RS SangLah sebuah cerita tentang keTidakNyamanan

16

Category : tentang Buah Hati, tentang Opini

Pelayanan adalah mutlak bagi mereka yang menyediakan jasa bagi pelanggannya. Dengan memberikan pelayanan yang terbaik pulalah, pelanggan diyakini bakalan makin terpuaskan dan kedepan memilih untuk datang lagi.

Apa daya, nama besar RS SangLah tak membuatnya mampu memberikan pelayanannya yang terbaik bagi para pelanggan mereka, dalam hal ini kami selaku keluarga Pasien.

Kekecewaan kami akan pelayanan yang kami dapatkan hari Jumat lalu seakan mengamini image sebuah Rumah Sakit yang kabarnya sudah berstandar Internasional, namun tetap saja banyak masyarakat yang mengeluh saat membutuhkan perhatian jasa kesehatan. Mungkin itu pula sebabnya, masyarakat lebih memilih Rumah Sakit lain sebagai prioritas utama ketimbang RS SangLah, seperti Prima Medika misalnya.

Pelayanan dalam arti luas, bisa meliputi kelengkapan sarana prasarana dalam menjalankan jasa mereka dan itu sudah terpenuhi di RS SangLah. Ini terlihat saat Rumah Sakit lain tak mampu menangani pasien mereka, maka dirujuklah si pasien menuju RS SangLah, sebagai tumpuan terakhir harapan si Pasien.

Lantas, mengapa ada saja masyarakat yang jauh lebih loyal mengacu pada Rumah Sakit lain ketimbang datang berobat ke RS SangLah ?

Keramahan Pelayanan, mungkin bisa dijadikan jawaban nomor satu dari hal lainnya. Walaupun penulis menyadari benar, kesan Keramahan sudah mulai ditunjukkan sejak awal pasien sampai di RS SangLah, dalam kondisi gawat sekalipun, terwujud dari perilaku dan sapaan paramedis pula bagian administrasinya. Tetap saja keramahan tak mampu ditunjukkan secara penuh dibagian lain.

Pengalaman saat putri kecil kami Mirah Gayatridewi, diputuskan untuk menjalani Rawat Inap di RS Sanglah hari kamis malam lalu, mulai memberi kesan sedikit kejanggalan. Kamar untuk Rawat Inap pada kelas tertentu, dinyatakan penuh. Kelas I (satu ruangan untuk dua orang pasien), VIP C dan VIP A (satu ruangan untuk satu pasien), dikatakan menjadi favorit para pasien, sehingga tak satupun yang bisa dipesan untuk putri kami.

Malah diarahkan untuk memesan kelas Mahottama I dan II (yang kalau tidak salah baca tarif perharinya kisaran 500rb hingga 800rb), ah duit darimana pula yang bisa kami dapatkan untuk itu ? akhirnya diambillah Kelas II (satu ruangan untuk tiga Pasien), yang dalam kenyataannya, kami malah menemati Kelas III (satu ruangan untuk empat pasien).

Bersyukur kamar yang kami dapatkan untuk putri kami belum terisi, maka jadilah tiga bed yang tersisa bisa dimanfaatkan sebagai tempat penulis untuk beristirahat. Hanya saja ruangan yang besar tanpa dilengkapi fasilitas pendingin atau kipas angin sekalipun, membuat ruangan panas pengap plus diramaikan pula dengan tarian Nyamuk. Cukup membuat ketidaknyamanan timbul sebagai tahap awal.

Belum lagi bola lampu yang mati di Kamar Mandi ruangan yang kami tempati, sangat mengganggu saat kami ingin buang air sekalipun pada malam hari, ditambah tak mengalirnya pembuangan di kloset yang cukup membuat shock usai buang air besar, menyisakan bau tak sedap diruangan. Ugh !

Ketidaknyamanan tadi makin meningkat saat keesokan harinya ruangan mulai diisi oleh 2 pasien (salah satunya penderita asma), membuat suasana ruangan yang sudah panas dan pengap makin menjadi mimpi buruk saat putri kami menangis keras (mungkin karena gerah akan kondisi ruangan) dan dianggap mengganggu pasien lain. Maka bentakan pun melayang dari perawat yang bertugas pada hari Jumat siang di sal Pudak (data yang tidak cukup lengkap, karena tidak menyertakan nama juga foto si perawat), mengatakan bahwa tangis bayi itu karena si bayi haus dan tinggal diberi susu saja, pasti mau diam. Padahal kenyataannya tak segampang itu…

