Nokia “PonseL SeJuta Umat”

Category : tentang TeKnoLoGi

Ponsel sepertinya sudah merupakan suatu hal biasa bagi masyarakat Indonesia, cenderung wajib dimiliki malah. Ponsel tampaknya juga merupakan gadget yang paling pesat perkembangannya hanya dalam hitungan satu dasawarsa. Dalam kurun waktu itu pula, ponsel kian digemari oleh berbagai kalangan, tua muda abg sekalipun, yang memang berprofesi sebagai pebisnis, pegawai kantoran, hingga ibu rumah tangga, dijamin pasti menenteng atau terlihat menggenggam alat komunikasi yang belakangan makin multiguna.

Salah satu vendor ponsel paling terkemuka di Indonesia, bahkan dunia barangkali, adalah Nokia. Menyandang motto ‘Teknologi yang Mengerti Anda’ membuat perkembangan ponsel yang pernah dirilis oleh Nokia semakin menyentuh penggunanya baik yang loyal hingga new user sekalipun.

Tak cuma memperhitungkan fungsi dan kegunaan ponsel, dalam meringankan pekerjaan penggunanya, Nokia bahkan sudah mulai merambah segi fashion hingga hiburan yang memang makin memanjakan penggunanya. Maka tak heran pula jika Nokia makin kesini makin merajai dari segala segi kebutuhan pengguna. Ini adalah faktor penentu yang mengakibatkan lahirnya seri ponsel Nokia hingga dijuluki ‘Ponsel Sejuta Umat’.

Katakan saja yang paling pertama pada eranya, Nokia 5110. jaman ponsel yang waktu itu masih segede batu bata, layar monochrome alias hitam putih, dikejutkan dengan dirilisnya ponsel Nokia warna warni menarik hati, dimana chasing luarnya dapat digonta-ganti pula. Tak ayal lantaran cara penggunaan yang tergolong mudah bagi sebagian besar pengguna, lama-lama seri ini didapuk sebagai ‘Ponsel Sejuta Umat’ Nokia yang pertama.

Makin berkembang dengan tampilan layar warna, plus Sistem Operasi Symbian yang bisa ditambahkan berbagai aplikasi ketiga sesuai kebutuhan pengguna, plus fitur kamera, media penyimpanan tambahan dan tentu saja koneksi, Nokia kembali melahirkan ‘Ponsel Sejuta Umat’ mereka, dengan seri 6600.

Seri Nokia yang punya badan gemuk ini memang layak menyandang gelar tersebut lantaran dari pertama dikeluarkan, hingga setahun lalu, ponsel ini masih menjadi favorit sebagian besar pengguna. Tak heran Nokia melanjutkan seri ini dengan versi ‘Black, versi yang hanya merubah warna chasing menjadi hitam pekat, plus tambahan memori luar yang dahulu hanya memberikan MMC 32 MB, kali ini ditingkatkan menjadi 64 MB. Bahkan kabarnya seri yang dirilis di Amrik Nokia 6620 dengan chasing putihnya pun dijual disini.

Ini menjadi menjadi favorit lantaran dari segi harganya yang memang sangat terjangkau belakangan ini.

Kini, di era kamera yang sudah hitungan Mega Piksel plus pemakaian lensa dari vendor kamera ternama, ditambah koneksi yang makin cepat dan memori luar dalam kapasitas Gigabyte, tampaknya Nokia sudah memiliki bakal calon ‘Ponsel Sejuta Umat’ kembali. Tentu pertimbangan harga-lah yang menyebabkan gelar tersebut pantas disandangkan selain fitur yang oke plus segala kelebihan dan kekurangannya.

Secara pribadi sih, saya lebih menominasikan Nokia seri N73 yang pantas menyandang kelanjutan gelar tersebut. Selain memang karena ponsel ini sudah berada pada rentang harga 2 jutaan, fitur kameranya sudah tergolong standar untuk ukuran sekarang, sudah dengan lensa oke pula. Satu-satunya kelemahan yang paling sering didengungkan oleh penggunanya ada pada lemot dan seringkali hang tanpa sebab.

Itu barangkali diungkapkan bagi mereka yang terbiasa dengan pc berprosesor Pentium IV. Jadi barangkali performa yang ditunjukkan oleh ponsel ini jelas saja jauh dan sangat lambat. Bahkan kerap hang saat jari jemari sudah tak sabar berpindah fitur. Karena bagi saya pribadi, sejauh ini ponsel N73 yang saya miliki gak seperti yang dikeluhkan tuh.

