Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2009

Kompetisi Sehat ala NFS UnderCover

Jaman sekarang siy sudah jarang ada yang mau berkompetisi atau bersaing dengan cara sehat dalam usaha mencapai sebuah tujuan, namun jangan khawatir kompetisi macam itu bakalan bisa ditemui pada Games Need For Speed UnderCover (NFS) buatan Electronic Arts. Ketika menjumpai teknik permainan pada games bergenre balap ini, saya pribadi sempat merasa aneh lantaran games terakhir yang saya mainkan dapat memberikan kebebasan yang kebablasan sepanjang permainan, yaitu Grand Theft Auto . Hal-hal seperti menukar kendaraan dengan seenaknya baik dengan cara mencuri dari parkiran hingga membunuh si pemilik kendaraan, dijamin ga’bakalan bisa ditemui pada NFS. Jalannya permainan kurang lebih sama dengan Midtown Madness buatan Microsoft jaman saya kuliah dulu. Ada dua opsi cara yang dapat dilakukan sepanjang permainan, berjalan-jalan mengitari kota (tidak mengikuti alur cerita) atau menjalankan misi sesuai pilihan yang tersedia (alur cerita tergantung pada pilihan yang diambil). Untuk opsi mengitari

Need For Speed Undercover

Games dengan tipe ‘fisrt person shooter’ boleh jadi terfavorit yang saya mainkan sejak pertama kali mengenal PC, namun kegemaran itu mulai kendur ketika pernikahan saya jalani. Jiwa yang dahulunya meledak-ledak mendadak lembut begitu mendapatkan sentuhan Istri. Hehehe… Lima tahun berlalu tanpa sekalipun saya berminat dengan games yang dapat memunculkan adrenalin ketitik tertinggi, namun secara kebetulan awal November lalu, atasan saya meminta tolong menginstalasi sebuah games bergenre balap mobil ‘Need For Speed ProStreet’ untuk dimainkan putranya nanti. Tidak ada yang istimewa sebenarnya dari proses instalasi, hanya memerlukan barisan abjad sebagai Serial Number sebelum proses dilakukan. Lantaran saat itu saya disibukkan untuk mempersiapkan diri mengikuti wisuda, games tersebut saya abaikan. Baru pasca wisuda, ada ketertarikan ingin tahu seperti apa sih rupa games tersebut ? Mendapatkan informasi bahwa NFS ProStreet merupakan rilis game yang agak jeblok dipasaran, sayapun mencari ser

Selamat Bergabung BLoGGer Muda BBC

‘Patah tumbuh hilang berganti… sebuah pepatah kuno pantas disematkan untuk sebuah komunitas BLoG yang saya kagumi. Bali Blogger Community (BBC). Perayaan ulang tahun usia ke-2 yang akhirnya (jadi juga) dilaksanakan hari minggu kemarin menjadi bukti nyata pepatah tersebut. Ini adalah kali kedua kegiatan resmi BBC yang saya ikuti setelah Launching di Popo Danes dua tahun lalu. Kesibukan kuliah yang selama ini menjadi kambing hitam absennya saya dalam setiap kegiatan, kini sudah tak lagi dijalani, maka sesuai janji sayapun akhirnya bisa hadir kendati tanpa keikutsertaan anak dan Istri. Berbeda dengan suasana launching, ultah ke-2 BBC tergolong sangat sederhana. Tanpa panggung, tanpa band Animo dan minim kehadiran Blogger ‘tua’. Beberapa Blogger yang saya harapkan dapat bersua kembali barangkali masih terkendala dengan kesibukan masing-masing seperti Ancak , Dokter Cock , Brokencode , Dani Iswara , GungDe atau Bung Gentry Amalo. Beruntung hingga acara berakhir saya masih sempat bersua den

Mesin Waktu itu bernama GuDang

Gudang adalah sebuah ruangan yang digunakan untuk menyimpan berbagai macam barang ( Wikipedia , 2009). Barang yang dimaksud meliputi barang yang tak digunakan lagi, barang yang barangkali kelak bisa digunakan hingga barang yang bingung mau digunakan ato enggak ( PanDe Baik , 2009). Gudang lebih tepatnya menurut PanDe Baik adalah sebuah mesin waktu yang dapat membawa kita kembali pada masa lalu. Masa dimana semua kenangan itu dilewati, indah atau pedih, sehingga cukup pantas untuk membuat sebuah senyum menggurat jelas pada wajah si oknum yang secara sadar memasuki ruangan bernama Gudang. Gudang dirumah kami tak lebih dari sebuah ruangan apek penuh debu dengan ukuran yang sama dengan kamar mandi kami. Mobilitas saya keruangan ini bisa dikatakan jarang, tidak sama dengan rutinitas saya menuju tempat tidur. Minimal pada hari libur, entah pagi atau sesempatnya. Dahulu sekitar tahun 2003, Gudang ini sempat ditata rapi, diisi sebuah rak rangka besi yang siap menampung puluhan buku-buku masa

