MiRah yang Makin Pintar Meniru

3

Category : tentang Buah Hati

Lama gak nulis cerita tentang si kecil MiRah putri kami, kangen rasanya pengen berbagi sekali-sekali.

MiRah bulan ini memasuki usianya yang ke 1,5 tahun. Malaikat yang dahulunya kecil mungil kini telah tumbuh menjadi gadis kecil yang berbadan bongsor untuk anak seusianya. Kakinya panjang makin menguatkan perkiraan kami bahwa MiRah akan mengambil porsi tubuh Bapaknya. Satu kekhawatiran saya selama ini. He… bukan apa-apa, siapa sih yang gak suka punya putri yang tinggi jaman sekarang ? tapi yang saya khawatirkan adalah soal ukuran, entah itu pakaiannya kelak, sepatu hingga asesoris sejenis lainnya. Saya sendiri sudah pernah mengalami masalahnya. Susah mencari dan mendapatkan yang sesuai. Semoga ga’seperti Bapaknya nanti. He…

Soal meniru, MiRah ahlinya. Dia dengan cepat dapat meniru bagaimana perilaku kakak-kakaknya yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak dari cara menangis, merajuk hingga apapun yang sedang dilakukan ‘sang gurunya’ tersebut. Perilakunya ini cukup merepotkan kami selaku orang tua dan kakek neneknya selaku pengasuh sehari-hari.

Namun gak semua hal yang ditirunya itu berbau negatif, ada juga yang kami suka yaitu saat ia menirukan lirik lagu Farid Harja, artis favorit sang kakek. Kebetulan sekitar dua bulan lalu saya sempat membelikan si kakek video cd bajakan lagu-lagu kenangan, diantaranya ya Farid Harja. Artis berbadan tambun ini menyajikan berbagai video musik dalam format karaoke dari tembang ‘Ini Rindu’, ‘Karmila’ sampe ‘Di Sekolah’. MiRah sendiri mulai mampu menirukan lirik lagu yang didendangkan kendati hanya satu suku kata terakhir dari setiap baris yang dinyanyikan. Favoritnya tembang yang ada kata ‘diamo (“diamor”), ‘ndu (“Ini Rindu”) dan juga yang ada bebeknya (“Telaga Saga Warna”).

Tidak hanya itu saja, Mirah juga sudah mulai belajar maem sendiri. Ga’disuapin nenek atau Ibunya tapi beneran maem sendiri. Tergantung permintaannya apa, tinggal dilayani. Biasanya Mirah akan meminta nasi yang dibungkus dengan kertas cokelat (ini sudah kami sediakan sebelumnya), mungkin dengan pertimbangan nasi bungkus itu adalah nasi yang dibeli dari luar (kebiasaan diajak maem di luar rumah kali. :p).
MiRah EDIT 117
Sebagai pelengkap ia akan minta bek (daging) ayam atau tahu isi. Soal apakah mau pake sendok, MiRah juga biasanya akan memilih sendok ukuran orang dewasa yang biasanya kami pakai. Dia emoh kalo disuruh make sendok kecil miliknya. Terkadang malah pengen maem langsung pake tangan. Kalo sudah begini, gayanya jeg nomor satu deh…

Sambil matanya nonton layar televisi, tangannya mengambil dan menyuap nasi kemulut mungilnya, dengan cara yang sama dengan kami, orang dewasa. Gak serampangan gaya anak-anak. Kalopun haus, tinggal pinta ‘yeh… (air), maka gelas plastik yang ada moncongnya pun diambil dan diminum selang seliing dengan nasi bungkusnya itu. Duuuhh… Saya sampe suka gregetan kalo ngliatin ia makan.

Kadang untuk urusan makan, MiRah juga suka kalo ada yang diajak patungan. Paling sering diajak maem bareng sih, saya. He… dengan satu piring nasi lengkap, MiRah bisa makan dengan lahap. Tentu saja sambil melarang saya ‘ga boleh maem bek ini dan itu, karena sudah merupakan haknya MiRah. Hehehe…

Soal meniru, ada lagi yang bikin kami cekikikan dan merekamnya dalam bentuk video dengan kamera digital ataupun ponsel. Dengan pedenya MiRah mengambil gagang telpon mainan yang saya belikan beberapa bulan lalu sambil berkata sepotong-potong. “Ya… Iyah… (MiRah)… Ninik da ? (nenek ada ?)… ni tatu… (ini luka, sambil tangannya nunjuk-nunjuk lutut kakinya)… atit… (sakit)… bab… (obat…)… dan berlarilah MiRah ke kamar Neneknya untuk mencari obat (Bokashi) untuk ditetel-tetelkan pada lutut kakinya dan meninggalkan gagang telpon begitu saja. Hihihihi… ada-ada saja nih…

Sebuah Cermin dari Anang Krisdayanti

14

Category : Cinta

Siapapun tak akan mengira cerita perceraian akhirnya menghinggapi sepasang insan yang terlihat begitu mesra dan serasi Anang dan Krisdayanti, demikian pula halnya saya.

