Selamat Ulang Tahun, Kawan

Category : tentang DiRi SenDiri

Hari ini 29 usiamu, bukan usia yang remaja lagi. Begitu banyak beban dan tanggung jawab yang harus dipikul, jika ingin menjadi kepala kluarga yang baik.
Masa depanpun tlah menanti, entah suram ato mungkin cemerlang. Namun harapan terbesar dalam hidup dan doaku setiap harinya adalah memiliki momongan seperti halnya kluarga lainnya yang tlah mendapatkan kesempatan lebih awal untuk menyatukan mahligai rumah tangga yang dijalani.Diusiamu yang hampir kepala 3, dimana perut sudah makin ndut, diet dong ! bawa drum kemana-mana, sebetulnya kan Istri yang seharusnya begitu ?

Namun diusiamu kini, telah miliki media untuk berekspresi dan ungkapkan rasa dihati, tak perlu lagi memendamnya dan terlampiaskan di saat puncaknya sudah tercapai. Hampir setahun pula telah menampung segala keluhan dan lumayan membuat kesabaran hati makin tinggi.

Diusiamu kini pula akan kita tunggu, apakah Tuhan kan berikan apa yang kita pinta pada-Nya ?

Tatto : Simbol Kejantanan ?

13

Category : tentang KeseHaRian

Selain rokok, tatto juga disimbolkan sebagai kejantanan seseorang. Apa benar ?
Seorang anak remaja SMP nekat mentatto tubuhnya namun masih tersembunyi dibalik baju seragam. Apakah itu yang namanya kejantanan ?Tatto bagi sebagian orang itu bisa pula jadi trend jika tatto yang dipake bisa ilang kalo bosen,diganti dengan motif lain. Trus gimana dengan tatto permanen ?

Tatto permanen bisa jadi setelah mereka dewasa berubah jadi penyesalan, karena image mereka jadi buruk dimata masyarakat (karena terlanjut negatif, kalo orang tattoan pasti deh Preman), walo sudah berusaha berjalan di jalan yang benar.
Ada juga yang memilih menyembunyikannya dibalik baju sehari-hari, nanti dilihat anak, malah dicontoh deh nanti…

Sebaiknya gimana ?
Yah, dengan kondisi sosial masyarakat Indonesia, tatto bukanlah seni seperti yang terlontar diluar. Namun lebih banyak efek negatif dibanding positifnya.
Pikir dua kali untuk mentatto badan secara permanen, karena tergolong sulit untuk menghapusnya, kecuali kaya raya, bisa di-laser di Singapura.
Mending tatto di mall-mall aja make tinta lukisan, yang bisa dihapus kapan kita mau.
Walopun terlihat banci, namun tak merusak diri sendiri.
Iya gak ?

Rokok : Simbol Kedewasaan ?

2

Category : tentang KeseHaRian

Sepintas saat menuju kendaraan yang parkir tak jauh dari lokasi persembahyangan Pura Ulundanu Batur terlihat 3 anak-anak seusia masa SMP, ngerokok dengan asyiknya di warung pinggir jalan. Apa yang mereka pikirkan ?Rokok dikalangan usia remaja bisa jadi satu keharusan, menandakan simbol kedewasaan- udah berani merokok, ato malah gak jantan kalo gak ngerokok. Hasutan macam inilah yang menjebol gawang para orang tua, karena anaknya memilih ikut arus dibanding mendengarkan kata-kata mereka.

Tapi apakah merokok saat berada diluar rumah ato sembunyi-sembunyi sedangkan dirumah terlihat kalem, bisa dikatakan dewasa ? Nonsens ! itu sama aja dengan pengecut, Bung !

Ada juga yang ngerokok lantaran dianggap bisa meningkatkan konsentrasi kerja. Akhirnya tanpa rokok, produktivitas kerja pun menurun. Konsekuensinya gak jarang dalam satu ruangan dipenuhi asap dan bau rokok, tanpa memperdulikan orang lain yang terbatuk-batuk karenanya.

Tapi gak semua cowok yang ngerokok itu bisa dibilang macho, seperti iklan-iklan menyesatkan di teve. Malah kalo cowok ntu cerdas dan modis, bisa juga dibilang macho dalam kategori lain.

