X

Pak Tua ‘Bento’ telah meninggalkan Takhtanya

Bagi mereka yang besar di era tahun 90-an pasti pernah mendengar atopun melafalkan sepotong bait fenomenal bangsa ini, kabarnya sempat pula memunculkan isu dikerangkengnya mereka-mereka yang terlibat dibalik pembuatan lagu ini.Bento.
Buah karya orang-orang yang memilih duduk berseberangan dengan elit pemerintah saat itu, menyuarakan isi hatinya secara lugas sehingga tak jarang membuat panas kuping bagi mereka yang merasa terkena sindiran.

Lahir dengan nama Swami, gabungan musisi papan atas musik Indonesia, macamnya Iwan Fals, Sawung Jabo, Jockie S, Toto Tewel, juga Innisisri, Nanoe dan Naniel, diproduseri oleh siapa lagi kalo bukan konglomerat jaman itu, Setiawan Djody.

Memukau rakyatnya lewat 2 karya apik, Bento dan Bongkar.
Lahir hanya berumur lima tahun setelah menelorkan album ke-2, Kuda Lumping.
Satu album idealis yang mungkin hanya sedikit orang memilikinya masa itu.

Bento boleh jadi menyuarakan betapa berkuasanya sang pimpinan saat itu, walo kemudian setelah rame-rame di media yang memanjangkan kata Bento menjadi ungkapan anti pemimpin negeri, sang maestro membantah dan menjelaskan kalo Bento itu artinya bodoh, entah benar ato tidak.

Sindirian pada pemimpin negeri ini sebenarnya sudah dimulai sejak jaman mas Iwan Fals mengeluarkan album-album pinggiran yang barangkali terlewatkan untuk dimiliki.

Mungkin ada yang pernah mendengar lagu berkisah tentang seorang anak kecil tukang semir sepatu tertidur diseberang Istana sang raja.
Ada juga satu buah karya dari grup Elpamas ‘Pak Tua’ yang kabarnya sang pencipta lagu masih orang yang sama, namun dengan nama yang disamarkan.

Jaman itu, pencekalan sudah dianggap lumrah bagi mereka yang duduk diseberang sang pimpinan negeri.
Begitu banyak kisah yang terdokumentasi berkaitan dengan sang maestro tembang nyelekit, terpanjang mungkin dari salah satu tabloid yang dibredel lantaran menyuarakan hasil jajak pendapat yang menyatakan sang musisi idola menduduki peringkat diatas Maha Pengasih.

Semua itu masih tersimpan rapi di sepuluh buah buku gambar A3 sebagai tempat kumpulan informasi jaman SMP dulu.

Hari ini, Pak Tua yang juga dikenal sebagai Bento telah pergi.
Sepuluh tahun terlewat sejak turun dari takhta negeri ini.
Masih sempat pula menyisakan sekian banyak kroni dari kalangan pejabat hingga tingkat desa kecil sekalipun.
Satu budaya yang seakan membudaya hingga kini masih belum bisa diberantas.
Penyunatan dana dan korupsi merajai sekian banyak kegiatan pembangunan di negeri ini.

Pernah mendengar lagu sang musisi idola tentang Pembangunan negeri ini ?

Cerita perjalanan negeri ini seakan tak pernah habis direkam oleh para musisi yang kini mungkin memilih untuk merenung dan menyuarakan isi hati kedamaian.

Tak seperti mereka yang mengaku Reformis namun baru berani buka suara saat sang raja turun takhta.

Satu komentar yang menggelitik dari sang musisi idola, berkata bahwa di saat suasana memanas seperti sekarang mungkin akan lebih berguna apabila menyuarakan kata Cinta dan Kedamaian dibanding berkoar layaknya pahlawan kesiangan.
Satu kerendahan hati dari seorang maestro yang penampilannya masih ditunggu hingga kini.

Balik pada kenyataan hari ini, mungkin sudah saatnya ‘Pak Tua’ untuk benar-benar beristirahat…

‘Pak Tua sudahlah’. Engkau sudah terlihat lelah, Oh ya….

Selamat jalan Pak.
Panjang titianmu sepanjang penderitaan negeri ini saat Engkau turun dari takhtamu yang berkilau emas.
Semoga tenang berada disana.

Sementara negeri ini masih bergumul dengan hutang dan bencana yang tercipta pada jamanmu.

Categories: tentang Opini
pande :hanyalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang sangat biasa, mencoba hadir lewat tulisannya sebagai seorang blogger yang baik