Anang Krisdayanti, jujur saja menjadi sebuah inspirasi hubungan kami, saya dengan Istri sejak kami memutuskan untuk melanjutkan kehidupan bersama ke jenjang pernikahan, bahkan sebaris kata-kata yang teruntai dalam salah satu tembang Cinta mereka, kami cantumkan dalam kartu undangan pernikahan kami tahun 2005 lalu. Sungguh, saya pribadi tak menyangka bahwa hal yang saya perkirakan jauh hari sebelumnya terjadi juga.

Melihat perjalanan Anang Krisdayanti, saya jadi terngiang dengan cerita, impian dan harapan seorang adik perempuan masih sepupu saya, yang kini entah ada dimana. Bahwa setiap wanita pasti ingin selalu “dimengerti”. Bahwa mereka tetap ingin terlihat cantik dan sempurna. Bahwa didasar hatinya mereka menginginkan sesuatu yang lebih dari kemampuan yang mereka miliki. Sehingga seorang laki-laki diwajibkan untuk mampu memberikan serta mengabulkan “pengertian” yang mereka dambakan, jika tidak, masih banyak laki-laki lain yang bisa melakukannya…

Hingga hari ini saya masih tercenung akan kata-katanya itu… khawatir bahwa perempuan yang saya pilih akan memiliki atau bermaksud dengan hal yang sama dengan pemikiran tersebut… apakah kelak saya mampu memenuhinya ? bagaimana jika tidak ?

Membaca perpisahan mereka memang sudah sejak lama saya menyadari itu. Apalagi Krisdayanti adalah seorang Diva papan atas di dunia entertaiment, namun siapakah yang berada dibalik ketenaran dan keindahan seorang Krisdayanti selama ini jika bukan Anang sebagai seorang suami yang begitu mencintai Istrinya ? Seseorang yang begitu bertalenta mengembangkan kemampuan Krisdayanti sedari bawah, dan kini setelah berada di atas, semua itu seakan terlupakan…

Anang KD

Come On siapa pula yang peduli dengan cerita lalu ? hasut seorang kawan saya saat menyaksikan pasangan ini di layar televisi. ‘Uang adalah segalanya, dengan Uang kita bisa membeli bahkan memiliki apa yang kita inginkan, dan itu tidak dimiliki oleh seorang Anang… Uang adalah Dewa yang mampu mengubah pikiran dan kesetiaan kita menjadi kesesatan… dan sekali lagi, Anang barangkali tidak pernah memiliki hal itu…’

Damn ! untuk saat ini kata-kata itu benar adanya, bahkan dijaman teknologi informasi sedang berkembang pesat, orang rela melakukan apa saja demi mendapatkan gaya hidupnya, masih ingat dengan remaja Jepang yang rela menjual diri hanya demi sebuah ‘Tamagotchi’ atau remaja kita dalam kisah ‘Virgin’ ? Bisa jadi ini yang menjadi inti dari sebuah kisah Anang Krisdayanti dan patut kita jadikan cermin dalam kehidupan rumah tangga sendiri…

Sedemikian piciknya pemikiran akan sebuah ikatan pernikahan itu ?

Full Screen Keyboard solusi cerdas pda touch screen

3

Category : tentang TeKnoLoGi

Salah satu kesulitan terbesar penggunaan pda berbasis Windows Mobile Pocket PC yang memiliki fitur layar sentuh namun tak memiliki thumbboard terintegrasi adalah input data. Adapun pda yang tergolong tipe ini adalah HP Ipaq 6515, O2 Atom, XDA II ataupun HTC Touch.

Sebetulnya untuk input data secara default ada beberapa metode yang dapat dilakukan yaitu goresan stylus yang kemudian diterjemahkan kedalam bentuk abjad namun memerlukan latihan agar lebih terbiasa atau dengan keyboard virtual yang tampil pada sisi bawah layar sentuh. Sayangnya makin kecil layar pda yang dimiliki makin sulit mata kita untuk mencari abjad yang ada pada keyboard virtual tersebut. Terlalu sering melakukan input data dengan menggunakan stylus cenderung menyebabkan goresan permanen pada area ini.

Untuk mengatasi hal tersebut salah satu caranya adalah dengan menginstalasi aplikasi tambahan Full Screen Keyboard, posisikan pada memori internal pda. Aplikasi ini dapat digunakan secara bebas alias free, memiliki tampilan yang mirip dengan aplikasi buatan SPb yang berbayar.

Ketika aplikasi Full Screen Keyboard telah berhasil diinstalasi diperlukan reboot ulang handset untuk dapat menampilkan aplikasi tersebut sebagai salah satu alternatif media input data di bagian bawah (taskbar menu) layar pda. Diperlukan pengaturan kembali agar aplikasi Full Screen Keyboard dapat dijadikan sebagai media input secara default pada pda.

Cara pemakaiannya sederhana, saat aplikasi Full Screen Keyboard diaktifkan maka posisi layar secara otomatis akan berubah menjadi landscape dan menampilkan panel keyboard yang memenuhi layar, menyisakan sebaris kolom memanjang sebagai viewernya. Panel tersebut dapat disentuh dengan tangan maupun stylus. Saya sendiri lebih sering menggunakan tangan ketimbang stylus. Cara memegang handsetnya mengingatkan saya pada ponsel gaming milik Nokia yaitu seri N-Gage.
full keyboard
Setelah selesai menginput data atau kalimat, langkah selanjutnya adalah tinggal menekan tombol centang Rumput sebagai langkah copy-paste ke aplikasi yang akan digunakan, entah itu Pesan, Word maupun Note. Mudah bukan ? Dengan cara ini cacat permanen akibat goresan styluspun dapat diminimalisir.

Bagi yang ingin mencobanya dapat mengunduh (download) langsung melalui alamat dibawah ini :

Full Screen Keyboard for PPC

BerBagi PengaLaman menggunakan Pocket PC dan Aplikasinya

15

Category : tentang TeKnoLoGi

Ada yang masiy blom tahu apa itu Pocket PC ? kurang lebih artinya komputer genggam yang bisa masuk kantong. He… asal njeplak aja niy… Yah, paling tidak yang namanya Pocket PC itu nyaris identik dengan yang namanya PDA (Personal Digital Assistant) dan Windows Mobile.

Ngomongin Windows Mobile belakangan ini tampaknya sudah gak lagi didominasi oleh brand keluaran HTC ataupun para operator yang diajak bekerja sama seperti O2, T-Mobile atau Vodafone, tapi juga sudah merambah ke brand ponsel papan atas seperti Sony Ericsson maupun brand ponsel China.

Sekedar informasi atau istilahnya FYI, yang namanya Windows Mobile ini kalo diliat dari seri rilisannya, ada beberapa macam yang masing-masing punya kekurangan dan kelebihan yaitu Windows Mobile 2003, Windows Mobile 2003 SE, Windows Mobile 5.0, Windows Mobile 6.0 dan 6.1 serta yang terkini Windows Mobile 6.5. Sedangkan kalo diliat dari tipe dan peruntukkannya Windows Mobile dibagi dua pilihan, tipe Smartphone yang tanpa layar sentuh dan Pocket PC yang sudah mengadopsi layar sentuh atau touch screen.

Secara keseluruhan apabila dibandingkan dengan sistem operasi lain yang disuntikkan pada ponsel atau PDA, Windows Mobile bisa dikatakan bakalan lebih familiar digunakan bagi mereka yang telah mengenal dan mendalami penggunaan PC ber-Microsoft Windows. Bagaimana dengan pengguna baru ? bisa jadi seperti pengalaman beberapa teman saya yang nekat mencoba ponsel atau PDA ber-Windows Mobile, reaksinya beragam.

