Uneg uneg Beban dan Cobaan

1

Category : Cinta, tentang Buah Hati

Jika setahun hingga empat bulan lalu, pikiran masih dipenuhi dengan hasil tes medis yang menyatakan bahwa aku tak akan bisa memiliki keturunan kecuali dengan operasi kecil yang biayanya tentulah tak kecil, namun dengan bantuan orang yang disucikan, akhirnya semua pikiran itu punah sendirinya seiring Mukjizat yang turun usai upacara pernikahanku yang kedua –diulang karena kesalahan hari baik- dilangsungkan awal bulan juni lalu.Sebulan terakhir, setelah impianku terwujud, istri hamil dan sudah mencapai bulan ke-3, aku mengambil satu keputusan yang memaksaku berhutang uang pada bank untuk biaya sekolah.
Lantaran tak memiliki simpanan apapun- habis berobat ke dokter pakar seks andrologi terkemuka Indonesia yang praktek di Bali, namun tak jua memberikan hasil apapun, buang-buang uang simpanan seumur2….

Namun entah ini yang dinamakan satu keputusan nekad atau malah kesempatan mumpung belum banyak tanggungan, menjalani perkuliahan yang sama sekali baru dengan modal dana nol besar.

Jadilah yang namanya SK PNS dititipkan ke Bank demi mendapatkan biaya kuliah. Sungguh berbeda dengan teman sekantor yang memilih menitipkan SK demi kebutuhan konsumtif.

Hasil akhirnya tentu gaji bulanan yang sudah minim, dipotong hampir 50 persen demi melunasi pinjaman selama 4 tahun. Itupun jika tidak diperpanjang lagi.
Bayangkan, 4 tahun.
Itu sama saja memasrahkan hidup pribadi, istri, anak dan keluarga pada sisa gaji yang seiprit demi menyelesaikan studi.

Kadang semua ini aku anggap sebagai cobaan dari-Nya yang tiada henti, dan kini ditengah kebingunganku untuk mendapatkan dana tambahan keperluan sehari2 serta biaya2 plus saat kelahiran maupun upacara2 yang menyertainya, hanya berharap ditunjukkan jalan dan penerangan untuk dapat mencapai apa yang diharapkan.
Ataukah berharap pada Mukjizat Tuhan yang barangkali saja hanya datang sekali seumur hidup ?

Sungguhpun support dari orang tua dan juga istri untuk tak memikirkan bahwa aku tak akan bisa lagi membelikan baju ato make up istri, kewajiban sebagai seorang suami yang menjaga sang istri agar tetap tampil menarik, ato malah gak bakal bisa lagi ngajak ortu makan diluar sekali seminggu hanya untuk memberikan kesegaran pandangan dan pikiran saat mereka beranjak tua.
Namun takkan bisa hilang dari pikiran, selama yang namanya solusi belum terlihat didepan mata. Hal yang selalu sama aku lakukan setiap berhadapan dengan tembok tinggi cobaan dari-Nya setiap aku memulai sesuatu yang baru.
Memikirkannya setiap malam dan mencoba mengira-ngira solusi apa yang bisa melepaskan semua beban didada dan kepala ini ?

Mungkin ini juga pemicu kesehatan yang menurun saat puncak beban makin terasa dekat, ato malah diambil segi positifnya, gak enak makan dan mencoba diet tak alami- karena beban pikiran ?


the Post ReLated

Comments (1)

Selamet Pande, buah hati yang dinanti akhirnya dikabulkan oleh Hyang Widhi. Percaya padaNYA. Ora et labora. Bekerja dan Berdoa.

Percaya selalu ada jalan.

Eka
http://www.ceritaharihari.blogspot.com

[Reply]

Post a comment

CommentLuv badge