CeriTa PenDek PanDe Baik ke-Dua yang tercecer

4

Category : tentang KeseHaRian, tentang PLeSiran

FLu Batuk yang hadir dalam hari-hari saya liburan Idul Adha lalu, akhirnya memaksa saya untuk beristirahat sejenak dirumah, demi mengembalikan stamina dan kesehatan. Yah, sehari usai liburan saya memang sempet nekat ngantor berhubung kegiatan banyak yang numpuk, tapi sial… angin yang berhembus dari lobang jendela mobil tak ber-ac malah membuat batuk makin menjadi. Kondisi drop ditambah pengaruh obat dokter, lumayan memaksa saya untuk tetap berkonsentrasi penuh pada jalanan, sambil berharap semoga saja saya bisa melewati hari ini dengan baik.

Memutuskan untuk beristirahat memang ide yang baik. Tapi duduk bengong tanpa ada satupun kesibukan, saya jamin bukan ide yang baik. Walaupun hujan deras diluar membuat suasana makin adem kalo dilewatkan dengan tiduran. Saat begini dipaksakan untuk ngulik Thesis kok malah gak konsen (he… ini sih pembenaran sepihak saja), jadilah saya mencoba membayar hutang posting yang saya tinggal beberapa waktu lalu gara-gara kesibukan kantor.

Lagi-lagi FLu Batuk yang menjadi kambing hitam atas mentoknya ide dan kata-kata yang biasanya mengalir untuk menjadikan sebuah ide menjadi posting. Yah, kanggoang gen be, semua cerita dirangkum jadi satu, sebisa saya dan sesuka saya saja. Ha…. Melanjutkan CeriTa PenDek tempo hari. Ini bagian ke-Dua.

***

Menjamurnya baliho yang menampilkan wajah narsis CaLeg sebenarnya sudah pernah dibahas oleh beberapa rekan blogger lengkap dengan ceritanya sendiri. Intinya, tindakan para Caleg itu dibenarkan karena mereka memang BELUM sepenuhnya dikenal oleh masyarakat yang mereka pikir merupakan potensi besar sebagai lumbung suara dukungan. Yah, kali aja ada yang bersedia mencoblos hanya karena terpukau wajah ganteng/cantik yang sudah dipoles dengan bantuan Photoshop.

Namun memang ada baiknya para Caleg yang ingin menempatkan baliho permohonan dukungannya itu survey terlebih dahulu, ditempat atau lokasi mana saja bakalan dipasang. Jangan sampe, wajah guanteng para Caleg berdampingan dengan iklan XL yang menampilkan si Monyet Guanteng. Seperti yang terlihat di pojokan jalan Desa Canggu menuju Tanah Lot.

Bahkan ada pula satu baliho yang barangkali saja merupakan tandingan iseng-iseng belaka, gara-gara kecewa dengan figur para Caleg, sehingga dengan tulisan yang jelas terbaca, meminta meminta masyarakat agar tak memilihnya. Foto ini diambil di Pertigaan banjar Gadon, sebelah barat Pasar Pengosari Kerobokan.

***

Maraknya penampilan Baliho disepanjang jalan seantero kota Denpasar juga Badung, membuat dua ekor pegawai yang punya niatan jahil, langsung saja mempermak foto yang tak kalah guanteng seorang rekan kantor, untuk diedit menjadi sebuah permohonan ‘doa restu’ ala Caleg. Hanya saja kali ini yang disasar bukan posisi empuk Wakil Rakyat, tapi posisi Kepala Seksi / Kepala Bagian untuk tahun depan. Kali aja ada rekan lain yang mau mendukung. He….

***

Proyek Pemerintah dalam image yang terbayang dimata masyarakat adalah duit yang masuk kantong pribadi dan hasil pekerjaan yang tak sesuai dengan harapan.

Saya katakan demikian setelah melihat dari hasil pekerjaan pembuatan Trotoar dengan style ’baru’, yang mencoba membuat licin jalur pejalan kaki ini dan mengecatnya dengan warna hijau. Entah apa maksudnya. Belum lagi sudut elevasi penurunan yang cenderung menyusahkan para penggunanya. Padahal disitu terlihat jelas ada ubin berwarna kuning yang diperuntukkan bagi para tuna netra dan juga pemakai kursi roda. Perbedaan ketinggian antar level juga jadi masalah, jangan-jangan kaki pengguna Trotoar malah terantuk dan terjatuh.

