Demam FaceBook nyaris menumbangkan BLoG

9

Category : tentang Opini

‘hare gene gak kenal FaceBook ? kemana aja ?’
Ungkap seorang teman kerja, sesaat setelah ditanyakan ‘apa siy FaceBook ituh ?’

Padahal sumpah mati, si rekan sendiri hingga kini masih blom punya account di FaceBook. Alasannya simpel, ‘ga ada waktu…’. Minimal ia tahu kalo Facebook itu isinya apa saja. Wong rata-rata para keponakannya pada keranjingan Facebook katanya. He…

Terlepas dari berbagai alasan setiap orang yang mencoba menjajal Facebook, sepertinya aktifitas kali ini mampu membuat orang yang terlanjur berkenalan menjadi ketagihan bahkan nyaris melupakan aktifitas yang ia lakukan sebelumnya.

Entah kapan saya pernah membaca bahwa ada satu dua perusahaan swasta yang melarang karyawannya untuk mengakses Facebook saat jam kerja berlangsung hingga memblokir akses menuju Facebook dari pc masing-masing pekerjanya. Ini karena keranjingan ber- Facebook ternyata membuat rata-rata penggunanya lupa akan tugas dan pekerjaan utama mereka. Waaahh…

Kalau sekedar Facebook-an saat jam kerja sih saya rasa masih belum terlalu masalah. Ada juga kok seperti cerita di media Jawa Pos tempo hari, dimana sekelompok remaja yang begitu merasakan ketagihan pada Facebook, hingga rela mengaktifkan ponselnya 24 jam untuk akses internet, dibawa kemanapun pergi, tidurpun ponsel harus tetap digenggaman, untuk menanti notifikasi atau respon dari rekan-rekannya. Buset dah ! Ohya, ngomong-ngomong Facebook kini bisa juga diakses via ponsel loh. He…

Demam Facebook agaknya tak hanya merambah mereka yang berstatus pekerja, remaja hingga para Calegpun mencoba peruntungan mereka layaknya Presiden Barrack Obama beberapa waktu lalu. Melakukan pendekatan pada setiap orang yang sekiranya berasal dari daerah pemilihannya, untuk kemudian berusaha menularkan visi misi mereka secara halus. Setidaknya ada 2 orang Caleg yang saya kenal lewat Facebook dan salah satunya baru saya sadari belakangan. He…

Facebook minimal mampu memberikan kabar terkini seseorang kepada ‘lingkungannya’, terkait apa yang dilakukan, dimana bersama siapa. Bisa juga dalam kondisi mood yang bagaimana. Yang terpenting, semua itu didapat secara ‘real time’. Minimal yang saya lihat rata-rata hanya berselang sehari, ‘status’ inipun berubah sesuai keadaan mereka.

Tampaknya perubahan perilaku, pola dan gaya hidup akibat Facebook ini dirasakan juga oleh sebagian besar BLoGGer. Ambil contohnya pada komunitas blogger yang saya kenal. Bali BLogger Community (BBC). Bisa dikatakan ada selang waktu yang cukup lama antara satu tulisan dengan tulisan berikutnya hingga yang terkini. Memang sih, ada beberapa rekan yang punya kebiasaan melahirkan tulisan atau buah pikiran mereka sebulan sekali, tapi yang saya maksudkan sebelumnya adalah para BLoGGer yang dahulunya saya kenal produktif dalam mengelola blognya.

Katakanlah Anton Muhajir pemilik rumahtulisan. Sang Jendral komunitas BBC ini dahulunya sempat mengakui bahwa ia mengalami ‘addicted -ketagihan- pada BLoG. Melahirkan posting tulisan setiap hari. Tapi kini ? He… Entah karena kesibukan berkeluarga, mengejar Euro atau malah keranjingan Facebook, tulisan terkini dalam blognya bisa merupakan tulisan semingguan lalu.

Ada juga yang mengeluhkan tentang traffic kunjungan blog yang dahulunya barangkali bisa mencapai angka ratusan hingga ribuan orang per harinya, kini malah menurun drastis. Belum lagi tingkat antusiasme tanggapan atau komentar pengunjung, ikutan berimbas pula. Ini dpicu oleh makin jarangnya isi BLoG dapat diupdate oleh pemiliknya hanya karena Facebook.

Sebetulnya ada beberapa rekan lagi yang memang secara rutin saya kunjungi blog-nya, tapi langsung balik kanan begitu tahu kalau tulisan yang hadir paling atas dalam blognya adalah tulisan satu dua bulan lalu. Mati suri nih ceritanya ?

Secara pribadi memang saya sadari sepenuhnya kalau Facebook mampu melahirkan demam yang bersiap menumbangkan aktifitas blog yang selama ini menjangkiti pola hidup beberapa BLoGGer. Apalagi dalam Facebook terdapat satu fitur (Note) yang memiliki fungsi sama dengan BLoG, hanya saja memiliki kelebihan pemberian ‘Tag’ beberapa rekan yang dikenal, sebagai undangan tak resmi bagi rekan tersebut agar mau melihat dan mengunjungi tulisan (Note) yang dibuat. Harapannya tentu saja sebuah tanggapan atau komentar dari orang yang di-Tag sebelumnya.