Cewek juga. Banyak yang mencoba merokok hanya untuk menandakan mereka wanita yang mandiri dan pemberani. Namun tak semua cowok memandang positif begitu, ada juga yang berpendapat kalo cewek ngerokok itu tanda ntu cewek gak bener. Bisa jadi pecun ato mungkin simpanan pejabat teras (pejabat yang sukanya duduk diteras dibanding turun kemasyarakat).

Trus gimana dong kalo cewek ‘ngerokok’-in cowoknya ?
Yang ini mah asik banget. Huehehe…..

Inu Kencana: Tradisi Indonesia

Category : tentang KeseHaRian

Berita seputar IPDN masih santer terdengar di televisi dan media massa. Bukan lagi masalah kekerasan yang terungkap sedikit demi sedikit dari kesaksian para korban-yang kini menjadi mantan- Praja senior IPDN, tapi sudah lebih spesifik, yaitu masalah dinonaktifkannya dosen Inu Kencana yang berani menyuarakan nuraninya untuk satu nama, Kebenaran.Namun apa yang ia dapat ?
Intimidasi dari sejawat dan kampus tempat ia mengajar.
Non aktif.
Dua suku kata yang ditakuti oleh setiap insan yang menjabat ato menyandang pekerjaan, dan berefek pada manutnya nurani pada kekuasaan walopun itu bertentangan.

Welcome to Indonesia

Inilah potret Indonesia hari ini, tak berubah dari jaman orde baru dahulu. Reformasipun seakan mati, karena tingkah laku masyarakatnya kian hari kian mengganas. Kebenaranpun dimanipulasi demi kekuasaan. Jika perlu orang-orang yang menyuarakan kebenaran ditelikung, dipenjara hingga mati.
Tuduhannya tentu saja menghina negara sampe digolongkan kaum lemah yang tak mampu bertahan ditengah kerasnya hidup.

‘Itulah Indonesia..’

Sejujurnya, aku masih sangat malu mengakui bahwa akupun Generasi Muda Indonesia yang hari ini cemar oleh intimidasi pihak IPDN yang melakukan aksi gerakan tutup mulut.

Akankah kebenaran itu terungkap ?
Hampir satu dasa warsa sudah lewat, namun perubahan politis Indonesia belum jua berubah.
Mungkin ini renungan bagi calon-calon pemimpin bangsa yang nantinya akan berkoar keras saat kampanye, namun memilih menimbun pundi kekayaan saat sudah menjabat.

Mungkinkah ereka akan bercermin pada sosok Inu Kencana ?
Berani menyuarakan nurani walopun menentang kekuasaan ?

Hati-hati jika Ketiduran !

Category : tentang PLeSiran

Maksudnya hati-hati jangan sampe ketiduran kalo lagi ngajak orang jail, yang suka iseng nge-shoot tingkah-tingkah yang kebetulan aneh. huehehehe….

Ini foto Bapak Ketut Nadi juga Bapak Wayan Susanta (karena dua-duanya udah punya momongan, makanya dipanggil Bapak !)

Dimana keduanya sempat terpikirkan untuk nge-shoot orang jail yang tertidur duluan, namun gak berhasil. akhirnya Tuhan berpihak juga, sukses nge-shoot mereka balik. huehehehe….

Pura Besakih : Road to Heaven

Category : tentang PLeSiran

Akhirnya tiba juga di Pura Besakih. Setelah meliwati jalan menanjak dan berliku serta kemacetan baik akibat padatnya umat yang tangkil maupun karena beberapa pengemudi mobil tak mampu mengendalikan mobilnya di daerah tanjakan.
Harapan untuk bisa parkir dekat Pura, terkabulkan karena ada sedikit lahan parkir dan harus menggeser-geser posisi sepeda motor lain.
Trus ngopi-ngopi dulu deh.Sebelum menuju Pura Penataran Besakih, terlebih dahulu kami menyebar ke masing-masing Pedarman, yang kebetulan posisi Pedarman (disebut Penataran) soroh Pande ada disebelah kiri atas Pura pusat.
Dengan nafas yang tersisa kakipun dipaksa menaiki tangga. Syukur bisa sampai di Pura Penataran Pande saat kondisi lagi sepi. Artinya acara utama sudah slesai dilakukan.
Usai dari sini meluncur lagi ke tempat yang berada lebih di atas, yaitu Prapen Pande, posisinya kurang lebih di sebelah barat laut Pura Gelap.