Begitu pula dengan pemandangan yang ada disepanjang jalan Kamboja. Ada saja perbaikan yang dilakukan, padahal penyelesaian proyek belum berselang lama.

***

Survey beberapa ruas jalan yang semingguan ini saya lakukan merupakan faktor utama pemicu menurunnya kondisi saya hari ini. Bukan apa-apa, tapi survey dilakukan bukan dari belakang meja, tapi beneran turun dan berjalan kaki di lokasi. Selain melihat langsung kerusakan yang ada, sekalian juga mencatat dan memperkirakan penanganan apa saja yang harus dilakukan.

Dari grafis peta diatas, empat kotak yang berwarna biru, adalah ruas jalan yang sudah saya survey dan dituangkan dalam bentuk gambar perencanaan plus berapa anggaran biaya yang diperlukan. Satu kotak kuning, adalah lokasi terakhir yang saya survey, namun lantaran kondisi yang drop duluan, belum sempat saya tindak lanjuti hasilnya.

Dua kotak merah, merupakan area tugas saya untuk melakukan pengawasan pekerjaan oleh Rekanan. Satu berada pada ruas jalan Pipitan-Tuka dimana kampung Istri berada, satu lagi pada area konflik terkini, yaitu Dewi Sri. Ha….

Diantara sekian ruas yang menjadi tugas serta kewajiban saya akhir tahun ini, barangkali hanya dua ruas saja yang paling berkesan di hati.

Pertama yaitu Perumahan Dalung Permai. Menjadi berkesan karena saya masih mengingat imagenya sebagai ’Kota Satelit’ seperti yang didengungkan sepuluh tahun lalu, kenyataannya malah jauh dari kata asri dan nyaman untuk ditempati. Mengingat jalan yang berlubang, sapi berkeliaran, rumput tumbuh tak terurus, kawasan hunian yang kumuh dan penuh sampah, bahkan areal kosong yang sedianya diperuntukkan sebagai Fasum/Fasos kawasan setempat, dialihfungsikan menjadi pertokoan.

Kedua tentu saja ruas jalan Munggu-Seseh. Menjadi berkesan, karena ini merupakan jalur nostalgia saya secara pribadi jaman masih pacaran dahulu dengan mantan pacar yang kini menjadi Istri saya. Ha…. baru Ketahuan kalo PanDe Baik pacarannya di Pantai Seseh ya….

***

> PanDe Baik mengetikkan posting ini saat memutuskan untuk beristirahat dirumah akibat batuk flu yang krodit. Daripada bengong ya nge-BLoG saja…. <

Salam dari Pusat KoTa Depasar

Tahun KeTiga

6

Category : Cinta

Dear Cinta, gak banyak yang bisa aku ungkapkan hari ini. Berhubung kondisi kesehatanku yang kurang mendukung. Begitu pula kesibukan kita masing-masing yang gak memungkinkan terciptanya suasana mesra seperti yang pernah kita harapkan sebelumnya. Walau begitu, aku yakin kau kan tetap selalu setia menantikan waktu dimana kita bisa saling bicara, disela celoteh putri kita yang kian lucu dan menggemaskan.

Hari ini adalah spesial bagi kita berdua. Karena hari ini tiga tahun lalu, menurut agama yang kita anut, men-sah-kan hubungan yang telah dibina dengan penuh kasih. Karena hari ini tiga tahun lalu, kita akhirnya merasakan jua apa yang orang-orang nantikan dalam hidupnya. Bersatunya dua insan dalam ikatan cinta pernikahan.

Aku tahu tak banyak yang bisa aku berikan padamu tiga tahun ini. Tapi aku yakin bahwa kau akan selalu mengerti bahwa Cinta tak selamanya berupa Materi. Cinta itu ada karena kita inginkan. Cinta itu ada karena kita memang berharap banyak padanya. Cinta itu ada dalam diri Putri kita.

Dear Cinta, hari ini Tahun keTiga Pernikahan kita.

