Kembali ke RS Sanglah

Menyusuri lorong selasar Rumah Sakit dimalam hari, hanya diterangi oleh lampu pijar, mengingatkanku pada suasana film horor besutan lokal, sedikit seram. Jika pun aku sekedar iseng melakukan hal ini, barangkali bakalan berpikir dua kali, karena aku tergolong penakut pada hal-hal berbau mistik. Seperti cerita jurit malam uji nyali saja.

Malam yang aku jalani sudah memasuki hari ketiga, berada kembali di Rumah Sakit Sanglah. Kali ini putri kami Mirah Gayatridewi ganti dirawat, karena sejak hari Kamis lalu muntah berkali-kali, hingga lemas. Keputusan untuk dilarikan dan dioname di RS pun datang dari Dokter Anak yang menangani sebelumnya, dr. Widia, agar ia tak sampai mengalami Dehidrasi.

Penuhnya kamar untuk pasien menjadikan kami harus berpikir akan pelayanan pada putri kami nantinya, apakah berdesak-desakan dalam kamar Kelas 3 (satu ruangan dengan empat pasien, plus tanpa kunjungan dokter yang menyarankan kami tadi) ataukah diruang berkelas tinggi (semalamnya dikenai tarif 800ribuan). Akhirnya diputuskan mengambil apa yang ada sesuai kantong kami selaku orang tua Mirah, di Sal anak-anak Pudak, sambil menitipkan pesan pada perawat juga bagian administrasi, apabila ada kamar yang kosong, segera mengkontak kami.

Bersyukur, kamis malam kami menginap pertama kali, kamar belum terisi pasien. Jadilah tiga bed yang tersisa, kami manfaatkan untuk tempat istirahat tidur. Hanya ruangan yang tanpa pendingin (AC) dan tarian nyamuk membuat Mirah menangis dimalam hari, cukup membuat miris hati,apalagi dengan rasa sakit akibat suntikan infus di tangan kanannya.

Bumi seakan bertambah gerah, saat siang menjelang, kamar mulai dipenuhi pasien dan membuat suasana ruang layaknya oven, membuat Mirah makin keras tangisnya. Apalagi mungkin ia bingung dengan situasi ruangan, berbeda dengan rumah kami tentunya.

Doa kami ternyata didengar oleh-Nya, sore kami diperbolehkan pindah ke bangsal lain, yang sesuai dengan harapan kami, satu pasien dalam satu ruangan, seperti ruang yang ditempati oleh Istriku saat menderita Demam Berdarah waktu lalu.

…dan lorong selasar Rumah Sakit Sanglahpun kembali disusuri, tengah malam sekalipun, untuk mencari obat sesuai pesanan di Apotik Depo, apotik khusus peserta Askes. Demi putriku seorang, apapun kan aku jalani. Menembus suasana layaknya film horor sekalipun.

pande

hanyalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang sangat biasa, mencoba hadir lewat tulisannya sebagai seorang blogger yang baik

6 thoughts on “Kembali ke RS Sanglah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *