Tiang Ngayah Dengan Pamrih

7

Category : tentang SKetSa

Sebetulnya poster dibawah ini hanyalah bahan ndagelan antar teman kantor saja.


BeLiau yang ada dalam gambar poster diatas adalah rekan kerja saya dikantor. Keberadaannya bisa dikatakan tergolong paling senior diantara kami seruangan. Nama BeLiau, Ida Bagus Gde Arjana, seorang Tokoh Masyarakat yang disegani didaerah asalnya, MambaL AbiansemaL Kabupaten Badung.

Secara kebetulan BeLiau ini merasakan “kekaguman” yang sama dengan yang saya alami, saat mengamati poster, baliho hingga iklan-iklan para Caleg maupun Calon DPD disepanjang jalan Kota Denpasar juga Badung.

“Kagum” pada kenekatan mereka memajang wajah Narsis diri sendiri, lengkap dengan pesan moral yang sangat Narsis pula. Mengagung-agungkan diri, mengaku paling jujur, paling beda atau paling mengutamakan hati nurani dan mengatakan bahwa ‘suara rakyat adalah suara Tuhan’.

Padahal dalam hati kecil saya dan BeLiau ini, berharap sekali ada Caleg ataupun Calon DPD yang sebentar lagi bakalan maju tempur, berkata jujur apa adanya kepada masyarakat pemilihnya. Minimal mengataan ‘yang sebenarnya’.

Maka saya pun ditunjuk oleh BeLiau ini untuk menjadi Tim Sukses pencalonannya maju sebagai Calon Anggota DPD BALI NO.1.

INGAT ! Bukan Calon Anggota DPD BALI pada No.Urut 1 seperti yang ada pada tulisan saya sebelumnya, tapi Calon Anggota DPD BALI NO.1.

He… ambisinya beda. Pokoke yang paling TOP. Nomor 1….

Lengkap dengan gaya khas yang lagi tred beberapa bulan belakangan ini ‘nyakupang tangan’, plus latar belakang yang khas Bali, yaitu Meru. Kostumnya sendiri ya dadakan, jadi gak perlu sampe dirias segala dengan pakaian adat Bali, cukup seragam PNS per hari dimana saat saya diminta untuk membuatkan BeLiau ini sebuah poster, dan…. harus jadi hari itu juga..

Tak lupa menambahkan kata-kata yang memang merupakan keinginan dan keyakinan dalam diri sendiri untuk diungkapkan agar masyarakat benar-benar tahu apa dan bagaimana misi serta visi BeLiau ini sesungguhnya.

“Tiang Ngayah Dengan Pamrih”

Begitu Jelas dan Lugas. Mantap pula…

Setidaknya makin meyakinkan, bahwa apapun yang dilakukan oleh BeLiau demi kepentingan rakyat, tentu Harus Ada Pamrihnya. Begitu kira-kira…

Ohya, tambahannya satu lagi, poster diatas hanya ditampilkan HANYA pada BLoG ini saja. Jadi dijamin tidak akan mengotori pemandangan serta lingkungan Kota Denpasar dan sekitarnya. Bukankah ini adalah sebuah Kemajuan ?

Makanya, hayoooo pilih BeLiau ini ya….

> He…. Sebetulnya ini hanyalah salah satu buah karya PanDe Baik saat senggang jam kantor. Yah, dibandingkan kami pulang saat jam kerja belum usai, bolehlah kami sedikit bercanda dengan pembuatan poster untuk seorang rekan yang kabarnya memang berambisi untuk tampil maju sebagai Caleg atau anggota DPD. Tentu saja itu akan dilakukan pasca Pensiun nanti. Toh, kini banyak yang sudah melakukan hal semacam ini. He…. <

Morange Solusi Murah ala Blackberry on O2 XDA Atom

16

Category : tentang TeKnoLoGi

Beberapa hari lalu, seperti yang pernah saya ungkap dalam posting sebelumnya, lewat sebuah komunitas facebook, saya bisa bersua kembali dengan seorang teman lama saat kuliah di Arsitektur dahulu. Secara kebetulan, kami berasal dari kawitan yang sama dan hanya memiliki perbedaan usia hanya satu hari. Walaupun secara fisik kami tak jauh berbeda, sama-sama tinggi besar, tapi dari segi perwajahan amat sangat jauh berbeda. Jika tak percaya, lihat saja langsung ke profilnya di facebook….

Ceritanya teman saya ini, ehm namanya Budi Windhutama, menawarkan sebuah aplikasi java untuk ponsel yang katanya punya kemampuan mirip Blackberry, selalu terhubung dengan internet, namun biayanya bisa dikatakan murah. Dimana salah satu fiturnya adalah Push Email.

Penjelasannya kurang lebih begini. Email yang masuk ke account kita dapat diambil dengan mengandalkan fitur POP3 (secara kebetulan, dua account email yang saya pakai, dua-duanya mendukung fitur ini), dan sebagai penanda bahwa ada email yang masuk, ponsel bakalan berbunyi layaknya ada sms yang masuk. Syaratnya hanya satu, koneksi internet harus selalu tetap terhubung.

Nama aplikasi tersebut adalah Morange. Format aplikasinya Java, jadi dapat dipastikan kompatibel dan dapat digunakan pada setiap ponsel Nokia yang mengadopsi sistem operasi Symbian 40 (seri 6275, 6300 dan sejenisnya), Symbian 60 (seri N, seri E, seri 6600 dan sejenisnya) juga Symbian 80 (seri 9500, 9300 dan sejenisnya).

Awalnya sih, saya gak terlalu tertarik. Karena terhubung dengan koneksi internet secara full time seharian (gak full 24 jam siy), bukanlah prioritas saya selama ini. Malah jikapun boleh, saya ingin sekali lepas sehari dua dengan benda yang dinamakan orang sebagai ponsel. Jauh lebih bebas dan lega…. He…

Gak tertarik menggunakan, bukan berarti saya tak penasaran, maka saya mencoba mencari tahu di beberapa blog terkait penggunaan aplikasi Morange ini sebagai sebuah alternatif solusi yang murah bagi mereka yang berangan-angan memiliki sebuah gadget nan mahal, Blackberry. Minimal, kemampuannya sama-lah. Ternyata hasil survey saya malah mengubah pendapat saya, yah, gak ada salahnya mencoba…

Berhubung satu-satunya sarana mobile yang saya miliki untuk aktivitas internet, email dan blog adalah PDA O2 XDA Atom, maka sayapun mencoba menginstalasinya pada handset dan berhasil. Sesuai keterangan resmi pada situs resmi Morange, sebelum menggunakannya saya diwajibkan melakukan perdaftaran (registrasi) secara gratis dan berhasil. So, langkah berikutnya tentu saja saya lanjutkan dengan mencoba menjajal Morange via sistem operasi Pocket PC Windows Mobile 6 yang kebetulan baru di-upgrade awal tahun lalu.