Jadi wajar lah kalo saya menominasikan ponsel Nokia seri N73 ini sebagai ‘Ponsel Sejuta Umat’ yang berikutnya. Apalagi pihak Nokia sepertinya makin betah saja mengeluarkan variasi dari ponsel ini, dari seri pertama yang berwarna silver, kemudia seri Musik yang hitam dengan tambahan memori luar sebesar 2GB dan terakhir dengan chasing putih, yang dikenal dengan seri N73 Pearl.

Nokia ‘Teknologi yang tiada habisnya’

Category : tentang TeKnoLoGi

Nokia lagi. Sepertinya saya tak pernah bosan menulis tentan ponsel Nokia. Tapi bagaimana bisa bosan, jika Nokia sendiri tampaknya belum bosan berinovasi dalam menelurkan ponsel-ponsel gres mereka, tentu dengan segudang fitur dan kelebihan baru.

Belum lama ini Nokia kembali merilis ponsel-ponsel N-series terbaru mereka, seperti N78, N79 maupun N96. Boleh dikatakan, hujaman ponsel seri terbaru ini bagaikan raksasa-raksasa baru yang siap melibas keberadaan vendor lainnya, apalagi vendor lokal maupun China. Walaupun kisaran harga yang ditawarkan masih diatas angka 4 jutaan, tampaknya para pecinta Nokia nan loyal tak begitu peduli. Karena terpenting bagi mereka tampaknya selain UI yang user friendly, penggunaan yang juga mudah, koneksi juga fitur melimpah, tak kalah gengsi pula jika ditenteng.

Fitur paling unik untuk sementara ini disematkan pada Nokia seri N79, yaitu Themes yang dapat berganti sendirinya mengikuti warna chasing belakang yang dipakai oleh pengguna.

Tak ketinggalan, kapasitas raksasa pada memori internalpun ditanamkan pada seri N96, yaitu 16GB. Setara dengan iPhone seri terbaru. Bandingkan dengan besaran memori internal pada ponsel Nokia yang dijuluki ponsel Artis, seri 7650, 4 MB.

Inovasi termutakhir mereka tampaknya lahir bukan pada N-series melainkan pada seri 5800, yang dilahirkan dengan konsep Expressmusic. Kali ini Nokia mencoba menjajal fitur layar sentuhnya sebagaimana layaknya fitur pada iPhone. Walaupun ini bukanlah terobosan pertama Nokia, karena layar sentuh pernah diperkenalkan pada seri 7700 yang batal edar, 7710 plus 6708 yang merupakan pasaran China.

Yang menjadikannya unik, lantaran layar sentuh ini tak lagi mengadopsi OS Symbian UIQ seperti yang dikenalkan oleh Sony Ericsson seri P mereka, melainkan lanjutan dari Symbian sei 60 mereka yang terkenal itu. Tentu dengan tambahan prosesor terbaru mereka, sehingga dari segi kecepatan, pantas disejajarkan dengan ponsel pebisnis seri E90 sekalipun.

Ah, Rasanya saya jadi tak sabar untuk menunggu. Kira-kira tahun 2009 nanti, inovasi apalagi yang bakalan lahir dari ‘Teknologi Nokia yang Mengerti Anda’.

PanDeLisme

1

Category : tentang Opini

Kosa Kata baru diatas barangkali akan menjadi pertanyaan semua orang, apa lagi maksudnya nih ?

Sebetulnya ini cuman bisa-bisanya saya aja memplesetkan kata ‘VandaLisme’ yang kalo menurut Wikipedia, bisa diartikan sebagai penambahan, penghapusan, atau pengubahan isi yang secara sengaja dilakukan untuk mengurangi kualitas. Jenis vandalisme yang paling umum adalah mengganti tulisan yang ada dengan hal-hal yang menyebalkan, mengosongkan halaman, atau menyisipkan lelucon yang konyol dan hal-hal yang tak berguna lainnya.

Aktivitas VandaLisme ini sebetulnya banyak bisa ditemui diseantero kota dimanapun itu. Termasuk Kota Denpasar. Pelakunya sejauh ini sih gak terdeteksi, karena dilakukan pada saat orang lain lengah atau malam hari.

Namun diantara semua pelaku yang ada, barangkali bisa dikatakan hanya satu aja yang saya tau, dilakukan secara terang-terangan pula.

Saya sendiri. Huahahaha….

