karena di saat-saat seperti itu saya baru mampu mensyukuri hidup hingga meluapkan keinginan untuk berbagi atau hanya sekedar bersimpati saja.

Sekantong darah setiap tiga bulan barangkali masih tergolong pelit untuk sebuah maksud berbagi pada sesama. Namun setidaknya saya sudah berusaha untuk selalu berbuat baik sepanjang hidup yang saya miliki. Itu saja.

Comments (10)

Saya sepertinya jarang donor darah, hanya pas darurat saja 🙂

[Reply]

pande Reply:

Yah, kalo bisa mulai saat ini mbok ya dirutinkan… :p

[Reply]

dulu waktu kuliah saya cukup rutin donor setiap 6 bulan sekali karena kebetulan UKKH (Unit Kegiatan Kerohanian Hindu) di kampus punya agenda donor darah, hehe

[Reply]

pande Reply:

nah, kalo begitu bagaimana diusulkan saja di STP saat ini ? bikin kegiatan rutin tiap 3 bulan ? 🙂

[Reply]

saya malahan nggak pernah donor darah sekalipun, takut jadi vampir gara2 darah bekurang…hehehe…

[Reply]

pande Reply:

Beh… ade gen orahange jak Eka puk…

[Reply]

😛 aku sih donor dah rutin.Buruan donor…neh di bulan puasaan biasanya ada bingkisan lho…sayang jadwal aq donor lagi pas abis puasaan

[Reply]

pande Reply:

waks… terakhir itu bulan Juni… apa boleh selang 2 bulan saja ? :p

[Reply]

setau aq batas minimal 2.5 bulan n aq dah coba. tp kalo 2 bln belum pernah coba, kalo mo dipaksain pihak PMI ya pasti punya standart kesehatan peserta…

[Reply]

Beh..adan tiange nengok dini, ukane ngalih tanggalan pidan ye tiang donor darah? Takonange jak bose.

[Reply]

Post a comment

CommentLuv badge