Sebagai langkah awal percobaan aplikasi Morange, user (saya) diwajibkan untuk login terlebih dulu menggunakan account yang telah didaftarkan sebelumnya. Tampilan awal (today) Morange-pun berhasil saya nikmati. He… Ternyata isinya gak jauh beda dengan Facebook. Ada status user (lagi ngapain aja hari ini ???), edit profile, account email yang akan digunakan, hingga ke pengaturan tampilan awal (today) yang dikenal dengan ‘Dock Setting’.

Puas mengotak-atik tampilan awal, saya mulai menjajakinya dengan pengecekan email. Eh, beneran. Email yang masuk langsung direspon dengan nada tanda masuk sms, plus getar juga.

Nah, seperti biasa, permasalahan-permasalan pun muncul.

Pertama, untuk fitur Push Email, syarat pertama yang harus dilakukan adalah koneksi yang tetap terhubung dengan internet. Syarat kedua, aplikasi Morange yang dalam hal ini berformat Java, tidak boleh tertutup (yang biasanya akan ditutup secara permanen saat kita menekan tombol tanda silang) atau hanya di minimize. Untuk melakukan hal ini, dapat menggunakan aplikasi tambahan seperti Handy Switcher yang kalo ndak salah bisa secara gratis diunduh dan diinstalasi kedalam handset Pocket PC.

Kedua, masalah yang muncul adalah penggunaan dua tombol softkey kiri-kanan yang dalam aplikasi Morange berfungsi sebagai tombol ‘Menu’ dan ‘Back’. Nah, masalahnya pada handset O2 yang saya miliki, kedua softkey tersebut tidak bisa diakses dengan jalan touchscreen (layar sentuh), juga dengan menekan tombol softkey yang saya atur lewat Setting-Button. Gak bereaksi sama sekali.

Masalah ketiadaan akses tombol softkey ‘Menu’ ini tentu saja akan sangat berpengaruh pada penggunaan aplikasi Morange, dimana saat mencoba membalas (Reply) email, maupun membuat baru (Compose), saya tidak bisa mengirimkannya ketujuan. Pada layar sama sekali tidak ditemukan tombol pengiriman (Send), yang membuat saya tambah yakin kalau pilihan pengiriman ada pada tombol ‘Menu’ yang sama sekali tidak dapat saya akses.

Masalah ketiadaan akses tombol softkey ‘Back’ akan sangat terasa saat mencoba mengakses Setting dari layar tampilan pertama (Today). Setelah berhasil menyesuaikan pengaturan (Setting) pada salah satu pilihannya, -Privacy Setting –General Setting dan –Application Setting, sama sekali tidak dapat melakukan akses ke menu sebelumnya yang biasanya dapat dilakukan dengan menekan tombol ‘Back’. Sedangkan jika menekan tombol ‘Home’ dan kembali menuju ‘Setting’, tampilan bakalan kembali pada pengaturan terakhir. So, satu-satunya cara ya menutup aplikasi dan login kembali. Ribet ?

Nah, saat putus asa dengan keterbatasan yang dialami, saya kembali melakukan survey di forum Morange, untuk mendapatkan penjelasan terkait. Kali aja ada. Eh, malah saya mendapatkan konfirmasi bahwa untuk versi yang mendukung secara penuh sistem operasi Pocket PC Windows Mobile 6, bakalan dirilis resmi bulan Juni nanti. Ealah….

Yah, barangkali memang harus menunggu 3 bulan lagi untuk bisa menikmatinya dengan baik. So, untuk sementara saya tunda dulu deh review Morange untuk handset PDA Pocket PC-nya. Mungkin kalo nanti sudah sempat saya coba dipake via ponsel Nokia, baru deh, saya kabari lagi selengkapnya. He…

Nokia 2228 ponsel CDMA Fashion Setengah Hati

6

Category : tentang TeKnoLoGi

Ponsel dengan jaringan CDMA boleh jadi terkadang menjadi anak tiri dibandingkan ponsel-ponsel yang dirilis dengan jaringan frekuensi GSM. Sangat jarang ditemukan, ponsel jaringan CDMA yang memiliki fitur sekeren fitur yang dimiliki ponsel GSM. Katakanlah resolusi kamera 5-8 MP atau bahkan kepemilikan koneksi data yang sekelas Wifi misalnya. Tak terkecuali brand terkemuka ditanah air, Nokia.

Nokia memang dikenal jarang meluncurkan produk mereka dijajaran frekuensi CDMA. Termasuk yang dapat dimasukkan kedalam golongan kelas tinggi layaknya ponsel GSM yang mereka rilis. Selama ini bisa dikatakan dari jajaran yang pernah dikenalkan, barangkali hanya ada dua ponsel mereka yang memiliki fitur keren sekelas ponsel GSM. Seri 6265 yang memiliki konstruksi slider dan pengikutnya seri 6275 yang mengambil bentuk batangan.

Belakangan Nokia memang pernah melontarkan idea bakalan meluncurkan ponsel CDMA yang jauh lebih mumpuni dibanding kedua seri tersebut. Kalo ndak salah seri 8208. Yang punya banyak kelebihan dimana salah satunya yang saya ingat adalah kamera yang sudah memiliki resolusi 3,2 MP. Eh, tunggu punya tunggu, bukannya merilis yang jauh lebih keren, bagi saya pribadi malahan jauh lebih ndeso dibanding sebelumnya. Nokia 2228.


Memang siy, Nokia mengklaim seri terbaru yang mereka rilis ini penuh akan nuansa fashion. Seperti dikatakan pada situs resmi mereka, ‘Sebuah Desain yang Cerdas dengan seluruh fitur yang Anda cari’. Tapi dengan harga (baru) yang kini nyaris sama dengan ponsel seri sebelumnya, coba deh dilihat, apa yang didapat ?

Single Band ? Layar Display dengan resolusi 128×160 pixel ? Kamera 1,3 MP ? Memori minim 20-25 MB tanpa tambahan memori luar ? Koneksi MicroUSB meniadakan Bluetooth bahkan InfraRed sekalipun ? Come On, saya yakin jika dengan harga yang masih diatas angka satu juta dan yang didapat hanyalah spesifikasi seperti itu, konsumen bakalan dengan cepat memutuskan berpindah kelain merk.

Bila dibandingkan dengan seri terdahulu, memang sih ada beberapa kelebihan yang memang tidak dapat ditemukan pada seri sebelumnya. Katakan saja antar muka yang sudah Symbian 40 4th yang mampu menampilkan animasi gif ataupun flash sebagai menu tampilan terdepan. Dukungan BREW (jadi tak hanya Java), pengetikan sms yang panjang dan….. Neckstrap ?

Tapi apakah itu yang dibutuhkan konsumen ? layar terdepan dengan tampilan bergerak ? apakah boros batere yang biasanya hinggap melekat pada ponsel jaringan CDMA cukup mampu ditanggulangi dengan kapasitas sekitar 860 mAh ? apalagi kalo dingat-ingat, yang dibutuhkan konsumen kali ini bukanlah fashion, tapi kegunaan ponsel untuk mendukung aktivitas mereka sehari-hari.