”Kita Begitu Berbeda dalam Semua, Kecuali Dalam Cinta”

> PanDe Baik mengutip kalimat terakhir dari GIE yang sempat tampil pula pada kartu undangan pernikahan kami tiga tahun lalu. Kali ini tanpa iringan lantunan musik, hanya rintik air hujan yang turun sambil menunggu Istri pulang kerja di sore hari yang mendung. Akhirnya membatalkan kuliah lantaran kondisi kesehatan yang tak kunjung membaik. <

Salam dari PuSat KoTa DenPasar

PeRampokan di Jalan Veteran ; Kian Berani saja

7

Category : tentang KHayaLan

Kamis siang, lantaran kecapekan dengan beberapa pekerjaan yang dibebankan sejak senin lalu, saya menyusuri jalan Veteran seperti biasa, memutuskan pulang kerumah melalui jalan pintas lewat gang kecil di jalan Setiaki. Ada yang aneh didepan toko jam, depan posko PDIP.

Keramaian terjadi, jauh lebih banyak untuk sebuah kecelakaan bermotor pikirku waktu itu. Yah, biasalah. Adat orang kita biasanya kan mengerumuni korban dan pelaku kecelakaan tanpa berkeinginan untuk menolong mereka. Hanya ingin melihat saja, siapa tahu ada berbuntut perkelahian, ungkap seorang teman saat kutanya.

Tanpa berhenti saya terus saja menyusuri jalan Veteran dan berbelok kearah barat sambil sesekali memberikan senyum pada warga yang berada dekat situ. Berharap bisa segera istirahat untuk bersiap kuliah malam.

Shock !

Setiba dirumah, Bapak menceritakan kejadian yang terjadi di jalan Veteran sesaat sebelum saya melewatinya. Perampokan yang sempat meletuskan tembakan dari sang pelaku kearah korban. Syukurnya tembakan itu meleset dan mengenai bemper mobil korban.

Cerita jelasnya baru saya ketahui di Media Radar Bali Jumat Pagi. Perampokan terjadi menimpa seorang nasabah bank Lippo yang baru saja mengambil uang sebesar 5 juta. Modusnya tergolong umum, mencobos ban mobil korban dan menunggu korban turun dari mobil untuk mengecek kondisi ban. Perampok segera merebut tas yang berisi uang sang korban.

Terlepas dari lolosnya si pelaku, setelah dikejar seorang intel yang kebetulan sedang lewat diruas jalan tersebut, untuk sekali lagi saya merasa terheran-heran. Bagaimana mungkin sebuah komplotan perampok mengetahui bahwa ada calon korban yang membawa/menarik uang jutaan dari sebuah bank.

Yah, pikiran itu saya rasa wajar saja, karena memang begitulah modus yang seringkali terjadi di seantero Indonesia. Kini menyasar Denpasar, di keramaian pula.

Sedikit menduga-duga, saya pikir pastilah ada keterlibatan ’orang dalam’ yang menginformasikan bahwa sang korban baru saja menarik uang dalam jumlah besar.

Ohya, ada beberapa skenario cerita yang terlintas dibenak saya.

Pertama, Dugaan saya adanya orang dalam itu (entah itu karyawan atau pegawai bank; mohon maaf, bukan saya menuduh) dilakukan sesaat setelah calon korban menarik uang dalam jumlah besar, dengan memberikan informasi pada ’jaringannya’ lengkap dengan ciri-ciri sang calon, sehingga saat anggota komplotan (yang barangkali memang standby dekat situ) dapat dengan mudah menemukan serta membuntutinya. Ban mobil yang di coblos bisa saja dilakukan sambil jalan.

Kedua, Dugaan saya adanya ’orang dalam’ yang saya artikan tanda petik tadi sebagai salah satu anggota komplotan (bukan intern karyawan/pegawai bank) yang rutin nyanggong diareal ruang tunggu. Begitu mengetahui sasaran calon korban, si pelaku membuntuti seperti dugaan pertama saya diatas.

Ketiga, Dugaan saya ya Perampokan yang sedikit terencana, dalam arti jauh-jauh hari si pelaku sudah mempelajari kebiasaan si calon korban yang secara rutin menarik uang dalam jumlah besar. Ini berlaku bagi mereka yang menjadi bagian dari satuan Keuangan dengan kewenangan membagikan gaji karyawan/pegawai di satu perusahaan atau instansi tertentu. Dugaan ini secara pribadi dapat dihapus pada kasus Perampokan Jalan Veteran diatas, mengingat jumlah uang yang dimiliki korban adalah 5 juta Rupiah saja.

