MeLihat Berita Media dari sisi lain dengan AriF

3

Category : tentang KHayaLan

Terkadang saya pribadi suka miris saat membaca berita pada sebuah harian lokal yang rutin kami beli dari loper keliling. Radar BaLi.

Bukan lantaran beberapa waktu lalu saya diancam akan di UU ITE-kan gara-gara tulisan saya tentang wartawan pada Media ini, tapi lantaran saya merasakan isi dari berita-berita mereka terkait kegiatan, kinerja hingga segala sesuatu berbau Badung, dikecam habis lengkap dengan foto pendukung dan komentar dari masyarakat terkait isi berita tersebut.

Entah karena masih merasa jengkel dan dendam atas tulisan saya yang dihapus untuk amannya, isi dari pemberitaan tersebut walau saya yakin akan keakuratan faktanya, namun menurut saya pribadi, kok hanya melihat dari sudut pandang wartawan atau masyarakat saja. Tidak melihat dari sudut pandang objek penderita dalam hal ini ya tokoh utama yang diceritakan dalam berita tersebut.

Misalkan saja, foto yang diambil oleh Radar Bali kira-kira seminggu lalu, yang menampilkan seorang pegawai tertidur di Bale Bengong Kantor Gubernur di Renon. Sepertinya foto tersebut diambil diam-diam (tanpa seijin yang tertidur -ya iyalah, masa ya iya dong ?) diisi kutipan singkat dan ternyata ekor berita tersebut gak cuman selesai disitu saja tapi berlanjut hingga koran esok harinya. Dimana (kata) berita hari itu menyatakan Pak Mangku Pastika akan menindaklanjuti siapa pegawai tersebut. Gak ada yang salah memang, dan Radar Bali wajar saja merasa wajib memberitahukan hal itu pada masyarakat atas dasar kebenaran.

Namun seandainya saja sang wartawan/juru foto yang menangkap gambar tersebut bisa sedikit berimprovisasi menanyakan langsung pada si tertidur mengapa ia melakukan itu (dengan ngobrol ngalor ngidul sejenak saat ia terbangun) atau malah memantau dalam satu minggu misalnya, apakah si tertidur melakukannya tiap hari dan atas dasar apa, barangkali apa yang ditampilkan pada media cetak bisa jadi jauh lebih berbobot dan bermakna.

Maksud saya disini, bagaimana kalo si tertidur itu ternyata adalah seorang sopir dari seorang pejabat eselon yang berkunjung ke kantor Gubernur ? sambil menunggu usai acara daripada ngerumus togel, mendingan ia beristirahat karena siapa tahu sebentar lagi ia masih harus mengantarkan atasannya kelokasi lain.

Atau barangkali saja ia tertidur lantaran malam sebelumnya harus menjalani kegiatan adat, seperti ’mekemit di Pura’ atau malah berjaga di rumah kematian kerabat/tetangga dirumah, bukankah lebih baik ia beristirahat sebentar dibanding kabur dan pulang kerumah. Bagi saya beristirahat /tidur sih manusiawi aja, tapi kalo dilakukan pada jam kerja ya memang salah, yah barangkali saja itu ada alasannya.

Contoh kasus lain, perihal iring-iringan Pak Bupati yang kalo melintasi jalan umum pasti membunyikan sirene seakan kondisi daerah ini sedang genting. Bahkan pendapat masyarakat (tidak secara keseluruhan) menyatakan bahwa jelas itu sangat mengganggu dan seperti pada masa kerajaan saja. (ini jelas menyentil posisi Pak Bupati Badung lantaran historinya adalah Beliau merupakan salah satu keluarga kerajaan di masa lampau, bahkan hingga kini barangkali).

Padahal awal mula berita itu turun kalo ndak salah karena mobil patwal dokatakan sering tertinggal jauh dibelakang lantaran cepat dan gesitnya mobil Pak Pejabat, dibandingkan dengan motor sang patwal.

Tapi pernahkah ditelusuri mengapa rombongan Pak Bupati melakukan hal itu ?

Coba saja direnungkan. Seandainya saja dalam waktu sehari Beliau harus menghadiri sejumlah acara yang sudah dijadwalkan sebelumnya berdasarkan undangan dari masyarakat atau pihak tertentu. Itu artinya dalam mobilisasi mencapai lokasi acara, rombongan Pak Bupati harus berusaha sampai tepat waktu. Jarak yang sedemikian jauh harus mampu ditempuh dalam waktu singkat agar jangan sampai baik masyarakat maupun pihak yang mengundang menunggu terlalu lama, bahkan acara berlangsung tanpa kehadiran Pak Bupati. Bisa dibayangkan, kira-kira apa headline Koran esok hari apabila Pak Bupati sampai terlambat atau malah tidak dapat hadir di acara-acara tersebut ?

Bisa-bisa efeknya jauh lebih dashyat. Tapi sayangnya sekali lagi, media (pasti) menyalahkan sang peran utama atas semua keterlambatan tersebut. Jadi bagi saya apabila rombongan Bupati membunyikan sirene saat melintas dijalan umum, ya wajar saja. Wong ia dipilih oleh masyarakat dan harus memenuhi kewajibannya kepada masyarakat. Kalaupun masyarakat sampe menyentil Beliau jangan mentang-mentang seperti jaman kerajaan saja, harusnya ditelusuri sedikit, bagaimana sampai si narasumber mengatakan hal itu. Apakah ada sentimen pribadi lantaran bukan pendukungnya saat kampanye tempo hari misalnya.

Saya secara pribadi memang gak menyalahkan naiknya berita di media cetak Radar Bali terutama berkaitan dengan kinerja pegawai negeri sipil dan abdi pemerintahan dimanapun mereka berada, sangat menusuk isinya. Bahkan bisa dibilang Radar Bali sangat kritis dalam hal ini. Kenapa ?

Lantaran saya mengakui kalo image dari PNS dan jajarannya itu sendiri sudah sangat buruk dimata masyakat. Kesimpulan Ini saya ambil setelah sempat secara iseng mencari keyword ’PNS’ di Mbah Google, dan mendapatkan hasil yang sangat membuat miris hati. Tak satupun isinya yang menyajikan sisi positif dari ’PNS’. Bagaimana bisa ?

Yah, itu wajar terjadi karena ada sekian persen oknum yang masih melestarikan budaya negatif dari keseharian mereka berlanjut hingga saat kewajiban mereka harusnya dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat banyak, malah jadinya melenceng jauh. Tapi mbok ya Media bisa juga berpikir jauh lebih arif dari masyarakat dalam menyajikan isi berita mereka. Memang sih itu tugasnya Wartawan, tapi kok saya pribadi merasakan tak jauh beda dengan seorang blogger kayak saya. Yang menuliskan berita asal, semaunya saya sendiri tanpa peduli bagaimana pandangan orang lain pada sesuatu yang saya tulis dalam blog. Didukung pula dengan foto yang diambil diam-diam.

Bukankah Media cetak itu seharusnya malah menaikkan tulisan yang jauh lebih berbobot, bermakna dan tentu data yang akurat dan tepat. Tidak hanya sekedar comot sana comot sini, mencari-cari sesuatu yang bisa dijadikan bahan berita lantas mempublikasikannya hanya untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat. Yah, saya hanya berharap Media Radar Bali bisa kembali seperti saat mereka tampil pada awal kelahirannya, kritis (beneran kritis) dan jauh lebih bermanfaat bagi masyarakat yang membacanya. Semoga.

> PanDe Baik saat menulis posting ini berada disebuah bale bengong dekat kantor istri, sambil menunggu jam pulang –yang masih merupakan jam kerja secara resmi- dan berharap-harap cemas, jangan-jangan aktivitas ini ditangkap oleh kamera Radar Bali dan naik cetak esok hari. Makanya begitu selesai, saya langsung cabut dari tempat itu. Hahahaha….. <

Salam dari Lapangan Lumintang Kota Denpasar

Comments (3)

intinya media sepatutnya menganut prinsip keseimbangan dalam menyajikan berita.

devari´s last blog post..Caribbean Blogger Community

[Reply]

wohoho, tulisan keren yg akhirnya diposting jg.

yg buat balebengong saya belum edit bli. lupa terus. hehe..

[Reply]

BLi MaDe > Yup saya setuju BLi. :mrgreen:
BLi AnTon > yang begini dibilang keren BLi ? wah wah wah… saya jadi bingung mau ngasi pujian apa ke tulisan-tulisan BLi dong ? TOP BGT mungkin. :mrgreen:

[Reply]

Post a comment

CommentLuv badge