KemBaLiannya diganti PerMen ya Pak

7

Category : tentang Opini

Kata-kata diatas paling sering saya temui begitu bersua dengan kasir di toko, mini market apalagi super market. Ini ditemui setelah menghitung belanjaan, ternyata gak ada uang kembalian untuk jumlah nominal uang yang disodorkan. Maka kotak kecil diatas meja kerjapun makin hari makin dipenuhi oleh permen-permen yang wajah sebenarnya adalah berupa uang kembalian.

Kalo kekurangan pengembaliannya cuman seratus dua ratus sih ndak masalah, tapi kalo mendekati seribuan, ya kadang bikin mangkel juga.

Kondisi begini terjadi barangkali lantaran langkanya uang recehan yang beredar dipasaran, atau bahkan arti dari sebuah keping uang seratus rupiah seperti gak ada artinya lagi. Coba deh amati kalo sua peminta-minta dijalanan, berikan uang seratus rupiah, dijamin ditolak atau dibuang (didepan si pemberi). Bahkan anak kecil yang tau nilai uangpun barangkali bakalan menolak diberikan uang yang gak bisa dibelikan es disekolahannya.

Kelangkaan ini bisa karena keadaannya memang begitu adanya, bisa juga lantaran pemilik toko, mini market dan super market tersebut gak mau direpotkan dengan uang recehan sekecil ini. Solusi paling cepat ya dikembalikan berupa permen.

Yang dirugikan jelas para konsumen. Walopun secara hitungan per pribadi jelas bukan apa-apa. Tapi kalo dikalikan jumlah konsumen yang berbelanja tiap harinya ? coba hitung berapa keuntungan tambahan mereka ?

Apalagi pada kelas Super Market dimana produk yang mereka jual dilabeli harga bukan nominal umum Rp.890,- atau Rp.712,- he… kayak lelang ha pe aja. Coba kalo sipembeli belinya cuman satu biji, trus dibayar pake uang seribuan. Kembaliannya dapat dipastikan berupa permen. Padahal berapa sih harga permen itu sesungguhnya ?

Kalo mau perhitungan, coba ambil sampel beberapa permen dipasaran, sebungkus besar harganya sekitar Rp. 3.000,- dengan isi 40 biji. Andaikan saja permen-permen tadi dijadikan sebagi pengganti uang kembalian dan biasanya sih dinominalkan jadi Rp.100,- per biji, keuntungan bersih yang didapet untuk ngabisin sebungkus permen itu ya seribu rupiah. Itu baru itung-itungan kecil loh ya.

Sayangnya bagi konsumen yang ingin melakukan hal sebaliknya, menjual permen-permen kembalian ini untuk mendapatkan uang sudah jelas gak mungkin. Lagian gak pernah terdengar hal kayak gitu. Kebanyakan konsumen kita pada milih cuek daripada ngurusin hal-hal sepele kayak gini.

Konsumen mungkin bakalan diuntungkan jika saja ada perlombaan kepemilikan permen yang didapat dari uang kembalian, terbanyak jumlahnya, atau malah terbanyak variannya. Kali aja bisa masuk Guiness Book of Record. Huahahaha…..

Maka gak heran, kalo ada satu tempat usaha yang berjualan barang keperluan sehari-hari hingga konsumstif masyarakat, dengan bermain jujur saja mereka bisa maju kok, apalagi dengan cara Permen Kembalian ini. He…

Menjadi bagian dari HeRoes ?

1

Category : tentang Opini

Kata-kata ini selalu terbayang dibenak saya usai menonton serial Heroes, seri bersambung yang saya yakini jauh lebih menarik dari jutaan Sinetron terbaru milik stasiun-stasiun televisi lokal.

HeRoes, kalo ndak salah mengartikan ya sekumpulan orang yang memiliki kelebihan tertentu setelah diinjeksi oleh ‘somebody’ dan memiliki misi untuk menyelamatkan si gadis Cheerleader. Misi ini tentu akhirnya mempertemukan tokoh HeRoes satu dengan lainnya, dibayangi oleh tindak kejahatan sang tokoh antagonis yang selalu membunuh korbannya mengan membelah batok kepalanya. Hiy….