Hanya saja sekali lagi, bagi saya pribadi tampaknya Facebook sama saja dengan komunitas yang ada sebelumnya, seperti Friendster misalnya, belum mampu mengalahkan hobi saya dalam hal blog hingga rela mengorbankan pekerjaan sekalipun. Mungkin ini disebabkan oleh satu pertimbangan sederhana, seperti halnya rekan saya diatas tadi. ‘Gak ada waktu’ untuk mengorbankan hari-hari saya demi sebuah Facebook.

Bisa juga terkait dengan kebiasaan saya yang tak ingin diganggu oleh sesuatu yang sifatnya tak pasti. Seperti datangnya email notifikasi atas respon atau tanggapan apa yang dilakukan sebelumnya (berkomentar pada status teman, memperbaharui status, menampilkan foto-foto koleksi pribadi dsb). Sama halnya dengan tanggapan atau komentar akan tulisan saya pada BLoG. Hingga terkadang saya merasa begitu ‘terbebaskan’ apabila bisa meninggalkan benda yang bernama ponsel jauh dari aktifitas saya, bahkan mematikan suaranya sekalipun. He…

Karena memang baik aktifitas harian maupun pekerjaan saya belum menuntut saya untuk aktif akses internet seharian. Kirim terima email, berbisnis dsb. Hal ini pernah saya katakan pada seorang Rekan yang beberapa waktu lalu memperkenalkan aplikasi Morange yang berbasis Java, sehingga harapannya saya bisa memanfaatkan fitur ‘Push Email’ secara harian dan berbiaya murah.

Hanya kalau sempat atau kalau senggang saja.

Makanya BLoG PanDe Baik hingga hari inipun masih melakukan aktifitasnya seperti sebelumnya. Melahirkan tulisan dua tiga hari sekali, disela kesibukan keluarga dan pekerjaan. Entah bagaimana dengan BLoG yang lain.

Terima Kasih sudah menggunakan Hak Pilih Anda dengan Baik

9

Category : tentang Opini

Akhirnya jadi juga saya ikut serta dalam Pemilu 9 April yang sedianya digunakan sebagai ajang pemilihan para Wakil Rakyat, wakil yang diharapkan mampu menyuarakan aspirasi pula memperjuangkan nasib kita sebagai rakyat kecil. Begitu kira-kira Teorinya.


Padahal, kalo diingat-ingat, beberapa waktu lalu saya masih memutuskan untuk memilih semuanya, alias GoLput. Atas dasar pemikiran bahwa yang maju dalam PilCaLeg kali ini rata-rata adalah orang yang saya kenal sebagai saudara dan mereka semua datang memohon dukungan. Trus yang mana dong harus saya pilih kalo gitu ?

Setelah dipikir matang-matang, ‘mengapa pula saya harus ikutan GoLput ?’ Padahal saya telah diberikan mandat dan kewenangan untuk ikut serta dalam menentukan nasib Bangsa ini kelak ? Saya katakan begitu, karena nama saya dan keluarga telah tercantum dalam Daftar Pemilih Tetap tanpa ada keluhan apa-apa. Lantas siapa lagi yang bakalan dipercaya untuk menentukannya kalau bukan Kita ?

Kamis pagi 9 April, pada TPS (Tempat Pemungutan Suara) dimana kami mendapatkan kesempatan itu, tampak antusiasme warga untuk berpartisipasi dan ikut dalam Pesta Demokrasi kali ini. Ohya, untuk daerah kami, ada 5 TPS yang disediakan untuk menampung ratusan jumlah warga yang ada. Antusiasme itu bisa dilihat dari berbondong-bondongnya warga menuju tempat TPS masing-masing sesuai DPT, bahkan hingga jelang jam penutupan tibapun warga masih ada yang datang dan ikut antre menunggu giliran.

Bersyukur kebijakan dari Ketua KPPS untuk memperpanjang waktu ‘pencontrengan’ disetujui oleh para Saksi yang hadir, dengan alasan bahwa warga atau Peserta yang datang memang berasal dari Daftar yang ada dan belum menggunakan hak pilihnya.

Bersyukur pula bahwa hingga penutupan waktu pencontrengan, tidak ada kejadian atau insiden yang berarti, baik itu perkelahian hingga bentrok antar warga seperti yang diberitakan pada media televisi beberapa saat lalu. Hanya ada sedikit aura persaingan sebagai konsekuensi dari pencalonan 3-4 warga untuk memperebutkan ‘kursi’ yang sama.

Terlepas dari hasil akhir yang baru akan diketahui nanti malam atau besok pagi, sebagian besar alasan Warga untuk tidak ikutan GoLput seperti halnya isu yang santer terdengar adalah, berusaha memilih orang (CaLeg) yang kelak dianggap (minimal) mampu membantu warga saat dilanda kesulitan. Menghindari agar nantinya orang (CaLeg) yang tidak dikehendaki bisa tampil naik dan mengobok-obok ‘kursi’ yang diharapkan.


