Bali dimata Generasi Muda Hari ini

Category : tentang KeseHaRian

Posting berikut pernah pula nampang di balebengong.net
***
Menarik. Ide yang dilontarkan oleh Moderator Bale Bengong saat membalas mail yang menyatakan keberatan untuk memberikan informasi seputar hal-hal kecil berbau Bali.
Namun sebetulnya dikepala ini memang sudah ada sejak sebelum menikah dan masih terngiang hingga hari ini. Awalnya sang calon ibu mertua yang tau banyak masalah asal usul semua yang berkaitan dengan Bali, mencoba mengetes pengetahuan calon menantunya. Hasilnya bisa ditebak.
Yang ada cuman bengong karena memang selain cerita yang tak pernah didengar dan dibaca ditambah pula dengan bahasa Dewa. Bahasa Bali tingkat paling atas.

Walopun kondisi makin memburuk karena si calon menantu tak jua mengerti apa maksud calon ibu mertua, dengan segera terpupus saat mengajak calon besan main kerumah camer.
Bapak yang kelahiran 1942 ternyata tau banyak dan mampu menimpali pengetahuan calon ibu mertua. Malah sempet bikin bengong semua akan kemiripan dan kebenaran ceritanya itu.

Trus apa yang bisa dipetik dari cerita diatas ?
Tentu perbedaan pengetahuan yang dimiliki oleh orang tua dan anaknya walopun sang anak sudah berusaha ikut mendampingi kemanapun Beliau pergi.
Tetap saja yang namanya pengetahuan lahir dari pengalaman. Begitu kata Bapak.

Balik ke hal-hal yang berkaitan dengan Budaya Bali, boleh jadi dimata generasi muda hari ini tak lagi menjadi satu bacaan wajib yang mutlak harus diketahui. Mungkin karena tuntutan keseharian yang kini cenderung mengajarkan si anak untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar dibanding sopan santun berbahasa Bali. Ini tentu bertujuan agar si anak tak kelabakan saat menerima pelajaran di sekolah dasar nantinya.

Selainnya itu jelas berimbas pada hal-hal gampang dicerna macem kepercayaan maupun larangan pada anak-anak yang barangkali sudah sangat jarang diberikan.
Contohnya saja seperti cerita yang sering muncul di Majalah ‘Sarad’ yang bertajuk ‘Kone’.

Kalo mau dipilih, yang menggelitik seperti jangan membeli jarum dimalam hari atopun jangan menyapu halaman di saat gelap, ini karena pada jaman dahulu belum ada penerangan yang memadai, sehingga bisa saja yang namanya jarum atopun barang berharga yang jatuh dihalaman menjadi tak terlihat lagi dan cenderung hilang.
Bagaimana kalo hari ini ?
Apakah lantas swalayan tak boleh menjual jarum saat malam hari, begitupun cleaning servicenya tak boleh membersihkan lantai ?

Satu kekurangan generasi muda Bali tentu pada akarnya yang tak sekuat umat lain, dimana sejak kecil sudah ditanamkan cara berdoa sesuai agama yang dianut.
Sungguh jarang melihat nak Bali (umumnya beragama Hindu) usia sekolah dasar melakukan kewajiban sembahyang 3 kali dalam sehari.
Pula saat pembelajaran keseharian yang jarang sekali mendapatkan cerita maupun kisah berbau Bali.
Anak-anak kini lebih dimanja televisi yang siap menayangkan sejuta film jepang maupun tema hantu, dimana menyebabkan seorang anak kecil asli bali tak lagi takut pada yang namanya Leak, Rangda dan barong ketimbang Pocong maupun Kuntilanak yang merupakan adaptasi cerita dan kepercayaan dari agama lain.

Hal lain yang patut disorot adalah pemberian nama anak yang tak lagi menggunakan pakem Bali, -Putu Made Nyoman Ketut maupun Ni Luh, namun sudah mendapatkan banyak pengaruh luar (seperti komentar Wayang Cengblonk). Ada satu keponakan yang orang tuanya menganut agama Hindu, menamakan anaknya tanpa embel2 pake tadi menggantinya dengan nama Fitria. Satu nama yang mencerminkan arti bagi agama lain. Mungkin belom terpikirkan bagaimana caranya nanti sang anak menulis namanya dengan huruf aksara Bali.
Saat ditanya kenapa gak make pakem diatas ?
Malu kalo anak punya nama kampungan, ndeso kata Mas Tukul. Gak menjual dimata Internasional nanti. Serta berbagai macam alasan pembenaran lainnya.

Walopun memang diakui bahwa tak sedikit pula generasi muda hari ini melek hal-hal berbau Bali, namun pada kenyataannya keberadaan mereka tak mampu menonjolkan apa yang ingin diungkapkan.
Adanya majalah ato tabloid Bali ditengah ratusan tabloid yang berbau teknologi otomotif maupun gosip menjadikan majalah Bali tersebut hanya digemari kalangan tertentu serta umat Hindu yang tinggal diluar Bali.
Pemberian Informasi secara Teknologipun kalo cermat bisa menemukan beberapa situs di dunia maya yang memuat budaya Bali, semacamnya iloveblue.com.

Trus apakah generasi muda Bali lainnya patut disalahkan karena kemampuan mereka tak sebanding dengan generasi terdahulu ?
Karena seringkali terdengar keluhan dikalangan generasi tua, bahwa generasi muda hari ini tak seindah generasi mereka jaman dahulu.

Jangan. Yang mungkin patut diingat bahwa ketidakmampuan generasi hari ini adalah buah dari kisah yang diberikan generasi diatasnya.
Jadi kalo memang menginginkan generasi muda hari ini tau lebih banyak masalah adat dan budaya Bali, gak ada salahnya menanamkan cerita dan asal usul Bali pada keturunan nanti.

Jangan malu jika ada yang menganggap bahwa Bali takkan laku dimasa datang, karena jika memang keasliannya tetap terjaga, rasanya tak ada yang mampu membendung nuansa Bali dimata Internasional.

Post a comment

CommentLuv badge