Sesampainya di Pura Penataran Besakih, telah berkumpul ratusan umat yang bersembahyang bersama dalam sekali shift. Dipandu beberapa orang yang disucikan menurut agama, upacara berjalan tertib dan lancar. Tak ada kesemrawutan, mencerminkan hati para umatnya.

Usai bersembahyang, tinggal menuruni tangga dan menuju Wantilan dimana teman-teman sudah menunggu sambil pula beristirahat sejenak.
Sampai juga rencana kami seharian ini, walopun waktu sudah menunjukkan angka 3.40 tanda Istri sudah berada dirumah.
Sempat mengabadikan momen saat umat berbondong-bondong datang dan pergi untuk memohonkan keselamatan pada-Nya.

Semoga Bali tetap damai dan Teroris pengebom bisa diberikan ‘pahala’ yang setimpal.

Pura Ulundanu Batur : Road to Heaven

Category : tentang PLeSiran

Akhirnya berkesempatan juga tangkil ke Pura Batur juga Besakih di hari Senin kemaren. Rombongan kantor Bina Marga Badung dalam rangka ‘Nganyarin oleh Kabupaten Badung’ berangkat sekitar pukul 9 pagi (sudah termasuk siang jika dibanding berangkat dengan keluarga jam 5 pagi). Jadi sudah bisa ditebak bagaimana saat nyampe di tujuan pertama Pura Batur. Macet minta ampun.
Hanya saja ada teman berkomentar, ini artinya Tuhan ingin menguji apakah hamba-Nya sabar ato tidak, memang kukuh untuk nangkil ato hanya tamasya. Nah !Macet pertama terjadi tak jauh dari tempat parkir umum Pura, masih di areal hutan Cemara, yang dipenuhi oleh bis-bis besar anak-anak sekolah, yang membuat kami memutar agak jauh, demi mencari tempat parkir dekat pura. Syukur dapet.

Macet kedua terjadi di areal Pura.
Begitu banyak umat yang tangkil, menyebabkan menyemutnya kerumunan orang yang bersiap masuk ke areal Pura. Hanya saja, setelah selesai sembahyang di Pura Penataran Pande, kerumunan ini masih tetap ada.
Wuih.
Akhirnya diambil kebijakan, bersembahyang dari luar (jaba tengah Pura Batur), dan menghaturkan sarana upacara dari tempat duduk masing-masing.

Walopun penuh dan sesak, umat yang hadir tetap saling menghormati dan membantu. Hingga saat persembahyangan selesai, Umat bisa dengan tertib meninggalkan Pura untuk bersiap menuju tempat tujuan berikutnya, Pura Besakih.

Usai bersembahyang, masih sempat melihat Gunung batur yang hari ini lumayan terlihat puncaknya (biasanya ditutupi awan). Ada rasa bangga, haru dan ingin bisa sampai di puncaknya.
Apalagi kalo bukan karena hasrat untuk melihat keanehan – keajaiban alam….
Pingin liat kawah yang kabarnya sudah tak aktif lagi.

IPDN : Bubarkan Saja

1

Category : tentang Opini

Berita media makin hari makin mengejutkan. Terakhir terungkap fakta bahwa ditubuh korban ditemukan 7 lubang suntikan formalin, yang tak dilakukan oleh pihak rumah sakit. Apa itu artinya para Praja yang terlibat beserta birokratnya terlibat perbuatan sejauh itu demi sebuah dendam ato apalah.Bubarkan saja IPDN.
Untuk apa menghabiskan ApbN demi orang-orang tak bermoral seperti itu ?
Lebih baik buat sekolah yang mampu mencetak pemimpin berkualitas dari kecerdasan otak dan sikap. Bukan malah kekerasan fisik ato militer lainnya.
Biarlah militer tetap satu.

