Melawan Kehendak ALam

Category : tentang KeseHaRian

Kata orang Bijak, Manusia hanya bisa berusaha, alamlah yang mengaturnya. Mengapa ? karena kekuatan manusia itu bisa diukur, namun kekuatan alam siapa tahu ? Sebaliknya, belakangan ini manusia seakan lupa akan petuah bijak itu. Manusia berusaha mengatur alam.

Tanah di-bor tanpa perhitungan matang dan hanya dengan mengandalkan kekuasaan serta koneksi, mampu membungkam lingkungan sekitarnya dengan sejumlah uang. Apa daya, alam berkata lain. Lumpur Lapindo, hingga kini belum jua tuntas semburannya, makin meluas hingga meluberi daerah sekitarnya yang barangkali tak tahu apa-apa saat para petinggi menerima uang sogokan demi sebuah ambisi kepentingan satu dua kelompok.

Alam dengan seenaknya pula dieksploitasi. Hutan hujan dibabat atas nama produksi dan sebuah kemapanan. Setelah gundul, lantas lari meninggalkannya dan mengakibatkan longsor pada daerah perkampungan yang berada disekitarnya.

Senjata kimia diproduksi, bahan-bahan lainnya pun digunakan sewenang-wenang, padahal mungkin manusia tak mampu menggantikannya, paling tidak untuk jangka panjang. Maka isyu melebarnya lubang ozon pun makin kencang terdengar.

Manusialah yang menjadi satu penyebab utama terjadinya pemanasan global belakangan ini. Cuaca pula sudah berubah, sehingga buku-buku Geografipun sudah sepantasnya direvisi. Tak ada lagi kepastian kapan musim hujan terjadi, karena saat kemaraupun hujan mampu memendungkan langit dan mengguyurkan airnya pada sekian juta orangyang tak siap mengantisipasinya. Banjir bandang.

Belum puas dengan itu semua, hingga kelahiran bayi pun hari ini bisa dimanipulasi. Orang tua berusaha mencarikan hari baik untuk kelahiran anak mereka baik dari Primbon maupun tinjauan lainnya, sehingga tinggal meminta dokter untuk mengoperasi kandungan dengan segera agar sang anak bisa lahir pada hari yang diharapkan oleh orang tuanya.

Padahal setiap kelahiran barangkali sudah membawa hari lahirnya sendiri, yang bakalan menentukan wataknya kelak.

cerita-bulan-ini-2.jpg

Mungkin esok Alam bukan lagi penentu jalan hidup umat manusia. Karena manusia masih tetap berusaha mematahkan kehendak alam…

Menjadi PNS yang tak berotak saja deh…

8

Category : tentang Opini

Huuh… dua minggu ini helaan nafas berat rasa-rasanya seringkali aku rasakan, lantaran efek dari tulisan guoblokku tentang pemberitaan di media Radar Bali, Februari lalu, ternyata direspon dengan amarah oleh Wartawan-wartawan Radar Bali, per awal September kemaren.

Tulisan itu lahir dengan segera setelah artikel yang naik di media cetak Radar Bali perihal Drainase Kuta jalan Dewi Sri dikatakan mangkrak dan terbengkalai, karena tidak tampak ada aktifitas pekerja dilokasi yang tampak pada gambar.

Efek pertama yang aku rasakan waktu itu adalah teguran atasan berkaitan dengan ‘tidak tampaknya aktifitas pekerja dilokasi proyek’, ‘Memangnya kamu kemana saja selaku pengawas pelaksana dilapangan, Nde ?’. Sempat pula memunculkan ketidakpercayaan atasan pada kinerja stafnya ini…

Namun seiring waktu berjalan, toh dibuktikan juga kalau ternyata pekerjaan selesai tepat waktu dan sesuai rencana. ‘Sesuai rencana’disini ya seperti yang terlihat dilapangan per hari ini, lantaran alokasi dana yang didapat untuk pekerjaan ini sangat minim, ya mampunya hanya segitu.

Yang paling membuat para Wartawan itu tidak terima ya, perihal kata-kata dalam tulisan yang mengatakan bahwa ‘ada wartawan Radar Bali yang minta uang pada atasan dengan ancaman bakalan menaikkan berita negatif ke media cetaknya. Ada tiga orang yang ngasi komen keberatan di BLoG, Bli Gupta, Bli Sudarsana Putu dan Bli Feri selaku penulis berita di koran tersebut.