Trus kira-kira apa yang bakalan saya lakukan jika menjadi bagian dari HeRoes ? apakah itu memiliki kemampuan Terbang (yang tentunya gak bisa sembarangan diperlihatkan pada publik), berpindah lokasi, membaca apa yang dipikirkan orang lain, melumerkan benda, melukis masa depan, hingga si gadis Cheerleader sendiri yang selalu berusaha meyakinkan dirinya dengan mencelakai diri sendiri trus direkam dalam video.

Entah ya.

Mungkin bertindak memanfaatkan kelebihan ini secara positif seperti yang dilakukan oleh setiap kisah HeRoes dimanapun ia ‘dilahirkan’. Memperlihatkannya secara langsung agar orang lainpun dapat dengan positif menggunakannya. atau malah menuliskan tips trick menjadi seorang HeRoes plus pengalaman-pengalamannya dalam bentuk sebuah BloG. He…

Yang pasti, jangankan menjadi seorang ‘HeRoes’. Menjadi orang yang biasa-biasa saja susahnya minta ampuuuunnn… He….

ToiLet Impian seorang Pegawai Negeri

2

Category : tentang Opini

Kata salah seorang Dosen Teknik Arsitektur saat kuliah dulu, karakter orang juga keindahan huniannya dapat dilihat dari penampilan awal Toiletnya. Lucu sih, tapi bener. Toilet emang menjadi satu daerah paling rawan dari setiap bangunan. Apapun itu fungsinya.

Ada beragam komentar perihal posting saya beberapa waktu lalu, berkaitan dengan ‘Joroknya Toilet PusPem Badung‘ yang tergolong megah dan Wah. Kabarnya malah jauh lebih megah daripada gedung Menteri negara ini. Jadi sayang banget kalo Toilet-nya jorok sejorok toilet milik ruang kuliah di Fakultas Teknik entah Bukit Jimbaran maupun Kampus Sudirman. Pernah liat gak ?

Bayangkan saja ya. Toilet yang gelap tanpa lampu penerangan, gak ada air yang mengalir dari kran, juga persediaan air di bak, air malah tampak menggenang di lantai toilet, sehingga membuat yang ingin buang hajat harus berpikir sebentar buat melepas sepatu mereka agar tak tenggelam dalam genangan, bau pesing yang khas mirip-mirip bau saat mencetak gambar Kalkir ke media Cetak Biru. Kerjaan khas anak Teknik. He……

Komentar mereka dari yang berpesan agar hati-hati, siapa tahu ada pejabat di Badung yang membaca posting ini dan menuntut saya lantaran menghina Toilet Puspem (hmmm… sounds like polemik dengan Radar Bali tempo hari. He….). Sampai yang mendukung dan membenarkan opini saya waktu itu, karena setiap orang berhak tahu bagaimana sudut pandang orang lain (apalagi itu staf mereka sendiri), agar dijadikan satu pemicu dan harapan bahwa toilet PusPem bisa jauh lebih baik dari itu.

Mungkin kalo ditanyakan ke saya, emangnya kayak apa sih Toilet impian (dilokasi umum) bagi seorang staf paling bawah seperti saya ini ?

Toilet yang harum dengan pewangi ruangan dari mulai masuk hingga usai buang hajat. Toilet yang bersih dari segala lumut juga kotoran lainnya yang menempel didinding maupun pojokan ruangan. Toilet yang terang dan lengkap (ada air yang mengalir dari kran dan gayung untuk mengambil air plus sabun tentu saja). Seperti yang terlihat pada Toilet gedung Pasca sekaligus Auditorium Universitas Udayana di Kampus Sudirman.

Ini menjadi prioritas bagi saya lantaran sebagai Toilet Umum, tentu nantinya bukan cuman saya saja yang memakainya. Tapi juga orang-orang yang terlibat didalamnya pula tamu-tamu yang mampir untuk mengikuti seminar dan sejenisnya. Jangan sampe mereka semua emoh untuk buang hajat setelah melihat toilet yang jorok dan bau pesing. Malu kan ?

Uniknya kadang Toilet bisa juga dijadikan sebagai salah satu tempat bersantai saat buang hajat seperti saya ini, sampai-sampai membawa bekal koran hari ini hingga Tabloid untuk menambah kesan santai dan menikmati waktu bertapanya. Huahahahaha….

Tentang Mirah Gayatridewi, Malaikat Kecilku

1

Category : tentang Buah Hati

Anak adalah Anugerah, kata orang Bijak. Untuk itu pula sebagian orang rela melepaskan segala sesuatu miliknya pula hari-harinya, demi mendapatkan sebuah hadiah Terindah dari-Nya setelah memutuskan untuk melangkah ke perkawinan, ikatan dua insan manusia dengan dua sifatnya yang berbeda pula.

Anak juga merupakan suatu pertumbuhan keajaiban yang hingga hari ini masih sangat diharapkan terutama bagi mereka yang sudah sangat lama menginginkan kehadirannya, walaupun sebenarnya ada jalan lain seperti mengadopsi.

Untuk itu pula Anak setelah ia dilahirkan, harus menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya secara sadar dan penuh cinta kasih sayang agar ia tumbuh menjadi satu kesatuan dari dua sifat orang tuanya yang berbeda, dengan harapan yang jauh lebih baik tentunya.

Anak adalah Rejeki, kata mereka yang senantiasa berusaha melahirkan malaikat-malaikat kecil mereka, walaupun usia dan kondisi ekonomi dalam kondisi terdesak. Yang penting makan mereka semua terpenuhi kata sang orang tua tak kalah bijak. Karena malaikat kecil yang mereka lahirkan toh adalah Anak-Anak Tuhan pula.

Anak adalah Bencana, ini berlaku bagi mereka yang belum siap menghadapi sebuah ikatan perkawinan maupun menjalani tanggung jawab menjadi orang tua yang baik, sehingga pilihan yang ada hanyalah dengan menunda perkawinan ataupun kehamilan.

Anak adalah Kebanggaan, karena tak ada orang yang lama tak bersua bakalan saling menanyakan ‘berapa kekayaan yang dimiliki’ atau ‘berapa mobil mewah yang parkir digarasi’, melainkan ‘sudah ada berapa putra-putrinya’ atau ‘anak-anak sehat bukan ?’

Anak adalah cerminan Diri. Untuk itu pula diperlukan kesabaran dan ketekunan dalam merawat dan menemani hari-harinya untuk tumbuh kembang, tak jarang seperti melihat ego diri sendiri yang barangkali harus dibina sejak awal, agar tak menjalani kelamnya masa lalu sang orang tua.

Anak adalah segalanya, untuknyalah semua hal dipertaruhkan agar mampu mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik.

mirah-gayatridewi.jpg

Untuk itu semua pula aku berTerima Kasih pada Tuhan, karena dikaruniai malaikat kecil yang lucu nan menggemaskan, Mirah Gayatridewi. Anakku.

Sangat bangga bisa memilikinya.

Inspirasi-ku

Category : tentang DiRi SenDiri

Dalam waktu dekat, BLoG ini bakalan bertambah lagi isinya. Rencananya sih pengen nulis tentang hal-hal yang menjadi sumber inspirasiku atas tulisan dalam blog selama ini, atau segala perbuatan juga ide yang terbang dalam kepala. Entah itu berwujud karya dari orang lain, artis musik misalnya, atau malah jurnalis media lokal yang gak henti-hentinya bersikap kritis terhadap apapun. Entah nanti jadinya apa.

Yang jelas, tulisanku nantinya tak akan menyinggung perasaan siapapun juga, kujamin. Karena ini hanyalah sesuatu yang akhirnya mampu mengubah diriku dari satu menjadi dua, dari sedih menjadi gembira dan lainnya. Toh tak ada salahnya untuk menuliskan isi ‘diri sendiri’ yang barangkali memang benar buruk atau malah baik bagi orang lain. Itu terserah siapapun bisa menilainya.