Berikut dua jenis aktivitas VandaLisme yang sering saya lakukan dalam keseharian. Menambahkan grafiti atau mengisi dengan hal-hal yang konyol bisa disebut sebagai Vandalisme kekanak-kanakan. Menggunakan nama pengguna yang mengganggu, termasuk Vandalisme cari perhatian (caper).

Hanya saja aksi ini lebih banyak saya lakukan pada properti milik sendiri, diantaranya yang paling sering kena sasaran, ya pada lembar catatan kuliah, tentu dilakukan disela kuliah berlangsung. Hasilnya pun bisa dilihat pada Kategori ‘tentang Sketsa’, tinggal klik saja disidebar sebelah ini.

Walopun aksi ini sering saya lakukan, sepengetahuan saya, aksi ini belum pernah sampai mendatangkan duit atau rejeki (malah cenderung merugikan- menghabiskan lembar kertas catatan kuliah plus mengotori catatan kuliah saja). Makanya bisa saya katakan sebagai salah satu dari sekian macam VandaLisme. Yang secara pribadi saya sebut sebagai PanDeLisme. Huehehehe…..

Menanti ‘Laskar PeLangi’

Category : tentang KeseHaRian

Seperti biasa, saya gak terpengaruh sedikitpun memburu kursi paling apik untuk mantengin film paling asik tahun ini, ‘Laskar Pelangi’ di bioskop manapun juga. Termasuk memburu tembang apiknya Nidji yang menjadi original song dari film tersebut.

Ini terkait dengan prinsip saya dalam menikmati sebuah karya film, rasanya tak nyaman jika nonton beramai-ramai, juga tak nyaman hanya menonton sekali itu, lantas penasaran sepanjang hari. Makanya jauh lebih baik saya menantikan ‘Laskar Pelangi’ release on VCD or DVD. Baru diburu ke penyewaan dan ditonton sepuasnya. Aksi ini pula berlaku untuk film box office lainnya.

Makanya, sembari menanti ‘Laskar Pelangi’ hadir di penyewaan vcd, huehehehe….. Saya bersiap-siap dahulu melakukan pemanasan dengan hunting film tema sejenis. Karena secara kebetulan juga, tempo hari di televisi gak sengaja nonton ‘Petualangan Sherina’. He…. jadi ingat dengan Sherina yang waktu kecil begitu lucu dan menggemaskan.

Akhirnya saya putuskan untuk meminjam ‘Denias – Senandung diatas Awan’ per bulan lalu, dan baru semingguan ini bisa menyempatkan diri nonton.

Wah wah wah…. Saya jadi terharu beneran saat menyelesaikan karya anak bangsa yang gak ngikut-ngikut trend ini. Gak percuma minjem buat pemanasan.

Jadi kangen dengan suasana film-film Indonesia jaman Orba dulu.

Rasanya jadi gak sabar nungguin ‘Laskar Pelangi’ …..

Eksekusi Amrozy cs ? Ah, saya sudah bosan mendengarnya

2

Category : tentang Opini

Ya, rasa bosan itu timbul saat menyaksikan layar televisi yang dipenuhi tayangan pasca eksekusi trio Bomber Bali Oktober 2002, Amrozy, Imam Samudra dan Mukhlas, Minggu dini hari lalu, dari kilas balik Bom Bali hingga pemakaman jenasah mereka bertiga.

Jika banyolan yang diceritakan dalam Wayang Cengblonk bahwa setiap cerita memerlukan waktu satu bulan tujuh hari ( a bulan pitung dina ) untuk dilupakan orang, nampaknya saya secara pribadi hanya membutuhkan waktu 3 hari saja.

Sama halnya dengan pemberitaan Syeh Puji dengan kata-katanya yang mengundang kontroversi bahkan cenderung menantang hukum, demikian pula dengan kasus mutilasi oleh Ryan, tak membutuhkan waktu lama seakan tenggelam begitu berita eksekusi ini diluncurkan.

Mengapa saya sudah begitu bosan dan enegh, karena masih saja mendengar cerita media televisi dengan segudang bahan ‘behind the scene’, versi ‘Extented’ maupun ‘Uncensored’, ditambah-tambahkan, diulang-ulang malah membuat para pembawa berita tak ubahnya presenter infotainment negeri ini.

Bahkan berita penurunan harga BBM pun seakan kandas lantaran nilainya yang tak seberapa, cuman lima ratus perak. Seharga karcis parkir sepeda motor, bahkan malah lebih murah jika dibandingkan tarif wc umum untuk buang hajat.