Tapi itu benar adanya kok. Hanya saja aku gak punya bukti lebih mendetail tentang siapa yang datang, karena satu-satunya bukti ya ID Card Radar Bali aja. Mungkin kalo waktu itu bisa didetail lagi dengan nama dan ciri-cirinya barangkali saja posting yang dahulu itu bakalan dianggap berkualitas sama dengan media cetak koran. Yah, namanya juga PNS. Gak tau banyak etika penulisan. He…

Hanya saja belakangan ini baru terpikirkan, bagaimana kalo ternyata itu bukan Wartawan Radar Bali asli, dalam arti ya Gadungan dengan membawa ID palsu. Seperti sindikat yang mengaku anggota KPK yang ditangkap beberapa waktu lalu ? alur ceritanya sama kan ? pejabat diancam untuk mendapatkan sejumlah uang. Yah, barangkali aja PNS-nya gak berotak’. He…

Kalo itu benar, berarti tulisan yang aku posting bisa dianggap memfitnah orang, dan itu berarti hukum yang bakalan berjalan. So, daripada masalahnya jadi panjang ya, kuhapus saja posting tersebut.

Rupanya masalah gak berhenti disitu. Untunglah Om Anton berinisiatif menjadi mediator dan langsung ngobrol via YM hari Senin siang lalu, mengkonfirmasi pertanyaan Bapak Hari Puspita tentang siapa sih Bli Pande itu ? PNS Guoblok yang nekat nulis dan memfitnah wartawan Radar Bali. He… Barangkali karena melihat saya ikut serta jadi kontribusi Bale Bengong, makanya Om Anton lah yang paling pertama ditanyakan.

Agak gak enak juga dengan Om Anton, berhubung Beliau itu kan mantan Ketua AJI, tempat ngumpulnya Jurnalis ? apalagi yang ngajak gabung di BBC kan Beliau juga. Khawatir kalo Beliau dikait-kaitkan. Padahal kalo mau dirunut kebelakang, Februari itu aku blom masuk secara resmi di BBC. Dan media nulisnya waktu itu juga blom pake Domain sendiri. Masih iseng-iseng, toh gak ada yang baca.

Menuliskan unek-unek akan ketidakpuasan media dan Wartawan agaknya menjadi pelajaran bagiku pribadi. Seperti bom waktu, tinggal nunggu meledak aja. Sebaliknya dengan media sebegitu bebasnya mereka menulis perihal kebobrokan Pemerintah yang sayangnya merupakan mimpi terburuk negeri ini. Kebebasan berbicara dan berpendapat kata mereka. Jadi sah-sah aja kalo ngritik Pemerintah yang memang beneran bobrok.

Memang, satu-satunya harapan pada media cetak dan para Wartawannya hari ini adalah, mereka mau menuliskan sesuatu hal/berita di media setelah mengkonfirmasi terlebih dahulu ke Narasumber. Misalkan saja dalam konteks Drainase diatas ya Pelaksana dilapangan. Bener gak sih gak ada aktifitas ? tapi berhubung waktu dari para wartawan itu serba cepat seperti kata si Richard Gere dalam film Runaway Bride, mungkin menganggap mubazir kalo sampe membuang waktu menanyakan hal tersebut. Toh apa yang ditulis jauh lebih menjual.

Jangan sampe kebablasan kayak berita entah tanggal berapa, saya juga lupa, bahwa si Wartawan udah mengkonfirm perihal proyek ke Kepala Dinas Bina Marga dan Pengairan, Ir. I Ketut Suwandi dan mengeluarkan statemen bla bla bla… Tapi kalo dicermati, Kepala Dinas Bina Marga waktu itu kan sudah diganti oleh Ir. IB Soerya sejak setahun sebelumnya ? sedang Ir. Ketut Suwandi malah memimpin Cipta Karya. Apa ini tidak menggelikan ? Tentu yang jauh lebih menggelikan lagi, ternyata si atasan tidak pernah mengeluarkan kata-kata tersebut pada siapapun. Nah, kalo sudah begini bagemana dong ?

Mungkin penulis memang baiknya banting setir aja.Percuma berusaha bersikap jujur dan disiplin dalam bekerja, toh image PNS takkan berubah dimata media. Tetap negatif. Jadi apapun yang dilakukan ya gak pernah dapet tempat dihati mereka. Tapi itulah resikonya. Ngapain juga mau jadi PNS yang imagenya udah sangat bobrok dimasyarakat ?

Banting setir jadi PNS yang tidak berotak.

Yang ngantor siang, yang kerjanya ngobrol dan maen gim Poke juga Bola-bola atau Bounce, hahahaha… Yang ngitungin Togel pas jam kerja, yang suka mbolos usai jam makan, atau yang malah sering absen tapi rajin ngambil gaji pas tanggal satu.

Isi postingpun barangkali ya kisaran hobi dan keseharian saja, hal-hal yang gak penting. Barangkali bersenda gurau dengan malaikat kecilku, yang begitu lucu dan menggemaskan, daripada pusing mikirin orang lain. Toh amplop proyek jauh lebih nikmat…

Barangkali itu pilihan terbaik yang saya bisa lakukan. Semoga Radar Bali dan para Wartawannya gak bosan mengkritik PNS-PNS yang tak berotak seperti saya ini. Salam Damai. Piss…

Akhirnya Internet MobiLe setelah 5 Tahun

4

Category : tentang TeKnoLoGi

Sesuai judul posting diatas, ternyata penulis baru berani mencoba yang namanya Internet Mobile setelah tahun ke-5 pemakaian teknologi Mobile (start at 2003, kepemilikan ha pe pertama).  Ini nyatanya dilakukan secara pelan tapi pasti, setelah pernak-pernik media dimiliki serta pendukungnya berupa pengetahuan akan proses serta tips-tips praktis akan Internet Mobile, diketahui. ‘berarti selama ini aku ngapain aja yah ?

5 tahun. hmmm.. waktu yang sangat lama dan panjang untuk sebuah kemajuan (baca: keberanian) mengunakan teknologi. He… mohon untuk dimaklumi. Awal keberanian ini tentu dimulai setelah cita-cita kepengen punya laptop tercapai. ‘at last di usia 30 baru bisa. Hihihi…- Dikompori pula oleh rekan kantor buat nyobain Internet secara mobile –gak terpaku pada Telkomnet Instant di kabel telpon rumahan lagi- Horraayyy– make Modem StarOne SpeedUp tentunya.

Puncaknya apalagi kalo bukan Wifi-hunting, buat nyalurin hasrat laptop baru, secara kebetulan didukung pula oleh milis BBC yang hobi buat hunting Free Wifi. He… Maka aktifitas BLoG-pun belakangan mulai bisa dilakukan dimanapun berada. Saat nunggu di dokter gigi, saat bengong di meja kantor sampe duduk santai di teras rumahpun bisa.

Secara kebetulan pula, mimpi punya PDA akhirnya tersalurkan setelah menunggu waktu setahun. Walopun dapetnya barang second, tapi gak penting banget, toh dengan harga yang murah dan sudah Wi-fi pula.

Ini juga yang menyebabkan kenekatan buat nyobain internet sembunyi-sembunyi kemaren via Wi-fi, cara praktis dan aman buat nyobain koneksi Wifi ditempat-tempat tertentu tanpa resiko ketahuan. Coba kalo mejeng make laptop, dijamin langsung ketangkep.

Namun tak selamanya akses Wi-fi bisa ditangkep dengan bebas, sehingga memicu keinginan buat nyobain akses GPRS via operator GSM yang pilihannya jatuh ke IM3 Indosat setelah kecewa dengan layanan AXIS. Tanpa pengaturan macem-macem lagi, langsung bisa dipake buat nge-Net.

Nah, satu kehormatan pula saat BLoG dikunjungi rekan sesama Blogger yang tingkatannya, huuuu… Jauh tinggi diatas awan, ngasi solusi keren buat nampilkan BLoG di layar PDA yang se-uprit, dengan menginstalasi Plug ins WP-Mobile. Terima Kasih bangetz Om Brokencode

Maka per minggu kemaren pula, tampilan BLoG bisa mulai nampang di layar PDA yang se-uprit itu, walopun hanya dalam bentuk mirip-mirip RSS Reader. Tapi cukuplah buat ngobatin kangen pada BLoG kala bertapa di Toilet. Huweeeek !

5-tahun-internet-mobile.jpg

Jam-jam terakhir sebelum posting ini dibuatpun, masih disempatkan nyobain Yahoo Messenger via PDA, ini sih sekedar gaya-gayaan aja, cuman buat ngomporin rekan kantor yang begitu bangga dengan ponsel TV berlayar sentuhnya. Sempat dicobain pula dengan Om Anton, sayangnya sampe detik in i blom sempat dicobain lebih detil.

At Last tadi malem sempat juga iseng nyobain Free Wifi-nya Tiara Grosir, berbekal PDA ini ajah. Karena dari pengamatan terakhir, kok ndak ada yang aken ngebawa laptop buat ngerasain gratisan ini. Eh, ternyata kecele…

Kemaren itu ada sekitar empat meja yang diisi pengguna komputer jinjing, bahkan ada satu meja yang diisi tiga biji laptop mirip milik pribadi. He.. rata-rata pada dimanfaatin buat nge-BLoG. Ah, tau gitu tadi kan dibawa aja laptopnya.