Ada yang menggerutu, ada yang bingung tapi ada juga yang gak peduli. Hasil akhirnya bisa ditebak, ntu ponsel atau PDA langsung dijual setelah satu dua bulan penggunaan. He… Apalagi bagi mereka yang kedapatan membeli PDA second dan masih menggunakan sistem operasi Windows Mobile 2003 yang notabene bakalan menghapus semua data contact, email, sms hingga Notes dan dokumen yang terdapat pada device saat batere menunjukkan angka 0 %. Lagi-lagi ada juga yang gak peduli dan memilih tetap menggunakannya dengan alasan ‘bisa menaikkan gengsi’. He…

Kalo punya kesempatan lebih, baiknya sih iseng-iseng browsing ke mbah GooGLe dan cari informasi lebih lanjut tentang bagaimana menggunakan dan memelihara serta mengoperasionalkan perangkat Pocket PC yang dimiliki. Itu jauh lebih baik ketimbang menyerah dan menjualnya trus berpaling ke ponsel sederhana. Tapi yah, gak semua orang bisa begitu. He…

Padahal gak sepenuhnya untuk dapat menggunakan Pocket PC dengan baik dan benar, selalu membutuhkan otak encer seperti yang dikeluhkan beberapa teman. Cukup dengan meluangkan waktu saat senggang dan jangan khawatir akan kerusakan (secara software) yang bakalan ditimbulkan akibat perilaku otak atik tersebut. Lantaran dalam setiap Pocket PC terdapat cara ampuh yang mampu mengembalikan sistem operasi ke versi pabrikan hanya dalam sepuluh menit saja. Tentu satu hal yang mutlak dilakukan adalah melakukan backup dan backup dalam setiap kesempatan atau pembaharuan data.

Jikapun masih bingung, kelak saya pasti bakalan berbagi pengalaman dalam menggunakan Pocket PC dan aplikasi apa saja yang bisa disuntikkan untuk mendukung kinerja dan fungsi device dalam keseharian nanti. Untuk sementara nikmati saja dahulu apa yang sudah saya sampaikan pada halaman berikut ini :

  1. Aplikasi Windows Mobile Pocket PC (O2 ATOM, Dopod 838, Audiovox 6700)
  2. Aplikasi Windows Mobile Smartphone (O2 Xphone iim, Motorola Q)
  3. Aplikasi Java (Ponsel / PDA)
  4. Games Java (Ponsel / PDA)
  5. RingTones (format MP3)

Puas-puasin deh Download YouTube

8

Category : tentang KHayaLan

Bisa jadi karena pertimbangan mubazir memiliki koneksi internet unlimited, dari pada tidak digunakan atau dimanfaatkan, dua bulan terakhir ini saya rajin mantengin portal penyedia video terbesar didunia maya (sepengetahuan saya loh ya…) You Tube hanya untuk mencari link url (alamat) video yang dimaksud. Ini saya lakukan berhubung kegiatan rutin saya yang berkaitan dengan kunjungan di YouTube, melakukan aktifitas pengunduhan (download) video untuk memuaskan rasa ingin tahu saya selama ini.

Adapun aplikasi bantuan yang saya gunakan untuk melakukan pengunduhan video adalah YouTube Downloader. Satu aplikasi yang bersifat gratisan, gratis diunduh gratis dipakai. Tinggal paste alamat link url video yang diinginkan lalu tunggu hingga mengental. Eh, sori… tunggu hingga muncul pilihan penyimpanannya. Kendatipun kecepatan StarOne yang katanya lemot, saya sendiri ga’terlalu peduli. Toh juga koneksi Unlimited ini… malah keseringan saat aktifitas download berlangsung, laptop saya tinggal pergi atau tidur. Hehehe…

Tapi jangan salah, kategori video yang saya cari bukan yang berbau lingerie atau bikini seperti hobi salah seorang rekan kantor yang juga memiliki koneksi internet unlimited IM2 Broom, melainkan ya ga’jauh-jauh dari Musik dan iklan Film. Yang berkaitan dengan iklan film ya memang ga’semuanya saya cari, paling-paling yang lucu dan dapat menghibur hati si kecil MiRah putri kami antara lain trailer Up dari Pixar yang menampilkan puluhan balon udara dalam durasi pendek ataupun music ost kartun Madagascar ‘I Like To Move It’ yang menampilkan beragam binatang silih berganti.

Kalo soal musik ? hmmm… Mungkin disebabkan oleh masa muda saya yang jauh dari masa jayanya VCD, jadi mupeng tiap kali nonton saluran MTV, berharap video klip sang idola bakalan nongol sepanjang hari. Hehehe… makanya kini saya lebih memuaskan diri berusaha mengingat, mencari dan mengunduh video musik artis-artis era tahun 90-an hingga terkini.

