menJadi KriTis adalah PiLihan yang telah saya tinggalkan

6

Category : tentang KeseHaRian

Konsumen Bicara Masuk Penjara. Begitu kira-kira gambaran poster yang tampil pada status Facebook seorang BLoGGer yang dijuluki Bapak BLoGGer Indonesia, Enda Nasution.

Poster tersebut adalah satu bentuk dukungan bagi seorang ibu rumah tangga, Ibu Prita Mulyasari (32) yang ditahan selama kurang lebih tiga minggu setelah dituntut oleh sebuah instansi Rumah Sakit, Omni Internasional setelah mendapati sebuah email (milik Ibu Prita) yang beredar di beberapa milis terkait keluhan si Ibu atas pelayanan rumah sakit tersebut. Mirisnya, email tersebut sebetulnya hanyalah sebuah bentuk curhat atau email untuk berkabar pada beberapa teman, yang kemudian diteruskan ke berbagai milis tanpa sepengetahuan si Ibu.

Apa yang dialami oleh Ibu Prita tersebut kurang lebih memiliki awal yang sama dengan apa yang saya alami akhir tahun lalu. Setelah merasa tak puas dengan pemberitaan sebuah media, sayapun menulis unek-unek pada blog yang saya miliki ini. Hanya saja saat itu saya berkeyakinan, toh blog saya selama dua tahun berjalan gak pernah dikunjungi orang. Ya, saat itu blog saya ini masih numpang nebeng gratisan di blogspot.

Akan tetapi, ketika blog ini memiliki domain sendiri entah bagaimana caranya tulisan saya tersebut mencuat dihalaman Google dan dibaca oleh awak media tersebut. Maka jadilah saya saat itu digadang-gadangi bakalan di-UU ITE-kan oleh sang media yang merasa gerah dengan tulisan saya tersebut. Bersyukur, langkah cepat yang diambil baik oleh saya selaku pemilik blog (dengan menghapus tulisan tersebut dan menghilangkan jejak blog di dunia maya) dan juga usaha mediasi dari Anton Muhajir dengan pihak media gak sampe membawa saya ke meja hijau. Meskipun apa yang saya lakukan tersebut (menghapus tulisan yang dimaksud) akhirnya menimbulkan pro-kontra bahkan menyayangkan kenapa bisa sampai terjadi seperti itu.

Yah, menjadi Kritis akhirnya hanyalah menjadi sebuah pilihan bagi saya, dan dengan segera saya tinggalkan. Maka dari itu blog ini kini tak lagi terlalu aktif berkiprah menampilkan isi yang nyerempet bahaya, mungkin itu sebabnya orang makin tidak tertarik untuk berkunjung kemari.

Disisi lain jujur saja, membuang jauh-jauh pikiran kritis itu bisa saya katakan hanyalah sebagai satu upaya yang sangat menyiksa bathin saya secara pribadi. Lantaran terkadang saya gregetan terhadap sesuatu hal yang tak berkenan dihati, yang biasanya saya tumpah ruahkan pada blog, kini harus saya pendam demi terhindar dari jeweran UU ITE tersebut.

shut-up

Bahkan sekali waktu, saya memeriksa kembali satu persatu tulisan saya terdahulu (sangat melelahkan menyortir tulisan yang mencapai angka 1.200 buah itu….) apakah ada yang kira-kira mampu mengundang orang yang gerah dengan tulisan saya lantas meng-UU ITE-kan saya kelak ?

E….la da lah…. –meminjam kata-katanya ibu Welas- saya jadi mengkasihani diri sendiri dengan adanya UU ITE tersebut. Sempat pula kepikiran untuk menghapus isi blog yang lalu-lalu itu. Tapi yah, bukankah itu semua adalah jejak yang sudah lama saya tinggalkan dan terjadi untuk mewarnai dan mengingatkan hari-hari saya kelak ?

Untuk itu ya mohon dimaafkan bagi rekan yang berkunjung dan merasa terkaget-kaget membaca tulisan saya sebelumnya. Mohon jangan meng-UU ITE-kan saya yah….

