Menjadi PNS yang tak berotak saja deh…

8

Category : tentang Opini

Huuh… dua minggu ini helaan nafas berat rasa-rasanya seringkali aku rasakan, lantaran efek dari tulisan guoblokku tentang pemberitaan di media Radar Bali, Februari lalu, ternyata direspon dengan amarah oleh Wartawan-wartawan Radar Bali, per awal September kemaren.

Tulisan itu lahir dengan segera setelah artikel yang naik di media cetak Radar Bali perihal Drainase Kuta jalan Dewi Sri dikatakan mangkrak dan terbengkalai, karena tidak tampak ada aktifitas pekerja dilokasi yang tampak pada gambar.

Efek pertama yang aku rasakan waktu itu adalah teguran atasan berkaitan dengan ‘tidak tampaknya aktifitas pekerja dilokasi proyek’, ‘Memangnya kamu kemana saja selaku pengawas pelaksana dilapangan, Nde ?’. Sempat pula memunculkan ketidakpercayaan atasan pada kinerja stafnya ini…

Namun seiring waktu berjalan, toh dibuktikan juga kalau ternyata pekerjaan selesai tepat waktu dan sesuai rencana. ‘Sesuai rencana’disini ya seperti yang terlihat dilapangan per hari ini, lantaran alokasi dana yang didapat untuk pekerjaan ini sangat minim, ya mampunya hanya segitu.

Yang paling membuat para Wartawan itu tidak terima ya, perihal kata-kata dalam tulisan yang mengatakan bahwa ‘ada wartawan Radar Bali yang minta uang pada atasan dengan ancaman bakalan menaikkan berita negatif ke media cetaknya. Ada tiga orang yang ngasi komen keberatan di BLoG, Bli Gupta, Bli Sudarsana Putu dan Bli Feri selaku penulis berita di koran tersebut.

Tapi itu benar adanya kok. Hanya saja aku gak punya bukti lebih mendetail tentang siapa yang datang, karena satu-satunya bukti ya ID Card Radar Bali aja. Mungkin kalo waktu itu bisa didetail lagi dengan nama dan ciri-cirinya barangkali saja posting yang dahulu itu bakalan dianggap berkualitas sama dengan media cetak koran. Yah, namanya juga PNS. Gak tau banyak etika penulisan. He…

Hanya saja belakangan ini baru terpikirkan, bagaimana kalo ternyata itu bukan Wartawan Radar Bali asli, dalam arti ya Gadungan dengan membawa ID palsu. Seperti sindikat yang mengaku anggota KPK yang ditangkap beberapa waktu lalu ? alur ceritanya sama kan ? pejabat diancam untuk mendapatkan sejumlah uang. Yah, barangkali aja PNS-nya gak berotak’. He…

Kalo itu benar, berarti tulisan yang aku posting bisa dianggap memfitnah orang, dan itu berarti hukum yang bakalan berjalan. So, daripada masalahnya jadi panjang ya, kuhapus saja posting tersebut.

Rupanya masalah gak berhenti disitu. Untunglah Om Anton berinisiatif menjadi mediator dan langsung ngobrol via YM hari Senin siang lalu, mengkonfirmasi pertanyaan Bapak Hari Puspita tentang siapa sih Bli Pande itu ? PNS Guoblok yang nekat nulis dan memfitnah wartawan Radar Bali. He… Barangkali karena melihat saya ikut serta jadi kontribusi Bale Bengong, makanya Om Anton lah yang paling pertama ditanyakan.

Agak gak enak juga dengan Om Anton, berhubung Beliau itu kan mantan Ketua AJI, tempat ngumpulnya Jurnalis ? apalagi yang ngajak gabung di BBC kan Beliau juga. Khawatir kalo Beliau dikait-kaitkan. Padahal kalo mau dirunut kebelakang, Februari itu aku blom masuk secara resmi di BBC. Dan media nulisnya waktu itu juga blom pake Domain sendiri. Masih iseng-iseng, toh gak ada yang baca.

