MeLintasi Edensor by Andrea Hirata

8

Category : tentang InSPiRasi

Seakan tak sabar melanjutkan kisah si kriting ikal, saya mulai menggadang-gadangi sepupu untuk mendapatkan ‘Edensor’, buku atau novel ketiga dari sebuah karya Tetralogi oleh Andrea Hirata. Ketertarikan saya ini lebih pada dua racun yang ditanamkan sejak awal, yaitu ‘Laskar Pelangi’ dan tentu saja ‘Sang Pemimpi’.

Memulai Mozaik pada ‘Edensor’, rasanya tak sesulit yang saya alami saat berusaha menyuntikkan racun dua karya sebelumnya. Tak heran ‘Edensor’ dapat saya selesaikan tak sampai menginjak hari kedua. Apa pasal ?

‘Edensor’ bagi saya tak ubahnya sebuah BLoG pribadi, berisikan satu kisah atau perjalanan hidup seorang Andrea Hirata, yang dituangkan dalam 44 Mozaik (jika pada BLoG barangkali bisa disebut sebagai posting tulisan). Mengapa saya katakan seperti sebuah BLoG ?

Cerita yang dipaparkan satu persatu ditulis dalam sebuah kisah atau Mozaik yang pendek, tak seperti ‘Laskar Pelangi’, novel pertama dari sebuah Tetralogi itu. Mengalirnya kisah dapat dicerna dengan mudah dan membuat saya terus menerus melanjutkan bahan bacaan saya ini tanpa jeda, seperti halnya kisah sepuluh murid SD Muhammadiyah.

Ya, ‘Edensor’ rupanya tak semegah yang saya bayangkan seperti halnya dua kisah sebelumnya. Mengisahkan perjalanan hidup saat menempuh jenjang pendidikan hingga ke Perancis sesuai mimpi yang dikhayalkan sejak masa kecilnya, tak membuat saya kesulitan membayangkan para tokoh yang diceritakan satu persatu, demi mengingat cerita seorang adik sepupu yang tempo hari sempat mengenyam pendidikan di negeri Chekoslovakia.

Tak jauh berbeda dengan apa yang saya dengar dari ceritanya, tentang beragam jenis makhluk ‘aneh’ yang berkumpul menjadi satu dalam sebuah universitas, yang kesehariannyapun tak jauh dari ‘party party and party’. Tak hanya sebatas kisah, hingga foto-foto saat mereka berinteraksi satu dengan lainnyapun ditunjukkan. Tak lupa kisah asmara terlarang si adik dengan pria gagah berani, seorang calon dokter dari arab saudi.

Back to ‘Edensor’, barangkali juga karena kisah yang dipaparkan tak jauh dari usia saya saat ini, maka apa yang digambarkan serasa tak asing lagi untuk dicerna. Dari situasi perkenalannya dengan lingkungan baru, menghadapi orang-orang yang tak bisa dimengerti namun bisa dimaklumi, dan juga pencarian cinta yang makin jauh saja.

Secara pribadi bisa saya dikatakan, novel atau buku ketiga dari Andrea Hirata ini belum dapat memuaskan dahaga saya akan kisah lanjutan dari dua novel sebelumnya. Sehingga, untuk melanjutkan kembali pada buku keempat ‘Maryamah Karpov’, saya masih berpikir kapan bisa memiliki waktu untuk menikmati karya pamungkas dari si keriting Andrea Hirata….

Setidaknya agar bisa jauh lebih menikmati seperti dua kisah awal. Seburuk apapun kemungkinan isi ceritanya nanti.

Menikmati Sang Pemimpi by Andrea Hirata

2

Category : tentang InSPiRasi

Memasuki tahap pelepasan penat usai penyelesaian tugas dan proposal Thesis pasca Sarjana yang saya ambil selama satu setengah tahun ini, banyak harapan yang saya ingin tumpahkan untuk pelampiasan semua itu. Salah satunya adalah melanjutkan kenikmatan akan indahnya sebuah buku. Lebih tepatnya lagi, Novel.

Sang Pemimpi. Buku kedua dari sebuah Tetralogi hasil karya Andrea Hirata.

Buku ini sebetulnya sudah lama menarik hati saya saat adik sepupu yang memang memiliki hobi membeli, membaca serta mengoleksi aneka ragam buku, baik komik, majalah, novel hingga sebuah skenario film sekalipun. Rasa penasaran dengan sebuah buku yang begitu ia banggakan dan ternyata bukan hanya ia yang menunjukkannya, membuat saya bertekad akan mulai menikmatinya pasca tugas perkuliahan semester ketiga ini selesai.

