PERCUMA SAJA MELAWAN ARUS !

Category : tentang Opini

Terkadang saya tak mengerti dengan pola pikir orang-orang yang terlibat dalam kasus korupsi, seperti yang ditayangkan dalam cerita kilas balik di layar televisi. Rata-rata mereka ini adalah orang yang memiliki kesempatan dan sialnya kemampuan yang meyakinkan untuk melakukan tindak pencurian macam ini.

Sayang, walaupun KPK sudah membeberkan bukti kuat pada publik diantaranya rekaman suara mereka saat melakukan ‘transaksi’ via telpon genggam yang pada awalnya mereka yakini takkan terdeteksi, sang tokoh utama justru banyak menyangkal bukti-bukti tersebut.

Hingga tak jarang, aksi penyangkalan itu yang lebih banyak diungkapkan dengan kata ‘tidak tahu’, malah menunjukkan betapa kasihan negara ini memiliki orang-orang yang diharapkan memiliki dedikasi tinggi di masing-masing bidangnya. Kalo ndak salah ungkapan ini sempat dilontarkan pula oleh seorang hakim yang waktu itu menyajikan rekaman suara sang tokoh utama, dan tentunya disangkal dengan kata ‘tidak tahu’ tadi.

Kebohongan yang sudah jelas tampak pada setiap perilaku sang tokoh malah diperparah oleh bukti lain, yang jauh lebih memberatkan. Sayangnya semua hal ini tak jua menyurutkan semangat keinginan sang tokoh menginginkan kebebasan atas kasusnya tersebut. Tak jarang dalam pembacaan pledoi, hampir semua tokoh ini menangis ‘tangisan buaya’ sambil mengatakan teringat pada anak-anak mereka yang masih kecil. Lantas apakah waktu melakukan korupsi dahulu (dengan sengaja), apakah mereka tak mengingatnya sama sekali ? bagaimana efek yang dapat ditimbulkan akibat perbuatan mereka.

Jangan jauh-jauh dulu bicaranya deh. Itu terjadi di Pusat sana. Di Jakarta. Ayo, ngomong yang dekat-dekat sini saja.

Mengapa saya menulis posting kayak gini, tentu ada alasannya dong ?

Ya. Karena saya juga terheran-heran dengan tingkah polah orang-orang yang ada disekitar saya, dengan pongahnya memanfaatkan kesempatan yang diberikan pada mereka, untuk melakukan tindak korupsi kecil- kecilan. Padahal mereka berada dalam satu tim kerja. Yang sudah berusaha menciptakan image bersih dari setahun lalu. Kini semua menjadi berantakan kembali, jadi gak ada bedanya dengan image yang dilekatkan oleh masyarakat.

Memang kondisinya sudah jauh berbeda. Jika setahun lalu, anggota tim hanya berjumlah 3 orang, sehingga untuk saling kontrol jadi jauh lebih gampang. Secara kebetulan orang-orang ini selalu berusaha bekerja dengan semangat tinggi, dan bersih dari segala urusan sogok menyogok apalagi mengemis secara paksa. Kini anggotanya sudah bertambah. Orang yang dahulu sempat dipinggirkan, memaksa ikut masuk dalam tim. Sayangnya yang dipaksa sudah dijejali dengan ‘sikap baik’ plus segala propagandanya.

Akhirnya kepentingan pribadipun lebih diutamakan dibanding dedikasi kerja. Hingga satu persatu kepentingan itu melahirkan kebohongan-kebohongan kecil yang jelas saja diikuti dengan kebohongan lain. Yang saat mulai terungkap ke permukaan, orang-orang tersebut bagaikan kebakaran jenggot.

Ah, memang sulit mewujudkan image Pegawai Negeri Sipil yang berdedikasi tinggi dalam pekerjaannya. Rasanya semua pendidikan yang kami lakoni saat Pra-Jabatan lalu, ‘mampu memberikan Pelayanan Prima pada Masyarakat, tanpa ada pungli dan sejenisnya’, harus kami gantung pada langit-langit kamar. Karena disini, semua itu tiada artinya lagi. Tergerus oleh godaan uang, gaya hidup dan juga kemewahan. Lantas apa bedanya kami dengan para Tersangka Kasus Korupsi di Pusat sana ?