Sebagian lainnya yang merasa pesimis dengan daftar CaLeg yang ada, lebih memilih untuk mencontreng Partai ketimbang nama CaLeg dan menyerahkan kebijakan penggunaan suara yang didapatkan kepada para pimpinan ParPoL.

Walau begitu, ada juga beberapa Warga yang punya alasan unik untuk tetap ikut serta berpartisipasi dalam ‘pencontrengan’ ini. Seperti bentuk syukur atas pengangkatan status dirinya sebagai PNS pada periode kepempinan Presiden kali ini, ada juga yang merasa optimis dengan tiga kalinya penurunan harga BBM. (bukannya sebelum itu naik tiga kali juga ? He…)

Ada juga Warga yang mengutip kata-kata Dalang CenkBLonk dalam salah satu video cd-nya, bahwa ‘kalo kita memutuskan untuk GoLput, kita gak boleh ikutan protes seandainya terjadi apa-apa kelak dalam kebijakan yang diambil oleh petinggi negeri ini. Wong kita gak mau ikutan memilih, jadi tidak bisa ikutan memiliki hasil yang didapatkan nanti’. Kira-kira begitu maknanya.

Yah, apapun alasan Warga untuk berusaha ikut hadir dan menggunakan hak pilihnya hari ini, setidaknya saya secara pribadi merasa bersyukur dan berterima kasih untuk tidak ikut serta menaikkan angka GoLput di negeri ini. Minimal ada perubahan yang bisa diharapkan untuk lima tahun kedepan.

> Seorang teman bertanya pada saya atas status yang saya ambil untuk hari ini, bahwa “Orang yang memilih untuk GOLPUT adalah PENGECUT”. Bagaimana seandainya jika keinginan memilihnya tinggi, tapi gak terdaftar dalam DPT ? apakah GoLput kategori ini adalah seorang Pengecut juga ? <

Tentu saja tidak. Gak Mau Ikut Memilih itu BERBEDA dengan Gak Bisa Ikut Memilih. Bedanya, ya pencantuman nama pada Daftar Pemilih Tetap itu. Orang yang sudah diberikan hak pilih, orang yang diberikan kesempatan untuk ikut memilih oleh Negara, tapi gak mau ikut serta untuk menetapkan pilihannya dengan sejuta alasan klise tapi tetap menuntut perubahan dan menganggap dirinyalah yang paling benar, tentu saja berbeda dengan apa yang dialami oleh teman saya tersebut.

Trus, biar mereka itu ndak memilih untuk GoLput (istilah kerennya : ‘Memilih Untuk Tidak Memilih’), maunya apalagi coba ? He….

Mencomot kata-kata Dalang CenkBLonk…. “Napi Kirang ? Napi Tuna ? Pang Ken Ken Buin ?”

Mohon Maaf bagi mereka yang tidak berkenan.

SeLamat berjuang untuk ParpoL dan para CaLeg

5

Category : tentang Opini

Terhitung besok pagi jutaan rakyat Indonesia ini akan mencoba menentukan nasibnya sendiri dalam jangka 5 tahun kedepan. Apakah akan memiliki para Wakil yang berani dan mampu memperjuangkan nasib mereka dihadapan pembesar negeri, ataukah akan bernasib sama dengan waktu-waktu lalu, lebih cenderung menuntut agar mereka ‘dihargai’ dan memilih plesiran ke luar negeri berbalut studi banding ?

Hari ini adalah hari terakhir dalam fase Minggu (masa) Tenang. Masa dimana ratusan hingga ribuan baliho, spanduk, poster, selebaran atau apapun itu namanya, yang dahulunya menghiasi wajah kota, perempatan jalan, batang pohon hingga tembok disepanjang jalan, dengan segera di’enyah’kan dari pandangan mata masyarakat.

Memang harus disadari, bahwa tak semua para CaLeg maupun ParpoL bersedia meluangkan sedikit waktunya untuk menurunkan sarana kampanye yang masih saja menampilkan wajah penuh senyum manis padahal beberapa minggu belakangan negeri ini tertimpa bencana dan kecelakaan. Lumayan membuat senyum saya tersungging sinis dan berharap semoga saja ‘Rakyat tidak memilih mereka yang belum duduk saja sudah tidak tahu aturan, bagaimana kalo sudah duduk di kursi Rakyat ?’Seperti biasanya pula, sebagian Rakyat sudah bisa menebak akan adanya ‘Serangan Fajar’ atau pe de ka te (pendekatan) yang dilakukan oleh ParpoL ataupun para CaLeg pada masyarakat sekitarnya, hingga lingkup masyarakat yang diharapkan bersedia memberikan suara mereka, dengan imbalan tertentu.

Bukan rahasia lagi, jika pada hari-hari biasa seorang CaLeg barangkali tak pernah menyapa lingkungannya, memberikan suara hingga sedikit keberuntungannya pada masyarakat sekitarnya, kini mendadak ramah dan rela meluangkan waktunya untuk mendatangi satu persatu anggota atau tokoh masyarakat demi sebuah kata, Dukungan.