Don’t Judge Nokia 6720c by it’s cover

Melanjutkan tulisan sebelumnya tentang Nokia 6720c, Ponsel keluaran terbaru Nokia ini rupanya mengadopsi daftar menu yang berbeda dengan N73. icon foldernya tak lagi berupa kotak kuning (default Nokia) biasa, namun sudah menggunakan gambar tertentu yang lumayan membuat saya kebingungan dalam mencari shortcut Pemutar Musiknya. Demikian pula saat mencari fitur QuickOffice dan Peta. Wah… bikin pangling. Mengadopsi sistem operasi Symbian 60 artinya dapat ditambahkan berbagai macam aplikasi sesuai dengan kebutuhan nantinya. Yang makin menarik, sudah tersedia shortcut jejaring sosial seperti FaceBook, MySpace, atau portal video YouTube dan tentu saja Ovi milik Nokia. Selain itu berbicara kecepatan prosesor yang ternyata sudah mencapai 600 MHz, hanya membutuhkan waktu tak kurang dari 5 detik untuk siap digunakan dari keadaan off. Bandingkan dengan Nokia N73 milik saya itu, fiuh… sampe terheran-heran sendiri. Kecepatan ini bisa juga dilihat dari akses antar menu yang gegas dan juga saat proses

Nokia 6720c Ponsel Klasik untuk Mertua

Memilih sebuah ponsel untuk Mertua yang usianya notabene sudah masuk kepala lima sebetulnya tidak sulit, karena syaratnya sudah ditetapkan sedari awal. Bahkan budget yang dianggarkan pun sudah lebih dari cukup untuk mendapatkan sebuah kemajuan teknologi terkini. Tapi ya, kasian uangnya kalo dibuang percuma hanya untuk sebuah gengsi, karena toh dalam rentang harga yang terjangkau yang namanya teknologi itu sudah bisa didapatkan hampir secara keseluruhan. Bentuk yang simpel dan mudah digunakan, kalo bisa gak jauh beda dengan Nokia 6080 yang Beliau gunakan saat ini. Tahan lama dan kalo bisa ada fitur kamera yang hasilnya dapat dicetak seukuran 4R. Untuk awalnya Beliau memilih salah satu ponsel yang tertera dalam lembaran harga sebuah tabloid, gak tanggung-tanggung, seri bisnis milik Nokia, E66. Alasannya ternyata cukup sederhana. Punya fitur kamera 3,2 MP dan sudah memiliki autofokus. He… Beliau rupanya mencontek dari spek ponsel Nokia N73 yang saya miliki. Namun karena Beliau kini sudah

pagi satu ketika…

Entah bagaimana caranya aku bisa berada ditempat ini… Sebuah gang kecil yang kumuh, aku bersandar pada tembok, disela batu bata berlumut layaknya masa kecilku. Orang berlalu lalang didepan gang seakan tak peduli dengan kehadiranku… Langkah seorang Bapak tua terhenti, berbalik memandangiku, menghampiri dan menyodorkan sebatang rokok putih yang kuhisap dengan rakus… ‘bukan orang sini Pak ?’ sapanya. ‘dimana ini Pak ?’ balik kubertanya. ‘Legian… Kuta…’ jawabnya sambil menghirup nafas dalam-dalam. Terpekur kumenatap sekelilingku. Luluh lantak tak berbentuk… ‘Apa yang terjadi ?’ tanyaku kembali. ‘Bom…’ ucapnya terhenti. ‘…lagi ? Legian dibom ?’ tanyaku terheran seakan tak percaya… dan ekspresi yang ditampakkannya pun sama denganku. ‘Apa maksud Bapak dengan ‘lagi ?’ ‘Seingat saya Legian dibom tujuh tahun lalu Pak. Tahun 2002, bulan Oktober… bagaimana bisa kini Legian kembali mengalami hal yang sama ?’ cecarku. ‘Apa maksudnya dengan ‘tujuh tahun lalu ? ini tahun 2002 Pak. Bulan Oktober…, apa