> Hmmm… kali ini bolehlah dikatakan kalo Nokia memang belum berniat untuk menggantikan ponsel 6275i (seperti yang PanDe Baik gunakan saat ini). Padahal angan-angannya sih, selain desain yang cerdas, ponsel CDMA Nokia selanjutnya ya jika bisa, tetap mengutamakan fitur yang cerdas pula. Jangan sampai terkesan ‘asal ada’…. <

HaLo, ini siapa yah ?

7

Category : tentang TeKnoLoGi

‘tulat tulit tulalit…’ ponsel saya berbunyi. Nomor yang tak dikenal…

‘HaLo, Pak Sudana ? bagaimana dengan pesanan kami kok blom dikirim ya ?’ ceplas ceplos si penelepon langsung ketika panggilan saya terima. ‘Pak Sudana ? Siapa niy ya ?’ tanya saya…

‘Pak, tolong pesanan saya dikirim segera. Saya tunggu hari ini…’ lanjutnya tanpa mendengar pertanyaan saya. Oke deh… that’s mean si penelepon gak memperhatikan kata-kata saya. Saya pun biasanya milih diam dan menunggu reaksi si penelepon.

‘Pak Sudana ? HaLo… HaLoooo…’ –diam…- hubungan terputus…


He… Kejadian macam begini bukan sekali dua saya alami. Bukan Cuma saya yang mengalami, tapi juga beberapa rekan pernah berkisah sama. Saat rekan saya seorang ibu muda yang gaptek, menghubungi ponsel suaminya, lah, kok ngangkat malahan suara cewek ? bagaimana ini ?

Maka perangpun terkadang tak terelakkan, begitu mereka berdua nyampe rumah dan bertemu. Si Ibu ngotot bahwa sang suami selingkuh, sedang si suami kukuh kalo Istrinya gak ada nelpon kok. Saya yang ditanyakan masalah begituan sih cuman bisa senyum-senyum.

Entah kenapa ya, kok bisa begitu ? padahal jelas-jelas kita menghubungi nomor yang sudah tersimpan dalam memory ponsel, jadi kesalahan bisa jadi minim terjadi, tapi kenapa yang ngangkat kok orang lain ?

Apa ini salah satu efek negatif yang ditimbulkan dari perang tarif ‘paling murah tanpa bayar’ yang digaungkan para operator di negeri ini ? Sehingga masyarakat saling berlomba untuk mengganti kartu perdana mereka dengan yang ‘nelpon berkali-kali, GRATIS !!!’

Apakah tidak ada yang peduli dengan nasib konsumen yang dirugikan ?

Test Tarif Internet StarOne by PanDe Baik

3

Category : tentang TeKnoLoGi

Setelah sekitar enam bulanan lebih saya memakai Starone sebagai koneksi Internet satu-satunya via laptop, dari paket Time Based dimana tarifnya ‘hanya’ 25 rupiah per menit, hingga paket Volume Based 1 GB sebulan 100ribuan, berikut saya coba memaparkan perbandingan pemakaian tarifnya antar paket tersebut.

Untur tarif 25 rupiah per menit itu sebenarnya hanya berlaku untuk paket pembelian bundel kartu perdana Starone dengan modem CDMA Speed Up yang harganya kisaran 600ribuan. Itupun hanya untuk 3 bulan pertama. Setelah itu akan diberlakukan tarif normal yaitu 75 rupiah per menit atau 4500 rupiah per jam pemakaian. Sekitar 3 kali lipatnya.

Jenis pemakaian untuk paket diatas yang dinamakan ‘Time Based’ ini sangat cocok digunakan bagi mereka yang tergolong jarang internetan, aktivitasnya ngedonlot program, chatting pake video kamera, juga browsing sampe ber-facebook-ria.

Untuk tarif ‘Volume Based’ normalnya dikenakan biaya sebesar 1 rupiah per 1 KB pemakaian. Jenis ini akan sangat cocok dan murah digunakan bagi mereka yang keseringan chatting dengan cara ketik mengketik, cek email atau hanya browsing berita terkini misalnya.

Sebaliknya akan sangat mahal jika digunakan untuk donlot, chatting dengan video kamera dan ber facebook seperti halnya pemakaian ‘Time Based’ diatas. Sebab, aktivitas-aktivitas ini akan dengan sangat cepat menghisap volume pemakaian dalam waktu yang tidak terasa. Hehe…

Kedua sistem paket normal diatas, sistem pakainya seperti kartu Pra-Bayar. Beli pulsa dulu baru pakai. Kalo pulsa habis, ya musti beli lagi kalo mau internetan.

Paket terakhir seperti halnya yang saya pakai saat ini adalah paket berlangganan 100ribuan (tepatnya 99ribu+PPn 10%=108ribu), untuk pemakaian kuota volume maksimum 1GB. Paket ini bisa disamakan dengan paket ‘Volume Based’ hanya saja dengan resiko, pakai tidak pakai, sebulannya tetap (minimal) 108ribu.

Untuk paket berlangganan ini sistem pakainya mirip kartu Pasca Bayar, dimana kita memakainya terlebih dahulu, baru dibayar sesuai volume yang kita pakai. Tentu harus melakukan pendaftaran terlebih dahulu ke kantor Indosat.

Pemakaian dengan nilai 108ribu tersebut seperti yang sudah saya katakan diatas hanya untuk volume maksimum 1GB, dan kelebihan pemakaian dihitung sebesar 300 rupiah untuk setiap 1 MB pemakaian. Apabila dibandingkan dengan tarif normal ‘Volume Based’ yang 1 rupiah per 1 KB pemakaian, tentu saja biaya tambahan yang dikenakan jauh lebih murah.

Oke, stop segitu dulu. Sekarang saya akan coba mengkalkulasi pemakaian saya selama dua bulan terakhir ini. Kebetulan saya memakai modem Speed Up yang sudah diinstalasi driver modem plus programnya sehingga dapat lebih mudah dideteksi waktu dan volume pemakaian.


Berikut rinciannya : Volume pemakaian selama 2 bulan terakhir saya adalah sebanyak 3,110 GB. Dengan durasi pemakaian sekitar 184 jam pakai.

Apabila saya menggunakan ‘Time Based’ normal dengan tarif 75 rupiah per menit, itu artinya saya harus membayarnya dengan total biaya 828ribu untuk 2 bulan pakai.

Apabila saya menggunakan ‘Volume Based’ normal dengan tarif 1 rupiah per 1 KB pakai, itu artinya saya harus membayarnya dengan total biaya 3 Juta 110ribu untuk 2 bulan pakai.

Sedangkan dengan paket berlangganan kuota maks 1GB perbulan, saya hanya membayarnya sekitar 376ribu rupiah saja.


Adapun aktivitas-aktivitas yang saya lakukan selama 2 bulan terakhir adalah blog, facebook, serta browsing dan donlot data untuk bahan Thesis Cukup murah bukan ?