Seperti yang dialami beberapa rekan dua tiga hari ini, satu dua orang datang kerumah beralasan sudah lama tak berkunjung, sekedar ingin ngobrol dan akhirnya menyampaikan maksud kedatangannya apalagi kalo bukan minta dukungan atas pencalonannya menjadi CaLeg parpol tertentu. Kebetulan ada diantara rekan yang menjadi sesepuh pada salah satu Parpol besar di negeri ini.

Ada yang terang-terangan menyampaikan maksud lengkap dengan amplop tipis (berisikan satu lembar uang biru atau plastik merah) diperuntukkan bagi setiap orang yang masuk dalam Daftar Pemilih Tetap daerah setempat, tergantung pada tingkat kewenangan orang tersebut mempengaruhi lingkungannya.


Sayangnya, ketika ditanyakan komitmen apa yang diharapkan setelah si CaLeg pulang nanti, padahal bukan tak mungkin ada dua atau tiga CaLeg yang memberikan ‘imbalan’ sama nantinya, amplop tersebut ditarik kembali dan sang CaLeg berjanji akan memberikannya usai pencontrengan jika kami memilihnya besok. Huh, bagaimana bisa dia tahu kalo kami memilihnya atau tidak ???

Ada banyak jalan atau cara yang dilakukan untuk mendapatkan suara pemilih selain serangan amplop eh fajar tadi.

Saya pribadi mendadak menerima SMS dari mantan pemimpin negeri ini, masuk ke nomor ponsel dan dua nomor lagi yang mengkhusus saya pakai untuk internetan. Memohon dukungan untuk memilih ParPoL mereka demi sebuah cita-cita dan harapan, ‘harga sembako murah’, ‘pemerintahan yang baru’ dsb…

Beberapa saudara malah menerima kartu ucapan, yang nama tujuannya ditulis asal-asalan oleh dua ParpoL besar negeri ini, mengucapkan Selamat merayakan Hari Raya Nyepi dan embel-embel tentu saja memohon dukungan.

Tak hanya itu, seperti yang telah diketahui di sejumlah media televisi, bahwa tak sedikit dari ParPoL yang mengklaim bahwa berkat partai mereka-lah negeri ini bisa maju dalam bidang ini itu. Bahkan ada pula yang lucu dan menggelikan. Padahal sebelumnya sang Pimpinan ParPoL mengkritik pembangian BLT (Bantuan Langsung Tunai) pada Rakyat Miskin, mengatakan bahwa Rakyat yang bersedia menerima ‘tidak memiliki harga diri’, namun belakangan ber-manuver meminta para ‘bawahannya’ mengawasi pembagian BLT agar sampai dengan baik. Terakhir tentu saja tayangan iklan ParPoL mengklaim bahwa partai mereka telah berhasil mengawasi BLT sampai pada yang berhak dengan baik. Huh !

Terlepas dari akal licik, manuver atau trik politik yang dilakukan oleh ParPoL maupun para CaLeg di negeri ini, PanDe Baik selaku masyarakat Indonesia hanya bisa mengucapkan ‘SeLamat berjuang bagi kalian semua’ untuk bisa mendapatkan kepercayaan dari sebagian besar Rakyat negeri ini, menentukan arah dan nasib bangsa kelak. Jangan lupa bahwa ketidakpuasan rakyat akan tetap ada akan kualitas dan kinerja kalian (ParPoL dan para CaLeg), diwakili oleh mereka yang ‘memilih untuk tidak memilih’ alias GoLPut.

Itu sebabnya, jika menginginkan bahwa pada periode mendatang angka GoLPut berkurang, perbaikilah kinerja juga perilaku kalian pasca pemilihan nanti. Jangan lagi ada plesiran ke luar negeri yang berbalut Studi Banding, jangan lagi ada yang absen rapat paripurna dalam menyuarakan aspirasi rakyat dan memperjuangkan nasib rakyat, jangan lagi sakit gigi saat segepok uang hadir didepan mata dan baru bersuara vokal menjelang sesaat menjelang lengser, apalagi memberikan pendapat yang melenceng dari topik yang dibicarakan.

Jadilah WakiL RakYat yang memihak RakYat, agar kami tak menyesal kelak, telah menitipkan suara kami pada kalian….

Meringis bareng Benny & Mice “Lagak Jakarta” buku 2

1

Category : tentang InSPiRasi

Setelah terpingkal-pingkal dengan kartun strip ala Benny & Mice pada beberapa buku yang sempat saya tuliskan kemarin, kini saya seakan dipaksa untuk meringis bahkan maksimal ekspresi yang saya hasilkanpun hanya senyum yang miris.

“Lagak Jakarta”

Buku 2

Dari covernya dapat diketahui bahwa bundelan kartun strip karya Benny & Mice kali ini adalah kumpulan karya-karya mereka seperti “Krisis… oh… Krisis”, “Reformasi” dan “(Huru Hara) Hura-Hura Pemilu’99”.

Jika jeli mengingat bahkan bagi yang pernah melewati dan mengalami ketiga masa tersebut, barangkali saat menikmati kartun strip ala Benny & Mice ini, ekspresinya yakin banget bakalan mirip saya. Miris dan Meringis.

