iyah uka aju aket…

20

Category : tentang Buah Hati

“MiRaaaahhh….”

“paaaa…” teriaknya lantang.

“Sini Gek…” panggil Ibunya.

“iyah uka aju aket… iyah uka aju aket…” sahut MiRah berulang-ulang.

“MiRah lagi buka baju jaket, Bu…” kataku berusaha menangkap dan menjelaskan kata-katanya.

MiRah dan MiRah

PanDe Putu MiRah GayatriDewi. Gak terasa usianya sudah menginjak 1,5 tahun. Waktu yang sangat cepat bagi kami. Rasanya baru kemarin ia kami gendong kemana-mana, kini sudah bisa berjalan bahkan berlari walaupun sesekali jatuh dan menangis.

Perkembangannya menakjubkan. Kami terheran-heran dibuatnya.

MiRah sudah pintar maem sendiri. Pagi bangun tidur, MiRah akan berjalan menuju dapur mencari Nenek yang sedang memasak dan mempersiapkan banten sehari-hari. Setelah digendong Nenek, MiRah biasanya akan minta maem nasi putih berisikan lauk atau kuah sayur yang telah matang. Setelah itu ia turun dari gendongan Nenek, berjalan keluar menuju ruang Keluarga dan naik serta duduk di kursi panjang. MiRah sudah siap sarapan pagi. Ketika Nenek membawakan sepiring nasi putih beserta segelas air dalam cup miliknya, MiRah akan bernyanyi ‘ale… ale… ale… ale…’ yang artinya minta diputarkan video cd kumpulan lagu anak-anak, dimana salah satunya berisikan lagu milik Trio Kwek Kwek ‘Yale… Yale…’.

MiRah sudah bisa maem sendiri di usia hampir menginjak 1,5 tahun. Kini ia juga sudah bisa melafalkan angka satu sampai sepuluh walaupun hanya dua suku kata terakhir dan terkadang loncat-loncat. Paling seringnya sih “atu… ua… empat… ujuh… lapan… milan… puluh…”. Kamipun memberikannya applaus sebagai tanda kekaguman padanya.

Berbicara dan merangkai kata adalah hal yang kini ia coba lakukan. MiRah mengerti dengan apa yang kami tanyakan padanya. Lewat komunikasi telepon sekalipun. Teman sampai heran mendengar suara kecil MiRah menjawab pertanyaan saya. Mirah juga mengerti kalo kami sedang membicarakan dirinya. Biasanya ia hanya akan tetawa terbahak-bahak atau cekikikan, hingga kami seringkali geregetan melihatnya.

MiRah senang sekali diajak jalan-jalan. Entah itu hanya di seputaran rumah, dengan motor maupun mobil. Di sepanjang perjalanan (jika keluar rumah) MiRah akan meminta saya untuk terus menjalankan kendaraan termasuk ketika berhenti di persimpangan jalan. “Lampunya warna apa Gek ?” “meyah…” “artinya harus berhen… ?” “tiiii….” Lanjutnya panjang.

MiRah akan berteriak heboh ketika menemukan berbagai keajabaian seperti ‘lampu bit bit –lampu berkedip-kedip-‘ ‘bak bung becal –mobil box, truk ataupun bus-‘ ataupun adik kecil yang dibonceng. Kehebohannya akan makin bertambah apabila kami tertawa melihatnya. Jadi makin ramai walaupun hanya bertiga.

MiRah sudah mulai genit. Ada satu cowok favoritnya yang kebetulan masih merupakan adik sepupu saya alias Om-nya MiRah yang baru kelas 5 SD, namanya Komang Gaul (dinamakan begitu karena selalu berpenampilan gaul)… Ketika Komang datang main kerumah, MiRah akan berteriak heboh. “Mang aulll… Bapaaaakkk… Mang aulll… Buuuu… Mang aulll…” hehehe… memberitahu seisi rumah kalo Mang Gaul datang… dan MiRah akan terlihat sedih ketika si Komang pulang. Ketika ditanya, MiRah akan menjawab, “puyang… bobo…” –Mang Gaul pulang. Dia Bobo. Huahahahaha…

MiRah dengan semua kemajuan dan kelucuan yang ia berikan pada kami menjadi penyegar bahkan obat yang manjur ketika kami pulang kantor, mendapati rumah begitu ramai dengan kehadirannya. Itu sebabnya saya secara pribadi lebih memilih tinggal dirumah dan bercanda dengan MiRah ketimbang disuruh keluar jalan-jalan sendirian. Gak enak rasanya, sepi kalo ga’ada tawa candanya sepanjang perjalanan…

We Love U MiRah… jangan nakal ya Nak.

Comments (20)

*ngiri, pingin segera nyusul…
.-= Dek Didi´s last blog ..Facebook Marketing, Strategi Marketing Era Sosial Media =-.