Just FYI juga, untuk koneksi memang saya akui tak secepat Speedy ataupun Telkomsel Flash yang kabarnya untuk membuka video di YouTube gak perlu menunggu waktu lama, dan jalannya video semulus nonton tivi. Sebaliknya dengan Starone, memang kecepatannya tidak begitu tinggi, hanya saja masih dalam taraf memuaskan bagi saya. Wong jarang banget kena trouble atau koneksi down. Sekali dua sih pernah kok. But, it’s okay bagi saya…

> Tulisan ini dibuat oleh PanDe Baik, berhubung ada beberapa rekan yang bertanya terkait tarif internetan yang menggunakan koneksi Starone, dari tarif dan biaya yang dikenakan dan pilih paket yang mana kalo mau lebih murah. Semoga saja berguna <

menjajal Free WiFi FK Unud yuuuk…

6

Category : tentang TeKnoLoGi

Sebenarnya ini siy baru sebatas idea saja. Bagaimana kalo dibuatkan satu peta Kota Denpasar yang menyajikan data berupa lokasi wifi atau hotspot yang bisa diakses untuk internetan ? minimal menyajikan lokasi yang gratisan.

Selain free wifi (ilegal) yang saya jajal sambil makan semangkuk mie ayam terdahulu, sebenarnya ada kok lokasi yang beneran menyediakan free wifi bagi mereka yang pengen internetan. Gak pake syarat harus makan seharga 25ribu kayak Orange Bakery atau 10 ribu kayak Warung Kopi Renon. Ini beneran gratis.

Satu lokasi terdekat yang saya tahu adalah kampus Unud. Disini sebenarnya menyediakan tiga akses wifi, yaitu yang dikelola Universitas Udayana, Pasca Teknik Elektro dan Fakultas Kedokteran. Nah dari ketiga akses wifi yang ada, Cuma satu yang beneran free akses dalam arti gak perlu pake password tertentu untuk melakukan koneksi.

Sayapun melakukannya beberapa kali saat jam perkuliahan berlangsung, masa menunggu hingga jika pulang kuliah lebih awal. Daripada duduk bengong, saya mencoba menjajal akses Wifi yang disediakan oleh FK Unud lewat laptop yang kadang saya bawa saat kuliah.

Untuk akses tampaknya memang berjalan mulus, tanpa password dan beneran bisa terkoneksi dan terhubung dengan mbah Google.


Aktifitas nge-BLoG pun saya lakukan tanpa masalah, dari ngecek komentar yang masuk, membuat posting hingga mempublishnya tampil pada layar BLoG. Berjalan mulus.

Masalah baru terlihat saat saya mencoba menggunakan YM dan cek email via outlook. Entah memang sidah diblokir untuk dua hal ini, berkali-kali saya coba eh tetep aja tidak berhasil.

Sayangnya pula, untuk akses BLoG yang berekstensikan blogspot seperti milik rekan saya, Taufan Putera yang waktu itu masih numpang di Blogspot, hal yang sama saya temukan. Gak bisa diakses bahkan blog tersebut di-banned oleh pihak pengelola. Padahal BLoG saya (yang memang memiliki domain sendiri) bisa diakses dengan baik.


Yah, barangkali saja tujuan pengelola dalam hal ini FK Unud, penyediaan free akses Wifi ini ditujukan sepenuhnya untuk mengakses info dan ilmu kedokteran yang bertebaran diluar sana. Termasuk info yang gak penting yang disediakan oleh BLoG saya ini. Serta memblokir mereka yang ingin memanfaatkan fitur free Wifi untuk hal-hal yang berbau pribadi. BLoG yang masih numpang di Blogspot, YM juga Pop3 email Outlook.

Sejauh yang saya coba, akses yang diberikan sangat lumayan dibandingkan kecepatan akses Starone langganan saya. Makanya saya sih betah aja saat menjajal free wifi FK Unud sembari menunggu di seputaran kampus.

Eh, ngomongin free wifi, sebetulnya ada dua lokasi lagi yang saya ketahui. Lokasinya dekat kok dari pusat kota Denpasar.

Satunya di jalan Kamboja, depan Dinas Pendidikan Kota Denpasar, yang kalo ndak salah dahulunya merupakan basecamp salah satu BLogger BaLi yang belakangan jadi jarang ngeblog sejak lolos CPNS dan membuka minimarket di Dalung, WiraUtama. Punya akses yang cepat, biasanya saya hampiri dan gunakan saat ingin melakukan donlot file aplikasi dalam ukuran besar, lebih dari 50 MB, seperti antivirus free AVG, updater firmware ponsel dan PDA juga video-video mesum dalam format wmv. Dijamin sukses. He…

Sedang satunya lagi ada dilokasi sedikit terpencil, tepatnya jalan Narakusuma 11. Ya, basecampnya baliorange. Asyiknya lagi, free wifi ini dapet plus bonus loh, tergantung pesanan. Bisa secangkir kopi panas ataupun teh hangat. Itupun kalo tahan dengan tatapan mata sang empunya, Hendra WS, sang mentor saya dalam hal hosting menghosting. Wuahahahaha…..

> Secara pribadi, PanDe Baik memohon maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersinggung jika dalam usaha curi mencuri akses free wifi ada yang saya lakukan dengan cara ilegal hingga membuat perasaan tak nyaman. Tolong jangan menuntut saya dengan UU ITEL. Plisss… <

Who Wants To Be a ‘SLUMDOG Millionaire’ ?

18

Category : tentang InSPiRasi

Memasuki awal bulan Maret ini, rasa-rasanya saya sudah tak sabar menanti beberapa harapan yang ingin segera saya wujudkan. Dalam harap yang masih tetap menggebu-gebu, saya putuskan untuk sedikit bersantai dengan menikmati sebuah karya yang beberapa waktu lalu sukses meraih 8 penghargaan Oscar. Ya, sebuah film India ‘Slumdog Millionaire’.


Film yang bagus…

Berkisah tentang seorang pemuda bernama Jamal Malik yang dituduh berbuat curang dalam sebuah kuis ‘Who Want To Be a Millionaire’ di negerinya, India.

Kisah ini diawali dengan adegan interogasi seorang oknum polisi gendut dengan pemuda Jamal Malik yang dipaksa mengaku kecurangan yang ia lakukan. Berlanjut interogasi oleh seorang (barangkali) kepala polisi, yang pula mencoba merunut sedari awal pertanyaan pada kuis dilontarkan. Apakah benar si pemuda berbuat curang atau tidak.

Uniknya, setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh host kuis Millionaire, dapat dijawab dengan baik berdasarkan kisah yang secara kebetulan dialami oleh pemuda Jamal Malik. Padahal pemuda itu hanyalah ‘slumdog’ –anjing (dari pemukiman) kumuh-, seorang pemuda yang miskin dan hanya berusaha mengandalkan semangat hidupnya untuk bertahan.

Satu persatu pertanyaan yang dilontarkan, satu persatu pula kisah diceritakan yang secara kebetulan terkait dengan inti dari pertanyaan tersebut. Itu semua adalah ‘Takdir’, demikian kata si pemuda Jamal Malik. Termasuk untuk sebuah alasan kenapa si pemuda akhirnya mengikuti kuis tersebut.

Cinta.

