KESIBUKAN BARU : Banjir Dewi Sri

3

Category : tentang PeKerJaan

Awal tahun gak selalu diartikan sebagai bulan-bulan bersantai seperti halnya tahun-tahun lalu. Disaat para pegawe menanti ‘ketok palu’ disetujuinya anggaran tiap tahun oleh para angota DPR yang Terhormat, sebagai tanda dimulainya tahun anggaran. Hari ini tidak lagi.Kegiatan yang sebetulnya sudah dimulai sejak Januari lalu menyusul kegiatan pengaspalan jalan menuju Pantai Berawa akhir tahun lalu.
Begitu selesai kegiatan yang satu, banjir yang terjadi di salah satu areal kawasan Kuta, cukup menyita perhatian publik baik di media cetak maupun layar kaca. Langsung saja diambil satu kebijakan untuk mengerjakan apa yang bisa dilakukan dan seperti biasa, media cetak ‘Radar Bali’ selalu siap menayangkan apa yang mereka saksikan dengan begitu sinis dan men’judge sekehendak mereka sendiri.

Penanganan banjir sebagai akibat kurangnya saluran pada areal depan bangunan yang berada disepanjang jalan Sunset Road dan Dewi Sri.
Benar apa kata koran Radar Bali. Bahwa bangunan yang berdiri sudah seijin salah satu instansi terkait dan ternyata memang sudah memiliki saluran sesuai dengan standar perijinan yang dikeluarkan.
Namun bagaimana dengan rompok-rompok kecil liar yang dapat dipastikan tak berijin ?
Sudah bisa ditebak, diareal pinggir jalan bangunan mereka tak dibuatkan sarana penyaluran air satupun.
Inilah yang menjadi pokok permasalahan.

Kedua sudah barang tentu bahwa aliran air dalam kenyataannya tak mampu lagi dialihkan kemanapun. Mungkin karena makin menipisnya daerah resapan air, sebagai salah satu akibat dicaploknya lahan-lahan yang seharusnya tak boleh dibangun. Tapi apa mau dikata. Masyarakat sudah tetlalu pintar. Membangun terlebih dahulu barulah mengurus ijin. So, siapa yang berhak disalahkan ?

Balik kepada banjir yang terjadi di sepanjang jalan Dewi Sri sebagai titik terendah kawasan tersebut, sejauh ini hanya bisa ditindak dengan pembuatan saluran-saluran penampung air yang mungkin tak bisa dialirkan sesuai harapan. Hanya saja memang sebagian besar dialirkan kearah Tukad mati yang dikhawatirkan akan meluap saat hujan turun.

Kekhawatiran itu terjadi.
Aliran air berbalik arah dan menyebabkan banjir terjadi lagi, namun tak setinggi banjir terdahulu. Maka diputuskan untuk menambah lagi saluran penampung air disepanjang jalan kawasan tersebut dengan harapan air yang tergenang mampu beralih kedaerah tersebut sembari mencoba meninggikan titik terendah kawasan tersebut. Sehingga mampu mengalirkan air ketempat lain.

Memang tak satupun rencana ini bisa berjalan sempurna. Namun setidaknya pemerintah daerah sudah berusaha semampunya untuk masyarakatnya walopun belum didukung sepenuhnya oleh masyarakatnya sendiri. Termasuk juga media cetak yang mungkin hingga hari ini hanya bisa ngomong ngawur tanpa mau memberikan sedikit pemikirannya untuk sebuah solusi.

Comments (3)

jadi kesimpulaannya adalah: sekuat tenaga menghadang air, ya kalo ndak ada serapan air apa daya. Tapi alih fungsi lahan kan memang selalu niscaya. Kalo gitu tinggal memaksimalkan DSDP sebagai penyalur air lewat bawah tanah. apakah proyek ini berfungsi seperti itu bli??? lama ga update DSDP puk.

[Reply]

kesalahan pelaksanaan proyek jalan di indonesia adalah selalu meremehkan pekerjaan drainage, sedangkan di negara maju, pekerjaan drainage diutamakan. pekerjaan drainage dikerjakan terlebih dahulu termasuk pemasangan bronjong-bronjong untuk mengurangi tanah longsor, pembuatan embung penampung air sementara dan yang terakhir baru perkerasan jalan. kesemuanya mengikuti planning yang sudah dibuat jauh sebelumnya. toleransi kesalahan diatas 5 mm sama sekali tidak bisa ditoleransi

[Reply]

MBok LoDe > Setidaknya itulah yang kami harapkan. 😕 Sayangnya seperti yang Mbok katakan, disitu gak ada daerah resapan air. DSDP ? Setahu saya sih blom mengarah kesana… 😆
BLi NyoMan > Secara pribadi, 😎 saya sependapat dengan BLi. Kabarnya diluar memang begitu, walopun saya sama sekali blom pernah terbang keluar apalagi melihatnya langsung. :mrgreen:
Sayangnya orang sini lebih suka melihat jalan mulus dibandingkan infrastrukturnya selesai lebih dulu. Demikian pula termasuk dengan Perencanaan PusPem Badung tentunya. 🙄
Yang penting Gedungnya terlihat megah dahulu. Peduli amat dengan saluran drainasenya…. katanya sih, ‘Ah, itu bisa diatur kok….’ :mrgreen:

[Reply]

Post a comment

CommentLuv badge