Maka, sedari sabtu pagi hingga minggu sore, buku inipun habis saya lahap. Amazing. Hanya dalam hitungan jam saya bisa menyelesaikan kenikmatan sebuah Novel. Tak salah memang jika membaca prolog maupun beberapa komentar yang menyinggung tentang isi buku ini di dunia maya. Bahwa karya dari Andrea Hirata ini sangat menghanyutkan….

Memang, dalam menikmati sebuah novel, saya jarang membacanya hingga detail dan memahaminya atau merenungkannya dahulu. Saya lebih suka melanjutkannya sambil membayangkan ekspresi yang mampu saya gambarkan berdasarkan deskripsi yang dilontarkan dalam cerita tersebut.

Baru setelah saya mengetahui gambaran keseluruhannya, detail demi detail bakal saya lahap habis. Walaupun tak sampai saya hafalkan. Tapi paling tidak jika seseorang bertanya tentang isi dan bagaimana pendapat saya tentang buku ini, saya akan mengacungkan kedua jempol yang saya miliki, dan sekaligus menyarankan pada anda juga, untuk mencoba nikmatnya sebuah Novel karya Andrea Hirata.

Nikmati dan rasakan imajinasimu melayang pada sebuah cerita nun jauh disana. Saya yakin. Jika kita pernah menjalani hidup disatu masa tersebut, apapun yang diceritakan, digambarkan oleh seorang Andrea Hirata, cukup membuat kita tersenyum simpul dan melayang pada kisah kita sendiri dimasa lalu.

Katakanlah saat Ikal sang tokoh yang ia (Andrea) perankan, mengusapkan minyak hijau Tancho sebelum beraksi dihadapan para siswi disekolahnya. Hey, apa ada diantara kawan yang mengenal Tancho ? Hahahaha…. Ini minyak rambut satu-satunya yang trend hingga tahun 80-an. Saya mengenalnya, karena Bapak merupakan orang yang fanatik menggunakannya, termasuk saya mencuri-curi sedikit saat masih bersekolah di bangku SD dahulu.

Yah, terlepas dari semua nostalgia yang berusaha dibuai oleh seorang Andrea Hirata, Novel Sang Pemimpi ini memang sangat menggairahkan bagi saya pribadi. Saat berusaha tenang menunggui satu-satunya Kakek yang saya miliki telah terbujur kaku dalam peristirahatan terakhirnya, di usianya yang akan menjelang angka 90-an tahun, Novel ini mampu menemani detik-detik dimana harapan saya membuncah berharap masih bisa berkelakar bersamanya.

Mungkin ada baiknya saya bersiap untuk sebuah ‘EDENSOR’ mulai esok pagi….

Mengenang Pekak Titih Pande Ketut Nadhi

Category : tentang KeseHaRian

Jika saya melihat jauh kebelakang, sebenarnya Pekak Titih bukanlah orang jauh keluarga kami dari pihak Bapak. Beliau lahir dan besar disebelah rumah kami, sebagai anak bungsu dari empat bersaudara. Beliau meninggal pada usia 85-an tahun, selisih sedikit dengan kakak perempuannya yang meninggal pada akhir tahun 2008 lalu. Beliau sebenarnya lebih dikenal dengan sebutan Bli Tut Nadi oleh generasi Bapak dan saudara-saudaranya.

Status pernikahan Beliau dengan Istrinya (Nenek saya) adalah Nyentana. Jadi, rumah yang Beliau tempati sekarang sebenarnya merupakan hak waris yang dimiliki oleh Nenek. Tak heran, barangkali itu sebabnya Pekak sering mengalah pada Nini (sebutan kami pada Nenek) jika terjadi pertengkaran. Perkawinan Beliau dikaruniai sembilan orang anak, dimana dua anaknya meninggal mendahuluinya. dan Ibu saya merupakan anak kedua dari mereka.