Keinginan kami untuk pindah ruangan makin menjadi saat permintaan kami diabaikan tanpa ada penanganan lebih lanjut, terutama saat infus tak mau menetes karena tangan putri kami tak hentinya bergerak (bayi baru berusia enam bulan kalender) sehingga dalam satu siang itu, harus dilakukan tiga kali perbaikan posisi jarum di tangan putri kami. (bayangkan mirisnya hati saat tusukan jarum hingga tiga kali dilakukan pada tangan kanan putri kami, kasihan kamu Nak…). Barangkali ini yang menjadikan mereka (para perawat) lantas membentak penulis saat melaporkan bahwa Askes sudah selesai diurus.

Ya, Askes. Jaminan Asuransi Kesehatan bagi Pegawai Negeri Sipil ini mulanya tak penulis ambil, lantaran si kecil belum memiliki kartu Askes sebagai syarat bantuan nantinya. Namun atas kebijaksanaan pihak Administrasi pada Kamis malam saat registrasi Rawat Inap bagi putri kami, jaminan Askes tersebut bisa digunakan asalkan selesai diurus hari Jumat siang dan dilaporkan ke Perawat dimana dirawat Inap untuk mendapatkan surat Pengantar.

Apa daya, Askes tersebut ditolak oleh Perawat di sal Pudak pada Jumat siang, dengan alasan seharusnya diajukannya kemarin (kamis) malam. Lho, bagaimana pula ini ?

Saat penulis menjelaskan kisah mulanya, eh si perawat marah-marah dan menyarankan Askes itu diurus nanti saja, kalo sudah pindah ruangan.

Belajar dari polemik sebelumnya dimana emosi hanyalah mengundang masalah lain timbul, maka enulis memilih diam dan mengikuti saran (bentakan) si perawat tadi. Bersyukur, permohonan pindah ruangan dikabulkan sore harinya. Ke sal Anggrek disebelah timur Pudak.

Penolakan Askes di sal Pudak ini rupanya menimbulkan masalah saat penyelesaian administrasi diakhir nanti.

Ohya, ada yang terlupa. Diawal Registrasi tadi dikatakan kamar Rawat Inap Kelas I dinyatakan penuh.

Padahal pada jumat pagi, penulis sempat jalan-jalan ke ruangan lain di sal yang sama (Pudak) sesuai petunjuk pihak administrasi, barangkali saja ada kamar yang akan ditinggalkan oleh pasien lainnya. Eh, ternyata ruangan disebelah kami, tergolong Kelas I dan kosong dari kemaren malam. Artinya, kenapa bisa dikatakan penuh jika ternyata ada yang masih bisa ditempati ?

Hmmm… ini malahan menyisakan satu pertanyaan, mungkin saja hal-hal seperti ini seringkali terjadi, berdalih mengatakan kamar penuh untuk mengalihkan pasien ke ruangan yang High Class (Mahottama) barangkali ?

Sebuah cerita keTidakNyamanan terjadi di sal Pudak, sangat kontras dengan Kenyamanan yang penulis dapatkan saat pindah ruangan ke sal Anggrek. Simak lanjutannya.

Comments (16)

memamng susah bli, sabar ya

wira´s last blog post..My Page Rank

[Reply]

Sebagai karyawan RS Sanglah saya merasa tidak enak hati membaca keluhan yang disampaikan bli Pande terhadap tempat kerja saya, saya akui memang RS Sanglah masih memiliki banyak kekurangan, contohnya seperti yang bli pande jabarkan diatas.

Jangankan kepada pasien umum kepada karyawan atau keluarga karyawan yang rawat inap pun sering mengalami kejadian seperti ini. Resepnya sih pertebal urat SABAR aja seperti yang bli Pande sudah lakukan.

Lain kali (mudah-mudahan tidak) jika berurusan dengan birokrasi dan pelayanan RS Sanglah, jangan segan-segan untuk kontak saya, mudah-mudahan dapat membantu, apalagi sesama Blogger dan warga Pande (Saya Pande Besi Tonja).

Jangan kapok berurusan dengan RS Sanglah ya Bli, saya yakin tidak semua bagian se-horor yang bli ceritakan, masih banyak tempat yang pelayanannya ultra prima contohnya RADIOLOGI tempat kerja saya hehe..:wink:

[Reply]

Bli Wira > He… Kesabaran itu sudah ada balasannya kok. :mrgreen:
Bli Putu ADi > Lho ? Bli Putu Adi kerja di RS Sanglah toh ?
PanDe Tonja juga ? wah wah wah, suatu kebetulan. Rupanya kita satu keluarga Bli ?