Tidak ada Kata TerLambat untuk beLajar (Facebook)

8

Category : tentang KHayaLan

Masih menyambung cerita saya sebelumnya, dimana ruangan kami belakangan ini dijangkiti oleh demam atau trend Facebook via ponsel, ada juga beberapa atasan yang mulai bertanya-tanya tentang dunia maya dan isinya yang familiar terdengar ditelinga mereka.

Untuk yang satu ini, minimal saya pribadi harus bisa memberikan penjelasan yang bisa dan mudah dimengerti mengingat faktor usia atasan saya ini sudah kepala lima. Tak jarang apa yang saya gambarkan itu mengambil contoh perumpamaan dari situasi keseharian kita.

Mulai dari email, beda BLoG dengan website, apa itu BLoG, kenapa saya tertarik pada BLoG, hingga bertanya perihal video YouTube, tarif internetan dan tak lupa kasus Ibu Prita yang rame kmaren.

Jujur saja, saya pribadi merasa salut pada kedua atasan saya ini. Ohya apa saya sudah mengatakan bahwa atasan saya ini ada dua orang yang tertarik dengan hal-hal yang saya lakukan, usia mereka kurang lebih sudah berkepala lima, ibu rumah tangga dari anak-anak yang sudah menginjak remaja ?

Maka itulah, saya merasa sangat kagum akan keingintahuan mereka, dan semangat untuk belajar. Untuk bisa jauh lebih memahami tentang apa yang saya jelaskan, keduanya langsung menyodorkan ponsel mereka untuk dioprek agar mampu terhubung dengan dunia maya, mengakses email, browsing, akses Facebook hingga mencari video di YouTube. Bahkan saking tertariknya, salah satunya sampe-sampe meminta saya mencarikan Beliau laptop Netbook yang kecil se-iprit lengkap dengan modem siap nge-net.

belajar-terlambat

Memang saya akui bahwa niat mereka untuk mempelajari sesuatu tak hanya melulu tentang dunia maya. Pada lingkup pekerjaan mereka pun tak segan membuka kembali dokumen-dokumen yang terkait langsung dengan yang mereka hadapi. Benar-benar berbeda dengan atasan saya yang terdahulu. He… masih ingat cerita saya soal atasan yang punya hobi ke salon, ber-dharma wanita atau malah emoh menghadiri rapat penting ?

Tidak ada kata terlambat untuk belajar, hal itulah yang bisa saya petik dari Beliau berdua. Hal ini pulalah yang mengingatkan saya pada seorang Pensiunan Dokter yang kini aktif menjadi seorang BLoGGer.

Dokter Basuki Pramana…. Apa kabarnya Pak ?

Sungguh, mereka-mereka inilah yang membuat saya merasakan salut dan menyemangati saya untuk terus belajar, apapun itu bentuknya.

Eh, ngomong-ngomong soal belajar, Thesisnya dikelarin segera tuh !!! He…

Apakah tujuan dari mempelajari sesuatu yang baru itu hanya demi UANG ?

12

Category : tentang KHayaLan

Sebuah demam atau trend seolah mulai menjangkiti ruangan kami selama dua minggu terakhir. Demam itu bernama Facebook.

Ketertarikan beberapa teman bisa jadi lantaran efek dari sebuah iklan ponsel Nexian yang merilis seri ‘ala BLackBerry-nya, dengan harga sejutaan, dimana tag-nya lebih menggembar-gemborkan ‘bisa facebook-an loh…..

Belum lagi beberapa atasan mulai menanyakan perihal ponsel BLackBerry, dari harga, isi dan kegunaannya. Tak lupa pertanyaanpun mulai menyerempet ke ‘apa sih itu Facebook, ‘apa sih itu BLoG atau ‘bagaimana caranya membuat email ?

Maka mulailah saya memberikan privat dadakan, dari menjelaskan apa itu Facebook, email, blog sampai ke cara pembuatan email hingga pendaftaran Facebook melalui ponsel mereka masing-masing. Secara pribadi sih saya gak masalah, soale gak ada ruginya berbagi ilmu dengan teman yang saya yakin apa yang saya berikan sedikitnya bisa berguna bagi mereka.

Yang jauh lebih bikin saya senyum-senyum geli dan sekaligus geregetan, rata-rata mereka ini masih awam soal yang namanya email, bahkan ada pula yang menganggap kalo email itu adalah alamat website. Sampai-sampai katanya sih, pernah mereka keceplosan cerita ke rekannya soal kepemilikan website pribadi, padahal yang dimiliki itu hanyalah sebuah email. He… Tak apalah, toh si rekan tersebut sama-sama gak ngerti. Cuma ho-oh saja.

Diskusi biasanya dimulai sejak jam kerja dimulai. Beberapa teman yang sudah mendaftarkan diri mereka pada Account Facebook, tampak ngumpul di sudut, membicarakan bagaimana caranya upload foto, update status atau perihal berkenalan dengan seorang gadis sexy. He… Saya sendiri hanya bisa melayani obrolan mereka sepintas sambil mengerjakan tugas kantor ato malahan nguberin jadwal Thesis. Ha…

Satu yang saya sukai adalah mereka ternyata mau dan mampu untuk belajar dengan sendirinya, mengembangkan penjelasan yang saya berikan sebelumnya, hingga beberapa hari terakhir saya pantau status mereka mulai beragam dan saling memberikan komentar akan status teman lain.

Sayangnya, ada satu dua teman yang bersikap antipati dengan keramaian yang kami ciptakan ini. Malahan si teman ini dengan ketus mengatakan bahwa orang-orang yang dijangkiti demam Facebook hanyalah orang-orang yang gak kurang kerjaan saja. He… Saya pribadi hanya tersenyum menanggapi hal itu.

Bukan apa-apa, dahulu saya sendiri pernah diklaim seperti itu, bahwa nge-BloG itu mencirikan orang yang anti pada kehidupan sosial. Lagipula pas saya tawarkan tentang keasyikan nge-BLoG padanya, ia hanya mengatakan “TIDAK PERLU”. Toh itu tidak mendatangkan uang. He… lagi-lagi saya hanya bisa nyengir mendengarnya.

Tapi sekali waktu si teman ini datang dan bertanya pada saya, apakah Facebook itu bisa mendatangkan uang ? hohoho…. Rupanya ini toh yang menjadi titik permasalahannya. Hanya lantaran UANG, si teman selalu bersikap antipati pada hobi saya (dan teman-teman yang terjangkiti demam Facebook). Jika tidak maka ia tak akan mau ikut-ikutan. Wakakakakak….

belajar-demi-uang

Saya malah jadi ingat percakapan kami dulu. Tentang keheranannya pada keasyikan saya mengutak-atik foto putri kecil saya Mirah, menggunakan Photoshop. Katanya sih, dia pernah pula mempelajari aplikasi ini dahulu, tapi langsung dihentikan begitu menyadari kalau aktifitas pembelajarannya itu tidak mendatangkan uang.

Saya hanya membathin, apakah hanya lantaran “tidak ada UANG-nya” lalu kita tidak mau belajar sesuatu yang baru ? Heran bener. He….

IWAN FALS my HERO (1995 – 2001)

25

Category : tentang InSPiRasi

Memasuki masa perkuliahan, saya mulai mengenal banyak nama yang meramaikan dunia musik baik lokal maupun internasional. Ini akibat pengaruh dari banyak teman yang memiliki selera musik berbeda. Walau begitu nama sosok Iwan Fals masih tetap lekat hadir dalam keseharian.

Pada masa ini pula, akhirnya pelan-pelan saya mulai bisa memahami kata demi kata yang dimaksudkan dalam karya-karyanya. Katakanlah album Swami pertama ada salah satu karyanya yang berjudul ‘Bunga Trotoar’ identik dengan pedagang kaki lima yang menyerbu kota besar. Pula ‘Satu-satu’ yang identik dengan re-generasi kehidupan.

Sayangnya pasca album ‘Orang Gila’ Iwan tak lagi melahirkan album secara pribadi seperti sebelumnya Bisa dimaklumi sebenarnya, lantaran situasi negeri saat itu sedang memanas pasca pengangkatan kembali Soeharto sebagai Presiden. Tampaknya Iwan lebih memilih bersuara lewat kelompok musiknya ketimbang maju sendiri dan hasil akhirnya selalu dicekal.