Anywe, sudah kadung ngebawa ni PDA, yah iseng aja dicobain buat ngeliat peta via Google Earth, yang ternyata untuk konsumsi Mobile diarahkan langsung ke Google Maps buat nge-donlot dulu Softwarenya yang seukuran 700-an Kb, sukses dalam hitungan detik. Maka jadilah keinginan buat surfing peta Kuta Bali via layar PDA dengan manfaatin Free Wifi-nya Tiara Grosir, yang rencananya bakalan dipamerin ke rekan-rekan kantor. Eh, barang second murah ini ternyata bisa nyari peta Kuta juga loh… Wakakakakakk..

Gak semua Mahasiswa itu berpendidikan

7

Category : tentang KeseHaRian

Pandangan masyarakat awam, status seseorang sebagai mahasiswa seringkali diidentikkan sebagai seseorang yang senang mempelajari sesuatu untuk lebih berguna bagi masa depannya. Entah apakah itu mempelajari materi textbook pada bidangnya, praktek angsung ataukan malah loncat tembok ke bidang lain. Mahasiswa juga kerap dipandang sebagai orang yang berpendidikan sehingga kadang dianggap jauh lebih terhormat dibanding mereka yang langsung kerja tanpa sempat menyandang status mahasiswa. Tapi ternyata gak semua mahasiswa tuh bisa dikatakan berpendidikan. Minimal tahu aturan dah..

Seperti yang penulis alami saat mbayar uang SPP di Bank Mandiri. Yang secara kebetulan terjadi antrean dan sistemnya masih konvensional blom semodern bank BNI maupun BPD dalam hal urutan antreannya.

mahasiswa.jpg

Yang membuat heran ya terlihat mahasiswa-mahasiswi (Udayana) malah numplek mengerubungi loket sampe menutupi pandangan para pengantri lain, dengan alasan suara panggilan tak terdengar jelas. Jadi kuping mereka harus nempel dekat loket hingga menyulitkan pengantri lain untuk ikut mendengarkan.

Memang, sistem sebuah bank sebesar Mandiri blom mampu memberikan pelayanan maksimal sehingga baik antrean yang banyak dan suara anggilan yang tak terdengar jelas, namun jangan sampe karena satu kepentingan, para anak muda yang menyandang status mahasiswa lantas bersikap arogan dengan berkumpul didepan loket sehingga menyulitkan orang lain disekitarnya.

Jadi lucu saat melihat ara mahasiswa-mahasiswi yang berpenampilan keren, necis dan gaul ini berperilaku seperti orang yang tak paham ‘Antre’. Mubazir banget terlihat begitu smart tapi nyatanya gak tau aturan. Wah…

Mengasah otak kala senggang dengan Ponsel

Category : tentang KHayaLan

Yang namanya ponsel minim pasti dimiliki oleh setiap orang yang ada dinegeri ini. Lantaran harga yang udah murah, tuntutan keseharian maupun sekedar gengsi.

Ponsel selain merupakan alat komunikasi, sharing dengan konco juga pacar saat jauh-jauhan, digunakan pula untuk hiburan baik mendengarkan musik, menonton video (porno of course), koleksi foto (pacar maupun diri sendiri-Narsis), dan juga bermain games.

Walopun tak semua ponsel dapat melakukan fitur hiburan tambahan diatas, tapi yang paling minim dijamin ada ya fitur Games-nya. Ragamnya beraneka (kebolak-balik, he…), dari games yang jadul (lantaran ponselnya masih layar dua warna alias item putih) maupun yang udah nyaman dimata (ponsel warna dan layar lega). Tapi memang gak semua games menarik untuk dimainkan saat senggang, jangan-jangan malah bikin otak tegang (asal jangan main games yang ada kata ‘strip-porn-girls-chick’ dll). He…

Dari sekian banyak games sebetulnya selain Brain Genius seperti yang pernah Penulis ceritakan sebelumnya, ada satu lagi games yang kalo boleh Penulis katakan sangat berguna kala senggang. Terutama di waktu-waktu menunggu.

Brain Juice. Games karya Digital Chocolate ini mengambil cerita mirip dengan Brain Games diatas, yaitu untuk mengasah otak juga mata, dan hasilnya selalu direkam untuk menunjukkan kemampuan olah pikir dan kecepatan tiap kali main games ini.

brain-juice.jpg

Games yang dikemas secara menarik dalam format Java (rata-rata ponsel warna pasti bisa mainin games ini), mengambil bentuk permainan warna, bentuk hingga ke angka. Tentu dengan tingkat sederhana saja, untuk mengukur seberapa tinggi ingatan juga kecepatan mata pemain.