[Reply]

Sangat menarik posting, thanks for the information, akan kembali ke situs Anda sering:)

[Reply]

Bli putu adi, saya punya pengalaman yang juga cukup tidak nyaman, ketika adik sy ngurus administrasi dan pembayaran kelahiraan anaknya, sekitar jam 11an dia datang kekasir untuk tanya jumlah pembayarannya karna sudah diijinkan pulang oleh dokter, setelah sabar ngantre akhirnya dapat giliran, saat itu disebutkan kekurangan biayanya sekitar tujuhratus ribu, karena sdh ditanggung jamsostek 500.000, saat itu adik sy tidak punya cukup uang dan sedang mengusahakannya, setelah itu ia datang lagi sekitar jam 1.30 untuk pembayaran sejumlah tersebut, setelah dapat giliran eh ternyata biayanya bengkak jadi 900 ribu lebih dikit, ya adik sy jd bingung, saking panik dia telpon sy untuk minta tlg cr jln keluar kekurangannya, nah waktu sy dtg sekitar jam 2, tetapi saat itu ada orang yg sedang dilayani kasir, dan kami sama2 nunggu, saat dapat giliran ternyata pembayarannya nambah lagi sekitar 130 ribuan, ketika kami tanyakah kok bisa begitu, kasir menjawab karna sudah terlambat 13 menit dr jam 2. sy hanya berfikir ini sistem macam apa sih. kalo urusan nagih biaya, RS ini kok sangat disiplin, kalopun itu benar, sy hanya mau kasih masukan sebaiknya jumlah petugas kasir ditambah, dan ditempatkan kasir yang informatiflah dikit, sehingga bisa memberikan informasi yang benar, karena saat itu sy lihat kasir hanya satu orang sj. padalah itu hari senin, oh ya kejadiannya adalah di kasir yang loketnya ada di Apotek kimia farma, sy hanya mikir kalo sj adik sy tidak bisa membayar saat itu tentu jumlahnya akan semakin membengkak saja. kalo sudah begitu orang kecil tinggal menunggu nasib saja. Bagaimana Rumah sakit bisa membantu masyarakat kecil kalo sistem dan personelnya seperti itu. mudah mudahan keluhan ini bisa meningkatnya kinerja RS sanglah, agar bisa menjadi rumah sakit internasional tapi tidak meninggalkan masyarakat tradisionalnya. terimakasih

[Reply]

Bapak Wayan Kara Yth.
Saya akan menanggapi sebisa saya karena saya bukan decision maker di RS ini,hanya sebagai karyawan inst Radiologi biasa.

Jangankan bapak, karyawan juga kerap mengeluhkan prihal sistem pembayaran dan jumlah petugas kasir yang kurang, kami hanya bisa ngrimik dibelakang, karena memang begitu kebijaksaanaan RS, kasir yang bapak sebutkan tadi adalah kasir khusus askes dan jamsostek, ada banyak lokasi kasir yang mengkhususkan untuk suatu bidang pembayaran, contoh kasir ugd, kasir wing international dsb.

Saran saya, korankan saja masalah tersebut dimedia lokal seperti Bali Post atau Radar Bali,catat nama petugas yang melayani catat tanggal dan waktunya dengan tepat, direktur kami sangat sensitif bila masalah internal masuk media apalagi itu menyangkut kekurangan instansinya dan UANG.

Masalah pembayaran tersebut menurut saya mungkin pada saat bapak pertama datang ada beberapa pemeriksaan dan pelayanan yang belum diinput dalam billing sistem, seperti misalnya Lab atau visite dokter spesialis, nah ketika bapak kali kedua atau ketiga datang semua pelayanan tersebut telah diinput jadi terlihat seperti pembengkakan, tidak ada charge waktu untuk keterlambatan kecuali biaya kamar apabila melewati waktu check out yaitu jam 14.00 sama seperti ketika anda tidur dihotel.

Sekian dari saya semoga bisa sedikit mencerahkan. Terima kasih kepada bli Pande sudah meneruskan masalah-masalah yang berkaitan dengan tempat tugas saya sebisa mungkin saya akan menjelaskan semampu saya. Tolong disampaikan kembali kepada bapak Wayan Kara.

