Gelar tak lagi membanggakan

1

Category : tentang KuLiah

Menjalani proses kuliah tingkat pasca sarjana memiliki banyak sudut pandang jika dilihat dari bermacamnya motivasi dan tujuan dari masing-masing mahasiswa untuk melanjutkan studi.

Ada yang memang ingin serius menjajal kemampuan apalagi jika sudah masuk dalam satu perguruan tinggi negeri yang memiliki pengajar kebanyakan full teori. Ada juga yang ingin sekedar lewat, mendapatkan gelar hanya karena tuntutan pekerjaan didominasi oleh para pegawe negri yang sudah menjabat atopun dosen yang sudah harus mengantongi gelar di akhir tahun 2010 nanti.
Tak sedikit pula yang melanjutkan studi karena mendapat sokongan penuh dari sang orang tua sehingga tugasnya pribadi hanyalah belajar dan berusaha menyelesaikannya secepat mungkin.

Jika dilihat lagi dari sumber dana yang dipake, ada yang mendapatkan beasiswa dari perguruan tinggi yang menaunginya tentu kebanyakan yang menerima beasiswa ini ya dari kalangan dosen pengajar tingkat Sarjana. Ada juga yang make uang tabungan bertahun-tahun hasil simpanannya selama bekerja sampingan, dan terakhir ya golongan mengutang pada bank dan dicicil setiap bulan potong gaji. Aduh !

Namun tak semua merasakan enjoy tuk menjalani hari-hari kuliah maupun untuk mengerjakan tugas, lantaran rata-rata sudah bekerja dengan jam kerja padat, tapi ada juga yang tipikal murid sekolahan, padahal dia itu dosen tingkat Sarjana lho.
Tipikal murid sekolahan maksudnya, lebih berandai-andai dosen pengajar gak dateng n gak ngajar tapi ngasi nilai A, juga pengennya libur terus. Hehe…
Gak sedikit pula yang nyontek tugas mahasiswa lain pas hari pengumpulan. Hmmm… budaya sekolah. Hehe…

Hari gini punya gelar pascasarjana tak selalu membuat dada membusung. Ada type mahasiswa yang merendah, bahwa gelar sarjana aja masih ngerasa malu untuk disandang lantaran pengalaman praktek tak seoke yang dibayangkan orang, ini mau nyandang gelas pasca. Wah, apa kata dunia ?

Bukan apa-apa sih, tapi karena masyarakat sudah tau dan memaklumi bahwa gelar itu bukan lagi menjadi tolok ukur tingkat intelegensia seseorang, namun lebih dilihat dari kemampuan finansial dan juga kedudukan seseorang.

Ini diperkuat dengan banyaknya pejabat yang berlomba-lomba memasang gelar pascasarjana mereka padahal mungkin gelar itu tak sepenuhnya ditempuh. Alias dibeli 20 juta per gelar. Mau gelar apa saja juga ada.
Unsur politis juga tak kalah banyak, dengan membeli gelar yang biasanya dianugerahkan kepada politisi sukses dalam bidangnya. Honoris Causa rame diberikan biasanya menjelang pilkada atopun kampanye. Nama nongol di koran dengan kesuksesannya di bidang ini itu.

Tak sedikit pula para pejabat tinggi negeri ini maupun orkay lokal dan nasional yang menyandang gelas Doktor hingga Profesor.
Pengalaman menarik dialami ketika mengenal sosok famili yang dahulunya begitu sederhana, bahkan SMApun tak diselesaikan karena faktor biaya, eh saat anak yang ke-2 mantu, mendadak nama sang famili berisi embel-embel Prof. DR.
Wah, kapan sekolahnya nih ?

Tapi jangan berharap banyak kalo yang namanya gelar di belakang nama itu kemampuannya bakalan sama dengan gelar jaman presiden Indonesia pertama masih mimpin. Ya itu dah, gelar masih bisa dibeli biar sedikit lebih keren kalo namanya terpampang di koran pas lagi ngomong.

Satu lagi, gak menjamin pula kalo gelar yang panjang bakalan bikin orang yang menyandangnya berpikir untuk realistis dan down to earth. Malah kecenderungan orang-orang kayak gini, malah full teori tanpa ada prakteknya. NATO-No Action Talk Only.
Trus yang namanya pergaulan udah gak bisa gabung lagi dengan rakyat kelas bawah, dan kalo lagi diganggu waktunya, golongan ini malah lebih sayang membuang waktu hanya untuk ngobrol panjang lebar lepas kangen.

Kembali ke famili tadi, pemasangan embel-embel itu gak lama kok.
Saat anak ke-3 sekaligus terakhir mantu, embel-embel gelar tadi tak dipampang lagi di kartu undangan.

Entah karena merasa malu diketahui banyak orang gelar itu dari membeli ato malah baru menyadari kalo gelar bukan sesuatu yang harus dibanggakan dan dipampang pada selebaran, kartu undangan maupun stiker kampanye- mengingatkan pada seorang tokoh membagi-bagikan stiker pada yang mudik untuk milih sang bakal calon huh ?

Anyway terakhir ada juga gelar yang asik disandang tanpa perlu mikirin beban. Gelar tiker trus bobo. Huehehe….

Comments (1)

[…] ini, barangkali ada beberapa rekan blogger Bali yang masih ingat tulisan saya terdahulu tentang ‘Gelar yang tak lagi membanggakan’. Sempat diculik untuk Bale Bengong miliknya Om Anton kalo ndak salah. Waktu itu saya masih belum […]

Post a comment

CommentLuv badge