Bersyukur…

Tiga hari diem-dieman emang gak mengenakkan hati.
Terutama kalo dalam hati merasa yakin gak berbuat salah, malah dituduh yang aneh-aneh, jadi bingung dan mangkel sendiri.

Tapi seperti kata Bu Megawati, diam adalah emas.

Ternyata emang bener.
Daripada mempermanjang masalah yang sebetulnya gak ada, cuman perasaan Istri yang berlebihan, akhirnya diam adalah jalan terbaik.

Hari ketiga sore, setelah menemani Istri berjalan-jalan keliling lapangan, berduaan duduk dirumput alun-alun puputan.
Emang direncanakan spesial, toh tugas kuliah udah selesai dikerjakan pas suasana diem-dieman kmaren. Jadi selain waktu bikin tugas jadi lebih banyak karena gak ada tegur sapa, konsentrasipun gak terlalu terpecah oleh hal lain. Ini sisi positif dari kecemburuan Istri. Hehehe…

Hari sabtu yang artinya menjelang malam minggupun dilewatkan dengan ngobrol panjang dari hati ke hati. Sesekali nyeruput jus favorit buatan Moena, hasil obrolan lumayan membuat perubahan suasana hati Istri.

Sebetulnya inti pembicaraan cuman meminta Istri untuk meyakini apa yang ia curigai dan cemburui selama ini.
Anggaplah bahwa apa yang ia sangka dan duga adalah benar.
Jadi setidaknya ia gak ragu lagi buat nanya2 ato malah mencari kebenaran atas dugaannya.

Karena kalo mencoba meyakinkan Istri akan kejujuran yang selama ini dilakukan, dijamin seratus persen, Istri gak bakalan percaya. Apalagi sikon kantor mendukung banget untuk mematahkan kejujuran itu.

Sisanya ya tinggal tunggu waktu aja.
Kalo belakangan ternyata emang bener dugaannya selama ini, akan kecemburuan yang ia rasakan, maka ia tak perlu menyesalinya. Tinggal balik kanan dan pulang kampung.
Tapi kalo ternyata dugaannya salah, yah mungkin bersyukur adalah jalan satu-satunya.
Walopun mungkin akan malu sendiri karena mencurigai hal yang sebenarnya tak terjadi.

Pilihanpun diserahkan pada Istri…

Setelah terdiam cukup lama, apa yang dilakukan Istripun cukup untuk menghela nafas dalam-dalam dan berucap dalam hati.
‘Syukurlah Tuhan, kau berikan jalan Terbaik untuk Istriku…’

Pulangnya, jalan kaki berdua bergandengan tangan layaknya anak sekolahan yang baru nginjak cinta monyet, menuju rumah yang jaraknya gak seberapa jauh dari lapangan alun-alun…

Walopun dalam hati ini tau bahwa dari pandangan orang disepanjang jalan yang kami lewati, adalah satu keanehan melihat seorang suami yang tinggi besar dan seram, berjalan mesra dengan seorang Ibu mungil, namun Istriku tetaplah pilihan terbaikku.
Gak pernah menyesal telah bersamanya hingga hari ini.

pande

hanyalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang sangat biasa, mencoba hadir lewat tulisannya sebagai seorang blogger yang baik