[Reply]

Terima Kasih untuk BLi Putu ADi untuk tanggapannya.
Untuk Pak Wayan Kara, yah memang sebaiknya ‘ketidakpuasan itu diungkapkan dalam media yang terpercaya (koran misalnya), sehingga publik juga internal pelayanan RS Sanglah bisa jauh lebih mengetahui apa dan bagaimana sesungguhnya ‘pelayanan yang diterapkan selama ini di RS Sanglah. Tapi, sekali lagi, Terima Kasih sudah berbagi di BLoG saya ini.

[Reply]

Terima kasih kembali bli karena sudah mengijinkan blognya diacak-acak komentar saya. Senang rasanya ada tempat berbagi.

Menurut saya semuanya kembali ke masing-masing individu yang menangani, mau berpihak kepada masyarakat (pasien) atau kantor. Saya sering mengalami dilema seperti ini. Kapan-kapan saya cerita lagi, karena kalo cerita sekarang disini bisa kepanjangan dan makan waktu.

Terima kasih juga untuk tutorialnya tentang PDA, saya sedang membaca semuanya, jangan kapok kalau saya repotkan lagi dengan berbagai pertanyaan.

[Reply]

[…] selama empat hari terakhir dirawat akibat gangguan pernafasan, mengingatkanku pada saat mendampingi MiRah GayatriDewi pertengahan tahun 2008 lalu. Wajah-wajah yang menyiratkan kegetiran hidup harus mereka lalui selama […]

Gimana ya.
Keadaan di hampir semua RS Pemerintah demikian.
Ada uang ada fasilitas.

Ketika saya dirawat di ICU RS Umum di kota kami, saya sbg mantan ( pensiunan )PNS Gol. IVa dapat jatah fasilitas Askes Kelas I yang selalu penuh terisi pasien lain. Saya cari kamar kosong di kelas yg lebih tinggi ( VIP ), penuh juga akhirnya dapat di Kelas Super VIP ( itu juga baru besok sorenya ) yang saya inapi hanya 1 malam saja sebab keesokan harinya kami harus landing dari Jakarta menuju Sydney, Aussie utk menghadiri wisuda putra kami seminggu kemudian di salah satu University.

Kadang kala lebih mudah mencari kamar di Hotel dari pada mencari kamar kosong di RS.

Terlepas dari semua penderitaan, saya masih bersyukur kalau saya masih dapat bertahan hidup sampai sekarang. Tidak peduli dirawat di kelas manupun juga. Yang penting dapat segera sembuh dan berkumpul kembali dengan keluarga di rumah. Home sweet home.

Salam sukses kepada PanDe Baik di Denpasar, Bali.

Basuki Pramana
Cirebon, Jabar

[Reply]

pande Reply:

Sulitnya mencari kamar kosong di RS jujur saja itu memang benar, apalagi bulan-bulan dimana beberapa penyakit mendominasi. Seperti saat ini di Bali dengan Demam Berdarahnya…

[Reply]

wah serem ya. sy sdg ngantre nih di poli gigi. mudah2an lancar2 saja :). btw, sekarang sanglah mau dapat akreditasi dari JCI harusnya lebih baik lagi.

[Reply]

Om swastiastu, stelah mbaca koment bapak” skalian sy jd ingin ikut koment setelah 3 hari kekesalan saya atas pelayanan karyawan sanglah.ibu saya drujuk dr rsu wangaya k sanglah krn tdk ada pnanganan spesialis jantung. Sampai ugd sanglahsaya bertemu seorang perawat wanita judes dan slalu mngluarkam kata” tidak sopan terhadap pasien sebelah. Kami adalah pengguna bpjs klas 1 dan diharuskn menunggu kamar krn kamarnya penuh smua. Yah kami ga apa”lah menunggu. Dr jam 8 malam di ugd sampai jam
2 sore keesokan harinya baru dapat kamar . Itupun transit ( sementara utk pasien ugd yg tdk dpt kamar ) sy masih ga masalah soal itu. Hari kedua di sal kamar bakung barat no 7 kekesalah sy hampir memuncak. Perawat tdk ada satupun menengok ataupun mnanyakan keadaan pasien di sekitar bakung. Apa karna kami transit jadi itu bkn hak mereka? Yg datang hanya perawat magang yg masih baru.sy heran dengan senior perawat disini mreka hanya mmrintahkn prawat magang utk mnangani pasien. Kalao ada yg slah dgn pasien apa sy hrs mnyalahkn perawat magang??. Suatu ketika impus ibu sy boco shingga netes di bed dan mngluarkn darah. Sy panggil prawat lg.. hasilnya laaaammaaaaaaa skali ga ada tanggapan. Yg ada mLah perawat magang lgi yg datang. Bukannya malah bner tp tambah bocor lagi. Sampe capek sy mmangil perawat , akhirny perawat senior dtg dn mmindahkan jarum infus dr tangan kanan k tgn kiri. Tdk brselah bbrapa jam kmbali bocor . Aduh dimana letak profesional krja mereka??? Slama 2 hari ini dokter pun tidak ada muncul mmeriksa. Ibu sy smpai tidak tdur smalaman krn seprai yg basah krn bocor dan brcampur darah. Maaf koment sy trlalu panjang tp sy sangat kesal skali dgn pelayanan rumah sakit sanglah. Dr awal datang sampai sekarang masih juga blumada tanggapan. Apakah karna kami pengguna bpjs tdk bayar diperlakukan seperti ini. Seolah” dijadikan bahan praktek saja.. maaf sblumnya sya sudah tdk tahan dgn playanan disinu. Ingin pulang aja rasanya. Mau lapor juga tdk akan dtanggapi yang ada malah dimarahi oleh perawatnya…. om shanti shanti shanti om