Walopun games ini tergolong games mengasah otak, tapi tak melulu membosankan kok. Karena selain test Daily (bisa dicoba setiap hari dengan porsi kesulitan yang berbeda), ada juga menyediakan trainingnya dari tingkat kesulitan terendah tentunya sesuai keinginan. Untuk melatih pemain sebelum melakukan Test Daily tadi. Seru kan ?

Setelah Bola-bola Datanglah Poke

10

Category : tentang KHayaLan

Judul posting diatas, bukan maksud penulis mengundang pornografi, lantaran pernah terdengar permintaan untuk mengharamkan-melarang satu games juga film anak-anak yang memuat kata Poke yaitu pada Pokemon.

Ya, Pokemon. Itu maksud kata Poke pada judul diatas. Poke disini penulis maksud adalah sebuah games berjenis puzzle, yang mengambil tokoh-tokoh monster dalam film tersebut dijejer dalam kotak-kotak kecil 16×9 grid, dimainkan dengan mencari gambar yang sama, dari sisi luar terdahulu, untuk membuka jalan gambar tokoh yang ada disisi dalam.

Games Poke ini dikemas dalam satu file exe tanpa perlu diinstalasi lagi, berukuran 713 Kb saja. Mengambil ide dari games Taipei pada Entertainment Pack versi Windows 95 terdahulu.

poke.jpg

Games Poke ini kabarnya dikenal turun temurun pada satu instansi Pemerintahan sejak dahulu kala (hihihi…), sebagai salah satu games penguras otak, lantaran selain harus berpacu dengan waktu pula hanya memberikan 7-9 kali kesempatan mengubah susunan puzzle-kotak, saat permainan mentok (tak ada yang sama disisi luar) dan dilakukan otomatis oleh programnya sendiri.

Namun kalo mau ditelusuri, agaknya games Poke bukanlah games yang paling fenomenal berada di komputer kantoran instansi Pemerintahan (selain Virus tentunya. He…). Ada satu games sederhana, yang dikenal sebagai Bola-bola, padahal title aslinya adalah Magic Lines, sudah dimainkan malah jauh lebih dulu sebelum Games Poke dikenal. Bagi yang freak games jaman dulu, pasti tau tipe games kayak gini. Jadi wajar banget kalo rata-rata para pegawai negeri pasti kenal ato pernah denger dan bisa main games Bola-bola ini. He…

magic-linesz.jpg

Mengadopsi bentuk bola yang disusun sedemikian rupa menggabungkan minimal 5 biji bola dalam satu garis lurus, tentu dengan tantangan yang gak kalah seru, yaitu setiap satu kali pemindahan bola, maka ada dua biji bola yang muncul disembarang tempat. Grid permainannya sendiri kalo ndak salah 9×9. jadi musti punya strategi tersendiri agar bola-bola yang muncul, gak sampe menuhin grid kosong, hingga Game Over.

Tantangan lain dari games ini adalah makin tinggi levelnya, makin beragam warna bola yang tampil dan bola yang muncul akan bertambah menjadi tiga bola sekaligus. Wow…

Ngomongin kebiasaan maen games di pc kantor Pemerintahan bukan hal baru lagi. Tapi jangan harap bisa menemukan games bergrafis tinggi dengan tingkat kesulitan Expert. Yah, cukuplah seperti dua games diatas. Wong waktu buat maen games kala luang itu bisa dikatakan nomor kesekian setelah ‘ngobrol ngalor ngidul, ‘nonton gosip dan nge-gosip, ‘Togel dan juga ‘kabur short time.  Hehehe…

Tarif Telpon GRATIS mulai pukul 24.00

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Iklan tarif telpon seluler dari para operator kayak judul osting diatas, kerap kali jadi tajuk berbau promo yang gencar dilakukan untuk menarik minat pelanggan lama maupun baru. Tapi hey, kenapa musti dari jam 12 malem sampe jam 6 pagi ? Jujur aja, iklan kayak gini kesannya membodohi konsumen banget. Emang dari sekian juta pelanggan mereka, berapa persen sih yang punya hobi dan kesempatan buat melakukan komunikasi jam segitu ? barangkali mereka yang dapet tugas jaga aja seperti iklan salah satu operator hingga memanfaatkan jasa satpam lingkungan buat mukul kentongan, sekedar ngingetin tarif gratis sudah bisa dipake.