Pekak dan Nini sebetulnya pada jaman saya kecil dahulu, dikenal orang sebagai pasangan guru Modes (kursus menjahit) dimana keahlian itu menurun dengan baik pada Ibu saya. Nama usaha itu adalah Modes Ratnadi. Berasal dari gabungan nama mereka berdua. Ratna adalah nama Nini dan Nadhi adalah nama Pekak. Modes ini sangat terkenal pada masanya, dan salah satu murid asuhnya waktu itu adalah Bapak saya. Bapak sudah ikut dengan mereka berdua sejak ia meninggalkan bangku sekolah SMP, usai kematian Pekak dari pihak Bapak.

Selain membuka sekolah Modes, Pekak juga membuka usaha menjahit di Gajah Mada. Tepatnya pada gedung yang tempo hari dilanda kebakaran. Bapak dan Ibu pasca perkawinan mereka, juga termasuk yang melanjutkan menempati los tersebut sebagai mata pencaharian utama. Saat saya kecil, seringkali diajak mampir ke tempat tersebut.

Satu-satunya ingatan saya akan masa kecil dahulu bersama Pekak, adalah saat saya untuk pertama kalinya diajak jalan-jalan mengitari areal gedung Gajah Mada tersebut. Bersama seorang sepupu yang usianya tak jauh beda, Donny dan saya diajak bermain menaiki kuda-kudaan yang dapat bergerak setelah dimasukkan koin kedalam kotak mesinnya.

Lantaran saya tak pernah menaikinya, saya berteriak ketakutan dan menangis saat diminta untuk tetap duduk diatas mainan tersebut. Huahahaha…. Untuk menenangkan saya, Kakek lantas membelikan susu kotak Ultra Milk rasa Coklat, yang ternyata hingga kinipun masih saya sukai. Rupanya kejadian tersebut tk jauh berbeda dengan Putri saya tempo hari, saat kami ajak bermain di arena mainan Tiara Dewata. Kenangan ini sangat berbekas hingga kini saya beranjak dewasa.

Seingat saya, Pekak dan Nini dikaruniai oleh anak-anaknya total 20 orang cucu dan delapan cucu diantaranya yang telah menikah, memberikan tak kurang 20 orang cicit. Putri kami adalah cicitnya paling terakhir saat ini.

Bersyukur pada saat ulang tahun Bapak (Pekaknya MiRah) 19 Oktober 2008, Putri kami, MiRah GayatriDewi sempat foto bareng Pekak Nini (Kompyang/Kumpinya MiRah) yang memang spesial saya ambil saat kami memutuskan untuk bersama-sama menengok Pekak di Titih. Waktu itu Pekak dikabarkan mengalami sesak nafas dan feeling saya mengatakan, saya harus bisa mendapatkan beberapa foto kenangan bersama Beliau. Mumpung Pekak masih ada bersama kami.


Maka jadilah salah satu foto mesra mereka saya edit dan cetak dalam ukuran 4R. Barangkali kelak, foto tersebut bakal menjadi kenangan paling berharga bagi MiRah Putri kami.

Bahkan, saat saya mencari dan membuka arsip foto pernikahan saya akhir tahun 2005 lalu, Pekak masih mampu ikut serta dalam tiga upacara pokok sebagai rentetan acara saat itu. Berikut adalah foto Pekak yang mendampingi saya saat ‘Tukar Cincin’ dirumah Istri, sebagai awal dari keseluruhan kenangan akan sebuah pernikahan saya…..


Dua hari menjelang Pekak mengalami sesak nafas dan harus dirawat di rumah sakit, Pekak sempat memberikan kenangan terindah pada Nini. Ini diceritakan oleh Nini kepada Istri saya, malam usai Pekak meninggal.

Pekak sempat membelikan makanan kesukaan Nini, saat ia kembali dari mengantarkan rekannya yang meninggal -sesama Veteran- ke Setra / kuburan. Bahkan Nini ditemani dengan sepenuh hati, mengambilkan air minum sekaligus memberikan pesan-pesan terakhirnya. Nini memang tidak menyadari jika itu adalah pemberian terakhir dari suaminya yang telah sekian tahun diajak hidup miskin dan menderita.

Kini Pekak sudah terbaring di Bale Dauh dengan tenang, sambil menunggu dewasa ayu untuk upacara pengabenannya. Sedianya akan dilaksanakan pada tanggal 10 Februari besok langsung dilanjutkan dengan upacara NgeLanus / Memukur hingga pagi esoknya.

Yah, berharap banget Pekak bisa tenang disana bersama tiga saudaranya yang barangkali telah menanti, dan biarlah cerita kenangan ini akan tetap kami simpan untuk mengingatnya.