[Reply]

pande Reply:

Terima Kasih bli Wayan Suryana yang sudah berbagi disini. tulisan diatas sebenarnya sudah lama saya alami. Tahun 2008 tepatnya. akan tetapi cerita pengalaman dari banyak orang masih tetap sama terhadap RS Sanglah. sampai-sampai ada kalimat ‘jika tidak menggunakan jasa orang dalam, jangan harap mendapat pelayanan maksimal.’
Saat putri ketiga kami dirawat di RS Sanglah tempo hari, kami juga mendapat selentingan berita pasien dari luar Bali, memilih pulang ke kampungnya di Indonesia Timur lantaran sampai 2 minggu tak jua mendapat penanganan dari tim dokter yang menangani, entah apakah karena ybs menggunakan JKM BPJS.
Tapi untuk kami, berhubung (maaf) akhirnya menggunakan jasa orang dalam (ipar kebetulan bekerja disitu), pelayanan yang didapat tentu sangat cukup dibanding sebelumnya. Begitu kira-kira…

[Reply]

wayan suryana Reply:

Salam kenal bli pande. Sy rasa memang dimana mana smua rs sama. Kalo tdk punya org dlm jgn harap dpt pelayanan cepat. Sperti d rs wangaya karena ada sodara yg kerja disana tanggapan cepat pakai bpjs pun sy mrasa diuntungkn. Tp kebalikan sm di rs sanglah mngkin jg krn tdk ada kenalan. Smpai jam ini ibu saya ttp di stop infus dan tdk ada penanganan. Prawat disini hanya menengok k kamar ntah apa yg dtengok lgsg ilangm dr yg tua smpai yg muda. Apakah ini namanya jasa pelayanan? Saya baca slogan ddepam ugd. Kepuasan anda adalah kebahagian kami. Puas apa?? Bullsh**t ( ampura )

[Reply]

Hari ini saya benar2 dongkol dengan pelayanan di sanglah. Saya daftar utk periksa di poli kulit jam 9pagi. Lalu tunggu punya tunggu eh… saya tidak kunjung dipanggil juga..lalu saya tanya petugas.. dan mereka berkata bahwa rekam medis saya msh belum dibawa ke poli kulit. Dan petugas justru suruh kita cari ke lt1 ..dengan menyerahkan kitir pink. Sampai di bawah..kita justru disuruh tunggu di atas.. ..sementara jam sudah pukul 12 siang. Lalu saya komplain di bag humas dengan pak kadek.tiba2 seorang wanita menemui saya..sy tdk tau..itu dokter apa bukan..atau cuma staf bag humas saja..akhirnya saya sampaikan semua keluhan saya pada wanita tsb. Lalu mereka kroscek via telpon. Eh tiba2 di pol kulit kabarin kalau rekam medis udah ada..kok bisa ya..padahal sy antre sudah 3 jam sedangkan pasien saat saya antri cuma 2 saja…yg mjd tanda tanya bg saya..kok pelayanan di sanglah ini tidak profesional ya.. krynya msh byk yg acuh tdk acuh..padahal kondisi saat ini pasien di poli kulit cuma srdikit dan yg sya tau ini rmh sakit katanya intetnasional… akhirnya karena sudah terlanjur kecewa..saya pun pulang kerumah..

[Reply]

Post a comment

CommentLuv badge