Tapi lupakan ketiga dugaan saya tadi. Balik lagi pada kasus perampokan yang meloloskan sang pelaku, barangkali angan-angan saya yang lain jauh lebih kartun. Saya malah membayangkan ada beberapa orang yang mampu mengingat ciri-ciri fisik si pelaku yang dapat dikenali, plus identitas motor yang digunakan saat kejadian. Pak Polisi yang dapat dikontak dengan cepat oleh pihak yang secara kebetulan melintas di TKP segera memburu pelaku sesuai dengan arah laju kendaraan yang dipacu oleh sipelaku.

Belum lagi tayangan LIVE yang direkam oleh kamera helikopter, sesaat setelah mendapatkan informasi pelaku perampokan sedang dikejar sebisa mungkin oleh polisi yang ada disekitar lokasi kejadian. Seridaknya, pelaku minimal bisa ditangkap dengan baik atas kerjasama pihak berwajib lengkap dengan segala fasilitas paling hebat ala James Bond.

Sayangnya, khayalan saya itu harus segera dibuang ke tempat sampah, lantaran waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, waktunya tidur lebih awal untuk istirahat panjang. Sampai jumpa esok pagi.

> PanDe Baik saat menulis posting ini seakan melupakan sejenak stamina yang down sejak siang tadi. Entah kemana larinya semangat kerja saya. Entah kemana pula raibnya nafsu makan itu. Yang ada dalam pikiran hanyalah segera beranjak tidur dan membuang segala masalah juga beban seminggu ini. Oaaahhheeemmm… ngantuuukk….. <

Salam dari Pusat KoTa DenPasar….. zzz… zzz… zzz…

Apa Ukuran sebuah Hidup yang Bahagia ?

7

Category : tentang KHayaLan, tentang Opini

Kira-kira apa yang menjadi ukuran dapat membuat anda merasakan bahagia dalam hidup ?

Seandainya melajang, apakah pacar yang cantik dan seksi ? punya waktu luang untuk dugem atau interaksi sosial lainnya ? menunggangi motor gres atau mobil yang lagi trend ? Teman-teman yang dekat dan loyal ?

Seandainya pula telah berkeluarga, apakah karir yang sukses menjadi satu-satunya tujuan ? mobil mewah barangkali ? uang yang melimpah ? atau malah rumah indah nan megah ?

Bagi saya pribadi sih, itu bukan ukuran untuk membuat saya bahagia dalam menjalani hidup. Tapi kalo untuk sekedar menjadi alternatif pendukung, ya tentu saja itu semua ada didalamnya. Trus apa dong yang paling penting bagi saya agar bisa bahagia dan jauh lebih menikmati hidup ?

KeLuarga tentu. Dalam hal ini hubungan saya dengan Istri dan anak, serta tentunya yang berikut adalah dengan Orang Tua dan Mertua.

Sebegitu simpel dan sederhana ? gak juga sih.

Karena untuk menyatukan keluarga dalam suasana cinta kasih sangat sulit diwujudkan.

Lihat saja keluar jendela. Ada pasangan suami istri yang bertengkar dan ujung-ujungnya berakhir pada penganiayaan. Ada juga pertikaian antara anak dan orang tua yang berakhir pada pembunuhan atau malah berdebat di pengadilan. Yang paling sering tampil dilayar kaca tentu perselingkuhan artis musik yang berakhir pada gugatan cerai.

Adalah mudah untuk mencapai karir tinggi. Tinggal kita bermain fair play jika memungkinkan dan giat tentunya. Siapapun bisa. Mobil mewah atau rumah megah ? masih bisa dengan jalan kredit ataupun pinjaman. Pacar yang cantik dan seksi ? silahkan mengadakan sayembara seperti halnya Syekh Pujiono diwaktu lalu, dijamin dapet yang sesuai. Tapi membuat keluarga yang rukun dan damai ?

hmmm…. Jangankan menyatukan tujuh kepala dalam satu keluarga (suami, istri, anak, orang tua dan mertua), menyatukan persepsi pasangan suami istri saja masih sulit dilakukan setiap orang. Ada Ego yang berbicara, ada kepentingan, ada keinginan, ada harapan pula.

Secara pribadi, keluarga yang rukun damai bisa pula menjadi ukuran pantas tidaknya seseorang menjadi pemimpin. Mengapa ? yah, wajar aja. Karena jika seseorang yang berkeluarga tak berhasil menanamkan kepercayaan dan rasa cinta pada internal keluarga, bagaimana nantinya kalo berhadapan dengan masyarakat ataupun kelompok yang bertentangan ? yang tentunya jauh lebih banyak kepala, lebih banyak ego dan kepentingan.