Mungkin alasan penundaan jadwal eksekusi yang terlampau lama, menjadi alasan yang paling masuk akal bagi saya hingga kejenuhan itu muncul tak sampai tiga hari pasca tembak mati ketiga terpidana tersebut. Istilahne ‘Nutug Ketelun’…..

Lantas, aktivitas apa saja yang bakalan saya lakukan ?

Saya memilih mengubah rutinitas selama 3 hari ini untuk rileks kembali sebelum melanjutkan aktivitas kantor yaitu pengawasan pekerjaan di ruas jalan Pipitan Tuka daerah Kuta Utara dan tentunya kasus Dewi Sri di daerah Kuta. Tak lupa pula penyusunan Thesis yang masih mandeg begitu masuk ke bagian Metode Penelitian dan Desain Sistemnya. Tapi paling tidak gak lagi memikirkan urusan siapa Dosen Pembimbing saya nantinya. He… doakan saja ya.

Menurut Amrozy ‘itu adalah Takdir Mereka’

4

Category : tentang Opini

Menyaksikan tayangan di layar televisi terkait pasca eksekusi trio bomber Bali Oktober 2002 lalu, Amrory, Imam Samudra dan Mukhlas, ada rasa kasihan yang saya berikan pada mereka, para pendukung ketiga narapidana yang akhirnya ditembak mati Minggu dini hari. Kenapa ?

Karena mereka begitu mudah meneriakkan takbir yang sepantasnya mereka hormati dengan hati-hati dan penuh pemahaman akan apa yang mereka yakini. Sepertinya takbir itu hanya ada dan pantas mereka teriakkan hanya untuk apa yang mereka yakini benar adanya.

Menyaksikan tayangan lain perihal bentuk Djihad yang dibenarkan di Indonesia, yang kalau tidak salah dijelaskan oleh Ketua Fatwa MUI, Ma’Ruf Amien, sangat bertolak belakang dengan segala provokasi termasuk kata-kata dalam Surat Wasiat yang diwariskan oleh ketiga terpidana mati kepada para pendukungnya.

Sungguh sangat disayangkan, pemahaman akan apa yang diyakini dan dijalankan setiap harinya diartikan begitu dangkal sehingga salah arah dan salah kaprah. Barangkali malah bisa saya samakan antara para pendukung Amrozy, Imam Samudra dan Mukhlas tersebut dengan Syeh Pujiono yang menikahi perempuan 12 tahun hanya karena Nabi mereka melakukannya. Tidakkah ada yang ingin mencari tahu mengapa Nabi melakukannya ? atas dasar apa ? dan apa pertimbangannya ?

Terpekur mendengar cerita para korban Bom Bali, dimana mereka benar-benar tidak siap untuk menghadapi perubahan hidup yang mereka alami pasca tragedi yang mengguncang Bali dan pariwisatanya silam. Makin terhenyak saat Amrozy mengatakan bahwa ‘itu adalah Takdir mereka’. Manusia toh akan mati. Entah dengan cara apapun. Jika ada Muslim yang menjadi korban saat Bom diledakkan, seharusnya mereka bersyukur bisa mati dengan Syahid. Dan para keluarga juga harus bersyukur ayah dan suami mereka bisa mati dengan Syahid. Apa sih Syahid itu bagi seorang Amrozy ?

Kata-kata yang sangat dengan mudah diucapkan dari mulut seorang Amrozy. Namun apakah ia akan mengatakan hal yang sama jika melihat kondisi dari mereka yang ditinggalkan ? Para janda yang tak siap untuk hidup tanpa asupan materi dari sang suami tercinta lagi ? para anak yang menginginkan belaian kasih orangtua mereka saat beranjak remaja ? Apakah mereka ini akhirnya memiliki hak yang sama dengan para keluarga terpidana, yang begitu dimanjakan oleh negara ? masih bisa bersua dengan ayah dan suami mereka hingga sebelum ditinggalkannya pun ? Masih bisa merasakan hangat dan pesan dari ayah dan suami jika hari eksekusi tiba nanti ? Apakah para keluarga korban Bom Bali mendapatkan itu semua ?

TIDAK !

Apakah itu yang dinamakan Takdir dari-Nya bagi semua korban dan orang-orang yang ditinggalkan ?

TIDAK !

Menyimak layar televisi seharian rasa-rasanya saya sangat bersyukur pada media karena tak mengekspose terlalu over perihal jalan cerita pemakaman jenasah ketiga terpidana mati ini di desanya masing-masing. Bersyukur saya masih bisa menyaksikan cerita dari Gede Prama yang menyejukkan hati, menyaksikan kelucuan cerita Shincan ataupun hiburan dari cerita-cerita lucu nan kocak.

