Hunting WarNet

5

Category : tentang PLeSiran

Sedari awal bulan lalu, sambil menunggu kelahiran si kecil, sementara jiwa untuk giat bekerja dan kuliah lari entah kemana, satu aktifitas tambahan pun dilakukan demi mengisi waktu kosongnya pikiran. Kebetulan pula awal bulan Maret lalu adalah saat-saat penting perpindahan domain lewat jasa Mas Egy Rakhahosting.  

huntink-warnet.jpg

Keliling Kota Denpasar, nyari keberadaan WarNet dengan tujuan mengoprek blog yang baru saja dipindah juga mencari suasana baru untuk nge-net kedunia maya. Dicarilah satu persatu letak lokasi WarNet dari yang dekat kantor, dekat rumah, hingga dekat kampus. Maka matapun jelalatan lirak lirik setiap plang Internet yang dipampang dipinggir jalan.

Hasilnya, ada beberapa WarNet yang disasar selama sebulan terakhir dan diantara sekian banyak WarNet yang pernah dimasuki, berikut bolehlah dirangking sedikit urutan 3 besarnya.

Kalo dari segi Terbaik (cepat dan nyaman), bolehlah diberikan pada WarNet yang ada disebelah utara Masjid di jalan Diponegoro, sebelah timur RS Sanglah. Selain sekitar 10an pc desktop yang ada, memberikan pula fasilitas Hotspot setempat bagi mereka yang memilih memakai laptop pribadi untuk nge-net. Kecepatannya oke, saat ditest untuk men-download file sebesar 15MB, rata-rata mencapai 15 kbps. Urutan kedua dipilih pada WarNet didepan Toko Bahagia jalan Veteran, yang selain memberikan kecepatan dan kenyamanan tadi, pula terkadang memiliki file2 hasil download yang rata-rata berisikan video musik, maupun hal-hal yang bakalan disensor dalam waktu dekat. Sedangkan terakhir, ada di pertigaan sebelah barat kantor Bappeda Badung di Jalan Ahmad Yani.

Namun bila dilihat dari ketersediaan file PoRn* yang sbentar lagi bakalan dibuatkan Undang-undangnya, mungkin hanya WarNet didepan Bank Seri Partha lah yang  memegang urutan terbanyak. Sayangnya saat itu flash disk 4GB blom sempat dibeli, jadi yang dicopy sebatas maksimum 1GB saja. Itupun harus disortir dulu. Huehehehe…

Sementara yang terburuk mungkin hanya WarNet yang ada di sebelah barat Pasar Satriya jalan Abimanyu. Yang menyebabkan begitu karena lokasinya berdekatan dengan sekolah dasar, dimana fungsi WarNet berubah menjadi Game Centre. Jadilah keributan yang amat bising dari anak-anak yang maen gim, hingga yang ngerumpi tentang pacarnya disekolah, sambil telpon2an. Bayangkan anak SD sudah pacaran. Nelpon tanpa etika pula. Halah…

Tapi memang blom semua WarNet di seantero Kota Denpasar ini yang mampu disasar untuk dijajal baik kecepatan akses, kenyamanan berinternet maupun ketersediaan file yang bisa disedot. Huehehehe……

Si Kecil Murah Rejeki loh…

3

Category : Cinta, tentang Buah Hati

Hingga si kecil menginjak usia Minggu ke-3, ternyata masih ada saja famili juga rekan kantor maupun teman sekolahan dulu yang datang menjenguk untuk mengucapkan selamat pada kami, orang tua si kecil, sambil menyempatkan tuk melihat wajah lucu menggemaskan dari si kecil.

Kedatangan mereka semua memang tak dinyana sebelumnya, karena disamping hanya mengabarkan ke saudara maupun teman terdekat saja perihal kelahiran si kecil, yang paling membuat kami terharu tentu apa yang dibawa mereka semua untuk si kecil kami. 

si-kecil-murah-rejeki.jpg

Terbanyak tentu paket bedak si kecil yang bakalan berguna setiap saat kami perlukan. Yang mengherankan, ada pula yang memberikan tas gendong untuk memasukkan perlengkapan si kecil saat bepergian, ato malah gendongan untuk si kecil agar tak terlalu merasakan capai bagi pengempunya nanti. Ada juga yang memberikan baju untuk si kecil beraneka ragam bentuk untuk ragam usia si kecil kelak. Dari yang imut cerminan anak kecil, sampe yang ‘aduh bagusnya..”

Ternyata apa yang sudah kami persiapkan untuk si kecil, baik sejumlah popok, aled-selimut, juga kaos tangan-kaki tampaknya sempat pula membuat kelabakan saat hujan mendera tempo hari. Kurangnya persediaan yang dimiliki, akibat jemuran yang blom kunjung kering, sementara si kecil pipis dan be-ol seakan ngerjain Ibu dan neneknya, sering banget. :p Maka bawaan dari famili, rekan dan temanpun segera dibuka dan dipilah. Eh, ada juga yang ngasi apa yang kami perlukan. Waaaah…

Memang, ucapan selamat datangnya tak hanya dari mereka yang sempat berkunjung kerumah, tapi juga lewat SmS, komentar di Blog, nelpon langsung hingga yang sua dijalan. Bahagia itu gak terkira rasanya.

Terlepas dari semua yang kami terima, ada juga kerabat terdekat yang memilih memberikan sejumlah uang yang ukurannya tak sedikit bagi kami pegawai rendahan. Kata mereka mungkin bisa digunakan untuk keperluan lain. Mereka benar. Karena semua itu bakalan dipakai dan dipersiapkan untuk upacara si kecil kelak. Sebulan tujuh hari, 3 bulanan dan 6 bulanan atau yang dikenal sebagai Otonan. 

Sungguh kami selaku orang tua si kecil mengucapkan Terima Kasih banyak dan setulus hati kami miliki pada semua rekan yang ikut mengabarkan cerita gembira ini pada yang lainnya. Serta tak menyangka, jika si kecil membawa rejekinya sendiri.

Media Pagi : Bye Bye DPR (by Moh Mahfud MD)

Category : tentang KeseHaRian

Menyimak tulisan seorang Mahfud MD yang bercerita perihal kekhawatirannya saat akan memasuki dunia ‘wakil rakyat’ dan ternyata kecele, sungguh membuat nikmat hati dan serasa ingin menyaksikan bagemana jadinya apabila Pak Mahfud ini diajari nge-Blog. Tentu tulisan Beliau bakalan makin mampu memberikan info terhangat dari segala tingkah laku para pejabat bangsa ini dengan sarat makna dan tentu jauh lebih berbobot dibandingkan penulis posting pada blog ini. J  

media-pagi-dpr.jpg

Kelakukan anggota DPR kita yang Terhormat ternyata memang bener2 merupakan sekumpulan anak-anak TK, seperti yang diungkap oleh Pak Mahfud pada tulisan ini. Seakan menyadari apa yang dikatakan oleh Pak Presiden Gus Dur di era jaya Beliau.

Hujan Interupsi yang disampaikan saat persidangan maupun pembahasan seringkali terlihat nyeleneh, dimana saat baru mulai pembacaan pengantar, sudah di-Interupsi. Saat membahas satu topik serius eh yang di-interupsi malahan perihal masih lekatnya jepitan baju bekas laundry pada seragam seorang rekan mereka.

Syukur-syukur pula ada yang bisa mengatakan ‘Interupsi’ dengan benar. Kata pak Mahfud ini, terkadang dengan cuek dan pedenya ada yang mengatakan ‘Intruksi’ atau kata lain yang penting kedengarannya mirip-mirip. Halah… Kasian banget Rakyat Indonesia yang memberikan suaranya pada Wakil Rakyat seperti itu. Tapi namanya juga Wakil rakyat mantan Preman, ya wajar dong saat naik ke kursi empuk jadi lupa daratan begitu… J

Media Pagi : nge-juk Ojek me-judi

1

Category : tentang KeseHaRian

Mungkin yang beginian banyak terjadi saat pak Mangku Pastika masih menjabat posisi tertinggi keamanan di Bali. Namun secara pribadi, mungkin yang begini ini harus ditelisik lebih jauh dahulu, apa benar kerjaan mereka ini (judi) sudah menjadi satu mata pencaharian (bukannya ngojek) atau hanya sampingan menghabiskan waktu menunggu penumpang daripada bengong gak karuan.  

judi-kyu-kyu.jpg

Agaknya yang namanya mata polisi gak bisa diajak kompromi. Bagi mereka yang melakukan permainan sambil menunggu waktu mungkin bakalan percuma saja malah menambah pandangan negatif masyarakat terhadap citra polisi. Sementara yang kelas kakap dan menganggap judi itu seperti makan untuk hidup, malahan enak digelar tanpa adanya peringatan atau malah aksi penangkapan. Alasannya ‘nunggu laporan dari masyarakat’. Halah…

Media Pagi : Bayi (yang katanya) tertukar itu diserahkan pada Negara

Category : tentang Buah Hati, tentang KeseHaRian

bayi-tertukar-ke-negara.jpg

Jika sudah begini, yang tersiksa bathinnya hanyalah sang orang tua yang mengingkari kelahiran buah hatinya. Darah dagingnya sendiri… itupun kalo si orang tua bayi ini masih punya hati dan bathin.

Media Pagi : mbuletnya Kasus Adat

4

Category : tentang KeseHaRian

Tak habisnya permasalahan yang menimpa krama Bali di wilayahnya sendiri, seperti halnya pemberitaan media Radar Bali tanggal 28 maret lalu. Kasus adat yang melarang dilakukannya pengabenan di setra (kuburan) setempat bagi warga perantauan, memang bukan sekali ini terjadi. Kasus adat ini pula seakan menjadikan hambatan antar krama Bali sendiri yang tak mampu hidup rukun dan kabarnya memang sudah menjadi ciri khas orang Bali sedari dahulu kala.

status-adat.jpg

Mencuatnya kembali kasus adat seperti ini menyegarkan ingatan pada obrolan Bale Banjar dengan Pak Tjok Sukawati ‘Sosrobahu’ disela perkuliahan mata kuliah SDM beberapa waktu lalu.

Menurut Beliau, apa yang terjadi saat ini memang sudah terjadi sejak dahulu, pertikaian antara krama Bali sendiri yang kemudian perlahan berubah sejak masuknya penjajahan Belanda.

Satu cerita klasik yang sering terdengar, kali ini Beliau ceritakan berkaitan dengan salah seorang sanak saudaranya yang meninggal di perantauan. Satu dilema terjadi tatkala jenasahnya tersebut akan dipulangkan ke tanah kelahirannya, yang kemungkinan besar akan menimbulkan chaos saat prosesi pengabenan berlangsung.

Bukan tak mungkin, bagi krama banjar adat yang masih saklek dengan hukum mereka, bakalan mengerjai jenasah beserta badenya hingga terkadang peti jenasah jatuh keselokan sebagai tanda bahwa si jenasah semasa hidupnya tak pernah mebanjar adat dan melakukan kewajibannya sebagai krama banjar.

Hal ini pernah terjadi saat tahun jadul disekitar daerah Peguyangan (lupa tahun berapa) yang disebabkan oleh keluarga pemilik jenasah adalah besar dan hidup di perantauan, maka saat ingin kembali ke tanah kelahirannya untuk diaben, maka beginilah nasib yang harus diterimanya.

Maka pihak keluarga merekapun memutuskan untuk meng-kremasikan jenasah tersebut dan menguburkannya di Taman Mumbul Nusa Dua. Apa mereka bisa disalahkan ? secara adat mungkin iya, tapi secara efisiensi waktu, biaya dan juga harapan pihak keluarga untuk menghormati yang telah meninggal, dapat terwujud tanpa harus mengelus dada saat peti jenasah dikerjai oleh krama banjar adat di tanah kelahirannya.

Efisiensi waktu dan biaya yang dimaksudkan tentu dari prosesi sampai ditanah kelahiran, mencari hari baik, kemudian prosesi kematian hingga dan lain-lainnya, jika dilakukan secara adat, maka membutuhkan waktu yang sangat panjang pula biaya yang amat besar, mengingat operasional yang dihabiskan setiap hari untuk menuntaskan proses tersebut.

Kremasi akhirnya menjadi salah satu solusi terbaik, yang dilakukan oleh krama Bali yang mencari nafkah diluar tanah kelahirannya. Apa ini yang diinginkan oleh Krama Banjar Adat setempat yang seringkali mempermasalahkannya dan menjadikannya kasus adat yang tak pernah usai ?