Yang tercecer dari Yudisium Bersama Fakultas Teknik

Jumat pagi… seminggu sebelum perhelatan, telepon dirumah berdering dengan nyaringnya… Orang diseberang sana mengatakan… “Mohon kesediaan Bapak untuk memberikan Kesan dan Pesan mewakili seluruh rekan lulusan pada Yudisium Bersama Fakultas Teknik, 5 November 2009 di Gedung Undagi Graha Fakultas Teknik Kampus Universitas Udayana di Bukit Jimbaran…” Sejenak tak percaya, sayapun mulai mencecar banyak pertanyaan kepada si penelepon ‘kenapa saya ?’ ‘atas dasar apa’ dan ‘apa yang harus saya katakan ?’. Seakan tak puas dengan jawaban yang diberikan, Sabtu pagi sayapun mempertanyakan hal yang sama kepada staf di kantor Pasca Sarjana Teknik Sipil, kampus Sudirman. Jawabannya cukup mencengangkan. Dua kali Yudisium ? Yudisium pertama, dilakukan pada tanggal 4 November 2009, di gedung Rektorat Kampus Sudirman lantai 4. Diikuti oleh seluruh lulusan pada tingkat Pasca Sarjana dan Doktor se-Universitas Udayana. Yudisium kedua, dilakukan pada tanggal 5 November 2009, di gedung Undagi Graha Fakultas Tekn

Dua kali Yudisium bagi lulusan Pasca Sarjana Teknik ?

Sudah sewajarnya bagi setiap calon wisudawan wisudawati mengalami dua event penting sebelum dianggap benar-benar selesai menempuh studi tingkat perguruan tinggi. Pelepasan atau dikenal dengan istilah Yudisium dan Pengukuhan atau Wisuda. Demikian pula saya. Namun sedikit dibuat heran, Yudisium untuk jenjang pendidikan Pasca Sarjana dilakukan dua kali. Satu kali Yudisium untuk lulusan Pasca Sarjana (seluruh bidang studi) dan program Doktor, satunya lagi Yudisium bersama dilingkungan Fakultas Teknik. Yudisium bersama ini diikuti pula oleh lulusan dari tingkat Sarjana. Secara de facto, lulusan Pasca Sarjana sedari awal perkuliahan tidak pernah berhubungan langsung dengan Fakultas Teknik reguler maupun ekstensi. Kami hanya berurusan dengan pihak Pasca. Itu sebabnya, secara pribadi agak heran juga kalau kami diminta untuk mengikuti Yudisium bersama sehari setelah Yudisium Pasca Sarjana. Awalnya memang kami tidak disarankan untuk mengikuti Yudisium bersama ini, toh untuk Transkrip Nilai sudah

…dan semua itu berakhir sudah…

Melanjutkan studi ke jenjang Pasca Sarjana sebenarnya sama sekali tidak pernah terpikirkan, jika bukan karena desakan seorang teman kantor yang sudah terlanjur mendaftarkan dirinya di Magister Teknik Sipil pertengahan tahun 2007 lalu. Bisa jadi karena saat itu pikiran masih terfokus pada usaha untuk mendapatkan momongan. Kebuntuan jalan yang saya temui akhirnya membelokkan pikiran untuk kembali ke bangku kuliah ketimbang bengong termenung setiap pulang kerja. Banyak hal yang menjadi kendala sebenarnya. Hal terbesar adalah masalah biaya. Seluruh tabungan saya habis digunakan untuk pengobatan diri sendiri yang kala itu diduga Oligoasthenoteratozoospermia oleh Dr.Wimpie. Sebuah istilah ilmiah yang intinya mengatakan bahwa sperma yang saya miliki tidak normal hingga menyulitkan proses pembuahan. Disamping itu, orang tua sudah tidak lagi seproduktif dulu. Apalagi Bapak yang diketahui mengidap Diabetes sejak tahun 2003 lalu. Saya pun akhirnya mengikuti saran dari rekan-rekan kantor, memanf

