Susahnya jadi SingLe Parent

Setelah kelahiran putri kami Mirah Gayatridewi, sempat terpikirkan untuk mencarikan pengasuh saat kami tinggal kerja tiap harinya. Akan tetapi, orang yang pertama tak menyetujui pemikiran kami itu adalah Ibu. Beliau beralasan masih sehat dan kuat untuk menjaga dan merawat si kecil dirumah saat kami tak ada. Bila hari-hari biasa sih gak masalah, tapi yang dikhawatirkan pun satu saat akan tiba.

Selasa kemarin sesuai jadwal merupakan hari dimana upacara Pengabenan Nenek sebelah rumah, yang masih keluarga kami juga. Salah satu diantara kami berlima terpaksa mengorbankan kewajibannya untuk menjaga sikecil selama upacara Pengabenan dilaksanakan. Tentu saja itu aku. Karena Bapak Ibu dan Bibi sudah dipastikan harus hadir dalam upacara tersebut. Sedangkan Istri dengan terpaksa tak dapat tinggal dirumah demi mengurus/melengkapi syarat-syarat guna pengajuan SK CPNS yang baru saja diumumkan dan harus selesai per tanggal 9 nanti. So, jadi SingLe Parent nih ceritanya ?

Belajar dari pengalaman terakhir yaitu hari Senin kemaren, saat dirumah duka dilakukan upacara Mandusin dan Ngajum (Mejauman), kami berdua (aku dan Istri) setelah ijin permisi dari kantor, bertugas menjaga si kecil hingga malam tiba. Berhubung Istri melakukan kewajibannya membersihkan rumah (sore), mandi, mebanten dan lainnya, maka tugas untuk menjaga si kecilpun dilakukan sendirian saja. Syukur gak rewel.

Nah, kali ini aku bertugas dari pagi hingga Istri pulang dari mengurus kelengkapannya, sedangkan yang lain sudah berangkat kerumah duka.

Usai memberi maem pagi, si kecil langsung tertidur lelap dipelukan, apalagi ditemani oleh sayup-sayup instrumen Kecapi Degung dari MP3 Player yang memang disiapkan spesial untuk hari ini. Maka sambil nungguin si kecil bobo, masih bisa menyempatkan diri untuk makan pagi juga ngopi, sambil nge-Blogwalking tentu. He…

Lumayan lama si kecil tertidur, eh dia cek cing (-istilah kami untuk Pipis si kecil), dan membasahi semua pakaiannya. Lantaran sambil tiduran ia masih sempat guling-guling sebentar. Jadilah kerepotan mengganti baju atasnya dengan hati-hati agar ia tak sampai menangis.

Si kecil bangun dari tidurnya, kebetulan diluar lagi hujan. Maka untuk meredakan tangis si kecil, diajak nonton hujan yang kebetulan pula ini pertama kalinya ia melihat hujan. Lumayan bikin ia ketawa kecil sambil ngoceh.

Untuk mengisi perutnya, sambil ngasi mimik susu dalam botol dot yang baru selesai dibuat, gula batupun dilarutkan dalam air hangat untuk selingan si kecil nanti.

Eh si kecil sudah bersiap Pup rupanya. Dua hari ini ia memang blom sempat ngluarin pup-nya. Jadilah ini pengalaman pertama, menangani pup si kecil sendirian. Ugh susahnya. Syukur ia gak nangis saat dicebokin di aer dingin kamar mandi. Apalagi saat ngucek celananya yang terkena pup, sementara satu tangan megang si kecil. Seadanya aja dikucek-kucek….

Menemaninya bermain, guling-gulingan sambil memperhatikan ia belajar merayap mencapai pinggiran tempat tidur, ngoceh sambil sesekali merengek, membuat hati ini merasakan betapa beruntungnya kami sudah dikaruniai seorang putri yang sehat dan lucu.

Bersyukur banget sikecil gak serewel yang dikhawatirkan, dia mau aja dikelonin Bapaknya sambil ngliatin hujan turun, plus nyanyi lagu-lagu slow rock macam Firehouse, Eagles juga Bon Jovi. Sambil menunggu Ibunya pulang kantor.

Sejenak membayangkan betapa susahnya jadi SingLe Parent bagi sikecil seperti yang dilakoni banyak orang diluar sana. Apalagi kalo sambil bekerja…

pande

hanyalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang sangat biasa, mencoba hadir lewat tulisannya sebagai seorang blogger yang baik

4 thoughts on “Susahnya jadi SingLe Parent

Comments are closed.