ketika Kesabaran itu diuji

Siapapun saya yakin, tak ingin menjalani hari dengan keresahan dan ketidakteraturan situasi kondisi tak menentu apalagi jika menyangkut masa depan. Saya tidak membicarakan efek samping dari sebuah pembunuhan karakter secara disengaja atau malah hasil akhir kecanduan narkoba. Hanya saja harus saya akui bahwa untuk kali ini adalah cobaan terberat yang diberikan Tuhan.

Ketika dana yang tersedia makin menipis dan tak ada hal lain yang mampu kita lakukan, boleh jadi tingkat kekalutan pikiran kita bertambah satu strip. Ketika berbagai cobaan datang yang menuntut kita untuk menghabiskan dana itu pelan tapi pasti dan tak memungkinkan kita untuk menolaknya, maka bertambahlah satu strip lagi…. fiuuuhh…. Sungguh Tiada henti.

Menggantungkan hidup hanya dari gaji seorang pegawai negeri, ternyata bukanlah satu keputusan yang tepat. Apalagi kini saya telah hidup dalam keluarga kecil dengan satu putri yang kian lucu dan mulai membutuhkan dana besar terutama untuk kesehatannya, ditambah beberapa kewajiban sebagai makhluk sosial yang tak lepas dari persoalan duit dan duit….

Memutuskan untuk melanjutkan kuliah pada jenjang lanjutan sekiranya juga bukan keputusan yang tepat karena pada saat yang sama, kehadiran buah hati membutuhkan dana yang jauh lebih besar. Tapi siapa yang bisa menduga jika saya berada dalam kondisi ini hari ini ?

Ah, kenapa saya jadi cengeng begini ? Setidaknya saya masih dikaruniai hidup sehat secara pribadi walaupun satu persatu kesialan menghampiri. Setidaknya saya masih diijinkan untuk menghirup udara dengan gratis walaupun biaya pendidikan dan keseharian yang tetap saja tinggi. Setidaknya saya masih diberikan kesempatan untuk merasakan kebersamaan bersama Istri yang baik dan putri yang lucu, sedangkan diluar sana masih banyak yang berharap bisa merasakan kebahagiaan ini…

Masih banyak jalan yang bisa ditempuh untuk menjaga dana keuangan bisa tetap stabil… Sekalipun itu dengan menjual satu persatu apa yang saya miliki.

Mengikuti gaya hidup lingkungan sekitar atau menjadi seseorang yang istimewa bukanlah tujuan hidup saya sejauh ini. Walaupun begitu tetap saja nafas terasa ngos-ngosan padahal hari belumlah setua seharusnya. Benar-benar saya merasa kelelahan untuk hari demi hari yang saya jalani belakangan ini.

Pikiran terus saja melayang, apakah saya mampu untuk menjadi seorang ayah yang baik bagi putri saya kelak ? menjadi seorang suami yang baik bagi Istri saya lahir dan bathin ? menjadi seorang anak dari kedua orang tua yang masih utuh dan menjadi tanggung jawab saya untuk merawatnya ?

Akhirnya saya merasakan jua bahwa bokek adalah satu kondisi yang sangat tidak menyehatkan bagi jiwa…..

pande

hanyalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang sangat biasa, mencoba hadir lewat tulisannya sebagai seorang blogger yang baik

4 thoughts on “ketika Kesabaran itu diuji

  • April 28, 2009 at 1:02 am
    Permalink

    Setuju, kalahkan bokek dengan utang atau kartu kredit.. 😆

    gustulank´s last blog post..What for??

  • May 5, 2009 at 3:41 am
    Permalink

    Sapa di dunia ini yg mau bokek,,,karena dr bokek timbul masalah yg makin runyam,,tpi sejauh kita berusaha pasti ada jalan ,, 😕
    Untuk itu kesabaran jadi satu hal yg paling berharga…

    Seperti kesabaran-ku buat membangun keluarga kecil 😥

    widari´s last blog post..Kelahiran ponakan baru-ku

  • May 5, 2009 at 5:47 am
    Permalink

    @Gus > Sejauh ini baru menambah hutang yang terpikirkan Gus… cuma ya jalan yang diprioritaskan ya ngjual ponsel milik sendiri dulu… 🙂
    @WiDari > ya… Sabar menanti tanggal gajian….. :p

Comments are closed.