Sangkep Banjar

Hari minggu siang, sesuai surat edaran pula, dilakukan sangkep-rapat warga banjar yang merupakan agenda tahunan dilingkungan rumah.
Sangat berbeda bila dibandingkan dengan suasana sangkep di rumah asal Istri, yang pengadaannya memang bisa sampe 5 kali setahun. Topik pembahasannya jelas jauh beda.
Kalo di kota mungkin gak seribet yang didesa.

Hanya saja, jaman begini mungkin lewat sangkep ini pula sebaiknya dilakukan revisi hukum adat yang selama ini mungkin selalu memberatkan beberapa warga yang walopun tergolong penduduk asli, namun memungkinkan untuk dihukum dan dikeluarkan dari desa adat seperti yang terjadi belakangan ini.

Kelahiran bayi kembar buncing (cowok-cewek), disatu desa adat dianggap sebagai suatu hal yang leteh (diharamkan mungkin bahasa lainnya). Yang mengakibatkan baik ortu dan kedua bayi akhirnya dikucilkan keluar desa agar tak mendatangkan bencana bagi desa.
Tapi siapa sih yang tau kalo anak yang lahir itu beda kelamin ?

Bentrok desa lantaran sengketa sema (kuburan).
Malah ada juga bentrok desa akibat perebutan batas wilayah.

Tapi apa mungkin lewat sangkep seperti ini para pucuk pimpinan desa akan mampu memberikan pengaruh pada warganya untuk tidak bertindak anarkis pada sesamanya ?
Apalagi kalo ternyata bentrok itu memiliki tujuan politis lain berkaitan dengan pendapatan desa misalnya ?

pande

hanyalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang sangat biasa, mencoba hadir lewat tulisannya sebagai seorang blogger yang baik

2 thoughts on “Sangkep Banjar

  • November 7, 2011 at 11:29 pm
    Permalink

    Om swastiastu…..
    rahajeng….

    mengapa wanita tidak pernah diikutkan dalam Paum (sangkep) di Bale Banjar? apa dasar hukum yg mengatur ini? mohon dijelaskan. suksma

    om santhi 3x om

    Arya
    Karangasem
    rendang

  • November 8, 2011 at 8:07 am
    Permalink

    Om Swastyastu bli Wayan Sugiarsa. Barangkali karena faktor ‘Purusa’ dalam keluarga yang dianggap sudah mewakili masing-masingnya. (satu suara per keluarga)
    Untuk pastinya tiang ten uning, mungkin jika ini ditanyakan kepada penglingsir ataupun kelihan banjar, barangkali bisa terjawab dengan baik. Matur Suksema…

Comments are closed.