Media Pagi : mbuletnya Kasus Adat

Tak habisnya permasalahan yang menimpa krama Bali di wilayahnya sendiri, seperti halnya pemberitaan media Radar Bali tanggal 28 maret lalu. Kasus adat yang melarang dilakukannya pengabenan di setra (kuburan) setempat bagi warga perantauan, memang bukan sekali ini terjadi. Kasus adat ini pula seakan menjadikan hambatan antar krama Bali sendiri yang tak mampu hidup rukun dan kabarnya memang sudah menjadi ciri khas orang Bali sedari dahulu kala.

status-adat.jpg

Mencuatnya kembali kasus adat seperti ini menyegarkan ingatan pada obrolan Bale Banjar dengan Pak Tjok Sukawati ‘Sosrobahu’ disela perkuliahan mata kuliah SDM beberapa waktu lalu.

Menurut Beliau, apa yang terjadi saat ini memang sudah terjadi sejak dahulu, pertikaian antara krama Bali sendiri yang kemudian perlahan berubah sejak masuknya penjajahan Belanda.

Satu cerita klasik yang sering terdengar, kali ini Beliau ceritakan berkaitan dengan salah seorang sanak saudaranya yang meninggal di perantauan. Satu dilema terjadi tatkala jenasahnya tersebut akan dipulangkan ke tanah kelahirannya, yang kemungkinan besar akan menimbulkan chaos saat prosesi pengabenan berlangsung.

Bukan tak mungkin, bagi krama banjar adat yang masih saklek dengan hukum mereka, bakalan mengerjai jenasah beserta badenya hingga terkadang peti jenasah jatuh keselokan sebagai tanda bahwa si jenasah semasa hidupnya tak pernah mebanjar adat dan melakukan kewajibannya sebagai krama banjar.

Hal ini pernah terjadi saat tahun jadul disekitar daerah Peguyangan (lupa tahun berapa) yang disebabkan oleh keluarga pemilik jenasah adalah besar dan hidup di perantauan, maka saat ingin kembali ke tanah kelahirannya untuk diaben, maka beginilah nasib yang harus diterimanya.

Maka pihak keluarga merekapun memutuskan untuk meng-kremasikan jenasah tersebut dan menguburkannya di Taman Mumbul Nusa Dua. Apa mereka bisa disalahkan ? secara adat mungkin iya, tapi secara efisiensi waktu, biaya dan juga harapan pihak keluarga untuk menghormati yang telah meninggal, dapat terwujud tanpa harus mengelus dada saat peti jenasah dikerjai oleh krama banjar adat di tanah kelahirannya.

Efisiensi waktu dan biaya yang dimaksudkan tentu dari prosesi sampai ditanah kelahiran, mencari hari baik, kemudian prosesi kematian hingga dan lain-lainnya, jika dilakukan secara adat, maka membutuhkan waktu yang sangat panjang pula biaya yang amat besar, mengingat operasional yang dihabiskan setiap hari untuk menuntaskan proses tersebut.

Kremasi akhirnya menjadi salah satu solusi terbaik, yang dilakukan oleh krama Bali yang mencari nafkah diluar tanah kelahirannya. Apa ini yang diinginkan oleh Krama Banjar Adat setempat yang seringkali mempermasalahkannya dan menjadikannya kasus adat yang tak pernah usai ?

pande

hanyalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang sangat biasa, mencoba hadir lewat tulisannya sebagai seorang blogger yang baik

4 thoughts on “Media Pagi : mbuletnya Kasus Adat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.