Ohya, mohon diingat pula, bahwa BLoG ini lahir secara tak sengaja dan awalnya hanya mengungkapkan hal-hal tak penting untuk sekedar menjadi catatan dan cerita bagi diri sendiri dikemudian hari. Jadi, kalaupun ada sesuatu yang tak berkenan atau merasa jengkel bahwa tak ada yang dapat ditangkap dan disimpan dalam hati dari tulisan saya selama ini, mohon alamat BLoG ini di-Delete aja. He….

BurGer ? Yummy…

1

Category : tentang PLeSiran

Boleh dikatakan kalo roti isi irisan daging satu ini udah jadi favorit sejak masa kecil dahulu. Masih teringat jelas rutinitas melahap burger tiap dua minggu sekali made in Toko Asia (waktu masih berlokasi di depan rumah makan Mie Jakarta jalan Veteran), dibeli dari sisihan uang saku yang dikumpulin tiap harinya. Waktu itu (masa SMP 1990an) harganya tergolong mahal 4 ribuan, seharga komiknya Tiger Wong kalo ndak salah. He…

Hobi makan burger sebetulnya berawal dari kiriman seorang famili ortu yang membuka Restoran Mini di Kuta sana. Beliau ini secara rutin ngirimin cemilan makanan yang biasa disantap turis-turis, tentu merupakan makanan yang aneh bagi ortu waktu itu. Kalo ndak salah ada Sandwich isi telor mata sapi, isi keju dan tentunya Burger. Makanan aneh ini rupanya membuat saya jatuh cinta (didukung pula oleh embel-embel makanan ala barat yang bagi seorang anak kecil seperti saya waktu itu, ngerasa top banget bisa makan makanannya Mac Gyver, he….)

Burger baru jadi familiar terdengar setelah Gerai Mc Donalds menjualnya dengan harga PaHe 5 ribu saja, namun seringkali yang didapat adalah Burger yang PaHe juga, tanpa sayur, tomat maupun mayonaisenya… kadang sangat mengecewakan bagi saya, tapi dimana lagi bisa ngedapetin Burger dengan harga segitu ? Apalagi kalo inget-inget paket Big Mac dibanderol 20 ribuan kalo ndak salah. Harga mahal bagi kantong saya tentunya.

Lebih familiar lagi saat Burger dijual keliling dengan brand Top Burger. Harganya murah dikit dibanding milik McD, dan penampilannya juga gak jauh beda. He…. Begitu pula dengan Burger kering kerontang plus Sambal sachet Kokita yang dijual di toko-toko roti. Lama-lama males juga dengan penampilan Burger hemat yang segitu-gitu aja.

Setelah bekerja dan menghasilkan uang sendiri, keinginan buat menikmati roti ini timbul gara-gara kepincut Klenger Burger yang memberikan kenikmatan sebuah Burger (lengkap dengan irisan daging yang uenak, sayur, tomat dan Mayonaise hangatnya). Harganya dua kali lipat dibanding PaHe tadi. Gak ketinggalan Gerai Kebab Turki pun menyediakan Burger dengan harga yang lebih bersaing, dan secara pribadi, belum bisa ngalahin enaknya si Kelenger tadi.

Nah, ceritanya sehari usai upacara Otonan putri kami Selasa lalu, aku diminta mengantar ortu ke rumah duka seorang famili di daerah Pagan (perempatan jalan WR Supratman-Ratna-Plawa). Dengan tujuan awalnya buat nyari info kursus mengemudi yang kata si pemilik via telpon sebelumnya berada di dekat Circle K (kebetulan disebelah timur lokasi rumah duka). Eh, mata ini gak sengaja menangkap sebuah warung mini yang menawarkan Burger Double seharga 6 ribu saja. Wah, hasrat buat nyobain Burger jadi muncul lagi.

alo dibandingkan dengan Kelenger Burger, ya jelas kalah jauh. Tapi kalo mau dibandingkan dengan BurGer PaHe milik McD ataupun Top Burger ? Jelas jauh lebih memuaskan. Ini lantaran selain dua iris daging, ada juga sayuran segar, tomat dan mayonaise hangatnya. Walopun berbeda jauh dengan gambar Double Burger dalam Menu yang mereka berikan. Beda tebal daging (tentu saja, wong seharga 6 ribu), juga gak ada irisan Keju Kraftnya.

