Pengetahuan kecil tentang soroh PANDE

48

Category : tentang DiRi SenDiri

Sekali-sekali saya selaku penulis seluruh isi blog ini pengen juga ber-Narzis-ria, satu hal yang jarang saya lakukan belakangan ini, sejak dikritik oleh seorang rekan kantor yang kini jadi malas berkunjung lantaran Narzis tadi itu. 

Tentu saja postingan ini bakalan berlanjut ke posting berikutnya yang isinya jauh lebih Narzis. Mohon untuk dimaklumi.

***

penataran.jpg

PANDE merupakan salah satu dari empat soroh yang terangkum dalam Catur Lawa (empat daun teratai) Pasek, Pande, Penyarikan dan Dukuh- yang memiliki keahlian dalam urusan Teknologi dan Persenjataan.

Ini bisa dilihat eksistensi pura masing-masing di Besakih, yang memiliki tugas dan fungsi yang berbeda-beda dalam berbagai kegiatan Ritual dan Spiritual. Dimana Pura Pasek menyediakan dan menata berbagai keperluan upakara, Pura Pande menata segala peralatannya. Pura Penyarikan menata segala kebutuhan tata usaha administrasi agar segala sesuatu berjalan dengan teratur. Sedangkan Pura Dukuh Sakti sebagai penata berbagai keperluan sandang pangan, baik yang sakral maupun yang biasa, yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan kegiatan ritual dan spiritual di Pura Besakih.

Menurut cerita lain, mengungkapkan bahwa PANDE merupakan salah satu dari beberapa putra yang dimiliki oleh satu leluhur (penglingsir) di Bali, dimana para putra inilah yang nantinya menjadi cikal bakal soroh yang ada di Bali (bukan kasta atau wangsa). Dimana masing-masing putra Beliau ini memiliki keahlian yang berbeda, itu sebabnya pula ada perbedaan dari isi banten, doa maupun tirtanya.

Sehingga seorang pedanda (dari soroh ida bagus) tidak boleh memberikan tirta untuk hal2 “kepandean” ke soroh PANDE, karena soroh Pande memiliki pedanda sendiri yg bergelar Sri Empu dengan penyupatan tersendiri bagiumatnya, begitu sebaliknya di soroh yg lain.

PANDE sendiri tidak termasuk dalam Catur Warna (belakangan berkembang disebutkan menjadi Catur Wangsa), yang merupakan empat pilihan hidup atau empat pembagian dalam kehidupan berdasarkan atas bakat (guna) dan ketrampilan (karma) seseorang, serta kwalitas kerja yang dimiliki sebagai akibat pendidikan, pengembangan bakat yang tumbuh dari dalam dirinya dan ditopang oleh ketangguhan mentalnya dalam menghadapi suatu pekerjaan. Empat golongan itu adalah: Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra.

Dalam perjalanannya, soroh PANDE sangat jarang ditemui berebut mengganti nama atau sorohnya tersebut menjadi soroh lain, misalkan saja ada kasus yang menyebutkan bahwa salah satu soroh PANDE, berkembang mengganti atau menamakan keturunannya dengan Ngakan, I Dewa, Anak Agung atau I Gusti.

Di Denpasar, Tabanan dan Singaraja sudah biasa bahwa satu soroh dengan nama depan I Gusti, memiliki keturunan yang diubah menjadi AA (Anak Agung) sebagai nama depan. Bahkan ada juga I Dewa jadi AA dan yang AA menambah gelar Ida sehingga menjadi Ida AA.

Hal ini kabarnya merupakan satu keminderan pada soroh sendiri sehingga akan jadi jauh lebih PeDe jika memakai nama soroh lain. Tentu jauh berbeda dengan soroh PANDE yang dikenal sangat bangga dengan nama depannya tersebut sehingga tetap dipakai pada keturunannya sendiri. Bahkan ada juga yang memakaikannya sebagai nama Blog.

Comments (48)

😀
om swastyastu
bli sejak tiang uning web niki tiang menjadi semakin uning sejarah,perjalanan dan sangat berterimakasih ajak beli sane sampun medalin web puniki…!!
titiang masi warga pande tapi titiang durung uning larangan2 warga pande,titiang dot uning napi kemanten larangan – laranganne…..???

[Reply]

pande Reply:

Om Swastyastu. Suksema Bli Putu, untuk saat ini belum banyak yang dapat tiang publikasikan mengingat sifat blog ini masih sebatas informasi pribadi, hobby dan rutinitas. Namun tiang juga berharap, untuk kedepannya ada satu dua Bhisama atau pantangan yang sedapat mungkin tiang publikasikan juga. Matur Suksema sampun berkenan mampir…

[Reply]

om, swastiastu semeton pande sane wenten ring sejebag jagat bali. Tiang I Gede Suartawan semeton pande saking singaraja, tepatnya ring desa jagaraga kec, Sawan, tiang kepingin tahu sekali , apakah pande bankemaon yang ada di pura catur lepus tamblingan sama dg yang berada di pura pande desa jagaraga. Terus terang beberapa penglingsir tiang mempunyai keterangan yang berbeda beda,dan satu lagi, sebenarnya dimanakah wed pande bangkemaon, soalnnya tiang sendiri takut sekali dg sesuunan,dlm arti tiang sama sekali gk pernah tangkil ring wed pande bangkemaon, karena tiang sama sekali ten uning tentang keberadaannya, mohon semeton warga pande yang tahu tentang ini utk memberikan sedikit gambaran atau keterangan yg nantinya sangat berguna tiang, suksma.

[Reply]

pande Reply:

Om Swastyastu, Suksema sudah mampir ke halaman ini. Terkait Pande Bang Kemaon yang kemudian diplesetkan menjadi Pande Bangke Maong, barangkali infonya dapat dibaca sepintas dari halaman berikut :
http://www.pandebaik.com/2010/06/26/sekilas-tentang-pande-bangke-maong/
Matur Suksema.

[Reply]

Berarti tiang keturunan Mpu Siwa Saguna. benarkah karena dadia kami adalah tusan pande yg di buleleng Bungkulan

[Reply]

om swastyastu.tyang warga pande dr langan (kerambitan,tabanan).jujur tyang bingung karena tdk tahu pura kawitan saya dimana.bs dibantu gak dimana saya hrs bertanya?

[Reply]

pande Reply:

Om Swastyastu, coba langsung meluncur ke Geriya Sriempu Tunggak Karangasem. Disitu kini sedang dipersiapkan silsilah Keluarga Besar Pande, siapa tahu info keluarga diTabanan bisa terlacak…

[Reply]

Rahajeng sareng sami semeton pande . titiang sakeng blege blabatuh gianyar .salam kenal sareng sami

[Reply]

Post a comment

CommentLuv badge