Tentu saja perbedaan itu hanyalah soal waktu. Karena setahu saya, Tuhan toh biasanya akan membiarkan umatnya ‘bersenang-senang dahulu’, membiarkan umatnya merasakan nikmatnya korupsi kecil-kecilan, toh juga tak ketahuan atasan. Semoga saja Tuhan mendengar dan melihat semua kenyataan dan memberikan Keadilan pada Hamba-Nya ini.

Saat Kemarahan Memuncak

2

Category : tentang KeseHaRian

Saya yakin, dalam hati kecil setiap insan yang ada didunia ini, tak satupun pun yang ingin menyakiti hati orang lain. Hanya saja saat emosi itu susah dikontrol dan segala beban mendadak muncul didepan mata, siapapun tak akan mampu meramalkan apa yang bakalan dilakukan dan apa akibatnya bagi orang lain.

Kadang kala saya menyadari dan merasakan, betapa mencurahkan isi hati lewat tulisan di blog merupakan cara yang paling aman untuk melampiaskan segala amarah dan beban. Hanya saja, memerlukan sedikit kepintaran agar apa yang dituliskan itu tak sampai menyinggung orang lain yang membacanya apalagi sampai ada pembaca yang nekat mengancam menuntut ke meja hijau atas unek-unek yang sepatutnya malah dianggap angin lalu. He… ini sih pengalaman pribadi.

Saya jadi ingat pada satu cerita di Intisari. Saat dirimu sedang marah pada orang lain dan melampiaskannya pada orang tersebut, sempatkan untuk menancapkan sebuah paku pada dinding kayu. Itu untuk mengingatkanmu akan kemarahan yang ada pada dirimu. Namun saat kau sudah memaafkan orang tersebut, cabutlah paku yang kau tancapkan saat merasakan marah tempo hari, dan lihatlah apa yang tersisa.

Inti dari cerita itu kurang lebih menyiratkan, bahwa lubang paku yang tersisa saat paku tersebut dicabut dari dinding kayu, adalah luka yang ada dihati orang lain, yang sampai kapanpun bakalan tetap diingat oleh orang tersebut. Walaupun sekeras apapun usaha kita untuk memohon maaf. Bahkan tak jarang, luka itu akan timbul kembali suatu saat.

Maka berhati-hatilah saat kita dilanda kemarahan. Begitu amarah itu timbul, ingatkan diri pada satu hal. Sabar.

Memang tak gampang, bagaimana bisa sabar saat emosi sudah tak mampu dikontrol lagi ? tentu saja dengan melatih diri dari sekarang, berusaha sabar saat berhadapan dengan setiap hal yang kita temui tiap hari. ‘sedangkan bagi mereka yang dikaruniai kegiatan sampingan seperti BLoG, maka bagi saya pribadi bisa dikatakan, betapa beruntungnya mereka.

Saya juga pengen jadi CALEG

6

Category : tentang Opini

Jika memiliki waktu, cobalah untuk berjalan-jalan ke seantero Kota Denpasar maupun wilayah Badung. Anda akan menemui wajah-wajah Narzis yang dalam hati mereka tentu ingin sekali dikatakan fotogenik. Kalo mereka tidak merasakan hal itu, lantas mengapa begitu pedenya memasang wajah diri sendiri dengan pose yang tak biasa pula. He… karena keharusan barangkali.

Yang unik dari pemasangan wajah-wajah fotogenik ini yaitu lokasi gak tanggung-tanggung. Di persimpangan jalan. Dimana setiap mata yang melintas, pasti dapat melihat dengan jelas. Ya, inilah mereka, perwajahan para Caleg Calon Legislatif, calon Anggota DPR yang terhormat, calon para wakil rakyat yang kabarnya berjuang keras hanya demi rakyat.

Yang gak kalah uniknya dari iklan perwajahan mereka ya perihal gelar pendidikan yang disandang. Minimal Sarjana Muda atau Strata satu (Sarjana). Namun ada juga yang gak mau kalah awal, memasang segala macam gelar yang mereka dapatkan, entah dengan menempuh pendidikan dengan mempertahankan idealismenya, atau malahan cuman bayar langsung dapat gelar. Ah, ini kan sudah rahasia umum.