We LoVe You Pekak…..

……paling tidak, semua cerita yang saya ungkap dalam BLoG ini barangkali akan menjadi kenangan pula bagi Anak Istri saya dan rekan-rekan kelak, jika satu saat saya dikehendaki pula oleh-Nya…..

so… KEEP BLoGGING…..

Upacara Ngeringkes PanDe Ketut Nadhi

4

Category : tentang KeseHaRian

Hujan yang turun tak menentu, menjadi harap bagi kami agar tak sampai terjadi saat upacara NgeRingkes digelar.

Ya, hari kamis kemarin tepat pukul tiga sore, segenap keluarga besar hadir dan sudah bersiap untuk satu upacara NgeRingkes, yaitu upacara memandikan jenasah Pekak, yang ditangani oleh krama Banjar Titih, disaksikan oleh kerabat sanak saudara dari jauh.

Tak banyak yang bisa saya lakukan selain berusaha mengabadikan momen ini dalam sebuah gambar diam kamera digital jadul, yang tak mampu menangkap suara sedikitpun jika saya memaksa untuk mengambil gambar bergerak dengan kamera yang sama. Seperti biasa, selain kamera jadul yang masih bagus digunakan hingga hari ini, untuk menangkap gambar bergerak, saya mengalihkannya pada Nokia cdma 6275i, dengan modal nekat lantaran tahu seberapa hasil pergerakan yang mampu dihasilkan oleh ponsel ini.

Eh, ternyata seorang sepupu membawa serta kamera Casio baru gres miliknya, yang lantas saya pinta menggantikan ponsel saya untuk merekam khusus pada gambar bergeraknya.

Ini memang inisiatif saya sendiri, apabila salah satu kerabat mengalami duka. Bukan apa-apa sih, hanya untuk sekedar yang bisa saya berikan pada almarhum. Karena biasanya pihak keluarga seakan melupakan kegiatan pengabadian momen paling berharga ini. Pikirannya malah lebih terfokus pada kegiatan utama, seperti halnya yang dilakukan oleh anak-anak Pekak.

Upacara NgeRingkes ini berlangsung cepat, secepat Pekak kalo mengambil pekerjaan rumah. Ya, kata orang sih, biasanya jalannya suatu upacara pengabenan merupakan cerminan sifat si almarhum. Silahkan dipercaya atau tidak.

Saya takkan bicara panjang lebar perihal jalannya Upacara hingga makna yang terkandung didalamnya. Yang pasti saat Jenasah Pekak dimandikan kembali oleh seluruh anak cucunya, tubuh Pekak terlihat putih bersih. Sebersih hati dan perjuangannya akan sebuah kehidupan….. Sungguh, Pekak terlihat seperti hanya memejamkan matanya dan tidur ditengah-tengah kami. Ketampanan Beliau masih terlihat di hari terakhirnya ini. Yang sayangnya tak menurun pada saya. He….

Beberapa saat usai upacara, para cucu Pekak berinisiatif mengumpulkan uang masing-masing dua puluh ribu rupiah, yang sedianya bakalan dibuatkan satu karangan bunga hasil karya para desainer muda para cucunya ini. Pengumpulan uang ini sempat bikin heboh, karena baru saja beberapa diantara kami menangis saat pemandian jenasah Pekak. Eh, saat kami semua berkumpul, yang namanya tawa canda akhirnya meledak jua.

Saat beberapa kerabat hendak pamit dari rumah Pekak, kami berempat ‘Gerombolan si Berat’ (meminjam istilah sindikat penjahat lucu di serial Donal Bebek), langsung meluncur ke Setra (Kuburan) Badung, untuk membakar sarana yang dipakai saat upacara tadi. Dari pakaian Pekak sebelum dimandikan kembali, hingga sarana upacaranya. Keempat ‘Gerombolan si Berat’ ini adalah Ade Jenggo selaku PimPro kegiatan ini, memimpin ketiga adiknya, Mank Chiko, Donny dan juga saya selaku tukang foto keliling, yang sebaya seusia dan seberajat tinggi juga besarnya…..

Yakin semua pakaian, kain kemben dan juga kasa putih terbakar hancur, kami kembali ke rumah Pekak untuk berkumpul kembali sebelum akhirnya satu persatu berpamitan lantaran saking capeknya….

fiyuuuhhh….