Bagaimana tidak ? Ditengah situasi tak menentu pertengahan tahun 1998 lalu, apalagi pra dan pasca Presiden Soeharto mengundurkan diri, bangsa ini termasuk rakyat-nya mengalami hal boleh dikatakan tak masuk akal sehat. Harga-harga melambung, bahkan jauh tinggi diatas awan.

Honda Tiger 1998 saya itu saja, dua tiga bulan sebelumnya hanya seharga 6 jutaan (baru), tapi saat saya memutuskan untuk mengambilnya, harga sudah melonjak menjadi 8,sekian juta per unitnya. Tak membutuhkan waktu lama, malahan nangkring di angka 17 juta per unitnya. Gila !

Turunnya Presiden Soeharto boleh jadi adalah berita yang paling fenomenal dan ditunggu oleh sebagian besar rakyat Indonesia, terutama oleh mahasiswa yang mendedikasikan diri dan organisasi mereka untuk ‘Pro Reformasi. Turun ke jalan hingga menduduki Gedung Senayan.

Yang malahan bikin mangkel seperti Benny & Mice ungkapkan dalam kartun stripnya, saat masa-masa jaya Orde Baru, “mereka” (baca:para politisi, pejabat dll) memuja dan menyanjung sang Jenderal, tapi setelah kejatuhannya, berlomba menyuarakan rakyat seakan mereka adalah yang terbaik dalam gerakan anti ‘Orde Baru’. Herannya hingga kinipun masih ada yang seperti itu…

Diantara serangkaian peristiwa tahun 1998, mungkin saat chaos terjadi yang lantas menimbulkan aksi penjarahan, pemerkosaan dan penganiayaan warga keturunan, bisa dikatakan sebagai kejadian yang membuat miris dan meringis paling besar. Penjarahan yang dilakukan oleh rakyat kita sendiri… oh betapa nistanya mereka…

Sosok para Penjarahpun tak luput dari perhatian Benny & Mice, bergaya orkay dadakan, bahkan ada juga yang tidak tahu betapa bernilainya barang jarahan mereka tersebut bagi orang yang memilikinya (termasuk soal barang mentah)…

Ohya, mumpung bentar lagi PilCaLeg, ada baiknya pula loh, kalo para CaLeg saat ini ikutan membaca kartun strip ala Benny & Mice. Kenapa gerangan ?

Karena Benny & Mice membuat gambaran tentang perilaku para Calon Wakil Rakyat sebelum dan sesudah pemilu dilakukan, termasuk soal berantem di gedung Senayan , mendewakan ‘kursi’nya dan bahkan hingga ke ‘bisanya cuman tidur doang’. Wahahahaha…. Kritik membangun tuh !!!

Walau begitu, Benny & Mice tak lupa menggambarkan berbagai isu yang terjadi saat suksesi pergantian pimpinan akibat turunnya Presiden kedua bangsa ini yang bernama Soehar-To. Ini terkait dengan ramalan Jayabaya yang mengatakan bahwa negeri ini bakalan mengalami masa Gemah Ripah Loh Jinawi, jika dipimpin oleh orang yang memiliki nama berakhiran tertentu.

Dalam hal ini, ‘No – To – No – Go – Ro’. Menata Negara. Kira-kira begitu. Maka mulailah para pimpinan itu mengira-ngira namanya sendiri, pas gak dengan ramalan tersebut ? huahahaha….

Juga ada satu dua gambaran kuat lemahnya Rupiah terhadap Dollar, yang naik turun dan akhirnya sekarat jua…

Sang kartunis sendiri Benny & Mice, diakhir bukunya sempat mengambarkan proses pembuatan buku kumpulan ini, yang tampak bergelantungan dipohon. Alasan mereka ya ‘melihat Jakarta dari sisi mereka-sudut lain’.

> PanDe Baik masih setia menanti buku 1 dari bundelan “Lagak Jakarta” ini sambil ber-H2C- Harap-harap Cemas, semoga saja kartunnya nanti tambah lucu dan kembali membuat saya tertawa ngakak. Wuakakakakakakak……. <

Sampai Jumpa di Benny & Mice “Lagak Jakarta” Buku 1. He…

Pemilihan Umum Telah Memanggil Kitaaaa

1

Category : tentang KeseHaRian

“Cukup satu surat suara…. Cukup satu kali contreng…”

Begitu kira-kira (kalo ndak salah) penggalan lirik lagu thema Pemilu 2009 kali ini, disuarakan oleh orang Bali (yang memakai destar/udeng) sambil menuntun sepedanya yang kemudian dilanjutkan oleh orang tionghoa dengan kata khasnya “Cincai lah….”

Tidak salah jika telinga ini makin familiar mendengar iklan Pemilu ‘contreng’, wong kerap tayang di layar teve, apalagi bentar lagi PilCaleg bakalan digelar. Kabarnya bakalan menentukan nasib bangsa ini kelak loh. Jadi jangan sampe GolPut yah…

Lepas dari gegap gempita kampanye full artist yang diselenggarakan sekian banyak parpol dinegeri ini, kok kalo ngomongin lagu Thema (Mars) Pemilu, malahan membuat saya kangen dengan lagu thema Pemilu JaDul yah ?