Cukup banyak yang saya dapatkan, dari video musik 2 Unlimited, Prodigy, Supergroove hingga White Zombie. Dari video live Dire Straits, milli vanilli yang kabarnya menipu para fans dengan teknik lip sync mereka sampe Lea Salonga atau Atlantic Star favorit jaman saya SMA dahulu. Rasanya memang selalu kurang dan kurang. Belakangan sayapun dihinggapi histeria Mbah Surip sampai Velvet Revolver. Velvet apaan ? he… nanti deh saya ceritakan.
YouTube DL
Makanya sempet was-was saat melakukan transaksi pembayaran bulan pertama dahulu, berhubung volume data yang saya gunakan melonjak hingga 3,7 GB dalam waktu satu bulan penuh. Ternyata unlimited-nya emang ga’bohong. Hehehe…

So, ga’ada salahnya kan, kalo saya mengatakan “Puas-puasin deh Download YouTube-nya…”

Kebiasaan dan Sentuhan tanpa Teori Fotografi

1

Category : tentang Opini, tentang TeKnoLoGi

Entah sejak kapan saya mengubah kebiasaan dalam mengabadikan gambar menjadi tak biasa untuk dinikmati oleh orang lain. Keinginan untuk mendapatkan penampilan gambar yang berbeda dan sekedar mecoba-coba kerap saya lakukan toh kamera digital memang diciptakan untuk itu. Tidak ada istilah pemborosan film lagi dalam setiap gambarnya.

Memang saya tak lagi mengambil gambar dengan fokus obyek berada ditengah-tengah area gambar. Kadang saya menempatkannya agak kekanan atau kiri,  kadang juga hanya menyembul sedikit. Ketidakbiasaan ini kerap pula dicemooh oleh orang yang melihat hasilnya namun tak sedikit yang mengerti dengan apa yang saya inginkan.

Kalau hanya untuk menampilkan obyek manusianya saya rasa kurang seru, kurang berceritera. Makanya saya tambahkan lingkungannya juga, sehingga orang bisa tahu kalo si A sedang berada di tempat ini dan si B sedang berada di tempat itu.

MiRah sentuhan

Saya akui tidak memahami kaedah-kaedah fotografi yang baik, bagaimana menciptakan efek blur pada background dan menajamkan obyeknya, bagaimana menciptakan cahaya lokal setempat, bagaimana agar membuat gambar terlihat lebih eksotik. Semua itu biasanya saya lakukan via pc dengan bantuan perangkat lunak. Makanya saya katakan sejak awal, saya ini bukan tukang poto propesional.

Untuk sebuah event saya biasanya menambahkan satu dua gambar yang bisa saya gunakan sebagai jeda di awal, tengah dan akhir penyajian. Entah itu suasana rumah, pendukung ataupun kejadian unik. Gak ada yang saya persiapkan khusus sebelumnya, semua mengalir begitu saja setiap kali saya memulainya.

Saya pribadi menambahkan sedikit sentuhan lagi saat hasilnya hendak dicetak dan disajikan. Biasanya bergantung pada besaran album foto yang nantinya akan diberikan, apakah berukuran memanjang landscape seperti buku gambar sekolahan atau malah besar seperti badan saya ini. Misalkan saja untuk yang memanjang biasanya muat sekitar 4 biji foto berukuran 4R, sehingga dalam usaha mencetak dan menyajikannya saya berusaha untuk mendapatkan 2, 3 sampai 4 buah gambar yang senada atau satu momen kejadian dan mutlak disajikan dalam satu halaman foto. Jangan sampai dalam satu halaman foto ada satu buah foto yang disajikan dalam format mendatar sedang tiga lainnya dalam posisi portrait atau salah satunya tidak nyambung dengan momen yang diinginkan tampil disitu.

Yah, namanya juga sekedar menyalurkan hobi. He…

Penghargaan itu bernama Terima Kasih

4

Category : tentang Opini, tentang TeKnoLoGi

Ada kebanggaan tersendiri ketika hasil kerja keras kita dihargai oleh orang yang kita bantu sekalipun itu hanya berupa ucapan terima kasih. Minimal apa yang telah dipinta dapat dilakukan dan diselesaikan dengan baik.

Saya akui tanpa embel-embel sikap yang profesional barangkali yang namanya rejeki ga’bakalan datang, kendati apa yang saya lakukan dan dihasilkan belum bertaraf sejauh itu. Profesional bagi saya bukan melulu berarti bekerja dengan baik dan selalu dibayar, seperti halnya pengertian yang diyakini seorang rekan kerja di kantor hingga hari ini. Namun bagaimana kita bersedia menjalankan apa yang sudah kita setujui dengan sungguh-sungguh sekalipun itu tidak dibayar karena memang sedari awal tidak berkomitmen untuk itu. Bukan materi yang ingin kita capai, mungkin bisa begitu dikatakan.