Dudonan Karya Pengabenan Pande Ketut Nadhi

1

Category : tentang KeseHaRian

Kamis, 5 Februari 2009, pukul 15.00 Wita, Upacara NgeRingkes (upacara memandikan jenasah) oleh krama Banjar Titih dan keluarga besar

Senin, 9 Februari 2009, pukul 14.00 Wita, Upacara Ngajum oleh segenap keluarga besar sekaligus persiapan

Selasa, 10 Februari 2009, pukul 12.30 Wita, Upacara Pengabenan menuju Setra (Kuburan) Badung, dilanjutkan dengan Nganyut ke Pasih dan Ngelanus (Upacara Memukur) hingga Rabu dini hari.

Demikian disampaikan oleh keluarga Pande Ketut Nadhi

In memoriam Pande Ketut Nadhi

3

Category : tentang KeseHaRian

Kami semua memanggilnya Pekak Titih.


Satu-satunya pekak yang saya tahu dan miliki sejak kecil dari pertalian darah pihak Ibu. Beliau salah satu anggota Legiun Veteran, dan sebulan terakhir masih aktif ikut mengantarkan rekannya yang mendahului menghadap pada-NYA. Bahkan Beliau ikut berjalan kaki dari lokasi rumah duku ke Setra (kuburan) adat.

Diusianya yang saya perkirakan kini sekitar angka 85-an lebih, dua – tiga lalu Beliau ternyata masih mampu setiap pagi pergi ke pasar Badung membeli keperluan sehari-hari, dengan sepeda gayungnya ataupun berjalan kaki. Tergantung keinginannya. Seorang kakek yang tak bisa berdiam diri, itu gambaran Beliau dimata saya.

Kesehariannya, Beliau ditemani sang Istri (nenek saya) yang sudah puluhan tahun mendampingi. Pertengkaran kecil kerap terjadi tapi hanya sebatas kata-kata saja. Yang membuat kami selalu salut pada Beliau adalah sifatnya yang kerap mengalah dan memilih diam. Tidak ingin memperpanjang masalah.

Beberapa bulan kemarin, saya mendapatkan tugas yang Beliau harapkan bisa saya wujudkan sebelum Beliau meninggal. Mencari foto lama (diambil sekitar tahun 1937), yang menampilkan teruna-teruni Banjar Tainsiat saat itu plus sekumpulan anak-anak yang duduk dibagian depan. Beliau masih ingat foto tersebut masih ada arsipnya di balai Banjar kami.

Tugas ini makin ditekankan saat Sekaa Teruna Teruni pada bulan November 2008 lalu melakukan teatrikal Puputan Badung di perempatan jalan Nangka – Patimura yang sempat memajang foto tersebut dalam ukuran yang sangat besar. Bahkan dengan penekanan kata-kata ‘sebelum Pekak mati, foto itu harus sudah jadi’. Duuuhh…

Bersyukur, saya bisa mewujudkan keinginan Pekak dengan baik. Atas bantuan seorang famili, foto tersebut yang telah di-scan ulang, dapat saya cetak dalam ukuran 20R kalo ndak salah. 2 biji. Satu untuk Pekak Titih, satu lagi saya berikan pada Bapak. Karena menurut Pekak Titih, dalam foto tersebut ada juga figur Pekak saya pertalian darah dari pihak Bapak, yang masih kecil dan berjambul.


Menurut sepupu saya dan anaknya Pekak, Beliau senang sekali saya bisa mewujudkan apa yang Beliau pinta, bahkan sempat memamerkannya saat senggang. Syukurlah, batin saya. Pada saat yang sama, Pekak sudah terbaring lemah di ruang ICU RS Wangaya akibat sesak nafas dan Diabetes yang belakangan baru diketahui.

Sejak hari kamis pagi dirawat dan jumat pagi masuk ICU, saya sempat berbicara langsung dengan Beliau, walau tak banyak. Karena prioritas kami memang agar Pekak tak banyak bicara, tak banyak menghabiskan energi untuk menarik nafas. Waktu itu saya hanya berharap yang terbaik bisa diberikan pada kami semua. Sekaligus menitipkan senyum manis dari cicitnya yang lahir terakhir, Putu Mirah Gayatridewi. Putri kecil kami.