“Pemilihan Umum telah memanggil kitaaaa…. Sluruh Rakyat menyambut Gembiraaaaa…. Hak Demokrasi Pancasilaaaa….”

Wah Wah Wah… Rasanya kalo mengingat Mars Pemilu yang dahulu itu, rasa patriotisme saya langsung menggelegak muncul ke permukaan dan gak bakalan meragukan diri lagi untuk memilih apa enggak nih ?

Apa sebab ? Karena dalam lagu itu, kita masih diingatkan pada Pancasila, Dasar Negara kita ini. Karena dalam lagu itu pula, kita diminta memilih Wakil Rakyat yang bisa kita percaya, untuk menuju Indonesia kelak Sejahtera dan benar-benar Merdeka.

Nah, saat saya mendengar lagu thema Pemilu tahun ini, malahan saya jadi nyengir sendiri. Kok gak jauh beda dengan lagu para artis lokal yah ? gak membuat saya bersemangat atau bahkan menimbulkan keinginan untuk memilih. Apalagi diperkuat dengan ‘calon Wakil Rakyat mana sih yang bisa dipercaya hari ini ?’

Hehehe…. Emang bener sih semua itu malahan menjadikan Pemilu ‘contreng’ tahun ini malahan penuh kegalauan, penuh keyakinan bahwa angka GolPut akan makin tinggi. Jauh lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya.

Prediksi ini dilontarkan setelah melihat kenyataan bahwa para CaLeg yang mencalonkan dirinya sendiri kali ini adalah orang-orang yang rata-rata tidak memiliki pekerjaan alias pengangguran. Bahkan ada juga yang mengatakan bahwa motivasi para CaLeg mencalonkan dirinya adalah untuk memperkaya diri sendiri, silahkan ‘Go To Hell’ untuk rakyat nanti. Duit yang dikeluarkan untuk kampanye saat ini minimal harus bisa balik modal kelak.

Saya hanyalah berangan-angan, apakah kini masih ada CaLeg yang menekankan Pancasila sebagai landasan perilaku hidupnya ? apakah ada CaLeg yang benar-benar mau mengedepankan Rakyat, dibanding dengan ego dan titipan amplop nantinya ? apakah ada CaLeg yang benar-benar bisa dipercaya ?

Semua hanya mengatakan ‘kita perlu perubahan’, seperti yang dikampanyekan oleh Presiden USA Barrack Obama. Barangkali termasuk pula dengan cara mengubah thema lagu Pemilu negeri ini ya ? He…

Gaji PNS Naik 15%

9

Category : tentang PeKerJaan

Kira-kira begitu ‘Headline News’ yang saya dengar awal April ini.

Satu berita yang menggembirakan bagi saya pribadi. Menggembirakan karena dari sisa gaji yang saya terima selama hampir dua tahun ini, bisa dikatakan sangat-sangat tipis kemungkinannya untuk bisa meningkatkan taraf hidup keluarga.

Maklum, dari sejumlah gaji yang seharusnya saya terima untuk setiap bulannya, harus dipotong sepertiganya untuk membayar cicilan tiap bulan atas pinjaman uang sebesar 20 Juta di Bank Pembangunan Daerah. Uang ini saya pinjam sekitar pertengahan tahun 2007 lalu, untuk membiayai kuliah lanjutan saya di tingkat Pasca Sarjana…

Dalam perjalanannya ternyata harus dibagi pula dengan biaya persalinan, upacara untuk putri kami dan biaya Rumah Sakit saat Istri terkena Demam Berdarah setahun lalu. Bisa ditebak, uang pinjaman ini tak cukup lagi untuk membayar SPP perkuliahan saya…

Bila boleh dibagi ceritanya, sisa dua pertiga gaji yang saya terima, musti dibagi lagi untuk biaya air, listrik dan telepon, biaya Dapur (patungan dengan Istri), Asuransi untuk sekolah putri kami kelak, koneksi internet (untuk menyalurkan penat dan hobi), serta sedikit simpanan berupa Arisan keluarga dan tabungan berjangka, yang saya jatah jatuh tempo dalam waktu satu tahun.

Hasil akhir inilah yang kemudian akan dibagi lagi untuk keperluan sehari-hari, terutama putri kami. Susu, bubur, pampers dan hal-hal yang datangnya diluar rencana, seperti sakit dan berobat serta menyame-beraye (kehidupan sosial masyarakat).

Bersyukur sekali dalam setap bulannya, PNS dijatah lagi dengan uang makan yang disebut dengan Insentif yang jumlahnya kurang lebih sepertiga gaji… Dari uang inilah saya dan Istri baru bisa merasakan indahnya hidup berumah tangga. Sekedar untuk jalan-jalan bareng si kecil atau bahkan terkadang bareng dengan kakek neneknya. Tentu saja jalan-jalan model begini memerlukan tambahan uang extra untuk makan bareng minimal dua kali setiap bulannya…

Maka ‘Headline News’ diatas boleh dikatakan sangatlah berarti bagi saya pribadi, walaupun jumlahnya tak seberapa dibandingkan gaji pekerjaan swasta kini. Tapi minimal, jikapun seorang PNS itu ingin bermalas-malasan, tidak ngantor selama sebulan, yang namanya gaji ya tetap penuh diterima. Mungkin hanya itu kelebihannya dibanding kerja swasta. He….

