Belajar Bersyukur akan cobaan-Nya

7

Category : tentang Buah Hati, tentang Opini

Ada dua pelajaran yang patut kami syukuri ketika mendapatkan cobaan yang mengharuskan MiRah GayatriDewi putri kecil kami dirawat di Rumah Sakit Sanglah tempo hari. Pertama bahwa cobaan yang Beliau berikan pastinya mampu kami pikul seberat apapun itu. Hal ini kami sadari ketika berada dalam sebuah atmosfer lingkungan yang dipenuhi pasien seusia MiRah namun mengalami cobaan yang jauh lebih berat. Hal yang Kedua adalah bahwa ketika kami mendapatkan cobaan ini, teman dan keluarga takkan pernah berhenti memberikan semangat dan uluran tangan. Kedua hal diatas makin menguatkan keyakinan kami selama ini. Bahwa Tuhan tidak akan pernah memberikan cobaan atau ujian melebihi dari kemampuan hamba-Nya.

Hari pertama, beberapa saat sebelum MiRah disuntikkan jarum infus, seseorang yang tadinya masih dirawat di pojokan ruang IRD sudah mulai dibungkus kafan sekujur tubuhnya. Terlihat betapa terpukulnya wajah kerabat yang ditinggalkan. Kami bersyukur bahwa harapan kami agar MiRah segera mendapatkan pertolongan pertama sudah dikabulkan. Demikian pula saat kami dinyatakan positif mendapatkan kamar perawatan meski harus berbagi dengan pasien lain, lagi-lagi syukur kami panjatkan mengingat masih banyak pasien lain yang terlihat dirawat di sepanjang lorong yang kami lewati.

Hari kedua ketika MiRah sudah mulai menunjukkan senyum manisnya saat digoda teman sekamarnya, mata kami mulai dibukakan pada lingkungan sekitar. Pada seorang anak kecil yang cedera mata namun masih bisa bermain sesukanya. Pada seorang anak yang dililit selang infus pada bagian kepalanya namun masih bisa tertawa. Ah, kendati MiRah sakit, agaknya cobaan ini belum seberapa dibanding mereka.

Hari ketiga ketika MiRah sudah mulai menunjukkan tabiat aslinya saat difoto dengan kamera digital, penuh pose gaya centil, hati kami kembali diingatkan pada seorang anak yang dikabarkan dalam kondisi koma pasca operasi mata. Malam hari saat saya menjenguk MiRah kembali, sang anak dinyatakan telah tiada dan sang orang tua tentu saja histeris mengamuk.

Hari keempat ketika MiRah sudah dinyatakan diperbolehkan pulang, puji syukur kami panjatkan selama proses penyelesaian administrasi, berapapun biayanya akan kami bayarkan dan berapapun lamanya akan kami tunggu dengan sabar. Mengingat disebelah ruang perawatan yang kami ambil, ada pasien lain yang sejak tanggal 15 Juni lalu masih belum diperbolehkan meninggalkan Rumah Sakit. Demikian halnya ketika akhirnya kami mengetahui siapa dan untuk alasan apa teman sekamar MiRah dirawat.

Kami yakin yang namanya Cobaan dari-Nya akan tetap ada sampai kapanpun. Berharap kami bisa melewatinya dengan baik.

Comments (7)

Saya juga merenung hal yang sama http://winarto.in/2010/06/sesuatu-dari-ngebong-dan-wedang-ronde/

[Reply]

pande Reply:

Tumben gak nyepam dulu Win ? 🙂

[Reply]

Winarto Reply:

Karena lagi bersyukur 😀

[Reply]

Betapa gigihnya para orang tua untuk memelihara dan membesarkan anak-anaknya. Ada banyak para anak ketika dewasa dan sudah menjadi orang, melupakan orang tuanya, tidak mau memelihara orang tuanya yang sudah tua renta.

Saya banyak melihat keluarga yang demikian.
Seharusnya orang tua memelihara anak-anaknya dan pada pada gilirannya para anak memelihara orang tuanya kelak. Itulah KASIH.

Semoga MiRah segera kembali ke rumah dalam keadaan sehat walafiat. Home sweet home.

[Reply]

pande Reply:

Terima Kasih untuk do’a dan semangatnya Pak Dokter…

[Reply]

Lagi gugling keyword “opini”, nembus blog pandebaik.com
Baca-baca dulu ahhhhh….

🙂

[Reply]

pande Reply:

ah masa siy ??? tadi iseng saya coba kok gak ada nongol ? :p

[Reply]

Post a comment

CommentLuv badge