Sejak kondisi pekak menurun, kami semua sudah diwanti-wanti agar menyiapkan mental untuk bisa menerima apapun keputusan yang diambil kelak oleh-NYA. Maka, malam usai ujian perkuliahan saya sekaligus menjadi hari kuliah yang terakhir, Pekak menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 03.30 dinihari. Sesuatu yang telah kami sadari sebelumnya.

Kini Pekak sudah meninggalkan kami dengan jalan yang tenang dan damai. Hanya lima hari lima malam Beliau meminta pelayanan terakhir dari kami semasa akhir hidupnya. Dimana kami bisa mempersiapkan mental dan fisik untuk mengantisipasi hal terburuk yang akan kami dapatkan.

Selasa pagi, rumah tua dari keluarga Ibu di banjar Titih diguyur hujan. Tak menyurutkan semangat kami anak dan cucunya untuk menyambut dan memandikannya dengan penuh cinta. Ternyata kami memang sudah siap untuk kemungkinan terburuk ini.

…..masih menunggu kapan akan dilakukannya upacara penghormatan pada Beliau sekaligus perpisahan secara duniawi dengan kami.

PanDe Baik berDuka

7

Category : tentang KeseHaRian

Atas meninggalnya Pande Ketut Nadhi, pekak dari pihak Ibu di banjar Titih. Pada hari Selasa, 3 Februari 2009 jam 03.30 dini hari, di ruang ICU RS Wangaya Denpasar. Semoga IDA SANG HYANG WIDHI WASA Selalu berkenan memberikan ketegaran pada kami yang ditinggalkannya.

We Love You GrandPa.

(PanDe Baik dan keluarga)

Nokia 2,5 Juta Awal 2009

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya berkaitan saran dan rekomendasi untuk keinginan benerapa rekan memiliki ponsel Nokia murah meriah, kali ini saya lanjutkan pada kisaran 2,5 juta rupiah. Angka yang barangkali hanya bisa dijangkau oleh masyarakat golongan menengah. Sedangkan untuk harga diatas kisaran tersebut, saya rasa akan kembali pada kebutuhan masing-masing calon pengguna, yang hanya bisa dijangkau oleh sebagian kecil penduduk Indonesia saat ini.

Tak beda dengan tulisan saya sebelumnya, untuk pemilihan saya bagi menjadi tiga kelas, tergantung pada kebutuhan dari masing-masing pengguna dan tentu saja budget yang tersedia.

Untuk kisaran maksimum 2,5 juta, Nokia menyediakan tiga ragam kebutuhan sesuai aktivitas penggunanya. Pertama, bagi mereka yang mengutamakan kegiatan kantoran akan lebih banyak berkutat pada office application, presentasi hingga internet kecepatan tinggi. Kedua, bagi mereka yang lebih mengutamakan fitur Hiburan, bisa menikmati musik hingga video dan juga foto dengan cara yang lebih asyik. Terakhir bagi mereka yang mengutamakan penampilan (fashion phone).


Pada kisaran ini, saya merekomendasikan dua buah ponsel untuk kegiatan kantoran yakni seri E51 dan E65, yang memiliki spesifikasi hampir sama. Seperti misalnya koneksi yang sudah ada Wifi-nya, jelas akan memberikan akses internet yang lebih leluasa. Termasuk pula fitur multitasking antar office application. Maklum, keduanya diperkuat dengan keberadaan prosesor untuk menunjang aktivitas tersebut.

Bagi yang menyukai hiburan, bisa melirik ke seri 5320 Xpress Music, yang menyajikan fitur kamera plus flash, fitur N-Gage, juga tentunya jack 3,5 mm yang merupakan syarat mutlak bagi sebuah ponsel musik. Sedang bagi yang menyukai penampilan atau fashion phone, bisa mencoba seri 7610 Supernova dengan desain slide dan cover yang bisa digonta-ganti.

Untuk kisaran sekitar 2 juta, Nokia menyediakan fitur yang tak jauh beda dengan kisaran diatas, sudah mengadopsi jaringan 3G, hanya saja fitur koneksi Wifi takkan bisa ditemukan disini.


Pada kisaran ini, saya merekomendasikan seri 6120 Classic, sebuah ponsel serius yang mampu menjalankan multitasking berkat prosesor internalnya, sudah 3G dan memiliki dimensi yang mungil. Tentu saja bakalan menyulitkan bagi mereka yang bertangan besar seperti saya.