> PanDe Baik memohon maaf jika ada yang kurang berkenan dalam tulisan diatas, mungkin menyinggung perasaan mereka yang terkena PHK dsb. Bukan maksud saya untuk menyombongkan diri, tapi hanya sekedar berbagi. Bahwa tak selamanya jadi profesi sebagai PNS itu adalah kenikmatan tingkat tinggi seperti yang diagung-agungkan sebagian besar orang… <

Dengan sedikit gambaran tentang gaji seorang Pegawai Negeri Sipil diatas, bolehkan jika kita berhitung, apakah masuk akal apabila dalam jangka pendek, seorang oknum mampu membeli sebuah mobil baru atau motor baru hanya dengan mengandalkan gaji mereka ? He… silahkan menebak, kira-kira dari mana asal uang untuk segala hal tersebut…

Listening to AVA

1

Category : tentang InSPiRasi

Terhitung sejak masa pacaran yang kedua, saya secara perlahan mulai meninggalkan dunia penuh hingar bingar musik segala aliran dan perkembangannya. Maklum, waktu itu saya mulai diracuni dengan musik dan karya sang penyanyi solo yang dahulunya merupakan vokalis band papan atas Dewa 19. Ya, Ari Lasso.

Bersyukur, hingga hubungan kami berakhir pada awal tahun 2005 lalu, yang namanya racun guna menghilangkan selera saya pada musik metal gak berpengaruh sama sekali. Mungkin karena sedari awal, jiwa saya memang cenderung menolak sebuah aliran atau karya musik seseorang atau sebuah grup, jika hati kecil memang mengatakan ‘Tidak’. Termasuk pada karya Ari Lasso. Maka kembalilah saya menyukai dan menggemari selera asal saya.

Memasuki masa pacaran ketiga hingga menikah, boleh jadi selera saya akan suatu karya musik, lebih banyak mengarah pada tembang Cinta. Boleh jadi karena memang masa pacaran yang ketiga, begitu enjoy saya rasakan dan jalani. Tak heran kedekatan kami membuahkan pernikahan dan mesra hingga kini. Adapun tembang yang saya maksudkan adalah tembang yang mengarah pada rasa Cinta kepada pasangan, Cinta pada keluarga dan Cinta pada kehidupan. Perubahan ini terasa jelas keberadaannya, mungkin lantaran fase kedewasaan diri yang terjadi waktu itu.

Perubahan itu ternyata punya pengaruh besar pula pada penerimaan aliran musik lainnya dikemudian hari. Tak heran, pasca pernikahan dan setelah memiliki putri kecil, saya tak hanya kuper dalam usaha mengkuti perkembangan musik lokal, tapi begitu juga dari luar.

Banyak grup, penyanyi maupun aliran musik yang tak saya ketahui kapan dan bagaimana mereka bisa lahir dan terkenal. Katakan saja musisi lokal macam Kerispatih, Letto, Drive, Kotak, D’Masiv, Garasi, dan ST 12. Kalopun ditanyakan ‘siapa sih yang menyanyikan lagu anu, oleh para keponakan, bisa jadi jawaban saya ‘angkat tangan’. Apalagi musisi luar.

Terakhir saya mendengarkan aliran musik Hip Metal yang diperkenalkan barisan musisi KoRn, Limp Bizkit, Linkin Park atau Disturbed. Barangkali kalo kini saya mendendangkan lagu-lagu mereka, bisa jadi para keponakan malahan mencibir, ‘jadul amat siy ?’ He….

Makanya saat saya berkenalan dengan AVA –Angels & Airwaves (semoga gak salah eja), telinga ini memerlukan waktu lama untuk menelaah dan menikmati musik mereka. Seperti biasanya, agar membuat perkenalan ini makin meresap, saya memulai hunting segala sesuatu tentang mereka, baik secara literatur buku, yang tentu saja saya dapatkan dari majalah HAI, dan juga beberapa video klip mereka dari YouTube.

Maka mulailah telinga ini familiar dengan karya yang katanya merupakan pendewasaan diri sang jebolan Blink 182, Tom Delonge. Seperti ‘It Hurts, Everything’s Magic’, dan beberapa karya mereka lewat album ‘I Empire’ yang didesain layaknya movie poster ‘Star Wars’.

Listening to AVA merupakan selingan saya selama beberapa hari terakhir, disamping berusaha juga hunting beberapa karya musisi lokal, lantaran beberapa pesanan dari keponakan, meminta file MP3 untuk dicopy-kan ke hape mereka masing-masing. Wah, musti extra keras niy.

Hahahaha…. Memang selama ini kalopun saya berada dirumah, paling musik yang sering saya dengar adalah musik instrumen Kecapi ataupun Degung, yang spesial diperuntukkan bagi putri kami, saat menemani tidurnya. Kadang dilewatkan dengan musik instrumen karya Richard Clayderman dan juga Kenny G, atau malah yang beneran tradisional dan mendayu-dayu, He… Angklung.