Memang dari sekian banyak Caleg yang tampil dimuka masyarakat, entah bertarung di area Pusat, Propinsi ataukah Kabupaten, rata-rata adalah muka lama yang sudah dikenal lebih dulu. Entah ia tokoh masyarakat, figur yang disegani ataukah pimpinan parpol yang barangkali menyadari kalo dirinya gak mampu tampil menjadi pucuk pimpinan negeri ini, makanya milih jadi Caleg aja. Ada juga wajah-wajah baru, yang secara kebetulan saya kenal lantaran pernah menjadi salah satu rekanan kerja di proyek pemerintah.

Lucunya, orang-orang ini bisa dikatakan sangat bermasalah dari segi teladan. Baik sifat keseharian hingga hasil pekerjaan yang mereka berikan pada negara ini. Padahal bagi saya pribadi, untuk menjadi seorang Caleg, barangkali si calon haruslah menjadi teladan bagi keluarganya, teladan bagi lingkungannya, teladan bagi orang lain yang tak mengenalnya terutama teladan bagi dirinya sendiri.

Jika sudah memiliki keteladanan itu, gak bakalan ada yang gusar lantas mengajukan keberatan untuk mencoret nama si calon dari daftar jadi. Misalkan saja pernah dipidana kasus narkoba, pencurian, pemerkosaan bahkan mungkin masuk kotak black list tertentu.

Saya malah berangan-angan, kapan ya ada Caleg yang memang beneran dicalonkan oleh masyarakat sekitarnya (bukan dengan cara mencalonkan diri ataupun menawarkan diri ada parpol baru) ? Kapan ada Caleg yang saat kampanye nanti gak mengeluarkan uang sepeserpun sampai ia berhasil duduk di kursi terhormat nan empuk itu ?

Angan-angan saya ini bukannya tanpa makna. Hanya saya menginginkan figur seorang Caleg yang memang benar-benar mau melayani rakyat secara umum (gak cuma yang separpol), mau menerima dengan intu rumah yang terbuka lebar saat rakyat ingin berkeluh kesah, atau malah lantaran gak ada biaya apapun yang dikeluarkan, gak membuat si Caleg gelap mata saat pihak-pihak tertentu menawarkan Voucher jalan-jalan ke luar Negeri demi meng-Gol-kan permohonan mereka yang tak pro rakyat.

Jarang. Malah gak pernah saya lihat.

Sejauh ini yang paling sering saya temui, adalah para calon yang dengan pongahnya mengaku bersaudara dengan rakyat demi mendulang suara dukungan, berlomba-lomba menyumbang ini itu, melakukan persembahyangan di pura-pura masyarakat, atau malah berjanji ini itu pada masyarakat jika mereka memberi dukungan.

Tak hanya itu, pintu rumah terbuka lebar, siapapun boleh ikut menikmati masakan sang istri, kapanpun masyarakat mau.

Sebaliknya saat mereka sudah resmi duduk dikursi terhormat nan empuk, pintu rumah tertutup rapat digembok pula, prejani sing kenal (pura-pura gak kenal), jangankan janji-janji di mulut, yang dijanjikan usai persembahyangan bersama saja kadang tak terwujud.

Kadang menjadi Caleg bisa dikatakan seperti berjudi. Harus berani menghabiskan sejumlah harta benda demi mendapatkan dukungan terlebih dahulu. Makanya gak jarang ada calon yang sampai menjual hotel miliknya untuk dana kampanye. Jikapun tak punya, masih ada pihak-pihak yang bersedia mengorbankan milik mereka demi harapan yang dibalas saat sudah duduk nanti.

Jika memang tujuan tercapai, minimal untuk kunjungan kerja ke luar daerah, pasti bisa terwujud. Paling gak, selain akomodasi mewah, ada juga uang saku yang berlimpah. Plus gaji bulanan dan sejumlah tunjangan yang kadang diluar nalar. Tapi jika tak tercapai, yah bersiap-siap saja dari sekarang jatuh miskin. He….

Ah, seandainya saya boleh ikutan jadi Caleg…..