Tak sepantasnya memang mereka, Amrozy, Imam Samudra dan Mukhlas, dipuja puji begitu agungnya…..

Amrozy, Imam Samudra dan Mukhlas telah dieksekusi Mati. What Next ?

2

Category : tentang Opini

Walaupun saya bisa dikatakan sangat terlambat mengetahui berita terkini (bisa membaca kronologisnya disini) perihal eksekusi mati Amrozy cs, trio bomber Bali Oktober 2002 lalu, namun jujur saja ada perasaan lega yang terbersit dihati kecil saya. Kenapa ? Karena mulai hari ini, takkan ada lagi kata-kata provokasi yang dikeluarkan oleh wajah-wajah penuh senyum tanpa dosa tersebut.

Sebelum eksekusi, Amrozy sempat memberikan Surat Wasiat atau pesan terakhir yang kurang lebih mengatakan bahwa umat Muslim di Indonesia harus kembali ke ajaran Islam yang sepenuhnya dan tidak mengikuti Demokrasi (Jawapos 8 November 2008, halaman 1). Hal ini rupanya langsung mendapatkan tanggapan dari berbagai pihak, diantaranya ulama dan habib yang berkumpul di Jakarta plus komentar dari Ketua MUI Bali (kalo ndak salah sempat ditayangkan di televisi kemarin), bahwa Bom Bali bukan merupakan Djihad, dan itu Haram hukumnya. Nah lo.

Perpecahan dalam satu pemahaman agama, memang kerap terjadi. Ada yang memiliki pemahaman di jalur kiri, ada juga yang disisi lainnya. Entah bagaimana jadinya jika kedua kelompok ini bertemu dalam satu wadah. Mungkin bakalan serame Debat di televisi lokal TVOne, yang menampilkan debat tentang ‘Djihad atau Terorisme’ tempo hari.

Saat ini pasca eksekusi mati ketiga bomber tersebut, ada beberapa kekhawatiran saya secara pribadi, meliputi perpecahan bangsa akibat lahirnya Amrory baru, Imam Samudra baru dan juga Mukhlas baru, yang telah didoktrin jauh sebelumnya telah siap untuk melakukan hal serupa diberbagai daerah negeri ini. Khawatir akan ada perpecahan antar umat beragama yang dahulunya rukun berdampingan, harus saling curiga satu dengan lainnya. Khawatir akan penghancuran tempat-tempat ibadah bagi mereka yang termasuk kaum minoritas di negeri ini, sebagai pelampiasan umat yang tak puas dengan dilakukannya eksekusi mati.

Kekhawatiran ini diperparah lagi dengan reaksi keluarga dari ketiga bomber, hingga telah mempersiapkan hal-hal yang bagi saya pribadi terlalu ‘overacting‘ dan berlebihan. Memang sih, rasa duka itu pasti ada saat kehilangan keluarga, tapi apakah mereka sudah tak memiliki perasaan yang sama dialami oleh para korban bom Bali I tempo hari, terutama yang bukan warga asing ? apakah itu semua pantas disebutkan sebagai ‘Takdir’ sebagaimana yang dikatakan oleh Amrozy cs tempo hari ?

Terlepas dari kontroversi yang menyelimuti eksekusi mati yang dilakukan tadi malam pukul 00 WIB, kecurigaan adanya tekanan dari luar negeri, bagi saya pribadi sudah sepatutnya Pemerintah melakukannya, bahkan jauh-jauh hari sebelumnya. Hanya karena beralasan ini itu, masyarakat dan mata internasional jadi menduga adanya keragu-raguan atau ketidakseriusan Pemerintah melakukan eksekusi ini. Sangat fatal akibatnya jika Pemerintah tak tanggap. Saya saja sempat emoh menonton televisi akibat ditunda dan ditundanya jadwal eksekusi. Bagaimana dengan orang lain ?

Banyak hal yang saya yakin bakalan terjadi pasca eksekusi, satu diantaranya ya tindak tanduk orang-orang yang berada dibalik TPM Tim Pembela Muslim. Sudah saatnya mereka menyadari (itu jika mereka merupakan kumpulan orang waras) bahwa TPM bukanlah nama yang tepat bagi sebuah tim yang membela ketiga bomber Bali I. Karena ternyata yang setuju pada eksekusi hanyalah segelintir umat Muslim yang mengaku-aku memahami ajarannya jauh lebih baik daripada sebagian besar lainnya. Apakah masih layak menyandang nama tersebut ?