Katakanlah kolaborasi Iwan Fals bareng Ian Antono dan Franky yang melahirkan ‘Terminal’ dan ‘Orang Pinggiran’. Juga ada ‘Mata Hati’ dan ‘Lagu Pemanjat’. Saya sendiri tak begitu bersemangat tinggi mengoleksi album-album diatas yang nyatanya hanya menyajikan satu buah lagu karya Iwan, sedangkan sisanya hanyalah cover version (lagu Iwan yang dinyanyikan orang lain) atau malah karya pemusik lain.

Begitu pula dengan kelanjutan kelompok musik Kantata yang merilis album kedua mereka yaitu Kantata Samsara, menyajikan satu karya kenangan mengingatkan pada sebuah catatan kelam kematian Udin seorang wartawan.

Apalagi saat era pergantian orde baru menjadi orde Reformasi, kabarnya satu persatu anggota dari kelompok musik Kantata mulai beraktifitas sendiri-sendiri. Djabo misalnya dikabarkan rehat dan memilih pulang kampung kerumah Istri di Australia. Iwan sendiri lebih memilih menenangkan diri dan tidak ikut-ikutan meneriakkan Reformasi seperti halnya yang dilakukan oleh banyak tokoh parpol hingga artis, dari yang dahulunya tak berkutik dan bungkam hingga mereka yang pernah menjadi bagian dari kekuasaan orde baru.

Katakanlah Franky S. Pasca ia ditarik untuk bergabung dalam salah satu parpol kelahiran orde Reformasi, malah mengecam Iwan, dianggap tak berani bersuara lantang, malahan asyik dalam rencana dunia barunya yaitu soal Cinta. Sebetulnya apa yang dilontarkan oleh Franky itu tak ubahnya suara para tokoh yang saat jaman orde baru sama sekali tak berani menyuarakan isi hati mereka dengan lantang dan takut dicekal atau bentrok dengan penguasa. Sebaliknya baru berkoar bahwa ia-lah orang yang paling berani ketika kebebasan berpendapat itu diakui…. dan Iwan kelak akan bersuara yang tak kalah diplomatisnya untuk menjawab semua keraguan dan penilaian orang terhadap dirinya pada masa tersebut.

Terkait ke-vakuman Iwan dalam blantika musik Indonesia, bisa dikatakan bahwa masa perkuliahan yang saya jalani lebih banyak ‘mendengarkan kembali’ satu persatu karya Iwan terdahulu. Mencermati dan mendalami bahkan cenderung menikmati. Terutama karya-karya Iwan yang tak menjadi hits pada jamannya. Katakanlah seperti ‘Berandal Malam di Bangku Terminal’, ‘Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi’, Tolong Dengar Tuhan’ atau ‘1910’.

Saya akui, bahwa sebagian besar dari karya seorang Iwan Fals, sangat berpengaruh besar dalam keseharian, baik sikap dan perilaku yang saya jalani masa perkuliahan. Tak heran jika ada saat-saat saya bersikap romantis setelah mendendangkan tembang cinta karya Iwan Fals, kadang juga bersikap antipati pada lingkungan birokrasi lantaran kritik yang dilontarkan. Bahkan tak jarang nurani saya meledak-ledak dan seakan tidak takut pada apapun, siapapun itu, dan sialnya malahan menjadi berlebihan bagi orang lain…..

Satu sikap yang kelak membuat saya sempat berhadapan dengan orang-orang yang bertindak tidak sesuai dengan aturan….

Iwan Fals bisa dikatakan merupakan satu sosok idola yang kemudian menjelma Kembali menjadi seorang Hero atau pahlawan bagi kehidupan saya pribadi. Terlepas dari ketidakpahaman saya pada satu dua lagu atau karyanya yang hingga kinipun masih blom saya mengerti maksudnya. Hanya saja apa yang saya lakukan tidaklah buta seperti halnya sebagian besar para penggemar sejati satu sosok pemusik atau grup band yang mereka sukai.

Rela mati demi sang idola, bersusah payah merantau agar bisa bertemu sang idola, atau malah berteriak-teriak histeris saat bersua dengannya.