Mengenal AVA – Angels & Airwaves, seperti mengingatkan saya pada masa remaja, dimana berusaha untuk mengenal dan menikmati musik punk macamnya Rancid, Bad Religion, Total Chaos, Offspring dan juga Sex Pistols atau yang bertemakan Ska ala Jepang, Kemuri. Hingga kinipun saya masih mendengarkan karya pada masa-masa kejayaan mereka.

Memang sulit untuk menerima karya para musisi dari aliran tertentu. Apalagi saat disekeliling kita berusaha menirukan gaya bermusik, gaya nyanyi dan gaya berpakaian para musisi yang sedang trend. Katakanlah seperti saat Hip Metal begitu booming, kebanyakan gaya anak band pun berubah, dengan bermain diatas panggung sambil bungkuk-bungkuk dan loncat kesana kemari. Lahirlah band-band dadakan macam 7 Kurcaci dsb. Entah dimana mereka sekarang.

Terlepas dari sekian banyak aliran musik yang ada, ‘Listening to AVA’ barangkali menjadi yang pertama kalinya terjadi pada masa-masa pasca pernikahan saya. Hanya saja, ‘Listening to AVA’ blom pernah saya kumandangkan kalo lagi berada dirumah. Paling kalo lagi berada di kantor ataupun saat bepergian sendirian dengan bekal headphone yang hanya diperuntukan satu sisi telinga saja. Hehehe…

> ‘Listening to AVA’ bisa terjadi setelah satu dua rekan sesama BLoGGer sempat mengajak PanDe Baik untuk nonbar AVA saat mereka LIVE concert di Bali. Sayangnya, AVA blom familiar terdengar waktu itu. He….. <

Apa Kabar Taman Festival Bali ?

17

Category : tentang PLeSiran

Mencoba berinvestasi di Bali dengan membangun satu tempat atau sarana rekreasi sekaligus hiburan rakyat boleh dikatakan sangat beresiko. Apalagi dengan biaya atau tiket masuk yang sangat mahal, tak terjangkau oleh kantong sebagian masyarakat Bali.

Satu contoh sederhana, Taman Festival Bali yang berada pada ujung jalan menuju Pantai Padanggalak.

Saya masih ingat, pertama sekaligus terakhir kali saya memasuki areal Taman Festival Bali ini, sekitar tahun 1997/1998 silam. Dua belas tahun yang lalu. Bersama seorang rekan, Putra Wiarsa, ikut berpartisipasi dalam kegiatan organisasi kampus, kepanitiaan Lomba Menggambar bagi anak-anak kalo ndak salah. Diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Arsitektur yang saat itu masih dipegang oleh angkatan 1994.

Kondisinya sangat megah memang. Katakanlah untuk ukuran saya. Anak kuliah yang blom pernah jalan-jalan keluar daerah sekelas Jakarta. Hehehe…. Ada permainan simulasi yang menegangkan, gunung yang meletus secara berkala, hamparan kolam nan indah, taman reptil hingga tempat makan dengan harga wah… gak terjangkau oleh kantong saya tentu saja.

Sesaat setelah melis atau mekiyis tanggal 23 Maret pagi hari kemarin, sebelum pulang, saya nekat meloncati pagar Taman Festival Bali bersama beberapa orang remaja. Dengan satu alasan yang sama, melihat Taman Reptil yang kabarnya masih menyisakan buaya-buayanya dalam penangkaran.

Dari luar, Taman Festival Bali yang dahulunya megah dan Wah, kini teronggok tak terurus. Pohon dan belukar, tembok lumut, sampah berserakan, cukup membuat saya merinding melewati satu persatu area yang ada didalamnya. Mengingatkan saya pada film besutan Steven Spielberg, Taman ‘Jurassic Park’.

Memandangi danau buatan dan merasakan aura aneh, membuat saya tak ingin berlama-lama untuk berada pada satu area tertentu. Apalagi kini saya sendiri, ditinggal rombongan remaja tadi….

Berjalan menuju Taman Reptil, mata memandang sekeliling dengan waspada. Jangan-jangan ada buaya yang terlepas atau binatang reptil yang menyergap. Wah, kebanyakan nonton film nih….

Akhirnya tercapai juga keinginan saya melihat penangkaran Buaya yang ada di Taman Reptil, tak terurus memang. Setelah mengambil beberapa gambar disekitarnya termasuk buaya yang dijahili oleh para remaja tadi, pikiran saya melayang tak karuan.

Bagaimana kira-kira seandainya Buaya itu lepas seperti yang terjadi diluar daerah akibat banjir kini ya ?

Bagaimana dengan semua aset dan desain berharga Taman Festival Bali ini kedepannya ya ?

Bagaimana pula caranya agar kelak, Taman Festival Bali ini bisa disulap kembali menjadi sarana Rekreasi bagi keluarga, dengan harga tiket masuk yang terjangkau, apa mungkin ?

Ah, kebanyakan mengkhayal, tak baik rasanya. Apalagi kalo berada ditengah areal yang tak terurus lagi….

Mendingan saya pulang saja….