KeLuhan akan KuaLitas Pekerjaan DSDP

Category : tentang Opini

Ini adalah pemandangan yang paling sering ditemui pada areal jalan masuk kerumah-rumah usai dikunjungi tim DSDP untuk pemasangan pipa drainase pembuangan dari kamar mandi dan wc milik warga.

Areal jalan masuk yang digali untuk penanaman pipa-pipa tersebut, diurug seadanya tanpa menggunakan alat bantu yang sesuai standar. Hanya ditumbuk dengan tangan saja menggunakan bongkahan beton yang dibentuk sedemikian rupa seperti alu.

Usai ditumbuk sih dari penampilannya oke banget. Apalagi kalo dipasang paving dan diplester kembali. Mulus dan bagus.

Namun, efek yang sebenarnya baru akan terlihat saat hujan turun dengan deras.

Bagi areal jalan yang dahulunya hanya berupa tanah biasa tanpa lapisan atas, langsung anjlok lantaran resapan air tanah yang tinggi plus tekanan beban lalu lintas yang melewati areal tersebut.

Begitu pula yang berkondisi Paving. Kadang Paving yang terpasang malah pecah, lantaran tanah dibawahnya anjlok, sehingga aibat tekanan beban kendaraan yang melintas, menghancurkan paving diatasnya.

Paling kasihan yang dahulunya berkondisi beton pc. Kualitas beton pc pengganti itu rupanya hanya berupa plesteran saja, tanpa ada kandungan beton dibaliknya. Ini saya berani katakan, lantaran motor saya pernah jatuh kearah kiri setelah distandar satu saat parkir pada areal tersebut. Untung motor tak apa-apa. Tapi yang bikin surprais, saat melihat lapisan semen pc yang hancur, nyatanya hanya berupa plesteran diatas tanah biasa.

Walah, ini sih bisa dikatakan pencurian kualitas pekerjaan. Yang sayangnya, sang pelaksana pekerjaan gak kapok-kapok juga. Sangat pintar membodohi para pengawas pekerjaan yang barangkali sudah bodoh duluan. Kok mau-mau saja dibohongi. 🙂

BeLajar pada Barack Obama

5

Category : tentang KHayaLan, tentang Opini

Kesuksesan salah seorang kader Partai Demokrat, Barack Obama pada PilPres Amerika Serikat mengalahkan rival-rivalnya baik dari satu partai, Hillary Clinton, begitu pula dari partai lawan, John McCain dengan telak pula.

Kemenangan Barack Obama yang sudah mulai ditayangkan pada layar televisi 5 November lalu, menurut saya pribadi seharusnya mampu pula dengan telak menampar wajah-wajah para politikus yang saat ini menjabat di kepengurusan partai, dan bersiap mencalonkan dirinya menjadi Capres, Cawapres hingga tingkat kepala daerah dan tentunya Caleg. Mengapa ?

Karena apa yang dilakukan Barack Obama saat kampanye baik menghadapi Hillary Clinton maupun John McCain, tak satupun yang sifatnya menyerang kelemahan maupun langkah lawan politiknya. Tak satupun Barack Obama mengecam, mencemooh, hingga menghina lawan politiknya. Didukung oleh penampilan dan gaya bicaranya yang lugas dan percaya diri, Barack Obamapun dinyatakan layak tampil didepan pendukungnya menduduki kursi nomor satu di negara Amerika Serikat.

Mari kita berpaling sejenak ke negeri ini.

Pilkada terakhir yang dilakukan kalo ndak salah di wilayah Jatim, yang menjatuhkan pasangan calon berkumis, bahkan sempat pula didukung oleh puluhan kyai dari pesantren top daerah Jawa Timur. Sampai tampil di media Jawapos dalam format setengah halaman pula.

Hasil akhir pemilihan kepala daerah Jatim ini mengetengahkan sejarah baru di Indonesia, yaitu jenuhnya minat masyarakat untuk ikut memilih pemimpinnya. Angka Golput kabarnya mencapai angka 46 % dari jumlah suara keseluruhan yang ada (Jawapos, 5 November 2008, halaman 1)

Angka ini menjadi terbalik saat kita memantau perkembangan minat para pemilih di Amerika sana, mengalami peningkatan yang sangat tajam, sehingga mampu pula menorehkan sejarah baru, dalam jumlah pemilih dari golongan muda. Sebanyak 135 juta dari 150 juta yang ada. Tertinggi dalam Pilpres Amerika sejak tahun 1920.

