X

iyah uka aju aket…

“MiRaaaahhh….”

“paaaa…” teriaknya lantang.

“Sini Gek…” panggil Ibunya.

“iyah uka aju aket… iyah uka aju aket…” sahut MiRah berulang-ulang.

“MiRah lagi buka baju jaket, Bu…” kataku berusaha menangkap dan menjelaskan kata-katanya.

PanDe Putu MiRah GayatriDewi. Gak terasa usianya sudah menginjak 1,5 tahun. Waktu yang sangat cepat bagi kami. Rasanya baru kemarin ia kami gendong kemana-mana, kini sudah bisa berjalan bahkan berlari walaupun sesekali jatuh dan menangis.

Perkembangannya menakjubkan. Kami terheran-heran dibuatnya.

MiRah sudah pintar maem sendiri. Pagi bangun tidur, MiRah akan berjalan menuju dapur mencari Nenek yang sedang memasak dan mempersiapkan banten sehari-hari. Setelah digendong Nenek, MiRah biasanya akan minta maem nasi putih berisikan lauk atau kuah sayur yang telah matang. Setelah itu ia turun dari gendongan Nenek, berjalan keluar menuju ruang Keluarga dan naik serta duduk di kursi panjang. MiRah sudah siap sarapan pagi. Ketika Nenek membawakan sepiring nasi putih beserta segelas air dalam cup miliknya, MiRah akan bernyanyi ‘ale… ale… ale… ale…’ yang artinya minta diputarkan video cd kumpulan lagu anak-anak, dimana salah satunya berisikan lagu milik Trio Kwek Kwek ‘Yale… Yale…’.

MiRah sudah bisa maem sendiri di usia hampir menginjak 1,5 tahun. Kini ia juga sudah bisa melafalkan angka satu sampai sepuluh walaupun hanya dua suku kata terakhir dan terkadang loncat-loncat. Paling seringnya sih “atu… ua… empat… ujuh… lapan… milan… puluh…”. Kamipun memberikannya applaus sebagai tanda kekaguman padanya.

Berbicara dan merangkai kata adalah hal yang kini ia coba lakukan. MiRah mengerti dengan apa yang kami tanyakan padanya. Lewat komunikasi telepon sekalipun. Teman sampai heran mendengar suara kecil MiRah menjawab pertanyaan saya. Mirah juga mengerti kalo kami sedang membicarakan dirinya. Biasanya ia hanya akan tetawa terbahak-bahak atau cekikikan, hingga kami seringkali geregetan melihatnya.

MiRah senang sekali diajak jalan-jalan. Entah itu hanya di seputaran rumah, dengan motor maupun mobil. Di sepanjang perjalanan (jika keluar rumah) MiRah akan meminta saya untuk terus menjalankan kendaraan termasuk ketika berhenti di persimpangan jalan. “Lampunya warna apa Gek ?” “meyah…” “artinya harus berhen… ?” “tiiii….” Lanjutnya panjang.

MiRah akan berteriak heboh ketika menemukan berbagai keajabaian seperti ‘lampu bit bit –lampu berkedip-kedip-‘ ‘bak bung becal –mobil box, truk ataupun bus-‘ ataupun adik kecil yang dibonceng. Kehebohannya akan makin bertambah apabila kami tertawa melihatnya. Jadi makin ramai walaupun hanya bertiga.

MiRah sudah mulai genit. Ada satu cowok favoritnya yang kebetulan masih merupakan adik sepupu saya alias Om-nya MiRah yang baru kelas 5 SD, namanya Komang Gaul (dinamakan begitu karena selalu berpenampilan gaul)… Ketika Komang datang main kerumah, MiRah akan berteriak heboh. “Mang aulll… Bapaaaakkk… Mang aulll… Buuuu… Mang aulll…” hehehe… memberitahu seisi rumah kalo Mang Gaul datang… dan MiRah akan terlihat sedih ketika si Komang pulang. Ketika ditanya, MiRah akan menjawab, “puyang… bobo…” –Mang Gaul pulang. Dia Bobo. Huahahahaha…

MiRah dengan semua kemajuan dan kelucuan yang ia berikan pada kami menjadi penyegar bahkan obat yang manjur ketika kami pulang kantor, mendapati rumah begitu ramai dengan kehadirannya. Itu sebabnya saya secara pribadi lebih memilih tinggal dirumah dan bercanda dengan MiRah ketimbang disuruh keluar jalan-jalan sendirian. Gak enak rasanya, sepi kalo ga’ada tawa candanya sepanjang perjalanan…

We Love U MiRah… jangan nakal ya Nak.

Categories: tentang Buah Hati
" pande : hanyalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang sangat biasa, mencoba hadir lewat tulisannya sebagai seorang blogger yang baik."