Pungutan Parkir Naik dimana-mana

8

Category : tentang KeseHaRian

Kalo diingat-ingat, ini tulisan saya yang ketiga berkaitan dengan parkir. Yang pertama dulu tentang kebingungan mau diapakan karcis parkir yang menumpuk pada dashboard mobil (ini baru satu mobil loh…), punya seratus lembarpun gak bakalan ada peningkatan pelayanan kepada konsumen, entah itu perluasan lahan parkir ataupun penggantian kerusakan/kehilangan misalnya. Tulisan yang kedua berkisah tentang karcis parkir tahun lawas ternyata masih digunakan atau diedarkan untuk memungut parkir, entah di ruas jalan yang mana.

Kali ini masih seputaran pungutan parkir (baca:karcis parkir) yang beberapa waktu lalu sudah dinyatakan naik 100% dan dibatasi pada daerah tertentu saja. Percobaan pertama dilakukan pada supermarket yang ada di seantero Denpasar seperti Ramayana Bali Mall, Matahari, Tiara Dewata dll. Sayang, dalam pelaksanaannya kenaikan pungutan parkir ini tidak hanya berlaku sesuai ketentuan yang diambil. Tak sedikit yang komplain dan terkejut saat disodorkan karcis parkir Rp. 1.000 untuk pengguna sepeda motor dan Rp. 2.000 untuk kendaraan mobil.

Seandainya kita sebagai konsumen mau mencermati kondisi lapangan, sebetulnya memang belum semua ruas jalan diberlakukan kenaikan pungutan ini. Saya sendiri mengalaminya ketika membayar parkir di Pasar Badung, Pasar kereneng pagi hari hingga ruas jalan Kamboja dan Beliton. Pungutan masih berlaku normal yaitu Rp. 1.000 untuk kendaraan mobil. Anehnya, ke-abnormalan pungutan parkir malah terjadi ditempat yang sama dalam waktu yang berbeda. Katakanlah di Pasar Kereneng malam hari, pungutan langsung berubah menjadi Rp. 2.000, sambil si oknum pemungut menunjukkan selebaran permakluman yang tertempel disekitar tempat parkir. Kok bisa ya ?

Dari beberapa karcis parkir yang saya koleksi selama dua bulan terakhir, untuk yang sudah mengadopsi pemberlakuan tarif baru diantaranya Rimo, Sanur Raya, Pertokoan Udayana hingga ruas jalan Cok Agung Tresna Renon. Ada juga yang hanya bertuliskan ‘untuk tempat parkir khusus’ dengan tampilan logo Z di sudut kanan bawah. Uniknya ada dua cara berbeda yang dilakukan oleh si pemungut (dalam hal ini Tukang Parkir) dalam memberikan karcis parkir kepada pengguna kendaraan (baca:konsumen).

karcis parkir 1

Cara pertama adalah merobeknya langsung dari bundel karcis parkir, mengambil satu atau dua bagian sebagai tanda bukti untuk konsumen dan pengontrol. Ini dilakukan oleh mereka yang berada pada tempat yang telah ditentukan sebelumnya, sebagai tempat percobaan kenaikan tarif pungutan. Dari karcisnya pun kita bisa mengetahui keabsahan karcis yang diberikan, cukup melihat pada sudut kanan bawah biasanya tertera logo yang merupakan tempat dimana karcis tersebut diberlakukan.

Cara kedua adalah mengambil sobekan yang diperuntukkan bagi konsumen dari sela-sela bundelan karcis parkir yang dibawa. Tidak merobek seperti biasa, langsung mengambilnya. Biasanya ini terjadi pada ruas-ruas jalan ataupun tempat yang tidak masuk ketentuan percobaan naiknya tarif pungutan parkir. Saya sendiri iseng pernah menanyakannya pada seorang juru parkir, kata dia uang konsumen untuk setiap karcis parkir yang dibayarkan, masuk ke kantong pribadi. Apa sebab ? karena di ruas jalan tersebut memang masih memberlakukan ketentuan lama. Trus dapet darimana tuh karcisnya Pak ?