Lantas mengapa di negeri ini bisa didominasi oleh suara Golput ?

Barangkali saja masyarakat kita sudah terlalu jenuh dengan pola pikir para politikus yang katanya berpendidikan tinggi, tapi tetap saja menggunakan cara-cara busuk saat berkampanye dalam meyakinkan publik akan dirinya.

Mencemooh, mengecam bahkan menghina kebijakan-kebijakan pemerintah lama, saling menjatuhkan satu sama lain, janji-janji kosong, menggratiskan berbagai bidang termasuk pendidikan, bagi saya itu semua sudah layak dibuang ke tong sampah.

Seharusnya mereka, para politisi bangsa, para pejabat juga para Caleg dan calon kepala daerah, mulai belajar dari sikap dan sepak terjang seorang Barack Obama. Yang berusaha membuktikan kemampuan diri terlebih dahulu, apa yang bisa diberikan dan bermanfaat bagi masyarakat, bukan sekedar memberikan sumbangan dan baju kaos gratis seperti yang biasa terjadi disini.

Jika memang benar keabsahan segala gelar yang melekat pada nama seperti yang terpampang pada baliho dipinggiran jalan dan selebaran yang mengotori wajah lingkungan kita, seharusnya para calon pemimpin baru mampu menuangkan ide-ide mereka menjadi sebuah bagian dari pembangunan daerahnya sendiri dan dapat bermanfaat penuh bagi lingkungan sekitarnya. Bukan dirasakan satu dua orang saja.

Sederhana saja. Penanggulangan banjir di Kota Jakarta misalnya. Masalah ini merupakan hal biasa dan berlarut-larut terjadi hingga hari ini. Kenapa tidak ada calon pemimpin yang memikirkan ini sebagai pondasi kampanyenya kelak ? malah bermimpi setinggi langit menjanjikan pendidikan gratis. Jangan-jangan janji-janji ini seperti halnya para operator seluler, gratisnya cuman di iklan doang.

Sayangnya baik telinga maupun otak mereka sepertinya belum melek akan semua itu. Masih terikat oleh mimpi-mimpi indah, minimal mampu mengeruk uang jika sudah menjabat nanti. Urusan rakyat ? no way !

Aku Ingin Kita Bisa Bersuka Seperti Mereka

2

Category : tentang KeseHaRian

Sejak sore kemarin, layar Televisi mulai dipenuhi gegap gempita hasil PilPres Amerika, yang mengetengahkan Barack Obama unggul jauh diatas rivalnya John McCain. Mengantongi angka sekitar 337 diatas ketentuan 270 yang ditetapkan.

Jujur saja, pemberitaan kemenangan Presiden Amerika pertama yang berkulit hitam ini, sangat jauh menyejukkan hati saya hingga hari ini. Ditengah kemarahan saya akan kondisi sekitar yang mulai tak baik, lantaran kepentingan pribadi yang diutamakan diatas kepentingan negara. Apalagi kalo bukan hanya karena uang, uang dan uang.

Kemarahan saya bukan hanya itu saja. Pemberitaan media akan kontroversi Pemerintahan Bangsa ini yang mengulur-ngulur waktu Eksekusi Mati para Terpidana mati, Amrozy cs, semakin membuat mereka mengembangkan senyum kelicikannya, seakan memenangkan perang yang tak akan berakhir hingga kapanpun. Wong masih ada rencana PK Jilid 4 kok.

Sungguh saya kecewa dengan media televisi Indonesia yang cenderung mengetengahkan sosok para pengebom dan keluarganya menjadi pahlawan bangsa ini. Ditengah kegalauan dan ketidakjelasan nasib mereka yang menjadi korban Bom Bali tempo hari. Makin menjadi jengkel saja saat Amrozy menyatakan bahwa mereka yang mati itu adalah Takdir. SHIT !

Ketidakjelasan tayangan media televisi ddukung pula oleh makin maraknya Infotainment dengan berita itu-itu saja. Gak mendidik sama sekali.

Jadi jangan salahkan jika kemenangan sang tokoh dari Partai Demokrat sebagai Calon Presiden Amerika Serikat menggantikan si Presiden gila Perang, Bush. Betapa tidak, kemenangan itu diraih dengan menorehkan beberapa sejarah baru, baik itu terjadi sebelum kampanye hingga sesaat sesudah Pemilihan dilakukan.