Jelas saja promo tarif gratis kayak begini seakan makin memperjelas, hilangnya etika sopan santun masyarakat dalam melakukan interaksi sosialnya. Siapa sih yang mau digangguin jam segitu buat nelpon ? selain yang dapet tugas jaga tadi barangkali cuman pasangan yang sedang kasmaran hot-hot aja berminat meluangkan waktu mesra-mesraan jam segitu.

tarif-seluler.jpg

Tentu jauh beda dengan jaman sebelum seluler menjadi trend, dimana masih dikenalnya etika orang menelepon, apalagi kalo yang dihubungi itu orang yang disegani, dosen pengajar misalnya, atau bahkan calon mertua. Hohoho… Bakalan kena semprot kalo sampe nelpon kelewat malem. Sayangnya, ada banyak keluhan masyarakat perihal efek daripada iklan promo kayak gini seperti lemahnya sinyal bar yang didapat, atau sinyal yang kuat tapi gak mampu menghubungi rekan mereka atau malah mendadak putus saat melakukan komunikasi. Kalo udah kayak gini konsumenlah yang jadi korban.

Entah kapan para operator bakalan mau memperhatikan kualitas layanan mereka ketimbang janji-janji promo Gratis nelpon atau bicara sepuasnya…

Semangkuk Mie Ayam dan Free Wi-fi

20

Category : tentang KHayaLan

Tergelitik membaca blog dari rekan Blogger milik Bli Ian dkk, yang kecewa dengan pelayanan Orange Bakery atas banner guede Free Wi-fi-nya yang musti bayar sangu 25 ribu dulu per orang. Dimana ntu tempat merupakan salah satu favorit dari seorang rekan kerja, Bli Oka Parmana buat nge-net menggunakan laptop barunya.

Cerita itu pula membuat penulis makin tertantang buat nyobain fitur Wi-fi yang ada di PDA O2 Atom kmaren, lantaran berkali-kali dicoba disepanjang Jalan Kamboja (yang katanya ada free Wi-fi-nya), tetep gak berhasil. Yang terdeteksi malah Hot-spot-ne Tiara Kuta, tapi gak bisa dipake browsing, sampe-sampe agak-agak curiga dengan fitur Wi-fi milik ni PDA, Jangan-jangan malah boongan

Maka hari Rabu malam, sepulang kuliah awal semester ketiga ini (mumpung masih jam 7an), penulis menyempatkan diri mampir ke Warnet yang ada fasilitas Wi-finya, terdekat dari kampus, yaitu Rainet disebelah utara Masjid An-Nur jalan Diponegoro. Resminya sih, tarif Wi-fi disini per-jamnya kena charge kalo ndak salah 4ribuan. Tapi penulis memilih tempat dikomputer biasa (dengan tarif 2ribuan untuk tiga puluh menit pertama) sambil diam-diam mengaktifkan Wi-fi di PDA sekedar ingin tau bisa disambungin apa enggak. Eh, ternyata bisa.

Ohya, kenapa penulis memilih tempat ini karena cuman Warnet inilah yang memberikan akses Wi-Fi tanpa harus memasukkan kode password seperti halnya Warung Kopi Renon ataupun Warnet di Tanjung Bungkak. Maka waktu tiga puluh menitan pun dilewati dengan nyobain akses internet via Wi-fi (nengok blog sendiri, penasaran tampangnya kayak apa dilayar PDA yang seuprit) sambil berlagak sibuk Blog Walking ke beberapa rekan Blogger, kayak Om Anton, Om Wira dan Pak Dokter Cock.

pande-blog.jpg

Nah, blom usai jatah tersebut, penulis memilih out dari Warnet sembari membayar tarif 2 ribu tadi dan dengan pedenya melangkah keluar menuju rombong penjual Mie Tek-tek yang kebetulan bersebelahan dengan Warnet ini. Tentu tetap melanjutkan aktifitas browsing sambil nungguin mie siap saji. Ternyata aksesnya masih tetep kuat, dan tetep diam-diam.

Gak nyangka, selama setengah jam penulis berhasil nyobain internet kesana kemari menggunakan akses Wi-fi curian ini sambil menyantap semangkuk Mie Ayam. Jadi mengkhayal, besok-besok nyobain lagi gak ya ?

semangkuk-mie.jpg

Hanya saja perbuatan tercela ini, mengingatkan penulis pada berita di koran Jawa Pos tempo hari dihalaman depan, perihal hasil survey yang mengatakan bahwa sekelompok orang pernah melakukan pencurian koneksi internet secara diam-diam. Wah wah wah… sepertinya hasil survey tersebut jadi bertambah satu lagi nih, jumlahnya.

Secara gak langsung pula penulis agak mempertanyakan embel-embel ‘Baik’ yang penulis gunakan selama ini. Semoga cukup malam ini saja nama penulis berubah menjadi Pande (tidak) Baik. He… Kayak posting AXIS aja nih.

Telat 5 menit tak apa kan ?