Menuliskan unek-unek akan ketidakpuasan media dan Wartawan agaknya menjadi pelajaran bagiku pribadi. Seperti bom waktu, tinggal nunggu meledak aja. Sebaliknya dengan media sebegitu bebasnya mereka menulis perihal kebobrokan Pemerintah yang sayangnya merupakan mimpi terburuk negeri ini. Kebebasan berbicara dan berpendapat kata mereka. Jadi sah-sah aja kalo ngritik Pemerintah yang memang beneran bobrok.

Memang, satu-satunya harapan pada media cetak dan para Wartawannya hari ini adalah, mereka mau menuliskan sesuatu hal/berita di media setelah mengkonfirmasi terlebih dahulu ke Narasumber. Misalkan saja dalam konteks Drainase diatas ya Pelaksana dilapangan. Bener gak sih gak ada aktifitas ? tapi berhubung waktu dari para wartawan itu serba cepat seperti kata si Richard Gere dalam film Runaway Bride, mungkin menganggap mubazir kalo sampe membuang waktu menanyakan hal tersebut. Toh apa yang ditulis jauh lebih menjual.

Jangan sampe kebablasan kayak berita entah tanggal berapa, saya juga lupa, bahwa si Wartawan udah mengkonfirm perihal proyek ke Kepala Dinas Bina Marga dan Pengairan, Ir. I Ketut Suwandi dan mengeluarkan statemen bla bla bla… Tapi kalo dicermati, Kepala Dinas Bina Marga waktu itu kan sudah diganti oleh Ir. IB Soerya sejak setahun sebelumnya ? sedang Ir. Ketut Suwandi malah memimpin Cipta Karya. Apa ini tidak menggelikan ? Tentu yang jauh lebih menggelikan lagi, ternyata si atasan tidak pernah mengeluarkan kata-kata tersebut pada siapapun. Nah, kalo sudah begini bagemana dong ?

Mungkin penulis memang baiknya banting setir aja.Percuma berusaha bersikap jujur dan disiplin dalam bekerja, toh image PNS takkan berubah dimata media. Tetap negatif. Jadi apapun yang dilakukan ya gak pernah dapet tempat dihati mereka. Tapi itulah resikonya. Ngapain juga mau jadi PNS yang imagenya udah sangat bobrok dimasyarakat ?

Banting setir jadi PNS yang tidak berotak.

Yang ngantor siang, yang kerjanya ngobrol dan maen gim Poke juga Bola-bola atau Bounce, hahahaha… Yang ngitungin Togel pas jam kerja, yang suka mbolos usai jam makan, atau yang malah sering absen tapi rajin ngambil gaji pas tanggal satu.

Isi postingpun barangkali ya kisaran hobi dan keseharian saja, hal-hal yang gak penting. Barangkali bersenda gurau dengan malaikat kecilku, yang begitu lucu dan menggemaskan, daripada pusing mikirin orang lain. Toh amplop proyek jauh lebih nikmat…

Barangkali itu pilihan terbaik yang saya bisa lakukan. Semoga Radar Bali dan para Wartawannya gak bosan mengkritik PNS-PNS yang tak berotak seperti saya ini. Salam Damai. Piss…

Comments (8)

sabar bli, saya sering bilang di media offline, ini seperti lingkaran setan, sangat susah melawan arus dan kalaupun kita bisa toh kita tetap di cap berada di arus yang sama. Dan parahnya lagi di dalam lingkungan kita, bisa2 kita di cap penghianat dan sok suci dan ujung2nya maju kena mundur kena…

*menghela nafas

wira’s last blog post..Nostalgia

[Reply]

:mrgreen: Ga pa pa lagi Bli. seperti kata iklan Rokok :
Pembaca BLoG Posesif ? Enjoy aja !
Tapi jujur, jadi PNS yang tak berotak malah membuat saya jauh lebih nyaman saat nge-BLoG. :mrgreen: :mrgreen:

[Reply]

๐Ÿ™‚
wah bangganya aku punya teman yang tulisan bisa membuat hebih….keep on writing bang…maap bli itu artinya apa yah???paman bukan?
Just keep writing and inspiring…

[Reply]

jangan lupa ya hari Minggu, 21 September 2008 BBC ada acara “KopDar sambil BuBar” di Panti Asuhan Tat Wam Asih, Jayagiri – Denpasar. Info lebih lanjut silahkan simak milis BBC ๐Ÿ˜€

fenny’s last blog post..Hey you, Bronsum Ailurofobia!