Yah, ini sih cuman pendapat saya pribadi saja loh. Keluarga adalah nomor satu. Sedangkan alternatif yang saya sebutkan pada awal tadi hanyalah sebagai pendukung. Bagaimana dengan Anda ?

> PanDe Baik saat menulis posting ini ditemani MiRah GayatriDewi yang sudah mulai belajar merangkak dan juga Istri yang selalu setia untuk diajak bertukar pikiran. Ohya, sound backgroundnya, lagu anak-anak yang dinyanyikan oleh Tasya saat ia kecil dahulu. ‘Ambilkan bulan Bu…. Yang slalu bersinar dilangit….. Untuk menemani tidurku yang lelap……’ <

Salam dari PuSat KoTa DenPasar

CeriTa PenDek PanDe Baik yang tercecer

9

Category : tentang KeseHaRian

Image PNS di mata awam saya akui memang tak menyenangkan. Mulai dari tukang bolos, selingkuher yang hobi nyari short time, sampe amplop all the way gak peduli masyarakat yang hanya sekedar mencari informasi hingga rekanan pemborong. Tapi saya yakinkan lagi pada teman-teman yang masih sempat mampir ke BLoG saya ini, PNS itu tak semuanya begitu. Kata orang pintar jaman dulu, itu hanyalah OkNum.

Penat dengan semua itu, saya yang sudah kadung terjun dan menikmati hidup sebagai seorang abdi negara lebih memilih ‘jalan-jalan’ saja. Disini tentu berbeda maksudnya dengan para selingkuher yang saya sebutkan disini. Karena ‘jalan-jalan’ yang saya maksud adalah ‘Survey kondisi ruas jalan dibeberapa lokasi sesuai dengan perintah tugas yang diberikan kepada saya. Beneran jalan kaki, untuk mengukur panjang ruas jalan serta mencatat setiap kerusakan permukaan jalan untuk dicarikan solusi penanganannya.

Oh ya, berhubung saya menganggapnya ini adalah bekerja sambil ’jalan-jalan’, disela aktivitas saya mencatat dan mendokumentasikan ruas jalan, sesekali saya pun memanfaatkan kesempatan untuk mengabadikan sesuatu yang nantinya dapat menjadi suatu cerita dalam BLoG saya ini. Berikut beberapa yang tercecer dibulan November lalu.

Jalan kami hancur lebur !!!

Komentar diatas kerap naik pada media cetak lokal baik pada berita seputar Badung maupun forum pembaca via Radio yang dicatat dan dipublikasikan. Ternyata setelah kami (tim terdiri dari 3-4 orang : PanDe Baik, Bli Oka ParMana, Pak Ketut NaDi dan additional player hihihi…. Wayan Susanta) turun kelapangan, eh beneran ada yang hancur. Tapi gak lebur dan gak sepanjang ruas jalan tersebut. Artinya dari sekian kilometer panjang ruas jalan, ada beberapa titik yang kondisinya tampak seperti pada foto yang saya abadikan berikut :

Memang sih orang/masyarakat berkomentar itu tidak salah, tapi dengan kalimat ‘jalan di ruas anu Kabupaten Badung Hancur Lebur’, kami selaku pegawai yang berada dibawah naungan Dinas Bina Marga kadang merasa terlecut untuk berbuat jauh lebih baik lagi saat perbaikan/penanganan dilakukan. Sayangnya memang seperti yang saya katakan tadi, gak semua pegawai punya pikiran begitu. Ada yang memanfaatkan kesempatan untuk mencuri sedikit volume pekerjaan, bekerja sama dengan pelaksana di lapangan, tentu tujuannya ya memperindah rumah sendiri. Paling ndak semua keinginan dapat terkabul, padahal kalo beneran ngandelin gaji dan tambahan bulanan ya gak bakalan bisa. Boro-boro membangun rumah berlantai 2, untuk beli susu anak aja barangkali masih kurang kok.

Makanya saya pribadi gak menyalahkan kalo kerusakan seperti dibawah ini kadang terjadi pada ruas jalan tertentu yang baru saja selesai diperbaiki dan diperbaharui. Karena dengan mengurangi kualitas atau kuantitas pekerjaan sedikit saja, itu artinya harus bersiap mengurangi umur pekerjaan tersebut. He… kalimat tadi saya kutip dari Instruktur Pelatihan Pemeliharaan Jalan Raya waktu di Hotel Sahid.