Sekali lagi, Saya hanyalah seorang penikmat atau pendengar karya seorang sosok Iwan Fals, sekaligus mengambil sisi positif dari kesehariannya yang tetap hidup sederhana, dekat dengan lingkungan maupun para penggemarnya dan tetap bersedia untuk memberikan hasil yang terbaik dari kesehariannya. Barangkali juga termasuk sisi kesetiaannya sebagai seorang suami dan seorang Bapak yang baik….

IWAN FALS my IDOL (1988 – 1995)

14

Category : tentang InSPiRasi

Tahun 1988, untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan sebuah suara yang begitu khas dan cukup membuat terhenyak serta mengenyampingkan puluhan kaset lain untuk menjadi prioritas diputar lewat tape merek National milik Bapak. Tentu saja saat itu saya belum tahu siapa orang tersebut, bagaimana dan apa yang dimaksudkan dalam setiap karyanya.

Saya hanyalah seorang pendengar dan penyuka setiap lagu yang ada dalam album ‘Wakil Rakyat’. Album pertama orang tersebut yang saya miliki dan dengarkan. Dari situ pula saya mulai mengenal satu nama yang kelak menjadi IdoLa saya sepanjang masa.

Iwan Fals.

Selain lagu andalan ‘Surat Buat Wakil Rakyat’ yang kala itu mulai menjadi familiar terdengar, ada satu lagu lagi yang menjadi favorit saya untuk dikumandangkan setiap kali acara bebas diruang kelas sebuah SD, tempat saya belajar saat itu. ‘Fakultas Dodol’ begitu judul lagunya. Padahal Sumpah Mati, sebagai seorang anak SD kelas 5, saya sendiri masih belum mengerti apa itu Fakultas, apa itu Koo Ping Hoo dsb. Cuek saja…

Sebenarnya sosok Iwan Fals dikenalkan oleh kakak laki-laki saya yang terpaut usia sepuluh tahun. Dari kakak pula saya bisa mengetahui begitu banyak album yang sudah pernah dikeluarkan (dirilis) dan memaksa saya untuk lebih intens mendengarkan satu persatu karyanya, sekaligus menghafalkan liriknya.

Jadilah saya mulai menyukai lagu macam ‘Kereta Tua’, ‘Nenekku Okem’ atau ‘Lancar’. Sekali lagi saya tegaskan, sumpah mati saya sama sekali gak ngerti dengan arti kata ‘okem’ ataupun ‘pembangunan’. Yang penting nyanyikan saja. He… Sebuah racun yang siap menggetarkan hidup saya kelak.

Menginjak bangku Menengah Pertama, racun itu mulai menjalar. Apalagi kalo bukan dirilisnya album ‘Mata Dewa’ sebuah kerja bareng dengan Setiawan Djody dan Ian Antono. Album yang menyajikan satu-satunya karya Iwan, saya anggap paling romantis dan selalu nikmat didengar kapan saja. ‘Yang Terlupakan’.

Memasuki tahun ‘90an, dunia musik Indonesia seakan digemparkan dengan kehadiran grup band paling kolosal yaitu Kantata Taqwa. Belum lagi kehadiran grup yang kelak menjadi paling fenomenal dalam menyuarakan karyanya, SWAMI. Dua grup yang sebenarnya diisi oleh sekumpulan orang yang sama, hanya saja menyuarakan isi hati mereka dengan gaya yang berbeda. Kegelisahan saya nyatanya kian makin menjadi.

Saya begitu terpana dan terhanyut saat mendengarkan karya ‘Paman Doblang’ atau ‘Air Mata’ sebaliknya begitu enerjik saat melafalkan ‘Bento’ dan ‘Bongkar’.

Saat-saat inilah saya mulai mengenal siapa sebenarnya sosok yang begitu saya kagumi hasil karyanya. Sebagai bukti nyata, saya memulainya dengan mengkliping mengdokumentasikan berbagai berita cerita yang berbau Iwan Fals. Kalau gak salah, artikel pertama yang saya miliki itu saya comot dari majalah Senang. Sebuah majalah yang berisikan kisah unik, aneh dan langka. Artikel tersebut saya simpan dalam sebuah buku gambar murah yang bisa saya beli seminggu sekali, hasil mengumpulkan uang jajan.