[Reply]

smntr ini baiknya kita (sesama BBC) sama2 jaga emosi..plg tdk menunjukkan itikad baik, tdk saling mencela dl..liat2 mo dibawa kemana kasusnya..

eneg rasanya menyaksikan produk UU yg baru itu dipake buat ginian (yg sama2 kita khawatirkan di awal..)

tapi org2 kritis dan jujur spt bli pande dan rekan2 wartawan hrs tetep ada dan bersuara melalui medianya masing2.. ♥

dani’s last blog post..Seminar Nasional MDG IKM Unud

[Reply]

Om Taufan > Walah, ini kok malah mendukung toh ? padahal saya sudah mau undur diri…. ๐Ÿ˜†
Mbak Fenny > Makasi Undangannya, yah, Hope bisa hadir…
Om Dani > Ini kali efek dari gak bisa jaga emosi ya Om ? ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ Tapi Kritis itu gak enak ternyata, seperti kata Om Anton, ya harus siap Dikucilkan… ๐Ÿ˜†

[Reply]

Hai, Bli Pande.

Hmm, ketika saya ingin nulis soal masalah ini semata demi karena saya lihat ini masalah antar dua teman saya. Pipit adalah teman terbaik saya selama jadi wartawan. Dia kritis kalau melihat masalah tanpa harus membesar-besarkan masalah. Demikian pula Bli Pande. Di antara ratusan blogger yang saya kenal, Bli Pande adalah salah satu di antara yang saya kenal baik tak hanya secara online tapi juga sebagai teman.

Makanya ketika Pipit telpon dan bilang mau mempersoalkan Bli Pande, saya langsung mikir saya pasti bisa memediasi. Sebab keduanya teman baik saya. Inilah alasan kenapa saya beritikad untuk tanya ke Bli Pande lalu nulis di blog.

Saya juga tidak menyangka reaksi satu sama lain -sepertinya- berlebihan. Pipit dan wartawan lain di Radar Bali, yang juga teman-teman saya, saya pikir tidak akan sampai serius dengan urusan UU ITE, tuntutan, lawyer, dan segala macam. Eh, ternyata mereka memang benar mempersoalkan itu.

Tapi, saya masih berharap itu hanya gertak sambal, tidak beneran. Masak sih sesama penulis harus saling menuntut apalagi kalau sampai ke pengadilan.

Saya masih percaya dan yakin sampai saat ini bahwa tulisan cukuplah dilawan dengan tulisan. Itu pula yang selama ini kami yakini di jurnalisme, bahwa wartawan jangan dituntut dengan hukuman penjara. Cukup hak jawab dan denda. Itu yang selama ini kami perjuangan sejak 1994an. Menurut saya ini seharusnya berlaku pula di blog.

Kalau memang Bli Pande merasa menulis sesuatu yang salah, sudah meralat, lalu minta maaf, bagi saya itu sudah cukup. Mengaku bersalah itu sudah “hukuman” tersendiri. Lalu apa lagi yang mereka minta? Masak sih sampai Bli Pande harus menutup blog gara-gara masalah ini? It’s not fair at all.

Maka, tetaplah terus menulis. Tidak perlu menutup blog. Sebab kalau blog pun sudah tidak diberi ruang sebagai media berekspresi, lalu kita mesti ngapain lagi?

Salam solidaritas..

anton’s last blog post..Lalu, Dia Terlelap Bersamaku

[Reply]

[…] Sumerta dengan GenDo, kisruh yang saya ciptakan saat sebuah media cetak merasa keberatan atas salah satu tulisan yang saya buat, hingga โ€˜pembunuhan suasana milis yang tentu saja gara-gara ulah saya (waktu itu […]

Post a comment

CommentLuv badge