Rumahku Banjiiiirrrr….. !!!

Kehebohan banjir yang melanda seantero Denpasar dan Badung beberapa waktu lalu, lantaran hujan lebat selama 3 hari, sempat naik cetak di media lokal. Bahkan salah satu lokasi Proyek yang paling saya anggap fenomenal yaitu Dewi Sri Kuta, sempat nongkrong dihalaman pertama paling atas pula di salah satu media paling kritis ada pemerintah. Entah karena akibat ketololan saya diwaktu lalu hingga media tersebut sontak emosi tinggi.

Tapi ternyata banjir yang terjadi di Dewi Sri malah ’gak ada apa-apanya’ dibanding kawasan Perumahan DaLung Permai. Ini terjadi disekitar blok ZZ dimana air masuk kedalam rumah penduduk hingga setinggi pinggang rang dewasa. Gak heran, saat kami turun ke lokasi, pemandangan seperti dibawah ini banyak ditemui.

Tempat penampungan sampah ? Bukan. Ini pemandangan berjemurnya barang-barang perlengkapan rumah tangga hingga sarana sekolah putra putri mereka.

Apa Kabarnya Tower di Badung ?

Saat kami ‘jalan-jalan’ pada ruas Pakuaji Mengwi yang mengitari obyek wisata Taman Ayun, selain menemukan kerusakan jalan di beberapa titik, saya sempat terheran dengan tiga tower komunikasi yang berada dalam jarak radius berdekatan. Masih bersyukur bahwa Tower tersebut ternyata berada bukan pada daerah pemukiman penduduk seperti halnya tower yang ada disebelah rumah.

Eh, ngomong-ngomong heboh perihal perencanaan Tower Seluler di Badung udah selesai apa belum ya ? sepertinya media yang tempo hari kerap menurunkan berita ini tak lagi heboh seperti pada awal pemberitaan. Ah, barangkali berita pemberantasan anjing liar jauh lebih menjual. Hehehe….

Bunga Bangkai tak hanya di Kebun Raya Bedugul

Entah ada unsur niskalanya ataupun memang bunga yang katanya kalo tumbuh besar jadi berbau bangkai ini hare gene udah mulai merambah kemana-mana, kami menemukan pula di ruas jalan Petang – Carangsari. Kebetulan ruas tersebut baru saja selesai ditangani.

Bunga Bangkai yang kami temukan ini masih kuncup dan kecil. Saat saya nekat mencoba mencium baunya pun belum beraroma busuk. Kata penduduk sekitar situ, bunga bangkai ini kerap hadir di sekitar desa mereka. Hanya saja bagi mereka, pohon tersebut bukan bunga bangkai. Mereka malah menyebutkan sebuah nama yang (maaf) saya tak bisa mengingatnya hari ini. Tapi diluaran jenis ini ternyata disebut sebagai bunga bangkai tadi. Hahaha…. saya jadi berkhayal, barangkali penduduk di pedesaan Bali malah sudah lama mengenal bunga bangkai tumbuh disekitar mereka. Hanya namanya saja yang berbeda. 🙂

Merasakan nikmatnya makan siang ala Petani

Siapa bilang makan enak itu harus di rumah makan mewah ? bagi kami (tim yang turun survey) malahan kata ’enak’ itu ada pada lokasi sekitar sawah. Maunya sih kami menikmati makan siang di tengah sawah, hanya karena waktu yang terbatas maka rencana tersebut diubah jadi pinggiran sawah saja.

Tapi memang sih, makanan yang dibeli dan dibungkus untuk dimakan usai kami mensurvey satu ruas jalan ini gak asing ditelinga. Bahkan pernah saya tampilkan menjadi salah satu posting di BLoG ini pula. Nasi Be Guling SapiSial (baca: spesial). Spesial disini lantaran isi daging sebagai teman nasi hanyalah lawar dan kulit guling. Tanpa ada unsur daging lainnya. Hahahaha…. Siapa bilang makan di tepi sawah itu gak nikmat ?

> PanDe Baik saat menuliskan uneg-uneg ini masih dalam kondisi kecapekan usai pulang kampung. Ditemani oleh celotehan putri saya MiRah GayatRiDewi yang ternyata lagi ngigau. Hehehe…. <

Salam dari Pusat KoTa Depasar

Pande Baik tentang Kenapa harus pandebaik.com ?