Hehehe… ini dia yang unik. Masih berkaitan dengan tulisan saya yang kedua, mengacu pada kebiasaan pengguna jalan yang setiap kali karcis parkir tarif baru diterima, karcis langsung diremas dan dibuang di tempat tersebut. Nah, ternyata ada orang-orang tertentu yang mengambil kesempatan dengan mengumpulkan karcis-karcis yang ‘tak dipakai’ itu. Opsinya ada dua pilihan, dijual murah kepada para petugas parkir atau digunakan sendiri dengan pertimbangan keuntungan milik sendiri. Waaahh…

Ngomong-ngomong soal keuntungan pungutan parkir, ada juga satu dua tukang parkir yang kabarnya sampe bisa mencicil sebuah motor baru dari hasil pungutan ‘tak resmi tersebut. Apalagi ada juga konsumen yang langsung menyodorkan uang pungutan tanpa peduli menerima karcis parkir atau tidak. Seorang teman sempat memberikan tanggapan atas temuan saya ini, mengingatkan bahwa seorang juru parkir kabarnya diberikan target pencapaian perharinya sama seperti yang dialami oleh para sopir taksi atau kendaraan umum. Diharuskan memberikan uang setoran dalam jumlah tertentu dalam waktu berkala kepada yang berwenang. Jadi jika ada kelebihan ya secara otomatis akan menjadi hak dari si juru parkir. Waaahh…

Comments (8)

yuup…. salah satu orang yang cukup kesal dengan pungutan parkir yang tidak merata.
maksudnya kalo emang mungut parkir yah di segala bidang (lo?) dong… kalo emang males yah sekalian aja gak usah mungut parkir… wkwkwkkwkwkwkw (harapannya sih yang ke2, he)

salam kenal, senang ada yang sepikiran…..

[Reply]

pande Reply:

alangkah baiknya memang diberlakukan kenaikan merata, biar ga’disalahgunakan oleh oknum. Tapi kalo ga’bayar parkir, pegawe parkirnya nanti pada protes di blog saya loh. He…

[Reply]

sebenarnya dilema juga bli terhadap praktik nakal petugas parkir, kalo saya tergantung feeling pada si tukang parkir, kalau yang sudah sering saya lihat dan memang rajin kadang saya bahkan tidak meminta karcis parkir.
.-= wira´s last blog ..Gansdoellywood SMUN 7 Denpasar =-.

[Reply]

pande Reply:

He… untuk yang didekat kantor sih begitu… tapi rata2 sih, saya mintain karcisnya. Sebagai tanda bukti ilustrasi blog ini. hwahahahaha…

[Reply]

Geram juga sama tukang parkir…pernah udah bayar parkir 1000 tpi ga dibantuin keluar dari parkiran, malahan dia lari mengejar mobil yang akan keluar..Bangke ga tuh tukang parkir…

tapi di Bali termasuk murah biaya parkirnya, di jakarta baru mahal bahkan pakai sistem bayar per Jam..

[Reply]

pande Reply:

loh, di bali kan ada juga yang mahal ka ? supermarket apa gitu di daerah Kuta… sekali parkirnya kena 50ribu. Tapi bakalan langsung gratis kalo bisa nunjukin kitir belanja di tempat tsb. Berita ini sempat Masuk koran juga loh… kata pihak supermarket sih utk mncegah orang yang parkir nitip. hehehe…

[Reply]

begitulah. tarif parkir naik tapi peningkatan tetep segitu aja. tetanggaku yg tukang parkir juga tetep aja kere. entah karena pendapatan yg kurang ato karena kecanduan togel..
.-= a!´s last blog ..Karena Warga Berhak Bertanya =-.

[Reply]

pande Reply:

He… kalo kesambet TogeL sih, ya wajar lah Om…

[Reply]

Post a comment

CommentLuv badge