Setidaknya cukuplah dibanding Burger darurat made in sendiri, yang kalo lagi bokek tapi pengen makan burger, akhirnya nekat ngebeli sekaleng Mayonaise dioles pada roti tawar diisi saos ABC plus pengganti irisan daging dipakelah SoZis. Huahahaha….

OtoNan MiRah GayatRiDewi

7

Category : tentang Buah Hati

Akhirnya Datang Juga…. (nyulik tag acara teve)

Bisa jadi begitulah kata hati ini saat pagi tiba. Hari ini, 14 Oktober 2008 sesuai rencana adalah hari yang paling kami nantikan sebulan terakhir, Upacara Otonan putri kami, MiRah GayatRiDewi, sebagai rangkaian upacara setelah kelahirannya 18 Maret lalu. Dilakukan setelah usia putri kami menginjak 6 bulan dalam hitungan kalender BaLi.

Sesuai rencana pula, acara hari ini bisa dimulai tepat waktu yaitu pukul 11 siang. Hanya saja sanak saudara maupun teman yang datang tak sejumlah yang kami undang. Ini karena pada hari ini merupakan hari baik bagi umat Hindu di BaLi, yaitu Anggara Kasih Tambir bertepatan dengan Kajeng KliWon dan Purnama Kapat (keempat). Hari dimana umat melakukan pemujaan kehadapan Sang Hyang Ayu dan Sang Hyang Ludra, berharap atas Welas Asih-Nya, semua kekotoran didunia ini menjadi lebur. (Kalender Bali susunan IBG Budayoga)

Acara yang selain dihadiri sanak saudara, rekan kantor hingga beberapa teman kuliah di Arsitektur Udayana angkatan 95 dahulu, berjalan tanpa ada hambatan yang berarti, hingga rangkaian upacara boleh dikatakan lancar sesuai rencana pula.

Tampak pada foto-foto dibawah : (1) Suasana rumah setelah persiapan selesai ;

(2) BaBi GuLing yang dipesan 2 biji, satu ekor diberikan oleh Bli Putu ALit Suantara dan satunya lagi tentu dari Bapaknya MiRah, karena Otonan pertama ini jatuhnya bertepatan dengan Purnama ;

(3) Muspa memohon keselamatan bagi putri kami ;

(4) Canda tawa kami saat mendengar ocehan sikecil Mirah usai Muspa ;

(5) MiRah GayatRiDewi usai maen air di kolam kecil yang telah dipersiapkan sebelumnya berisikan dua ekor ikan, untuk mengambil cincin yang ditaruh didalamnya, dilanjutkan dengan masuk kedalam kurungan kecil ;

(6) Sesi medagang-dagangan dimana MiRah diceritakan berdagang dan pembelinya dari kakak-kakaknya maupun sanak saudara yang hadir, diharapkan agar si kecil murah Rejeki ;

(7) upacara dilanjutkan dengan persembahyangan di Perempatan Jalan memohon kerahayuan keselamatan Putri kami, dan diakhiri dengan cerita si kecil MiRah berbelanja kembali menggunakan uang hasil jualannya tadi.

Aaaah… Akhirnya selesai juga prosesi upacara hari ini, berharap putri kami dapat memberikan Cahaya yang baik bagi kami sekeluarga dalam masa depannya. Sehat selalu dan tentu Berbakti pada kedua orangtuanya.