Satu-satunya seri N yang masih laris hingga belakangan ini adalah seri N70 Music Edition. Seri yang dirilis dalam balutan warna hitam ini, meski masuk kategori ponsel multimedia, bisa dikatakan performanya sedikit mengecewakan. Istilah gaulnya Lemot. He… Sedang bagi yang mood ke ponsel fashion, bisa melirik seri 7900 Prism, yang beneran mengadopsi bentuk prisma. Hingga perwajahan seri ini sangat menarik dari sudut manapun ia dilihat.

Untuk kisaran 2 juta kebawah, Nokia menyediakan tiga ragam seperti halnya yang saya sebutkan diatas, tergantung dari aktivitas penggunanya. Rata-rata memiliki resolusi kamera 2 MP dan tidak mendukung jaringan 3G. Ohya, ponsel yang disajikan bukan tergolong ponsel pintar atau mengadopsi sistem operasi seperti seri-seri diatas.


Pada kisaran ini saya merekomendasikan dua ponsel yang termasuk dalam rilis Xpress Music yaitu si tipis 5310 dan si bentuk aneh 5220. Kenapa saya katakan aneh, karena bentuk dasarnya tidak seperti ponsel lain yang simetris memanjang. Ada juga ponsel tipis nan mengesankan keseriusan lewat wajahnya yang elegan dan resmi, yaitu seri 6300. Tak lupa bagi yang maniak fashion atau penampilan, ada juga seri 7310 Supernova.

Dari semua seri diatas yang saya rekomendasikan, kemampuan powerfull tentu saja dimiliki oleh seri E yang memang diperuntukkan bagi kalangan pebisnis dan pekerja serius. Perbedaan paling mencolok tentu saja keberadaan koneksi Wifi yang mampu digunakan untuk browsing internet sekaligus mengecek email dsb secara gratis pada area-area yang menyediakan free hotspot. Sedangkan untuk fitur Games (N-Gage) saya rasa masih bisa disuntikkan dengan menggunakan aplikasi buatan Nokia resmi.

Nah, usai sudah pembahasan saya terkait permintaan saran dan rekomendasi akan ponsel Nokia, yang masih menduduki peringkat pertama sebagai ponsel yang paling ditunggu inovasinya. Semoga saja bisa berguna bagi mereka yang menginginkan ponsel murah nan powerfull baik pada kisaran 1,5 juta hingga 2,5 juta rupiah.

> Untuk yang kedua kalinya PanDe Baik berusaha memberikan masukan bagi mereka yang masih belum puas dengan ponsel lamanya dan berkeinginan menjajal beberapa seri Nokia di kisaran harga 2,5 juta rupiah. Minimal secara pribadi, seri yang disebutkan disini sudah cukup mampu mewakili cara dan kebiasaan pemakaian sekian banyak ponsel mahal Nokia, terkecuali yang dirilis belakangan dengan layar sentuhnya plus seri communicator lama. Bedanya paling hanya dari segi desain, memory internal/eksternal dan juga resolusi kamera yang ditawarkan. Selebihnya sama saja kok. Trust Me. <

Nokia 1,5 Juta Awal 2009

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Sesekali saya pengen juga mengulas topik tentang ponsel, yang belakangan makin berkembang menjadi satu kebutuhan paling mendasar bagi setiap orang dari usia dewasa hingga anak-anak. Tapi kenapa harus Nokia ?

Ditengah gencarnya serbuan ponsel China yang menawarkan beragam fitur canggih dalam balutan desain modis dan ditawarkan dengan harga terjangkau, Nokia masih tetap merupakan pemain nomor satu diberbagai lini kelas yang ditawarkan. Kecuali jika itu berkaitan dengan dual frekuensi tentunya.

Nokia paling tidak sangat gampang dikenali dari desainnya yang khas, fiturnya yang selalu terdepan dan pemakaiannya nyaris tak jauh beda dengan pendahulunya. Alasan beberapa orang yang pernah saya temui, Nokia itu jauh lebih mudah digunakan ketimbang para kompetitornya.

Dari kisaran harga, bolehlah saya mengira-ngira seumpama seorang konsumen memiliki budget atau anggaran pas-pasan sekitar 1,5 juta kebawah, dan musti ponsel Nokia, kira-kira mau milih seri mana ya sebagai pilihan terbaik ?

Nah, untuk jawabannya saya bagi tiga. Tentu saja tergantung budget yang maksimum sebesar 1,5 juta tadi serta kebutuhan apa yang diharapkan dari ponsel yang bakalan dipilih nantinya.