3

Category : tentang KeseHaRian

Melintasi jalan raya apalagi pada ruas jalan besar seringkali ditemui orang-orang yang seenaknya melajukan kendaraannya tanpa memperdulikan keselamatan orang yang dilalui maupun bakalan berpapasan dengannya. Paling terburuk biasanya sih terlihat pada perhentian lampu lalu lintas (traffic light), dimana pada beberapa titik tertentu, entah si pengendara memang sudah hafal dengan situasi giliran lampu merahnya ataukah memang cuek dengan marka jalan yang sudah dibuat sedemikian rupa untuk mengatur laju lalu lintas dua arah.

telat-5-menit.jpg

Pengendara (biasanya sih) bermotor terlihat menghentikan lajunya pada lajur ruas jalan yang sedianya dilalui oleh kendaraan dari arah berlawanan, melebihi batas garis marka blok putih lurus. Artinya seumpamanya saja ada hal-hal emergency yang melintas dadakan, dan harus melalui lajur jalan tersebut, apakah pengendara tersebut bisa mempertanggungjawabkan kelakuannya tadi ?

Malah bisa-bisa si pengendara mencaci maki seperti halnya hari sabtu pagi kemarin, di perempatan jalan Kebo Iwa -Gatsu Barat saat Ambulance untuk orang sakit yang terpaksa melanggar lampu merah dari arah berlawanan langsung menerobos rombongan para pengendara ndablek. Malah dengan soknya caci maki para pengendara terdengar di telinga penulis, yang waktu itu menjadi supir pulang ke kampung Istri, dengan mengatakan sopir Ambulance gak tau aturan apa…

Lha, siapa yang salah toh ?

Pembenaran perilaku para pengendara motor tadi rupanya gara-gara mereka telat ngantor.

Lha, dia yang telat ngantor kok malah nyalahin orang lain, bukankah lebih baik telat dikit daripada membahayakan nyawa orang lain, ya gak ?

AXIS GSM yang (tidak) Baik

8

Category : tentang TeKnoLoGi

Ini satu pengalaman pahit penulis saat ‘Jeg sube lebihan gaya’ (translatenya- sok gaya) gara-gara mantengin PDA O2 XDA Atom, walopun sudah berfitur Wi-fi, rasanya kurang lengkap kalo blom bisa dipake nelpon. He… jadilah nekat nyari kartu perdana GSM lagi, buat tampil dilayar lebar PDA. Pilihannya ?

Bukan lantaran memiliki ID PandeBaik, lantas memilih AXIS GSM yang Baik (NB: ID PandeBaik lahir sejak tahun 1995 lho ya, jadi jangan mengira niru-niru AXIS) , tapi lantaran pengen nyicipin akses datanya yang tergolong murah meriah semurah Starone yang kuota 1 GB. Kalo ndak salah seribu rupiah untuk pemakean volume 10 MB. Tentu jauh lebih murah dibanding Starone yang matok harga 300 rupiah untuk kelebihan pemakaian per 1 MB-nya.

But, apa kata Dunia ?

axis.jpg

Setelah nyobain Registrasi dari Kuningan sabtu pagi, sampe hari Minggu sore blom jua berhasil yang dengan terpaksa dipertanyakan ke operator Axis saat itu juga. Jawabannya sungguh aneh, untuk Registrasi kartu diminta memakai ponsel biasa (bukan tipe PDA). Trus ikuti saja prosesnya dahulu baru dipindahkan kembali. Oke deh…

Ternyata begitu menyalakan, proses registrasi yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Langsung saja konfirmasi Registrasi kartu, Sisa pulsa dan Setting akses Data/WAP segera diberikan dan ditindaklanjuti jika perlu dengan mengetikkan data apa yang diinginkan spasi brand ponsel dan tipe.

Namun sayang seribu sayang untuk Setting akses Data tidak dapat dikonfirmasikan, lantaran brand PDA O2 XDA Atom sama sekali tidak dikenali oleh pihak AXIS. Sebaliknya saat dicoba dengan tipe Nokia N73, langsung saja sms konfirmasi yang harus dibuka dengan PIN segera meluncur satu persatu.

Masih dalam suasana kekecewaan, ternyata Operator AXIS tak tercantum dalam Option O2 Auto Configurator, bisa dimaklumi lantaran PDA ini lahir pada saat pasar operator masih dikuasai oleh Telkomsel, XL dan Indosat. Jadilah setting GPRS secara manual tak dapat dilakukan.

axis2.jpg

Yang paling menyebalkan dari AXIS yaitu saat dicoba menghubungi nomor baru ini dari ponsel Istri (Telkomsel-Nokia N73) maupun handset sendiri (Flexy-Nokia 6275i), nomor yang masuk tak dapat dikenali sehingga hanya menampilkan nomor tanpa menunjukkan nama. Padahal daftar Contact sudah tercopy sama dengan kedua handset tadi -tersimpan pada PDA-.

