X

RS SangLah sebuah cerita tentang keTidakNyamanan

Pelayanan adalah mutlak bagi mereka yang menyediakan jasa bagi pelanggannya. Dengan memberikan pelayanan yang terbaik pulalah, pelanggan diyakini bakalan makin terpuaskan dan kedepan memilih untuk datang lagi.

Apa daya, nama besar RS SangLah tak membuatnya mampu memberikan pelayanannya yang terbaik bagi para pelanggan mereka, dalam hal ini kami selaku keluarga Pasien.

Kekecewaan kami akan pelayanan yang kami dapatkan hari Jumat lalu seakan mengamini image sebuah Rumah Sakit yang kabarnya sudah berstandar Internasional, namun tetap saja banyak masyarakat yang mengeluh saat membutuhkan perhatian jasa kesehatan. Mungkin itu pula sebabnya, masyarakat lebih memilih Rumah Sakit lain sebagai prioritas utama ketimbang RS SangLah, seperti Prima Medika misalnya.

Pelayanan dalam arti luas, bisa meliputi kelengkapan sarana prasarana dalam menjalankan jasa mereka dan itu sudah terpenuhi di RS SangLah. Ini terlihat saat Rumah Sakit lain tak mampu menangani pasien mereka, maka dirujuklah si pasien menuju RS SangLah, sebagai tumpuan terakhir harapan si Pasien.

Lantas, mengapa ada saja masyarakat yang jauh lebih loyal mengacu pada Rumah Sakit lain ketimbang datang berobat ke RS SangLah ?

Keramahan Pelayanan, mungkin bisa dijadikan jawaban nomor satu dari hal lainnya. Walaupun penulis menyadari benar, kesan Keramahan sudah mulai ditunjukkan sejak awal pasien sampai di RS SangLah, dalam kondisi gawat sekalipun, terwujud dari perilaku dan sapaan paramedis pula bagian administrasinya. Tetap saja keramahan tak mampu ditunjukkan secara penuh dibagian lain.

Pengalaman saat putri kecil kami Mirah Gayatridewi, diputuskan untuk menjalani Rawat Inap di RS Sanglah hari kamis malam lalu, mulai memberi kesan sedikit kejanggalan. Kamar untuk Rawat Inap pada kelas tertentu, dinyatakan penuh. Kelas I (satu ruangan untuk dua orang pasien), VIP C dan VIP A (satu ruangan untuk satu pasien), dikatakan menjadi favorit para pasien, sehingga tak satupun yang bisa dipesan untuk putri kami.

Malah diarahkan untuk memesan kelas Mahottama I dan II (yang kalau tidak salah baca tarif perharinya kisaran 500rb hingga 800rb), ah duit darimana pula yang bisa kami dapatkan untuk itu ? akhirnya diambillah Kelas II (satu ruangan untuk tiga Pasien), yang dalam kenyataannya, kami malah menemati Kelas III (satu ruangan untuk empat pasien).

Bersyukur kamar yang kami dapatkan untuk putri kami belum terisi, maka jadilah tiga bed yang tersisa bisa dimanfaatkan sebagai tempat penulis untuk beristirahat. Hanya saja ruangan yang besar tanpa dilengkapi fasilitas pendingin atau kipas angin sekalipun, membuat ruangan panas pengap plus diramaikan pula dengan tarian Nyamuk. Cukup membuat ketidaknyamanan timbul sebagai tahap awal.

Belum lagi bola lampu yang mati di Kamar Mandi ruangan yang kami tempati, sangat mengganggu saat kami ingin buang air sekalipun pada malam hari, ditambah tak mengalirnya pembuangan di kloset yang cukup membuat shock usai buang air besar, menyisakan bau tak sedap diruangan. Ugh !

Ketidaknyamanan tadi makin meningkat saat keesokan harinya ruangan mulai diisi oleh 2 pasien (salah satunya penderita asma), membuat suasana ruangan yang sudah panas dan pengap makin menjadi mimpi buruk saat putri kami menangis keras (mungkin karena gerah akan kondisi ruangan) dan dianggap mengganggu pasien lain. Maka bentakan pun melayang dari perawat yang bertugas pada hari Jumat siang di sal Pudak (data yang tidak cukup lengkap, karena tidak menyertakan nama juga foto si perawat), mengatakan bahwa tangis bayi itu karena si bayi haus dan tinggal diberi susu saja, pasti mau diam. Padahal kenyataannya tak segampang itu…

Keinginan kami untuk pindah ruangan makin menjadi saat permintaan kami diabaikan tanpa ada penanganan lebih lanjut, terutama saat infus tak mau menetes karena tangan putri kami tak hentinya bergerak (bayi baru berusia enam bulan kalender) sehingga dalam satu siang itu, harus dilakukan tiga kali perbaikan posisi jarum di tangan putri kami. (bayangkan mirisnya hati saat tusukan jarum hingga tiga kali dilakukan pada tangan kanan putri kami, kasihan kamu Nak…). Barangkali ini yang menjadikan mereka (para perawat) lantas membentak penulis saat melaporkan bahwa Askes sudah selesai diurus.

Ya, Askes. Jaminan Asuransi Kesehatan bagi Pegawai Negeri Sipil ini mulanya tak penulis ambil, lantaran si kecil belum memiliki kartu Askes sebagai syarat bantuan nantinya. Namun atas kebijaksanaan pihak Administrasi pada Kamis malam saat registrasi Rawat Inap bagi putri kami, jaminan Askes tersebut bisa digunakan asalkan selesai diurus hari Jumat siang dan dilaporkan ke Perawat dimana dirawat Inap untuk mendapatkan surat Pengantar.

Apa daya, Askes tersebut ditolak oleh Perawat di sal Pudak pada Jumat siang, dengan alasan seharusnya diajukannya kemarin (kamis) malam. Lho, bagaimana pula ini ?

Saat penulis menjelaskan kisah mulanya, eh si perawat marah-marah dan menyarankan Askes itu diurus nanti saja, kalo sudah pindah ruangan.

Belajar dari polemik sebelumnya dimana emosi hanyalah mengundang masalah lain timbul, maka enulis memilih diam dan mengikuti saran (bentakan) si perawat tadi. Bersyukur, permohonan pindah ruangan dikabulkan sore harinya. Ke sal Anggrek disebelah timur Pudak.

Penolakan Askes di sal Pudak ini rupanya menimbulkan masalah saat penyelesaian administrasi diakhir nanti.

Ohya, ada yang terlupa. Diawal Registrasi tadi dikatakan kamar Rawat Inap Kelas I dinyatakan penuh.

Padahal pada jumat pagi, penulis sempat jalan-jalan ke ruangan lain di sal yang sama (Pudak) sesuai petunjuk pihak administrasi, barangkali saja ada kamar yang akan ditinggalkan oleh pasien lainnya. Eh, ternyata ruangan disebelah kami, tergolong Kelas I dan kosong dari kemaren malam. Artinya, kenapa bisa dikatakan penuh jika ternyata ada yang masih bisa ditempati ?

Hmmm… ini malahan menyisakan satu pertanyaan, mungkin saja hal-hal seperti ini seringkali terjadi, berdalih mengatakan kamar penuh untuk mengalihkan pasien ke ruangan yang High Class (Mahottama) barangkali ?

Sebuah cerita keTidakNyamanan terjadi di sal Pudak, sangat kontras dengan Kenyamanan yang penulis dapatkan saat pindah ruangan ke sal Anggrek. Simak lanjutannya.

pande: hanyalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang sangat biasa, mencoba hadir lewat tulisannya sebagai seorang blogger yang baik