[Reply]

pande Reply:

Silahkan… hehehe…

[Reply]

Mirah mirip bapak atau ibunya ?
.-= inten´s last blog ..30 =-.

[Reply]

pande Reply:

Tergantung… kalo lagi bobo, Mirah mirip ibunya, ga’bisa diem pas bobo… tapi diluar itu ya mirip Bapaknya… tukang makan huahahaha…

[Reply]

Apakah sahabat ingat bahwa tanggal 22 Desember 2009 adalah Hari Ibu.
Apa yang akan anda persembahkan kepada ibu atau isteri dihari yang istimewa itu ?
Jika anda bisa menghindangkan sebuah masakan nan lezat, orang-orang tercinta tentu akan memberikan kecupan istimewa sambil berbisik mesra “ I Love You my Superman “. Nah tunggu apa lagi, ikuti SupermanShow di
http://abdulcholik.com/kuliner/SupermanShow%20La%20Tetates%20de%20Timbele

Kami tunggu-tunggu Superman-Superman yang perkasa tetapi juga jago masak.
Salam hangat dari Surabaya

[Reply]

masih kecil aja udah bisa sampai 10, gmn udah besar, pasti pinter tuh bli, mungkin sekarang karena masih kecil ucapannya belum bagus

[Reply]

yeh,pdhl baruuu aja ming mo ngepost tentang keponakannya ming,si anggik angguk..eh udah keduluan.. Udh 3taon si skrg,tp mgkn dr umurnya sebaya mirah udah lamis minta ampun dan wayahne ngletak. Tp jstru bukan disitu uniknya dr dulu dia udah biasa balik-balikin suku kata n plesetin kata2 n tu bertahan mpe skrg. Misal, bilang ‘sekarang’ jadi ‘kesayang’, bilang ‘pesawat’ jd ‘sepawat’ dan masih bnyk lg kata2 ajaibnya,hehe..

[Reply]

pande Reply:

…Anak-Anak… :p

[Reply]

Waduh2.. Mirah kok mirip saya waktu kecil ya? Hhe. Bneran deh..

[Reply]

pande Reply:

Mungkin krena namanya Mirip ? 🙂

[Reply]

waaah, aku ga setuju dg kalimat penutupnya. anak kecil harus diajarin nakal, bli. biar nanti gede jd alim. kalo sekarang alim, takutnya ntar gede jadi nakal. 😀

btw, perasaan baru kemarin datang ke rumah bli pande utk bawa kado. eh udah 1,5 taun.
.-= a!´s last blog ..Prita, Ketika Keadilan Direcehkan =-.

[Reply]

pande Reply:

ah, itu kan cuma perasaan ‘dik AnTon saja… gak terasa ya ?

[Reply]

Winarto Reply:

Nyepam lagi ah 😛
Belum pernah punya anak, jadi sulit menjawab pengertian diajari nakal atau malahan jangan nakal.

Namun yang pasti, metode pendidikan anak dari masing-masing orang tua berbeda satu dengan yang lainnya.Kalau dari pernyataan bos Anton, sepertinya percaya bahwa “nakal itu ada jatahnya”, kalau jatah itu dihabiskan ketika kecil, maka pada saat dewasa tidak akan menjadi nakal.

Kalau untuk Bli Pande, sepertinya pernyataan “jangan nakal” itu adalah ucapan umum yang menjadi harapan orang tua pada anak-anaknya. Mungkin saya perlu banyak belajar dulu dengan beberapa studi kasus dari orang tua yang berhasil mendidik anak-anak mereka.

Namun yang menjadi pertanyaan saya adalah, apakah orang tua memiliki “orang tua panutan” yang menginspirasi metode mendidik anak? misalnya Bli Pande terinspirasi oleh cara orang tua Bli Pande dalam mendidik anak-anaknya dan kemudian diterapkan ke Mirah.
.-= Winarto´s last blog ..Momentum Hari Anti Korupsi Sedunia =-.

[Reply]

pande Reply:

He… kalo ditanya begitu, panutannya ya banyak. Minimal dari masa kecil pribadi atau dengan orang tua sendiri, maupun orang tua dari pihak Istri alias Mertua. Juga bercermin pada orang lain yang barangkali tidak patut untuk ditiru…

[Reply]

:mrgreen:
anak yang lucu. keren boo.

[Reply]

pande Reply:

Terima Kasih…

[Reply]

Sudah lama tidak nyepam ke blog ini

[Reply]

pande Reply:

ya, kirain dah insyaf. :p

[Reply]

Jadi pingin tahu cerita masa kecilku dulu
.-= Winarto´s last blog ..Momentum Hari Anti Korupsi Sedunia =-.

[Reply]

pande Reply:

coba dicari pada blog milik orangtuanya. Mungkin masih ada… 🙂

[Reply]

Post a comment

CommentLuv badge