I LoVe U my Baby

PerSiapan Upacara OtoNan MiRah GayatriDewi

Category : tentang Buah Hati

Sesuai rencana, mulai hari ini mulai ngambil cuti kantor yang masih tersisa 6 hari lagi. Ini dilakukan agar dapat berkonsentrasi penuh pada persiapan dan Upacara Otonan (pada usia 6 bulan Kalender BaLi) putri kecil kami, MiRah GayatriDewi, yang jatuh pada hari SeLasa besok, tepat pada PurNama Kapat (keempat) Anggarkasih KliWon.

Satu hari yang dianggap sangat baik bagi sebagian HinDu BaLi. Ini bisa dilihat dari banyaknya upacara yang dilakukan dengan mengambil hari baik ini. OdaLan besar hingga makta (membawa) Tipat Bantal bagi Pengantin baru. He…

Berhubung hari ini (Senin) masih merupakan H-1 nya, maka persiapan untuk jalannya upacara pun dilakukan sejak pagi, melanjutkan apa yang sudah dimulai hari Minggu kemarin. Diantaranya ngaturang (menghaturkan) PeJati ke beberapa Pura al. Pura Desa – BaLe Agung, Pura Ibu, Pura Dalem, Pura Taman, Griya Nak Lingsir PohManis hingga ke Pasih-Segara-Pantai.

Tak kalah sibuknya, dirumah pula dilanjutkan dengan mempersiapkan banten upakara yang dikomando oleh Ibu (neneknya MiRah), serta menghias meja untuk nantinya dipakai sebagai meja banten, meja makan hingga dapur darurat. He… tak lupa memasang Tenda (dipesan dari BaLi Sarana Dekorasi -0361 7441718) serta mempersiapkan kursi tamu (disewa dari BanJar Tainsiat).

Hingga waktu menunjukkan jam 8.30 malam, barulah semua persiapan ini selesai dilakukan dan diakhiri dengan makan bersama seluruh keluarga. Berharap esok, Upacara Otonan putri kami ini dapat berjalan dengan baik. SemoGa.

Huaaaahhh… Capeknyaaaa…

Susahnya jadi SingLe Parent

4

Category : Cinta, tentang Buah Hati

Setelah kelahiran putri kami Mirah Gayatridewi, sempat terpikirkan untuk mencarikan pengasuh saat kami tinggal kerja tiap harinya. Akan tetapi, orang yang pertama tak menyetujui pemikiran kami itu adalah Ibu. Beliau beralasan masih sehat dan kuat untuk menjaga dan merawat si kecil dirumah saat kami tak ada. Bila hari-hari biasa sih gak masalah, tapi yang dikhawatirkan pun satu saat akan tiba.

Selasa kemarin sesuai jadwal merupakan hari dimana upacara Pengabenan Nenek sebelah rumah, yang masih keluarga kami juga. Salah satu diantara kami berlima terpaksa mengorbankan kewajibannya untuk menjaga sikecil selama upacara Pengabenan dilaksanakan. Tentu saja itu aku. Karena Bapak Ibu dan Bibi sudah dipastikan harus hadir dalam upacara tersebut. Sedangkan Istri dengan terpaksa tak dapat tinggal dirumah demi mengurus/melengkapi syarat-syarat guna pengajuan SK CPNS yang baru saja diumumkan dan harus selesai per tanggal 9 nanti. So, jadi SingLe Parent nih ceritanya ?

Belajar dari pengalaman terakhir yaitu hari Senin kemaren, saat dirumah duka dilakukan upacara Mandusin dan Ngajum (Mejauman), kami berdua (aku dan Istri) setelah ijin permisi dari kantor, bertugas menjaga si kecil hingga malam tiba. Berhubung Istri melakukan kewajibannya membersihkan rumah (sore), mandi, mebanten dan lainnya, maka tugas untuk menjaga si kecilpun dilakukan sendirian saja. Syukur gak rewel.

Nah, kali ini aku bertugas dari pagi hingga Istri pulang dari mengurus kelengkapannya, sedangkan yang lain sudah berangkat kerumah duka.