Sensasi FaceBookers Evan Brimob

Evan Brimob merupakan salah seorang dari 12 juta FaceBookers negeri ini yang melek dengan teknologi. Tak hanya situs pertemanan ini saja yang ia miliki, namun juga situs yang sebelumnya booming namun mulai ditinggalkan, Friendster. Tak ada yang istimewa dari profil yang tertera dalam Info yang bersangkutan. Seorang jejaka kelahiran 1986 dan berzodiak sama dengan saya, Aries. Satu zodiak yang biasanya memiliki gejolak emosi yang tinggi, saya akui itu. Memiliki teman hingga mencapai angka 800an orang, salut saya katakan, lantaran tidak banyak aparat penegak hukum yang mampu bergaul dan bergelut di dunia maya. Evan Brimob mulai beken setelah salah satu update statusnya mengatakan “polri gak butuh masyarakat… tapi masyarakat yg butuh polri…. maju terus kepolisian indonesia, telan hidup2 cicak kecil…..” Ya, inilah imbas dari kemelut yang terjadi selama sepekan terakhir. Perseteruan ‘Cicak melawan Buaya’ yang kendati istilah tersebut telah dipinta untuk tidak digunakan lagi, namun publik te

‘Cicak vs Buaya’ merambah FaceBook

Perseteruan antar lembaga negeri ini rupanya telah memasuki babak baru. Dijebloskannya dua pimpinan KPK Bibit dan Candra kedalam sel sekaligus ditetapkan sebagai Tersangka, dituntut dengan pasal ‘seenak perut’ (karena digonta ganti ketika tuntutan lainnya tidak terbukti) direspon oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Beberapa Tokoh penting juga akhirnya turun gunung berusaha menengahi ataupun mendesak Presiden untuk bertindak. Tak sedikit pula yang tampil dibarisan depan menjaminkan diri mereka dan menuntut pembebasan kedua petinggi KPK tersebut. Dukungan moral rupanya tak hanya disuarakan dalam bentuk nyata. Dalam ranah mayapun dukungan terus mengalir demi sebuah keinginan menegakkan keadilan dinegeri ini. Facebook salah satunya. “Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto” yang digagas oleh Usman Yasin dalam hitungan hari telah meraup dukungan setengah dari target yang diharapkan. Hingga 3 November pagi pk. 8.50 tercatat sudah mencapai angka 505.0

Taxco VX1 Blackberry Javelin rasa lokal

Nexian boleh saja disebut sebagai pembuka jalan dalam meningkatnya minat masyarakat akan kehadiran ponsel berkeypad QWERTY besutan China dan mengambil alih rupa Blackberry, namun hingga saat ini tak satupun dari seri yang dirilis mampu menyamai desain ponsel gembul kelahiran Kanada tersebut. Tidak demikian halnya dengan Taxco, salah satu dari sekian banyak brand lokal ini tampaknya tak mau kalah dengan para pesaingnya dalam merilis ponsel berkeypad QWERTY.  Rupanya Taxco tak ingin bersikap setengah setengah dalam soal jiplak menjiplak, lihat saja dari desain secara keseluruhan ponsel seri VX1 milik mereka, bisa diidentikkan dengan Blackberry Curve 8900 alias Javelin. Ditilik dari spesifikasi yang diusung tak jauh beda kok dengan ponsel berkeypad QWERTY besutan lokal lainnya, dari Dual On GSM, koneksi Bluetooth, Memori tambahan MicroSD, dukungan Java (eBuddy, Facebook dan Yahoo Messenger) serta Kamera. Yang menarik adalah resolusi kamera yang dimiliki sudah mencapai 2 MP dan ini benera

iPhone 3G 8GB Keren tapi menyusahkan

Siapa siy yang gak pengen punya iPhone ? bagi mereka yang mengikuti perkembangan teknologi ponsel, dijamin pernah terkesima dengan kejeniusan desain perusahaan yang dipimpin oleh Steve Jobs itu. Pengoperasian yang full touchscreen, minim keypad. Hanya satu tombol mirip tombol navigasi pada ponsel biasa, namun setelah digunakan, hanya difungsikan sebagai tombol home atau kembali ke menu awal. Saya sendiri akhirnya berkesempatan memegangnya langsung, dalam waktu cukup lama pula, ini setelah seorang teman yang dahulu sempat membawa pulang jagoan saya datang lagi kerumah dan menawarkan iPhone 3G 8GB, batangan tanpa asesoris apapun. Dari informasi, iPhone ini dahulunya adalah milik orang asing alias bule yang barangkali kelupaan dengan ponselnya, sehingga ga’heran kalo ni ponsel ditawarkan tanpa charger. Hehehe… kondisinya masih bagus dan fungsi utama ponselpun masih normal. Cuma kalo musti ditebus dengan harga 3,5 juta, mendingan ngambil Blackberry Gemini bathin saya. Harga yang sangat tin