Cerita yang sederhana sebenarnya. Hanya saja dibalut dalam sebuah alur yang begitu apik dan menghanyutkan penontonnya (termasuk saya) hingga tak heran jika film ini akhirnya menyapu bersih 8 Oscar dalam berbagai kategori.

Sebuah karya yang dari awal tak saya sangka sedikitpun. Padahal saya begitu menjagokan ‘ the Curious Case of Benjamin Button’ yang dibintangi Brad Pitt dan juga sang pahlawan kegelapan kota Gotham.

> Sebenarnya PanDe Baik tak hanya melewatkan awal bulan Maret ini dengan karya apik ‘Slumdog Millionaire’ saja, tapi juga empat film yang dahulu sempat saya katakan ‘layak tunggu’ versi vcd resminya. Yaitu ‘Iron Man’ dan ‘Hancock’. Beserta dua film lama ‘the Transpotter’ seri pertama, dan si norak ‘BoRaT’. Mungkin lain kali saya bahas lagi keempat sisanya ini. <

by the way, dari sekian banyak adegan dalam film ‘SLumdog Millionaire’, ada satu yang paling saya sukai. yaitu saat ‘Jamal Malik’ kecil, yang mengidolakan seorang bintang film India, rela menceburkan dirinya kedalam kubangan kotoran -yang baru saja ia keluarkan dalam sebuah wc umum-, hanya untuk mendapatkan tanda tangan sang bintang pada selembar foto sang bintang yang ia bawa kemana-mana dalam saku bajunya.

Maka, saat si ‘Jamal Malik’ kecil berhasil keluar dari kubangan kotoran nan bau melapisi seluruh tubuhnya, iapun meneriakkan nama sang bintang film India sebelum berlari dan mendapatkan apa yang ia inginkan… ‘AMITAB BACHAAAAANNN’

Huahahahaha….

GaMes oh GaMes Here and Now

6

Category : tentang TeKnoLoGi

Melanjutkan sesi ketiga dari tulisan saya perihal games, kali ini saya ingin menggambarkan beberapa games yang saya mainkan dan akhirnya disukai hingga hari ini.

Semenjak kepemilikan laptop ACER 4520 yang sudah diupgrade memorynya menjadi 2 GB, walaupun kabarnya sudah sangat pantas untuk sebuah aktifitas Gaming, saya hanya menjadikannya sebagai percobaan beberapa games yang cukup membuat saya penasaran, seperti apa sih bentuknya ?

Katakanlah Drivers Parallel Lines. Games dengan model GTA saya temui disini, bergaya tahun 1978 dimana saya tak bakalan menemukan mobil canggih Porsche, Lambhorgini (eh tulisannya bener gak yah ?) hingga motor sport dan harley tentunya. Menjadi satu faktor pertimbangan untuk dengan segera menghapus jejaknya dari laptop saya. Tampilannya memang jauh lebih detail barangkali malah mirip trailer GTA IV yang saya donlot dari YouTube, sehingga untuk spesifikasi yang saya miliki asih diperlukan beberapa penyesuaian (baca:penurunan pilihan kualitas) agar games ini dapat dinikmati dengan nyaman.

Wall-E, Quake IV dan Transformers juga menjadi sasaran percobaan saya tempo hari, untuk sekedar tahu seperti apa sih alur cerita dan tampilannya ?

Trus, kalo semua itu hanya menjadi uji coba saja, kira-kira games apa dong yang saya mainkan dan sukai hingga hari ini. He… Tak Lain dan Tak Bukan ya games model Gamehouse yang menyajikan permainan Zuma sang fenomenal di kantor pemerintahan itu…

Hanya saja bukan Zuma yang saya maksud, tapi games sejenisnya. Yang tidak memerlukan spesifikasi mutakhir untuk dapat memainkannya dengan grafis yang nyaman serta tidak memerlukan space hard disk kapasitas besar. Minimal syarat utamanya yaitu, bisa saya mainkan saat luang, tidak memerlukan fokus yang terlalu berat hingga melupakan waktu untuk kerjaan juga anak istri, jika perlu bisa saya mainkan sambil ngobrol dan juga ditinggalkan dalam waktu lama.

Salah satunya yaitu ‘the office’ karya Mumbo Jumbo Development. Games yang menawarkan alur cerita sebagai tokoh office boy yang melayani para karyawan untuk mengambilkan map dokumen, arsip file, print out dan juga membuang sampahnya. Lengkap dengan kopi extra untuk mempercepat kinerja kita dalam melayani mereka. Tentu saja tantangannya yaitu menghadapi office boy lainnya yang melakukan hal sama.

Games diatas tak jauh beda dengan Games Dinner Dash yang menjadikan kita sebagai pemilik dan pelayan restoran bahkan dibuat dalam versi Spongebob-nya, atau Cake Mania yang bergerak dalam bisnis kue, dan ‘Baby Sitting Mania’ karya GoGii.

Disini yang diutamakan adalah kecepatan pelayanan (mata pada layar dan tangan pada mouse), pengambilan keputusan mana yang didahulukan dengan memanfaatkan media yang ada serta strategi untuk menjatuhkan lawan.

Ada juga Games mengungkap misteri Agatha Chistie (tulisannya bener gak yah ?), yang menuntut kejelian kita mencari benda-benda dalam list (daftar) sekiranya bisa menjadi petunjuk pencarian. Tentu saja untuk melakukan pencarian, selain menggunakan mata, kamus adalah hal mutlak bagi orang yang punya nilai TOEFL pas-pasan seperti saya. Karena banyak kata benda yang tak saya ketahui artinya.

Permainannya mirip-mirip film ‘Where’s Wally’. Yang saat jeda, penonton diminta mencari tokoh Wally (yang memakai baju strip merah putih mendatar) dalam satu gambar keramaian. Games serupa saya temukan pada ‘Paparazzi’ dan juga ‘Las Vegas’.

Permainan ini sangat mengasyikkan bagi saya saat senggang. Menjadi satu tantangan tersendiri untuk dapat menemukan benda berdasarkan ‘petunjuk’ yang diberikan.

Games terakhir adalah permainan otak. Brain SPA. Kumpulan Games ini biasanya dinamakan Brain Gym, Brain Games atau sejenisnya. Isinya apalagi kalo bukan games macam Sudoku favorit saya, Jigsaw, Pentamino yang memaksa otak kita untuk berpikir menempatkan sejumlah bentuk dalam satu tempat atau area yang ditentukan.

Model Games terakhir ini rupanya tak hanya betah saya mainkan dalam format PC/laptop, tapi juga dalam format Java pada ponsel Nokia 6275i CDMA pula PDA O2 XDA Atom.

Games-games diatas kerap saya mainkan baik saat baru nyampe kantor sembari menunggu atasan datang dan memberikan tugas / perintah turun kelapangan, hingga balik kantor dan menunggu jam pulang. Sedang dirumah, biasanya saya mainkan sebelum tidur untuk mendapatkan rasa kantuk yang cukup. He….

