Tak ada lagi Arsitektur Tradisional Bali

Pesatnya pembangunan di Kota Denpasar seakan menggoda pandangan mata untuk mencoba melirik apa yang ditawarkan oleh masing-masing pengusaha di lokasi toko yang ditempatinya.Tak jarang pula gedung dibangun begitu angkuh tanpa ada sentuhan yang dapat menonjolkan kesan Bali. Tingginya lantai dipermainkan, hingga bangunan bertingkatpun makin marak dibangun. Padahal Perda mengatur tinggi maksimum dari Sloof pondasi hingga ke balok tembok teratas hanya sampai 15 meter.

Kenyataannya tak demikian, karena apa yang dibangun, ironisnya banyak pula yang tak berijin, nekat mendirikan bangunan seenak perutnya, semau gue.
Yang penting penampilan membuat konsumen tertarik untuk mampir.

Buruknya, papan-papan reklame juga makin bertebaran, hingga memunculkan kesan kesembrawutan penataan ruang kota, baik itu menampilkan brand merk tertentu, baliho kegiatan, pamflet yang ditempel sembarangan, hingga spanduk yang melintang kesana kemari.

Bali tak lagi tercermin disetiap bangunan yang berdiri diatasnya.
Bali kini tak ubahnya Kota Jakarta, yang penuh kemacetan dan kesembrawutan.

pande

hanyalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang sangat biasa, mencoba hadir lewat tulisannya sebagai seorang blogger yang baik

One thought on “Tak ada lagi Arsitektur Tradisional Bali

  • April 8, 2008 at 12:17 pm
    Permalink

    ➡ aq mo kebali bentar lg. da tinjauan seni. dpt tema “arsitektur tradisional dan modern bali”
    bisa bantu???? 😥

Comments are closed.