Fanatisme Soroh

2

Category : tentang KeseHaRian, tentang Opini

fanatisme.jpg

Mendengar obrolan orang perihal sulitnya apabila sudah berhadapan dengan orang yang begitu mengagungkan dirinya dalam kaitannya dengan siapa leluhurnya dan apa nama depannya, sedikit membuat ketersinggungan dengan apa yang diyakini selama ini.Tak menutup mata jika memang hingga abad yang sudah sedemikian canggih ini, orang masih saja bersikap kaku dalam memandang lingkungan sekitarnya.

Tak boleh makan sembarang milik orang, tak boleh menikahi anak gadis dari orang yang tingkatannya lebih tinggi atau malah gak boleh nyakupang tangan apabila sudah menikah dengan orang yang berbeda leluhur.

Semuanya masih getol berbicara soroh dan kasta. Padahal mungkin kasta itu sebelumnya gak dikenal di Bali. Yang ada dikenal dengan sebutan Catur Wangsa dan Catur Lawa. Dimana pembagiannya didasarkan pada tugas dan kewajibannya dalam pemerintahan.

Orang cenderung lebih menghormati seseorang yang diketahuinya sebagai kaum Brahmana, Waisya dan Satria dan disisi lain merendahkan golongan Sudra. Padahal seperti kata Dalang Cenkblonk, kalo didunia ini gak ada Sudra, lantas siapa yang bisa mengatakan bahwa orang tersebut adalah Brahmana dan sebagainya. Semua saling terkait dan tak bisa dilepaskan. Hendaknya pula harus menghormati satu sama lain.

Fanatisme soroh rupanya belum berhenti hingga disini.Kalo sudah mengarahkan pada soroh tertentu, maka lebih banyak topik pembicaraan hanya mencakup hal-hal buruk saja. Memang sih, orang begitu gampang mengingat hal buruk dibanding kebaikan orang. Namun toh tak semuanya begitu. Memang harus diakui, memang ada yang masih bersikap kolot seperti cerita yang mereka yakini. Tapi hey…Jaman sudah maju, heran kalo sampe masih ada yang bertindak kaku pada perbedaan soroh dan wangsa seseorang.

Belum lagi dengan berlomba-lombanya orang berusaha menaikkan golongan diri, yang mungkin sedari kecil dikenal sebagai wangsa Sudra, namun saat dewasa mendadak merubah nama menjadi golongan yang dianggap lebih tinggi. Walah… Kasian banget ni orang.

the Post ReLated

Comments (2)

setuju bli. dulu pernah ada tukang xxx (lupa) datang ke rumah saya bli. terus bapak saya kan nawarin makan dulu, “mbok, mai medaar malu di poon”. langsung dijawab, “yeeee, tiang desak niki”. wakakakakaka, so what geto loh. orang baik – baik mau nawarin, malah galak dia :)

[Reply]

Hahaha… Di Kantorpun keseringan kayak gitu Bli. maunya sih basa basi, nawarin makan, tapi yang kluar bukannya ‘ah nggak, Terimakasih’, tapi ‘hey tiang nak anu ne….’
halah… mentang2nya…

[Reply]

Post a comment

CommentLuv badge