Memang bagi sebagian orang terutama rekan kantor, apa yang saya mainkan tergolong aneh. Seperti kata salah seorang diantara mereka, ‘otak sudah ruwet mikirin kerjaan, kok selingannya maen games yang menguras otak ? sekali-sekalinya nonton 3gp pake LCD Projector kek biar puas dengan tampilan guedenya…’

Wah, kalo yang ini sih, Hayoooo aja !!!!

> at last, PanDe Baik rupanya menyerah juga serta melupakan games puyeng saat dihadapkan pada pilihan pemutaran 3gp secara kolosal ditembok ruangan kantor. Ya, dengan bantuan LCD Projector, tentu saja tampilannya dapat jauh lebih memuaskan banyak orang ketimbang nonton di layar laptop yang sak uprit. Huahahahaha…… <

psstt…… mau ikutan ?

GaMes oh GaMes Kilas Balik

1

Category : tentang TeKnoLoGi

Kalo diingat-ingat, games periode awal yang saya sukai (kalo ndak salah masih berbasis DOS) dengan spec PC 486 dan Windows 3.1 ada dua, yaitu Prince of Persia dan juga Wolfenstein.

Prince of Persia kalo ndak salah menghadirkan 12-13 level yang harus dilewati dalam waktu kurang dari satu jam permainan. Misinya tentu saja menyelamatkan sang putri dari kurungan Jafar. Uniknya pada permainan ini, ada satu level yang sangat menjebak yaitu saat di tokoh harus melawan bayangannya sendiri. Dimana bayangan itu sempat terpisah pada level sebelumnya dari si tokoh. Stok awal nyawa yang diberikan adalah 3, yang bisa bertambah satu setiap level yang dilewati. Tentu saja untuk mendapatkan tambahan satu nyawa ini harus mencarinya keberbagai sudut.

Wolfenstein waktu itu sudah dalam format 3 dimensi tapi masih sangat kaku. Ini adalah cikal bakal games yang membuat saya begitu tergia-gila dengan model games FPS (First Person Shooter). Model Games yang menampilkan senjata atau kepalan tangan si tokoh suntuk menghajar sang musuh nantinya. Dilengkapi dengan prosentase kesehatan (nyawa) dan juga batas sisa amunisi. Kisahnya tentang perseteruan dengan tentara Nazi, lengkap dengan lambang benderanya ditiap dinding yang dilewati. Tokoh terakhir yang harus dihadapi kalo ndak salah, tentara yang menggunakan senapan mesin.

Berkat bantuan kakak saya, PC yang saya miliki ditingkatkan isinya menjadi Pentium 166 MMX. Satu PC yang sangat keren bagi saya waktu itu. Kalo ndak salah Windowsnya udah versi 95. Saya dihadiahkan kembali satu keping CD (judulnya Power Games) yang isinya lima games paling canggih, yaitu Mortal Kombat 2, Doom 2, Quake, Heretic dan Hexen. Plus sekian banyak games lainnya yang tak kalah menarik. Salah satunya adalah games yang memuat gambar porno, dimana untuk melihatnya secara jelas, si laba-laba (tokoh yang kita mainkan) harus dapat menghubungkan secara perlahan keempat sisi gambar tanpa terkena sentuhan si pengganggu. Huahahaha…..

Mortal Kombat 2 adalah games bertarung yang sangat saya sukai, apalagi kalo kita bisa sampe mendapatkan jurus-jurus berbahaya sesaat sebelum sang musuh tumbang. Istilahnya kalo ndak salah ‘Animality’ untuk perubahan sang tokoh menjadi binatang yang mampu menghabiskan musuh dengan ganas. ‘Fatality’ merupakan ilmu pamungkas sang tokoh dan ‘Brutality’ adalah jurus yang paling brutal dilontarkan untuk merobohkan musuh yang sudah sempoyongan. Untuk mendapatkannya, kita harus memencet beberapa tuts keyboard sebagai sandinya. Karena waktu itu saya blom mengenal internet, maka satu-satunya referensi kode dan cheat games saya dapatkan dari tabloid yang mengulas games dan trend anak-anak. Sayang saya lupa namanya.

Doom 2 sebetulnya punya inti tak jauh beda dengan Wolfenstein yaitu merupakan games model FPS. Begitu pula dengan Quake, Heretic yang mengandalkan ilmu (tongkat) sihir dalam melawan musuhnya, dan Hexen yang lebih gelap dan brutal.

Lagi-lagi bantuan dari kakak, PC saya mendapatkan hibah Pentium II (atau III ?) 400 MHz, yang saya gunakan untuk menyelesaikan masa kuliah saya hingga studio dengan bantuan software AutoCad 14 (kalo ndak salah ingat). Merupakan mahasiswa kedua pada periode kedua setelah sobat saya I Putu Swihendra, yang nekat menggunakan bantuan software komputer dalam menyelesaikan studio tugas akhir. Sementara sisanya masih setia menggunakan mesin gambar.

Pada masa ini, games yang menjadi favorit saya (hingga kini masih suka saya mainkan) adalah Quake II. Games ini dihadiahkan oleh seorang gadis pujaan saya masa kuliah yang kini telah menjadi Istri dari sobat terbaik saya. Huehehehe…. Maklum, waktu kuliah saya itu orang yang super norak, gak gaul dan kampungan. Jadi gak heran kalo hingga masa KKN berakhir, saya belum jua diberikan kesempatan untuk berpacaran. Kanggoang jadi Pemuja…. Huahahahaha…..

Selain itu ada juga satu games strategi yaitu Theme Hospital, dimana misinya merencanakan sebuah rumah sakit yang mampu melayani masyarakat dari level terendah yaitu flu batuk demam hingga tingkat menengah patah tulang, X-Ray dan Rontgen dan tingkat paling parah akibat gempa bumi, epidemi dan serangan alien UFO. Untuk memahaminya kita beneran memerlukan kamus tetap standby disamping PC serta mengatur keuangan agar mampu membangun ruang per ruang yang mutlak diperlukan (ruang konsultasi untuk dokter umum, ruang obat untuk perawat/apoteker dan ruang pemeriksaan untuk dokter spesialis), serta menggaji orang per orang yang dipekerjakan. Lengkap dengan mesin minuman, pot tanaman dan tempat sampah di tiap sudut ruangan.

Games ini rupanya ada manfaatnya juga, yaitu membantu pemahaman saya saat mengikuti mata kuliah Studio Perancangan VI, merupakan mata kuliah paling mengkhawatirkan dengan 4 SKS dan pembimbing yang killer. Ugh… Kebetulan tugasnya yaitu merancang Rumah Sakit. Hehehe….

Akhirnya fase kepemilikan PC sendiri saya alami saat membeli Pentium IV 3 GHz, yang sempat saya gunakan untuk Games model yang trend belakangan ini. Ya, GTA. Grand Theft Auto. Model permainan yang dahulunya begitu menjadi hysteria saat Tomb Raider dirilis, hingga melahirkan film bioskopnya pula.

GTA yang saya lahap pada masa ini adalah hampir semua rilisan GTA kecuali GTA IV yang terakhir keluar tentunya. San Andreas, New York, GTA III hingga Vice City yang akhirnya menjadi favorit saya walopun tak mampu menamatkannya hingga akhir. Sekalipun sudah memakai cara curang (cheat) kebal dilukai dan full senjata juga amunisi. He….

