Kadang saya malu mengaku nak PANDE

26

Category : tentang DiRi SenDiri

Melihat pada kenyataan yang banyak terdapat dalam lontar maupun buku-buku babad bahwa seorang PANDE merupakan ahli dalam bidang Teknologi dan persenjataan, membuat saya sedikit tak PeDe menyandang nama atau status soroh PANDE. Lantaran saya sendiri bukanlah ahli dibidang itu.

Belum lagi jika melihat pada ketokohan seseorang yang menyandang nama depan PANDE seperti Pande Made Latra atau Pande Sutedja Neka, yang tergolong kondang di Bali ini, lebih-lebih membuat saya minder jika harus ikut menyandang nama depan PANDE, karena apa yang saya berikan pada Bali ini belum bisa sebesar mereka.

Jauh berbalik dengan keadaan tadi, jika jeli melihat pada kenyataan di lapangan bahwa soroh PANDE dikenal dengan fanatismenya yang berlebihan (mungkin saja terkait dengan emohnya PANDE ikut-ikutan trend pergantian nama atau soroh), sampai-sampai Istri saya selalu ditanyakan saat kemanapun ia pergi, “suamimu itu kan orang PANDE yang fanatik ? kok mau nikah dengan orang PANDE ?

Untuk satu hal ini saya jadi tertawa setiap kali Istri bercerita seperti itu. Apakah jika seorang tokoh yang punya nama depan Ida Bagus dikenal dengan caranya bergaul dan gaya bicara yang angkuh, lantas memvonis semua ˜Ida Bagus adalah sama seperti itu, tidak kan ? Saya malah mengenal seorang Ida Bagus Putu Gede, salah seorang petinggi BPD Bali, sejak saya kecil, bahkan saya berteman dari TK dengan putra Beliau, jauh beda 180 derajat dengan seorang rekan kantor yang juga punya nama depan Ida Bagus.

Hal yang seperti ini pulalah menyebabkan saya makin malu untuk menyandang nama PANDE sebagai nama saya, hanya karena ada seorang rekan kantor yang juga seorang Pande, punya tingkah laku memuakkan, menjilat muka atasan sendiri (cuih cuih… muka atasan kok dijilatin, masih mending ngejilatin Es Krim), sampai-sampai membuat beberapa rekan lain menggerutu akibat polahnya.

Mungkin satu saat nanti, jika saya sudah diakui ahli dalam bidang Teknologi atau mahir dalam (membuat) persenjataan, juga mampu mengharumkan Bali serta berbuat sesuatu yang berguna bagi lingkungan saya, baru saat itulah saya akan merasakan bangga menyandang nama PANDE.

Walopun terkadang saya malu, untuk saat ini, yah cukuplah baru sebatas nama panggilan (siapa juga yang tau kalo lahir sebagai orang PANDE), dan belakangan rajin memakaikannya menjadi sebuah nama BLog juga email. Semoga saja minimal bisa memiliki arti yang baik bagi rekan yang setia berkunjung mampir membaca BLog saya ini.

Ohya, postingan Narzis-pun, saya cukupkan disini, sebab besok masih ada menunggu beberapa posting yang nyeleneh seperti biasanya. Silahkan dilanjutkan.

Comments (26)

Ya, Semoga Generasi Muda termasuk saya, bisa mewujudkan darma Kepandean dan jauh lebih mampu memahami kePandeannya. Agar bisa memupus rasa malu tersebut…

[Reply]

Pande Md. Astawa Reply:

🙂 Banggalah menjadi anak pande, karena anak Pande tidak bodoh. Orang bodoh akan belajar terus menjadi anak Pande. Paktuk nggih ?

[Reply]

pande Reply:

Jujur saja, ini adalah unek-unek saya sejak lama dan dituliskan juga sudah lama. Tepatnya tahun 2008… apa yang kami rintis selaku generasi muda Warga Pande saat ini adalah perjalanan dan pembelajaran menuju kearah yang lebih baik, agar kami tak malu lagi mengaku ‘nak Pande nantinya. Suksema sudah mampir kemari…

[Reply]

[…] saja. Jika dahulu saya sempat menulis tentang “Kadang Saya Malu Mengaku ‘nak PanDe”, kini setelah semua yang saya alami selama tiga bulan terakhir membuat saya dengan percaya diri […]

Kalau saya sekarang bergerak di bidang penelitian dan teknologi apa dapat dikatakan profesi pande. Keluarga saya berhenti berprofesi pandai besi sejak jaman kakek saya. Tapi sesekali membuat pisau hanya untuk kebutuhan sendiri.

[Reply]

Post a comment

CommentLuv badge