Usai memberi maem pagi, si kecil langsung tertidur lelap dipelukan, apalagi ditemani oleh sayup-sayup instrumen Kecapi Degung dari MP3 Player yang memang disiapkan spesial untuk hari ini. Maka sambil nungguin si kecil bobo, masih bisa menyempatkan diri untuk makan pagi juga ngopi, sambil nge-Blogwalking tentu. He…

Lumayan lama si kecil tertidur, eh dia cek cing (-istilah kami untuk Pipis si kecil), dan membasahi semua pakaiannya. Lantaran sambil tiduran ia masih sempat guling-guling sebentar. Jadilah kerepotan mengganti baju atasnya dengan hati-hati agar ia tak sampai menangis.

Si kecil bangun dari tidurnya, kebetulan diluar lagi hujan. Maka untuk meredakan tangis si kecil, diajak nonton hujan yang kebetulan pula ini pertama kalinya ia melihat hujan. Lumayan bikin ia ketawa kecil sambil ngoceh.

Untuk mengisi perutnya, sambil ngasi mimik susu dalam botol dot yang baru selesai dibuat, gula batupun dilarutkan dalam air hangat untuk selingan si kecil nanti.

Eh si kecil sudah bersiap Pup rupanya. Dua hari ini ia memang blom sempat ngluarin pup-nya. Jadilah ini pengalaman pertama, menangani pup si kecil sendirian. Ugh susahnya. Syukur ia gak nangis saat dicebokin di aer dingin kamar mandi. Apalagi saat ngucek celananya yang terkena pup, sementara satu tangan megang si kecil. Seadanya aja dikucek-kucek….

Menemaninya bermain, guling-gulingan sambil memperhatikan ia belajar merayap mencapai pinggiran tempat tidur, ngoceh sambil sesekali merengek, membuat hati ini merasakan betapa beruntungnya kami sudah dikaruniai seorang putri yang sehat dan lucu.

Bersyukur banget sikecil gak serewel yang dikhawatirkan, dia mau aja dikelonin Bapaknya sambil ngliatin hujan turun, plus nyanyi lagu-lagu slow rock macam Firehouse, Eagles juga Bon Jovi. Sambil menunggu Ibunya pulang kantor.

Sejenak membayangkan betapa susahnya jadi SingLe Parent bagi sikecil seperti yang dilakoni banyak orang diluar sana. Apalagi kalo sambil bekerja…

MungiLnya Nokia 6120 Classic

Category : tentang TeKnoLoGi

Sejauh ini untuk me-review ponsel, penulis gak menganut paham seperti halnya Tabloid ponsel macam PuLsa dan SmS, yang demi menjaga independensi, ponsel dibeli sendiri dan bukan bantuan dari pihak vendor. Namun baru di-review setelah penulis berkesempatan memegang ponselnya secara langsung, entah dengan cara meminjam sebentar, dimintakan tolong atau milik sendiri (walopun dibeli second).

Maka keseringan review yang dihasilkan baru muncul, jauh setelah rilis ponsel secara resmi diluncurkan. Entah jadi basi bagi orang lain yang membacanya, tapi bagi diri sendiri, ini bisa jadi satu pengalaman baru dan dapat diarsipkan.

Kali ini ponsel Nokia seri 6120 Classic didapat saat si pemilik minta tolong dicarikan cara buat ngerekam suara seperti lagu ataupun nyanyian anaknya agar bisa dijadikan sebagai Nada Dering.

Ni ponsel rupanya punya form factor mirip ponsel Nokia N73 yang waktu lalu sempat pula di-review. Hanya saja punya spec warna layar yang jauh lebih tinggi, namun berdimensi lebih mungil, sehingga rasanya hanya pantas dipegang oleh tangan si wanita pemilik ponsel dibanding penulis. He… Jelas aja.

Keypad yang jauh lebih mungil dibanding Nokia N73 menyulitkan aksi pencat pencet terutama saat mengakses Menu mencari fitur Perekam, yang ternyata gak berfungsi. Sehingga wajar aja sipemilik kebingungan saat ingin melakukan perekaman suara.