Bisa dikatakan, saya merupakan anak sekolahan yang diberi cap ‘ndeso oleh teman-teman seangkatan saat itu. Lantaran saya sama sekali gak mengenal siapa itu Kenny G, Sebastian Bach, Nuno dan deretan nama british yang sama sekali asing ditelinga saya. Sebaliknya menjadi pujaan hati para perempuan saat itu. Sampe-sampe saya ditertawakan saat menyebut alat tiup yang disandang oleh Kenny G adalah Terompet. He…

Akhir masa sekolah menengah pertama saya lewati dengan album milik SWAMI yang ke2 sekaligus album terakhir sebelum mereka membubarkan diri. Album dengan warna cokelat tua tersebut menyajikan lagu ‘Kuda Lumping’ dan iringan khas reog ‘HIO’. Sempat membuat saya tergila-gila saking girangnya.

Memasuki masa Sekolah Menengah Atas, karya Iwan Fals mulai terdengar kurang familiar bagi sebagian orang disekeliling saya. Sebaliknya bagi saya pribadi, Iwan makin menunjukkan karya yang dewasa dan matang. Tak heran hingga hari ini saya begitu memuja sebagian besar album yang dirilis saat itu. Katakanlah album ‘Cikal’, ‘Belum Ada Judul’ yang menampilkan gitar akustik plus harmonika plek khas seorang Iwan Fals, ‘Hijau’ yang rumit, serta ‘Orang Gila’ sebuah karya dimana selalu mengingatkan saya pada keberadaan seorang Galang Rambu Anarki.

Kembali bercerita tentang artikel yang saya kumpulkan, kalo gak salah dari sebuah tabloid dengan nama ‘Monitor’, saya mendapatkan kisah seorang Iwan Fals yang panjang dan memuaskan. Dikemas menjadi 8 bagian yang ditampilkan dalam setiap edisi tabloid tersebut secara bersambung. Waktu itu Iwan Fals baru saja merilis album akustik ‘Belum Ada Judul’. Salah satu artikel yang saya ingat adalah terkait kisah dibalik lagu ‘Coretan di Dinding’ dan juga ‘Lagu Tiga’ pada album ‘Hijau’.

Belum lagi berbagai artikel ekslusif majalah HAI, yang sebagian besar adalah hasil perburuan saya mengobrak abrik koleksi majalah milik seorang teman dan juga merobeknya dari Perpustakaan Daerah, khusus pada edisi lama. Satu kejahatan paling besar yang saya lakukan pada masa itu.

Satu lagi bukti nyata yang makin meyakinkan lingkungan saya dengan seorang sosok bernama Iwan Fals adalah tampilnya poster-poster kain bergambar Iwan Fals terpampang begitu megah di tembok hingga di balik pintu kamar. Tentu saja dalam ukuran besar. Ini lantaran saya sendiri gak puas dengan bonus poster yang saya dapatkan saat membeli berbagai album Iwan Fals saat itu.

Untuk lebih meyakinkan publik, sayapun mencoba menuliskan perjalanan seorang Iwan Fals dari ia merilis album pertama yang saya tahu hingga album ‘Orang Gila’. Tulisan tersebut merupakan tulisan pertama saya yang dipublikasikan lewat majalah sekolah Candra Lekha.

Tulisan yang panjang dan membosankan kata teman-teman waktu itu, berhubung menghabiskan empat halaman majalah untuk menceritakannya. Sebaliknya saya sangat bangga dengan tulisan tersebut, lantaran sempat disebut-sebut saat lomba majalah sekolah yang diadakan Universitas Udayana saat itu.

Akhir masa sekolah yang penuh cerita ini ditutup oleh album ‘DaLbo’, sebuah album karya sempalan anggota grup SWAMI minus Jockie Suryoprayogo yang memilih jalan sendiri lewat albumnya ‘Suket’. Album dengan ilustrasi hijau rumput ini nyatanya tak mampu naik kepermukaan musik Indonesia saat itu.