Berbeda hasilnya saat dilakukan percobaan dengan kartu Simpati Telkomsel milik Istri (dimasukkan ke PDA) yang sukses menampilkan nama si penelepon saat dilakukan panggilan dari handset dan nomor Flexy ke PDA tersebut.

Namun masalah ini akan terselesaikan apabila daftar Contact tadi dicopy dahulu ke kartu AXIS yang sayangnya tak dapat menyimpan satu nama dengan multiple choice (nomor-alamat-email dll) sama halnya dengan kartu lain. Bakalan mubazir kalo sampe disimpan dengan cara lama lagi. Si A Rumah, Si A HP, Si A Kantor. Waaahh…

Artinya nomor AXIS benar-benar tak mampu memberikan dukungan yang memadai pada handset PDA sebagaimana layaknya nomor Simpati Telkomsel misalnya. Mungkin benar kata mbak Operator, bahwa untuk memakai nomor AXIS dengan baik dan benar, sebaiknya pengguna dalam hal ini konsumen AXIS menggunakan handset ponsel yang umum dipakai, seperti Nokia misalnya.

Blom lagi sinyal yang kadang hilang, sehingga kadang tak mampu melakukan panggilan keluar, begitu pula saat dihubungi dari nomor lain, kerap tak terhubung. mirip-mirip operator CDMA Flexy.

Nomor AXIS akhirnya cuman dijadikan satu stop over aja, sambil nungguin pulsa habis atau mungkin untuk momen nyobain sms Premium yang rata-rata nyantumin ‘Ketik REG bla bla bla… he… toh nomor ini gak bakalan dipakai lagi.

Hikmahnya bagi para pengguna PDA ya apabila ingin memaksa menggunakan nomor AXIS sebaiknya dipikir-pikir dahulu deh. He… sekali lagi ini semua adalah satu pengalaman berharga bagi penulis yang nekat nyobain nomor operator baru. Semoga saja berguna bagi rekan-rekan.

My Mobiler solusi praktis Personalisasi PDA

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Ada software menarik ditemukan via Google, saat penulis ingin melakukan Hard Reset pada PDA, sekalian mempersonalisasinya agar sesuai dengan kegiatan penulis nantinya.

Oya, Hard Reset itu dilakukan dengan menekan tombol Power pada sisi atas PDA dibarengi dengan Soft Reset (Reboot) pada lubang kecil pada sisi bawah PDA. Hal ini dilakukan apabila para pengguna PDA ingin mengembalikan setting keseluruhan handset seperti keluaran pabrik / beli baru. Itu sebabnya penulis tak terlalu khawatir dengan aktivitas selama menggunakan PDA lantaran kemudahan yang diberikan ini layaknya PC.

Itu artinya, usai melakukan Hard Reset, pengguna minimal mampu menginstalasi sendiri aplikasi tambahan apa saja yang ingin digunakan pada PDA, serta mem-personalisasikannya agar nyaman dipakai saat beraktifitas.

Satu kekurangannya saat mlakukan personalisasi ini adalah ribetnya proses instalasi via PC, kemudian harus beralih ke PDA untuk menyelesaikan prosesnya.

Nah, Penulis pun akhirnya menemukan dan sangat terbantu oleh aplikasi gratisan My Mobiler, yang dapat digunakan setelah PDA terhubung dengan PC via Activesync. Proses instalasinya dilakukan otomatis sekaligus pada PC dan PDA, dan muncul pada Tray (dipojok kanan bawah) untuk aktivasi aksesnya.

my-mobilers.jpg

My Mobiler ini mampu menampilkan simulasi layar PDA pada layar PC, dan dapat dipakai seperti pemakaian PDA biasa dengan bantuan Mouse. Artinya ribet peralihan proses instalasi diatas dapat tergantikan dengan bekerja pada satu layar PC saja. Tentu jauh lebih memudahkan dan menyingkat waktu. Cukup luangkan satu jam untuk melakukan instalasi aplikasi tambahan dan langsung mempersonalisasikannya sesuai kebutuhan pengguna, tanpa harus menggunakan Stylus.

Tak hanya itu, My Mobiler juga mampu mengambil screenshot pada layar PDA sekaligus merekam aktivitas untuk keperluan edukasi misalnya. Membuat Tutorial personalisasi PDA misalnya, disimpan dalam format avi.

Dengan My Mobiler ini, penulis sangat merasakan manfaatnya dalam mengutak atik isi PDA via layar PC, tak terganggu oleh stylus dan layar PDA yang kecil. Dapat digunakan pula untuk men-transfer data yang jauh lebih praktis.