pssstt… mau AmPLop gak ?

4

Category : tentang PeKerJaan

Pertengahan November 2008 lalu, saya sempat ditanya oleh salah seorang Rekanan yang sudah biasa mengambil kegiatan fisik dan terjun langsung di birokrasi pemerintahan untuk mengurus segala sesuatunya.

Dia menanyakan seberapa jauh idealisme saya selaku bagian dari sebuah Tim Pemeriksa (sekumpulan tenaga teknis dan administrasi yang dilimpahkan wewenang oleh satu instansi untuk memeriksa kemajuan, kelengkapan dan persyaratan lainnya sebagai dasar pengajuan Thermyn dalam setiap kegiatan secara intern).

Saya sih nyengir kuda aja saat ditanya begitu. ‘Emang kenapa sih ?’ saya balik bertanya…

Dia mencoba mengingatkan saya pada kejadian akhir tahun 2007 lalu dimana saya bersama dua rekan waktu itu diminta oleh pimpinan menjadi bagian dari Tim Pemeriksa Intern pada instansi kami. Ya hanya kami bertiga. Nah, saat saya turun sendirian mewakili unit kerja bersama wakil dari unit-unit lain, saya sempat tidak menyetujui satu pekerjaan di Kecamatan Kuta Utara, padahal Rekanan yang mengerjakan sudah diuber waktu untuk pencairan Thermyn. Jika tidak diajukan ya hangus, kira-kira begitu.

Akhirnya pada saat kami makan siang, salah seorang anggota dari Rekanan tersebut berusaha memberikan amplop sebagai tanda ‘DeaL’ agar saya mau menandatangani Berita Acara Pemeriksaan kegiatan tersebut. Dengan halus saya katakan, ‘maaf, mungkin sebaiknya pekerjaan itu diselesaikan lebih dulu sebagaimana mestinya.’ Ya, saya menolaknya waktu itu. Kenapa ?

Prinsip saya, ketika saya diberikan kepercayaan penuh oleh pimpinan untuk memeriksa kegiatan secara mendetail terutama bidang fisik yang barangkali seringkali luput dari pengamatan langsung pimpinan, maka saya harus melaksanakannya dengan penuh dedikasi. Sehingga saat saya ditanyakan perihal satu dua kegiatan yang saya periksa, Pimpinan mendapatkan gambaran lebih jelas dan tentunya akurat serta dapat dipertanggungjawabkan saat diminta melakukan inspeksi secara bersama-sama ke lapangan.

Bukan apa-apa. Bagi saya kepercayaan Pimpinan adalah yang paling utama dari segala hal. Minimal saya takkan khawatir dengan image dan kredibilitas saya dimata pimpinan juga rekan kerja, sehingga harapan saya tentunya siapapun rekan kerja saya nanti, takkan canggung dalam meminta tolong, memerintahkan atau malah berdiskusi tentang satu dan lain hal.

Memang saya akui, menjadi idealis dalam hal ini tentu saja banyak hal yang tak menyenangkan. Pertama dijauhi oleh rekan kerja yang memiliki ‘kepentingan’ pada kegiatan tersebut dan menyebut saya sebagai manusia yang MuNaFik…
Kedua tentu saja saya menjadi bahan pembicaraan oleh Rekanan yang tak menyukai idealisme saya tersebut, sambil menambah-nambahi cerita tentang saya yang memaksa meminta sejumlah uang, baru mau menandatangani Berita Acara tersebut. Yah, terserahlah apa maunya mereka. Toh rekan kerja sekaligus Pimpinan juga Rekanan lain yang lebih pantas menilainya.

Terlepas dari IdeaLisme tadi, saya juga dicandai ‘apa gak sayang tuh amplopnya ditolak ?’

Saya malahan balik nembak dia, ‘trus kalo seumpama amplop saya ambil tapi kegiatan tetep tak mau saya tandatangani, apa Rekanan mau diperlakukan begitu ?’

Yah, memang selama ini saya selalu berusaha untuk tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Apalagi kalo itu sudah berurusan dengan uang dan pekerjaan. Cukuplah keanehan saya terungkap dalam bentuk BLoG ini, yang kata seorang rekan kerja ‘BLoGGer itu hanyalah orang yang kurang kerjaan aja.’ Hihihi…. Kini rekan saya itu sudah menduduki kursi jabatan EseLon, tapi pendapatnya tentang keanehan saya rupanya masih tetap sama. ‘Maaf Pak Oka Parmana, saya kutip kata-katanya kembali kali ini.’

Terkait AmPLop yang disodorkan tadi, seumpama saja saya menerima dan mengubah pendirian saya akan ketidaksetujuan tadi, maka pelan tapi pasti, runtuhlah semua kepercayaan yang selama ini diberikan pada saya. Itu semua saya yakini akan sangat sulit mengembalikannya…

Siapa sih yang tak tertarik jika seandainya dalam amplop ada lima sampe sepuluhan lembar uang merah. Barangkali kalo dikumpulkan hingga lima enam kali, cukup untuk membeli sebuah gadget dambaan saya selama ini. Tapi apa mau menggadaikan kepercayaan yang telah saya kumpulkan sedari awal bekerja ?

Come on. Jika kita jeli melihat jauh kesekeliling, sangat jarang saya lihat sebuah keluarga yang dipimpin oleh seorang Ayah, terus menerus mendapatkan uang ini itu yang tak semestinya ia terima, atau berusaha memaksakan keinginannya untuk tumpukan AmPLoP, memiliki anak istri yang tetap berada pada jalurnya. Dalam arti, kalo tidak tersandung dengan Narkoba, minimal ada hasrat perselingkuhan yang kelak akan menghabiskan harta kekayaannya dalam waktu singkat.

Barangkali Tuhan juga berkehendak lain, bukan hanya dituntut mengembalikan sejumlah uang yang tak seharusnya diterima, tapi malah jauh lebih banyak. Ancaman KPK dan penjara ? Kesehatanpun akhirnya jadi taruhan. Nah, apa mau dihadapkan dengan keadaan begitu ?

Bertindak jujur, sebagaimana mestinya dan tetap baik pada siapapun, jauh lebih berarti dari semua gemerlap mobil terbaru atau bahkan segala sesuatu yang wah….

Semoga saja apa yang saya rintis dan yakini, dapat selalu saya lakukan hingga esok hari…..

> Pikiran ini terlintas dalam pikiran PanDe Baik, setelah salah seorang rekan bertanya, sejauh apa kemajuan saya setelah empat tahun mengabdi pada negara ? Tentu ditinjau dari segi materi. Tidak ada tentu saja. Mobil Kijang, masih milik orang tua. Motor Tiger yang saya miliki sudah mencapai usia 11 tahun. Laptop ? saya beli dari uang pinjaman bank untuk biaya kuliah pasca, tak sampai seperempatnya saya ambil, sisanya ya dipas-paskan untuk biaya kuliah…

‘Kamu itu Aneh, kata rekan saya itu. ‘Beberapa temanmu malah sudah bisa memiliki motor baru bahkan mobil. Kenapa gak ikutan ?’

Hmmm…. Kali ini saya hanya bisa terdiam dan termenung…. <

Ah, Sudahlah !