Untuk kisaran maksimum 1,5 juta, Nokia sudah memberikan pilihan yang memadai sebetulnya. Selain untuk keperluan mendasar telepon dan sms, Nokia menyediakan resolusi layar yang lega (240×320 pixel), layar warna yang minimal kedalaman 265 K, MP3 player plus Radio FM, kamera yang sudah 2 MP bagi yang suka ngeshoot iseng, tambahan memori eksternal agar bisa menggunakan dan menyimpan file dari fitur tadi serta koneksi Bluetooth untuk tukeran data antar ponsel.


Pada kisaran ini, saya rekomendasikan yang paling sip dipilih yaitu seri 3120 Classic yang kebetulan sudah mendukung 3G. Minimal sudah bisa gaya walopun fitur canggih tersebut bakalan jarang dipake. He…. Trus ada seri 5300, yang merupakan salah satu rilisan Xpress Music, tentu saja didedikasikan sebagai ponsel musik. Ini dapat dilihat dari tombol player music pada sisi samping layar. Desain slider menjadikan seri ini terlihat lebih kecil dan pas untuk digenggam ditangan. Terakhir ada 7210 Supernova, ponsel fashion Nokia, yang punya ciri khas tipis dan juga tema yang jauh lebih modis dibanding seri lainnya.

Untuk kisaran 1 juta naik dikit, Nokia menyediakan pilihan yang bisa dikatakan lumayan yaitu layar warna, kamera 1,3 MP dan tentunya memory eksternal untuk penyimpanan file musik dan foto yang lebih banyak. Hanya saja, resolusi layar lebih kecil ketimbang tiga seri yang saya sarankan tadi, yaitu sekitar 128×160 pixel. Efeknya bakalan terlihat lebih jelas saat menggunakan thema yang sama dengan seri diatas, plus tingkat ketajamannya yang tentu saja kalah jernih.


Pada kisaran ini, saya merekomendasikan seri 3500 Classic, ponsel tipis dengan desain yang sedikit kaku tapi masih bisa terlihat gaya. Seri 3110 Classic yang punya kelebihan bisa membaca file audio besutan Microsoft yaitu WMA, dan saudara kecil edisi Xpress Music sebelumnya yaitu seri 5200. Walaupun sama-sama memiliki desain slide, seri ini tidak memiliki tombol akses musik seperti kakak kandungnya, 5300.

Sedang pada kisaran maksimum 1 juta, Nokia hanya mengurangi satu fitur saja dari kisaran sebelumnya, namun akan amat sangat berarti bagi sebagian konsumen. Ya, memori yang tersedia hanya dibatasi pada internal ponsel saja. Tapi yang namanya koneksi, minimal Bluetooth sudah dimiliki kok.


Pada kisaran murah meriah ini, saya merekomendasikan seri 2680 Slide dan juga seri 5000. Seri paling bontot saya sebutkan dari segi desain bisa dikatakan kalah modis, hanya saja memiliki satu kelebihan pada resolusi layar yang lega.

Nah, dari ketiga kelas yang saya rekomendasikan untuk kisaran harga 1,5 juta rupiah, tentu saja yang paling sip diambil ya seri 3120 Classic tadi. Secara pribadi, itu sudah lebih dari cukup kok. Tentu saja itu kembali lagi ke budget maksimal yang bisa disediakan untuk keperluan komunikasi.

Perlu diketahui juga bahwa untuk kisaran harga (baru) 1,5 juta, Nokia hanya memberikan ponsel yang tergolong sebagai symbian 40, dengan kata lain tanpa didukung oleh sistem operasi. Sehingga kelemahannya adalah tidak dapat ditambahkan aplikasi yang barangkali powerfull dan mampu menambah fungsi maupun kegunaan ponsel, sedang kelebihannya adalah dijamin terhindar dari ancaman virus apapun. He….

> PanDe Baik mencoba menawarkan alternatif pilihan bagi mereka yang berkeinginan memiliki ponsel Nokia pada kisaran harga maksimal 1,5 juta rupiah. Harga yang cukup terjangkau oleh sebagian besar masyarakat Indonesia tentunya. Tulisan ini sekaligus sebagai jawaban atas pertanyaan yang kerap diajukan oleh beberapa rekan saat mereka ingin meng-upgrade ponsel mereka dengan dana yang terbatas. Semoga berguna. <