Meningkatnya jumlah suara yang berasal dari kaum muda tergolong sangat tinggi dalam sejarah PilPres Amerika sejak tahun 1920. Itu artinya, suara yang dikhawatirkan bakalan menjadi Golput tak terbukti sama sekali. Ini jelas jauh beda dengan Pilkada yang diadakan nyaris bersamaan, yaitu daerah Jatim. Hampir 46 % suara memilih Golput (Jawapos edisi 5 November 2008, halaman 1).

Sayangnya kegembiraan itu terjadi nun jauh disana. Kegembiraan yang bisa saya rasakan secara pribadi, sambil berharap pelan-pelan negeri ini bisa menyelesaikan satu persatu masalahnya dengan baik bagi semua pihak.

Teman si kecil MiRah GayatRiDewi

Category : tentang Buah Hati

Pertengahan bulan ini, putri kami MiRah GayatRiDewi genap berumur 8 bulan kalender. Yang diwujudkan dengan perkembangan fisiknya jadi makin bulet juga kelucuan tingkah lakunya seakan tak pernah bosan mengisi hari-hari kami selaku orang tuanya.

Terakhir, si MiRah udah bisa duduk sendiri dari aktivitas bangun tidurnya. Caranya dengan merebahkan badannya kesamping kiri trus bangun dan duduk. Walopun blom bisa berlama-lama tapi beneran, kami surprais dibuat olehnya.

Tak hanya itu, kalo setelah upacara 3 bulanannya kemaren, si kecil MiRah sudah mulai menunjukkan kenakalannya dengan memonyongkan bibirnya seperti bibir bebek, kini ia mulai belajar menjulurkan lidahnya kalo lagi bersua dengan orang yang disukainya. Ohya, si kecil manja banget kalo sudah berhadapan dengan kakek neneknya juga si Bapak. He… tinggallah sang IbuNDa yang merayu-rayu si kecil agar mau berlama-lama dengannya saat BunDa pulang makan siang dari kantor.

Putri kami sejak dilahirkan hingga kini menjalani waktu-waktu bobonya dengan kami kedua orangtuanya. Jadilah springbed pesanan khusus 180×230 cm itu dibagi rata agar si kecil tak ditindih oleh badan Bapaknya yang tambah Ndut saja belakangan ini.

Teman bobonya pertama, Putu Pingu. Boneka Pinguin kecil ini dibeli saat si kecil berusia 1 bulan, saat yang sama Ibunya dirawat di RS Sanglah lantaran mengidap Demam Berdarah. Jadi pengobat kangen kami saat jauh, yang kemudian dititipkan pada Kakek Neneknya saat mau pulang dari menjenguk kami.

Teman mainnya yang kedua Ni Made BeKu (Bebek Kuning), plus 3 anaknya yang kecil dan lucu. Dibeli di Hero Gatsu, sebagai teman mainnya si kecil saat mandi.

Teman mainnya yang ketiga sekaligus digulat saat bermain ditempat tidur, NYoman PinkY, boneka beruang merah jambu ini hadiah dari Kakeknya diusia sikecil menginjak 6 bulan kemaren. Dibeli di Matahari Sudirman kalo ndak salah. Besarnya sepadan dengan badan si Mirah. Lebih besar dikit malah. Walo awalnya MiRah agak takut dengan bodi si PinkY yang besar dan membawa Jantung Hati ditangannya, tampaknya topi si PinkY-lah yang menarik perhatian MiRah. Terakhir PinkY sudah mahir menemani si kecil MiRah bergulat dan membiarkan wajahnya digigit (padahal blom punya gigi), saking gregetannya si MiRah.

Teman keempat sekaligus terakhir yang MiRah dapatkan adalah si KetuT Odock. Dalam dimensi badan yang seperempatnya Pinky. Jadi gampang dipeluk oleh MiRah. Ini kado dari salah seorang teman KuLiah, yang memang masih ingat kalo sapaan akrab Bapaknya ini adalah Dok –yang berasal dari PanDe KoDok- He…. Tak heran kalo boneka yang diberikan pada si kecil ini adalah berwujud KoDok, lengkap dengan matanya yang besar dan peyutnya yang Ndut. Mirip Bapaknya MiRah. He…

Diantara keempat teman si MiRah, paling cuman si Pinky dan Odock aja yang setia berada ditempat tidur, tepatnya berada dekat Bapak, sehingga makin menyempitkan ruang tidur si Bapak yang badannya udah segede gajah. Huahahaha….