MiRah dan Tawa NakaLnya

5

Category : tentang Buah Hati

Gak terasa putri kami, MiRah GayatRiDewi kini sudah berumur sembilan bulan, usia yang belum pernah kami bayangkan. Padahal foto dan videonya saat baru saja lahir dari rahim Ibunya, masih betah aku pandangi, seakan MiRah baru lahir kemarin sore.

MiRah gak punya rambut. Itu ledekan dari kakak-kakaknya yang total jumlahnya enam belas biji. Ya, MiRah jadi generasi paling bungsu, paling lucu nan mungil. Ditengah godaan sekian banyak kakaknya itu, tak heran MiRah kini sudah rame ocehannya. Barangkali meniru obrolan kakak-kakaknya yang selalu ia perhatikan seakan dialah yang mereka ajak bicara

MiRah pipi kembung. Itu sebutan dari Bapaknya alias saya sendiri. Yah, barangkali pipinya itu menurun dari gen Bapaknya yang waktu kecil dahulu, punya pipi mirip MiRah. Sampe-sampe sanak saudara yang datang bersua MiRah mengatakan hal sama. Ha… mereka masih bisa mengingat wajah Bapaknya dahulu rupanya.

MiRah punya nafsu maem yang tinggi. Diusianya kini, kami tak lagi berpatokan pada buku Parents Guide yang saya beli sesaat setelah MiRah hadir disisi kami. Bagaimana tidak ? usai maem bubur Tim dari Sun, ia bisa melahap satu biji pisang dan satu biskuit demi memuaskan hasratnya. Gak heran, lama-lama nenek-neneknya (MiRah punya 3 nenek yang setia menemaninya saat Bapak Ibunya ngantor) pun menyaksikan perkembangan MiRah begitu cepat nyaris seperti Bapaknya waktu kecil. Ya, dia tergolong tinggi untuk bayi seusianya.

MiRah dan Tawa NakaLnya. Tawa itu dapat terdengar jauh dari tempat neneknya memasak, padahal kami berada di teras. Mirah tertawa saat menyaksikan empat kakaknya bersliweran dengan sepeda di halaman natah kami yang kering dan panas. Mirah tertawa saat matanya menangkap sosok cicak didinding, sampai kami baru menyadarinya belakangan. MiRah tertawa seperti Bapaknya yang barangkali ia tiru saat saya menertawainya. Tawa yang tengal, Ibunya bilang.

MiRah juga jadi keseringan bangun siang dua minggu ini. Padahal seperti biasa, ia terbangun pukul 4 pagi, sesaat setelah Ibunya keluar dari kamar untuk bersiap bersih-bersih rumah. Kalo sebelumnya Bapak-lah yang selalu disetrap buat nemenin MiRah hingga Kakeknya pulang dari Jalan Pagi, kini MiRah selalu setia menemani sang Bapak molor sampe Kakeknya datang. Hahahaha…. Caranya ?

MiRah sedari berusia 3 bulan kandungan, selalu ditemani oleh musik instrumental. Terkadang musik klasik yang katanya bagus untuk perkembangan Bayi di kandungan, kadang juga gambelan Bali semacam AngKLung, SeMar PeGuLingan, Rindik hingga DeGung. Kini setiap MiRah terbangun pagi hari, laptop selalu dinyalakan untuk mendendangkan irama DeGung yang disadur ulang dari tembang pop Bali jaman dulu. Laptop yang sudah diset pada tingkat brightness paling rendah untuk menghemat daya, tanpa kliau lampu Mouse dan blank screen setelah lima menit, cukup lama membuat MiRah terlelap hingga bangun kesiangan. Hahaha….

MiRah selalu ingin digendong Bapak jika pulang kantor. Mungkin ia kangen pada Bapaknya yang suka ngajak ia Bak Bung (istilah kami untuk MiRah saat mengajak ia bepergian), atau hanya sekedar berkeliling rumah sebelum dan sesudah ngantor, dengan motor Vega milik Ibu dan Tiger Bapak yang punya suara kayak Batuknya Bapak. Uhuk uhuk….

MiRah pun akhirnya dikenalkan dengan mainan anak ala Tiara DeWata yang goyang-goyang dan ajrut-ajrutan itu. Awalnya ia tampak senang dan itu berlangsung tak sampai lima detik. Selanjutnya seperti biasa, ia ingin digendong Ibu/Bapak dengan bergaya memegang mainan itu dari samping. Ini berlaku pula untuk ‘Baby Walker’ yang saya belikan beberapa waktu lalu.

MiRah juga untuk pertama kalinya terpana dan terbengong-bengong memandangi balon juga bola warna-warni, saat kami ajak ia duduk bersantai di Lapangan Alun Alun PuPutan BaDung, hari Minggu beberapa waktu lalu. Tampak ia sangat menikmati pemandangannya kali ini. Sekian banyak kakak-kakak yang berlari kesana kemari. He…

MiRah…. Yah, diusianya sembilan bulan, ia cukup menyita waktu dan perhatian saya. Hingga saya rela melepaskan kewajiban saya akan kuliah, yakni menyelesaikan Thesis. Hanya untuk menyaksikan ia tumbuh kembang.

Seperti kata orang-orang tua, nikmatilah waktu bersama putra putri kita hingga ia lepas dari bangku Taman Kanak-Kanak nanti. Karena saat-saat itu takkan pernah terulang lagi….

Barangkali jika MiRah mampu mengungkapkan isi hatinya hari ini, saya yakin ia akan mengatakan ’jangan marah ya Pak, Ibu juga Kakek dan Nenek… Toh MiRah hanya NakaL untuk saat ini saja. Gak selamanya kok….’

MiRah, I LOVE U….

> PanDe Baik saat menuliskan ini merasakah keharuan yang amat sangat demi menyaksikan MiRah yang tertidur lelap disisi Ibunya yang kelelahan sepulang kantor tadi…. Selamat Istirahat Sayang… I LOVE U TWO…. <

Salam dari PuSat KoTa DenPasar

Comments (5)

Facebook mirah apah?!?! jangan lupa add kaka ya 🙄 ayuks deh yang nakal biar bapaknya yang funky kebakaran jenggot…

*lari*

kaka kiyudh´s last blog post..What are you doing New Year’s Eve?

[Reply]

just comment:
Lucunya….
Biar tidak menimbulkan polemik yang gak2, hehehe… 😆

oming´s last blog post.."Dengarkan Tubuh" dengan Yoga

[Reply]

Kaka > Sayangnya FB Mirah masih nebeng bareng BapakNda… Mirah nakalpun, BapakNda ndak pernah berkeberatan kok. He… Seneng malah :mrgreen:
OMing > 👿 polemik apaan sih Ming ? Gosip dari Ibu dan Bapak Blogger Bali itu yah ? :mrgreen:

[Reply]

Ikut nimbrung…waduh pengen cepet2 jadinya…iri nich…

Salam Pak Pande,

Dwija

Dwija´s last blog post..

[Reply]

salam buat mira dari calon yayangnya. 😀

a!´s last blog post..Menyama Braya di Hari Natal

[Reply]

Post a comment

CommentLuv badge