13

Category : tentang DiRi SenDiri

Pertanyaan diatas kerap dilontarkan oleh teman maupun orang yang baru kenal dengan saya. Ini mereka tanyakan lantaran saya kadang disapa ’PanDe Baik’ oleh beberapa rekan yang telah tahu alasannya lebih dulu. Ada juga yang menduga saya hanya ikut-ikutan tag iklan AXIS ’GSM yang Baik’. Yah, mereka sepenuhnya salah tuh.

PanDe Baik. Nama tersebut mulai disandang sejak masa sekolah SMA, dimana waktu itu lagi rame-ramenya aksi Pandelisme eh Vandalisme, aksi corat coret maupun ukiran nama sendiri (narzis) yang bertujuan pada perusakan properti milik sekolah hingga wartel terdekat, He… saya yakin hingga kinipun yang namanya anak sekolahan pasti masih seperti itu kelakuannya.

Saya masih ingat, rata-rata kata yang menjadi ekor pada nama pribadi ada yang si anu TOP, si itu Best of the Best, si ini ’jeg paling ganteng’…. Maka sayapun gak mau ketinggalan, ikutan memberikan embel-embel pada nama sendiri agar terdengar jauh lebih keren.

Jadilah waktu itu saya mencoba-coba memakai nama PandEbat (asal kata Pande Hebat yang disambung dan membuang huruf H-nya), Pande ‘lah ne (asal kata ngelah ne –yang punya <benda> ini), Pande Kodok Bule (sebutan Kodok diberikan gara-gara saya kalo jalan seperti meloncat-loncat dan Bule diberikan lantaran tinggi saya yang over dibanding teman-teman sekolah), hingga akhirnya Pande Baik yang kemudian ditetapkan sebagai trademark dan mulai familiar terdengar di telinga teman-teman.

Sebutan Pande Baik terus berlanjut hingga bangku kuliah, dimana aksi corat coret kini mulai merambah segala properti pribadi milik teman, dari meja gambar, mesin gambar, buku catetan kuliah hingga tong sampah –he… ini pengalaman pribadi yang hingga hari inipun coretan teman-teman masih ada di benda-benda yang saya sebut tadi.

Bahkan saat saya mulai bekerja selepas kuliahpun Pande Baik masih disandang, hingga tak heran kalo kini bersua dengan rekan-rekan lama, sapaan paling akrab disebutkan ya Pande Baik. Ini juga yang menginspirasi saya saat berkenalan dengan blog untuk pertama kali dan diaplikasikan pada pandebaik.blogspot.com

PB is Pande Baik not Pesta Blogger

PB is Pande Baik not Pesta Blogger 🙂

Lantas kenapa harus Pande Baik ?

Tak banyak yang tahu memang, tapi sejujurnya alasan saya menggunakan tag Baik pada ekor nama Pande hanyalah ‘sebuah motivasi pada diri sendiri agar selalu berbuat baik pada setiap orang’. Itulah sebabnya sedari pertama kali saya memutuskan memakai tag PanDe Baik, saya selalu berharap agar bisa selalu berbuat dan menjadi teman yang baik bagi setiap orang yang saya temui.

Hanya saja saya menyadari sepenuhnya, tak semua orang bisa memahami ataupun merasakan usaha dan motivasi saya tersebut. Kadang ada yang malah menyangka kalo saya baik itu, ada apa-apanya. Awalnya sih, langsung diklarifikasi, tapi lama-lama, ’Yah terserah mereka lah….’ Yang penting saya sudah berusaha untuk yang terbaik. Bukankah memang susah menyenangkan semua orang dengan baik. ya kan ?

Terus kenapa malah memilih nama ’PanDeBaik.com sebagai alamat blog ? bukannya melanjutkan pandeividuality.net yang sebelumnya dipakai ? lantaran selain saya memang ada masalah dengan domain manager yang diblokir pemilik hosting terdahulu, sehingga saya tidak dapat menggunakannya lagi, pandebaik.com digunakan agar nama itu mudah diingat oleh rekan-rekan yang lama maupun baru mengenal saya.

So, udah tau alasan saya, kenapa harus memakai nama Pande Baik sebagai sapaan maupun pandebaik.com sebagai alamat BLoG kan ?