Akhirnya untuk memuaskan rasa penasaran, saya mencoba cheat tahap paling akhir dimana semua target dan misi 100 persen tercapai. Jadilah berwenang menikmati berbagai sajian mobil ter-canggih hingga ter-aneh, plus helikopter tempur dan juga tarian striptease. Huahahahaha…..

Untuk model FPS, saya menjajalnya dengan memainkan Quake III dan tentu saja Wolfenstein 3D yang menyajikan grafis juga alur permainan yang tak kalah mengasyikkan.

Namun sejak saya beralih ke ACER 4520, laptop yang saya pakai kini, beberapa model games yang dahulu begitu saya gilai setiap saat perlahan berubah. Barangkali dipicu oleh perubahan situasi, dimana saya akhirnya dikaruniai anak yang memerlukan perhatian besar dan juga perkuliahan yang dijejali tugas dan target.

Yah, setidaknya saya sudah pernah merasakan semua itu sedari awal. He….

GaMes oh GaMes

1

Category : tentang TeKnoLoGi

Ehm, lantaran terlanjur kelepasan nulis yang berat-berat, dua hari ini saya mendapatkan beberapa sms dari rekan kantor yang meminta saya untuk menghapus dua tulisan terakhir. Dikhawatirkan bakalan mengundang KPK dan sejenisnya. dengan embel-embel ancaman tentu saja….

btw, sepertinya pernah saya alami sebelumnya, perihal ancam mengancam ini… Ah biarlah… toh semua sudah pada tahu. Anyway, jadi males ngelanjutin yang kemarin, sekarang ngomongin yang ringan-ringan ajalah. Boleh kan ? He…

Kalo mau dirangking, aktifitas saya belakangan ini yang berhubungan dengan laptop diperingkat paling atas bisa dikatakan adalah nge-Games. Sedangkan BLoG dan nge-FB barangkali sudah bisa dinomorduakan.

Tak lain dan tak bukan karena waktu yang saya miliki baik dirumah dan dikantor sudah lebih lumayan senggang dibanding saat perkuliahan lalu, disamping efek dari kerja awal tahun di pemerintahan yang masih menantikan masa-masa tender.

Games secara umum memang bisa dikatakan sangat mendominasi kehidupan saya sedari pertama kali mengenal PC (hadiah dari kakak yang waktu itu kuliah di ITS Surabaya). Seiring perkembangan teknologi, games kini tak hanya bisa dimainkan dalam bentuk PC desktop seperti tahun 93/94-an lalu, (kurang lebih / kalo ndak salah –pertama kali saya mengenal PC-). Bahkan dalam bentuk kecil yaitu ponselpun yang namanya games sudah berjubel bisa didapatkan dan dinikmati.

Kalo mau dicermati, untuk dapat memahami apa dan bagaimana Games itu ternyata gak semudah yang dibayangkan para orang tua. Karena Games itu punya keasyikan tersendiri, mampu mencerminkan sifat, karakter hingga hobby si penyuka games, selain juga bermanfaat dalam berbagai bidang kesehariannya. Untuk memainkannyapun tak gampang seperti yang diperkirakan orang sebelumnya.

Orang awam umumnya saat membeli sebuah PC standar dengan grafis on board, saya yakin entah orang tersebut atau barangkali anaknya, dipastikan punya keinginan menjajal PC untuk bermain games yang belakangan sedang nge-trend, atau minimal mendengar dari rekan lainnya. Katakan Counter Strike atau games balap mobil Need For Speed.

Bagi yang paham dengan spesifikasi minimal untuk dapat menikmati kedua games tersebut diatas tentu saja menyadari bahwa tak cukup dengan PC standar saja. Masih diperlukan kartu grafis dan juga memory tambahan untuk dapat memainkannya dengan baik. Katakanlah untuk mendapatkan kehalusan detail yang dinikmati saat bermain games. Keindahan tekstur dinding, mulusnya mobil lawan atau bahkan nuansa lingkungan disekitarnya.

Nah, jika PC standar tadi dipaksakan, maka akibatnya tentu saja seperti yang dialami adik sepupu saya dua tiga tahun lalu. Motherboardnya jebol dan solusinya tentu saja ganti baru. Ini karena PC tak mampu menjalankan games berhubung spesifikasi tak memenuhi syarat Gaming.

Kesimpulan sementara yang dapat diambil dari kondisi diatas tentu saja makin keren tampilan games yang diinginkan, makin cepat proses dan tindakan sang tokoh diharapkan, memerlukan spesifikasi PC yang makin canggih pula.

Games dapat mencerminkan sifat, karakter atau hobby seseorang. Ya, tentu saja. Seseorang yang memiliki jiwa dan hobby perencana barangkali bakalan memilih games berbasis strategi seperti Warcraft atau Sim City ketimbang yang suka pukul-pukulan atau tembak-tembakan langsung macam Counter Strike. Bahkan ada juga yang gila bola, memilih games macam Fifa atau Football manager ketimbang games Zuma seperti yang familiar di setiap kantor Pemerintahan.

Kantor Pemerintahan ? Ya, saya yakin dari sekian banyak rekan yang pernah berhubungan dengan instansi pemerintahan entah untuk mengurus KTP atau perijinan, bakalan menangkap satu dua pegawai yang asik mojok memainkan Zuma atau Bola-Bola (aslinya bernama Magic Lines), tanpa peduli masyarakat lewat lalu lalang.

Memang, Games itu sangat menghanyutkan dan cenderung mampu melupakan waktu sedari pagi ngantor hingga jam pulang, tak peduli kerjaan menumpuk. Tapi gak semua kok games itu berpengaruh negatif. Tergantung dan kembali pada si pelakunya sendiri.

Tempo hari saya pernah membaca salah satu blog rekan yang menulis perihal kegiatan nge-Games ternyata mampu mendatangkan uang. Yaitu dengan cara mencoba atau melakukan test awal pada games-games sebelumnya diluncurkan, untuk mendapatkan respon, kritik, perbaikan maupun pengembangan dan juga kekurangan (bug) pada games tersebut.

Games tak melulu sifatnya tak mendidik kok. Ada juga games yang dibuat dan ditujukan untuk mengembangkan daya nalar seseorang untuk berpikir praktis, merencanakan sesuatu dalam waktu singkat secara cepat dan tepat tanpa perilaku curang. Katakanlah games strategi atau Sudoku misalnya.

Bahkan saya sempat merasakan manfaat games strategi ini secara langsung saat mengikuti mata kuliah Studio Perancangan Arsitektur VI di Teknik Arsitektur dahulu, dimana tugas yang diberikan ternyata tak jauh dengan games yang sedang saya sukai saat itu. Merancang Rumah Sakit. Pernah mendengar games Themes Hospital ?