Entah sudah berapa kali saya melakukannya untuk orang lain dan saya begitu menikmatinya. Lagipula ga’banyak biaya yang harus saya keluarkan. Paling banter ya stamina yang fit. Ngomongin soal stamina apa yang saya lakukan bukan yang berhubungan dengan syahwat loh, salah kalo sampe berpikir kearah situ. Hehehe…

Berangkat dari hobi mengambil foto Istri sedari belum menikah dahulu saya bisa memiliki hampir ribuan gambar dalam berbagai situasi. Dari mencuci piring, serius menulisi buku besar, hingga ketahuan ngupilnya. Hahaha… Demikian juga dengan hobi mengabadikan momen jahil secara sembunyi-sembunyi dan mempermaknya sedemikian rupa, rata-rata mengundang decak kagum sekaligus makian heran dari sang obyek ‘sempat-sempatnya kamu ngambil foto ? kapan ya ?’ hehehe…

Akhirnya mengantarkan saya ke tingkat tukang poto amatiran entah itu untuk momen serius seperti pernikahan ataupun hanya untuk ulang tahun. Saya katakan amatiran karena hasil fotonya gak selalu bagus atau gak selalu indah dan memperhitungkan tingkat cahaya serta istilah fotografi lainnya. Cuma menyalurkan hobi asal njepret dan memilihkannya hasil yang terbaik.

Maka dari itu ya ga’heran kalo dalam satu kali event ataupun permintaan saya bisa melakukan puluhan atau ratusan kali pengambilan gambar. Yang hasilnya ternyata cukup beragam. Apa yang saya lakukan ini tentu saja ada sisi positip dan negatipnya. Positipnya saya mendapatkan dua tiga gambar alternatif yang bisa saya pilih dan padukan untuk sebuah pengabadian momen terbaik. Tak jarang saya musti melakukan cropping digital satu foto dengan foto lainnya, terutama jika itu berkaitan dengan ekspresi wajah yang tidak sesuai dengan harapan. He… Negatipnya stamina saya kadang terkuras habis dan memerlukan pemulihan satu dua hari penuh, tentu jauh beda dengan mereka yang telah menyandang status profesional. Tapi it’s okay, namanya juga menyalurkan hobi dan membantu orang lain.

Jika dahulu saya dibantu dengan sebuah kamera pocket kecil tipis Konica Minolta X31, per pertengahan Agustus mulai berganti dengan yang sedikit gembul, Kodak EasyShare C1013. Perbedaan hasil fotonya sangat mengejutkan setidaknya bagi saya pribadi. Jauh lebih cerah dan tajam. Ini sangat wajar bagi saya, wong tahun rilis produk yang selisih hampir lima tahun dan yang namanya teknologi hitungan lima tahun itu tentu saja banyak hal yang bisa saya dapatkan.

Penghargaans

Dengan menggunakan kamera digital baru ini saya tidak lagi harus menunggu jeda lama untuk berpindah dari satu frame ke frame yang lain. Demikian pula dengan minimnya cahaya, ga harus mengalihkannya ke tempat terang dahulu baru mengambil gambar dari obyek yang saya inginkan. Kendati terkadang hasilnya terlihat agak gelap di layar preview kamera, tidak demikian halnya dengan saat dilihat melalui PC. Saya bahkan tidak banyak melakukan editing gambar lagi hanya untuk mendapatkan ketajaman yang maksimal. Untuk seorang tukang poto amatiran ini jelas saja sangat memuaskan. Saya pribadi biasanya menambahkan sedikit sentuhan lagi saat hasilnya hendak dicetak dan disajikan. Nanti saya ceritakan.

Maka ketika apa yang saya lakukan sehari sebelumnya sudah bisa dinikmati oleh orang-orang yang memberikan kepercayaannya pada saya dalam hitungan jam, banyak hal yang saya dapatkan saat itu. Dari peluk erat, jabat tangan yang lama dan mencengkram hingga selipan beberapa uang merah yang tak pernah saya sangka sebelumnya. Namun ada yang jauh lebih berarti dari semua itu, ucapan Terima Kasih yang tulus dan wajah yang senang sumringah merupakan penghargaan paling tinggi buat saya. Setidaknya untuk saat ini.