Dengan layar yang juga lebih mini, namun konsentrasinya jauh lebih tinggi, masih memperlihatkan garis gradasi warna, sedikit mengganggu tentunya. Tapi kalo sekilas sih rasanya gak beda dengan ponsel seri N tadi. Bobotnya juga lebih ringan.

Kamera berkekuatan 2 MP, disematkan dibagian punggung, lengkap dengan self mirror dan flash tanpa autofokus, mengakibatkan hasil jepretannya mirip-mirip dengan ponsel cdma 6275i milik penulis, terlihat jelas bedanya kalo melihat hasil jepretan lensa Carl Zeiss milik Nokia N73. padahal rentang harga yang ditawarkan gak jauh-jauh banget.

Hiburan lain seperti musik player, ternyata ni ponsel cuma punya 1 buah speaker. Walopun bgitu, suara yang dihasilkan cukup jernih dibandingkan ponsel sejenis. Gak Mono istilahnya.

Koneksinya cukup lengkap, setara dengan Nokia seri N lainnya, Bluetooth dan sudah 3G pula. Kinerjanya gak lemot, karena kabarnya ni ponsel sudah disuntikkan prosesor 369 MHz setara dengan seri E90. plus kapasitas memory RAM dan ROM pula layaknya PDA Pocket PC. Jadi cukup pantas kalo dipake buat browsing dll. Sayangnya gak nyediakan fitur Wi-fi, padahal ponsel BenQ yang dibanderol lebih murah dengan OS Windows Mobile Smartphonenya sudah mengadopsi koneksi yang memerlukan free titik panas ini.

Ohya, beberapa keluhan mengatakan bahwa saat dilalukan aktifitas browsing, font yang terlihat malah kotak-kotak yang sebenarnya bisa diantisipasi dengan mengubah Bahasa yang dipergunakan, dikembalikan ke Default (Inggris).

Seri ini sering dikatakan sebagai ponsel kelas bisnis termurah, lantaran segudang fitur yang disediakan didalamnya, termasuk pula frekuensi Quadband yang artinya bisa dibawakan ke belahan negara manapun.

Satu lagi kekurangan yang paling disayangkan adalah kapasitas batere yang dibekali oleh Nokia, cuman 890 mAh. Yang tentu gak mampu menyediakan waktu Standby lama standar Nokia, disebabkan oleh layar yang 16 juta warna tadi serta kinerja prosesornya. Walopun diyakini gak banyak membantu, jika tak diperlukan koneksi Bluetooth juga 3G-nya bisa di-non aktifkan kok. Kali aja bisa manjangin dikit umur standbynya. He…

Eh, perekam suara Default yang gak berfungsi tadi rupanya memerlukan flash ulang lagi di Nokia Service Centre kali ya. Tapi kalo gak mau repot, installkan aja aplikasi ALon Dictaphone yang mampu merekam suara dengan kualitas MP3. Dijamin jauh lebih oke. J

Murah Meriah Masakan China

2

Category : tentang PLeSiran

Setelah jatuh cinta dengan masakan China di Depot Rama beberapa waktu lalu, kali ini nyobain Nasi Goreng Sosisnya Warung 67 di pertigaan pertemuan Jalan Nangka – Sandat, tepatnya sebelah barat Warung Rujak yang terkenal itu.

Sebetulnya menu NasGor sosis ini sudah familiar sejak masa SMA dulu, karena kakak cewek berlangganan disitu. Baru setelah punya hobi berburu tempat makan, jadi tau lokasi aselinya. Ternyata dekat rumah.

Dengan harga yang tergolong murah dan tentu saja lumayan enak, plus porsi besar, jadilah ni Warung salah satu alternatif tempat makan pilihan, utamanya kalo lagi nyekolahin motor buat ganti oli juga nyuci yang letak bengkelnya bersebelahan dengan warung 67 ini.

Yummy…