Misinya merencanakan sebuah rumah sakit yang mampu melayani masyarakat dari level terendah yaitu flu batuk demam hingga tingkat menengah patah tulang, X-Ray dan Rontgen dan tingkat paling parah akibat gempa bumi, epidemi dan serangan alien UFO. Untuk memahaminya kita beneran memerlukan kamus tetap standby disamping PC serta mengatur keuangan agar mampu membangun ruang per ruang yang mutlak diperlukan (ruang konsultasi untuk dokter umum, ruang obat untuk perawat/apoteker dan ruang pemeriksaan untuk dokter spesialis), serta menggaji orang per orang yang dipekerjakan. Lengkap dengan mesin minuman, pot tanaman dan tempat sampah di tiap sudut ruangan. Serta pemanfaatan ruang agar efisien dan efektif untuk seluruh bagian yang diharapkan dapat dibangun dalam lingkup area tertentu yang disediakan. Tentu saja kita harus merencanakan penempatan pintu dan jendela serta AC dalam ruangan agar kenyamanan dokter serta si pasien dapat tercapai.

Yah terlepas dari semua hal diatas, Games tetaplah Games. Satu media yang malahan dianggap bagi sebagian orang sebagai cara paling baik untuk ber-anti sosial dengan sesamanya.

Katanya ProFesionaL ?

1

Category : tentang Opini, tentang PeKerJaan

Seorang rekan kantor yang sejak dulu saya curigai memiliki kelainan pada otaknya kerap mengatakan pada kami, “Semestinya kita ini bekerja dan diperlakukan secara Profesional…” Begitu terus sedari pertama saya menginjakkan kaki di kantor ini. Ya, bisa dikatakan sudah hampir lima tahun saya mengabdi sebagai pegawai negeri yang artinya selama lima tahun pula pikiran saya dicekoki oleh kata-kata mutiara yang gak jelas alasan dan penerapannya itu.

Mau tahu kenapa rekan saya selalu berusaha menekankan kata ‘Profesional’ dalam setiap usahanya ? karena ia menuntut bahwa setiap pekerjaan yang ia lakukan dihargai dengan lembaran kertas merah, entah oleh sesama rekan, atasan hingga rekanan.

Padahal kami ini pegawai negeri loh. Yang notabene sudah mendapatkan gaji setiap bulannya plus insentif sebagai sumber dana tambahan agar kami bekerja lebih giat, diluar dana-dana lain yang tak resmi macam amplop misalnya. Ups… Kelepasan. Sori, yang amplop tadi mbok ya jangan dipercaya gituh…

Eh, kira-kira apa maksudnya sih kata ‘Profesional’ itu sebenarnya ? apa si rekan sudah mengetahuinya sebelum ia mengatakannya setiap kali diberikan atau dilimpahkan pekerjaan ?

Iseng saya nyari arti kata ‘Profesional’ pada mbah Google, ada dua yang paling menarik saya dapatkan. Berikut intinya :

Untuk kategori tenaga PNS, ‘Profesional’ itu bisa diartikan sebagai tenaga yang memiliki technical dan manager skill yang mampu mendukung kinerja dan etos kerja PNS sebagai abdi negara dan masysarakat. PNS itu dituntut dapat melaksanakan pembangunan dan pelayanan terhadap masyarakat dengan sebaik mungkin.

Adapun ciri-ciri PNS yang ‘Profesional’ adalah PNS yang mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawab, serta memiliki pengetahuan dan keterampilan manejerial dasar sesuai dengan kedudukannya.

Kedua adalah resume dari sebuah buku yang kebetulan memiliki arti mirip dengan kerja ‘Profesional’ yaitu 8 Etos kerja unggulan :
1. Kerja adalah Rahmat; bekerja tulus penuh syukur
2. Kerja adalah Amanah; bekerja benar penuh tanggung jawab
3. Kerja adalah Panggilan; bekerja tuntas penuh integritas
4. Kerja adalah Aktualisasi; bekerja keras penuh semangat
5. Kerja adalah Ibadah; bekerja serius penuh kecintaan
6. Kerja adalah Seni; bekerja cerdas penuh kreativitas
7. Kerja adalah Kehormatan; bekerja unggul penuh ketekunan
8. Kerja adalah Pelayanan; bekerja paripurna penuh kerendahan hati

Nah, bercermin dari kedua hasil diatas, dalam hati kecil saya pribadi, hingga kinipun saya masih bertanya-tanya, apakah rekan saya tadi itu sudah melaksanakan ‘Profesionalisme’nya sebagai PNS minimal dengan memberlakukan 8 Etos kerja tadi ? Trus apakah pantas kalo rekan saya itu menuntut agar lingkungan menghargainya secara ‘Profesional’ sedangkan ia sendiri belum mampu memberikan ‘Profesionalisme’nya secara baik dan utuh ?

Apalagi kalo saya membaca tambahan pada awal resume buku tersebut perihal Etos Kerja Bangsa kita saat ini :
1. Suka mengeluh, banyak menuntut, egois
2. Bekerja seenaknya, kepedulian kurang, gemar mencari kambing hitam
3. Kerja serba tanggung, suka menunda-nunda, manipulatif
4. Malas, disiplin buruk, dan stamina kerja rendah
5. Pengabdian minim, sense of belonging tipis, gairah kerja kurang
6. Terjebak rutinitas, menolak perubahan, kurang inisiatif, kurang kreatif
7. Mutu pekerjaan rendah, bekerja asal-asalan, cepat merasa puas
8. Jiwa melayani rendah, merasa diri sudah hebat, arogan dan sok

Jujur saja, secara pribadi saya tak menutup mata bahwa bisa jadi saya adalah salah satu oknum yang masih menjunjung tinggi etos kerja suka mengeluh dengan mutu pekerjaan yang rendah, mustinya ditambah satu point lagi, yaitu ‘lebih suka mojok untuk nge-BLoG saat jam kerja…’. Nah kalo beneran ditambahkan, maka inilah saya yang sebenarnya. Huahahaha…..

Balik ke rekan saya tadi, hingga kinipun saya masih merasa geli sendiri tiap kali ia menekankan kata ‘Profesional’ dan berusaha menuntut imbalan dalam setiap pekerjaan yang dilimpahkan padanya dengan cara apapun.

Sebenarnya sih bisa saja begitu, tapi dengan syarat ya duit gaji bulanan dan insentifnya ya dikembalikan pada negara. Jadi ia dibayar sesuai dengan kualitas pekerjaan yang dihasilkan. Mau Mau Mau ?

Pemikiran ini sempat saya lontarkan pada rekan saya tersebut. Hasilnya ? ia memilih ngeloyor pergi dan memusuhi saya hingga kini. Wuahahahaha….

> selama ini PanDe Baik memang selalu berusaha untuk melawan arus sedikit demi sedikit, agar yang namanya idealisme itu tetap terjaga. Walaupun ada kalanya kita musti ikut arus agar tak hancur dihantam gelombang maha besar… contohnya ya menghabiskan jam kerja dikantor cuman untuk nge-BLoG. Huahahaha…. Dibanding saya kabur pulang ato nyari kamar short time serta membuat rekaman video 3gp ? <

Mau Mau Mau ?