Bubarkan saja ekstra DrumBand IPDN. Jika memang alasan penganiayaan biadab itu hanya untuk mendapatkan lencana ekstra. Ganti saja dengan kesenian angklung ato musik tradisional mendayu-dayu yang lebih menuntut kelembutan dan kepekaan dalam bermusik. Mungkin saja itu bisa berdampak pada kehidupan masyarakat yang diterjuninya nanti.

Tembak mati saja Praja yang terlibat secara kontak fisik maupun psikis-perencana.
Agar menjadi satu peringatan bagi Praja lain yang tak terlibat dan barangkali akan terlibat dalam eksekusi Praja Junior lainnya.
Aktifkan lagi Petrus jaman Pak Harto dan biarkan Praja yang merugikan negara (APBN) dengan perbuatan tak terpujinya itu.
Daripada hanya memecat dan menjadikannya preman-preman (baca: security) bagi koruptor Indonesia nantinya.

Segera akhiri segala penganiayaan ini. Tak cukupkah melihat histeris keluarga yang ditinggalkan ?

Praja Biadab

Category : tentang Opini

Masih hangat ingatan bangsa ini akan kekerasan STPDN tahun lalu, kini malahan ada yang serupa dan sadis pula, cerita dari IPDN yang oleh Jawa Pos diplesetkan menjadi Institut Pembunuh Dalam Negeri.Yang membuat miris bukan saja kematian remaja bernama Cliff dari Sulawesi, namun lebih besar terarah pada arogansi para praja yang katanya begitu terhormat jika mampu lolos untuk mengenyam pendidikan disana. Usaha mereka untuk lepas tangan pantas diganjar dengan Hukuman MATI, ato disiksa dalam kubur sampe mati.
Diperparah oleh sikap birokrasi Institut setempat yang sepertinya menyembunyikan fakta yang terjadi, dengan mengatakan bahwa Cliff meninggal karena Lever.
Seorang Rektor bergelar Profesor mengatakan hal itu.
Bayangkan, bagaimana bobroknya IPDN hari ini.

Masihkah mereka pantas dan layak diakui jika disebut Manusia ?
Tak lebih layaknya hewan, yang membunuh teman sendiri demi makanan.
Huh !

Penyiksaan macam ini agaknya lagi trend disaat kondisi bangsa yang kian ambruk.
Ironisnya, masyarakat seakan enggan membantu pemimpin bangsa ini memperbaiki moral bangsa, namun lebih memilih untuk bertindak sewenang-wenang dan membunuh sesamanya.
Tak beda dengan penjajah kita zaman dahulu.
Mungkin orang-orang yang terlibat ini tak cukup hanya dikurung 1-3 bulan saja. Jika perlu kirim mereka ke tempat terasing, dan biarkan mereka tersiksa dengan lingkungannya.

Namun lagi-lagi hukum Indonesia menerapkan Praduga Tak Bersalah, seperti halnya Presiden yang hingga hari ini tak juga diadili, ato malah teroris bom Bali I yang hingga hari ini pula, belum dihukum mati.

Makin bertambahlah amarah dalam hati, hingga menimbulkan dendam.
Namun sekali lagi, hukum tertinggi ada ditangan Tuhan.
Mungkin hanya Tuhan yang mampu menghukum mereka setimpal dengan perbuatannya.
Begitu pula untuk pemimpin bangsa yang korup namun hingga kini masih tersenyum dan pula teroris bangsat yang membuat hancur negeri ini.

Biaya Kesehatan Jauh Tinggi di Awan

1

Category : tentang KeseHaRian

Hari ini bisa dikatakan sebagai hari Tercengang.
Sebab selain 3 hari lalu Ibu divonis memiliki tumor (tumbuh daging yang besarnya sekitar 10 cm) dan harus segera dioperasi, namun saat selesai operasi 2 hari lalu, yang terlihat malah lebih besar dari dugaan. Wuih. Sempat kaget sampe lupa difoto….Hari ini Ibu sudah mendapatkan kalkulasi biaya dari pihak Rumah Sakit Dharma Husada, di tikungan antara Matahari Dept.Store dengan SMPK Santo Yoseph. Jumlahnya cukup bikin shock.
12 Juta.

Itupun baru kalkulasi awal. Belum final.

Tapi mau bilang apa lagi ?
Kesehatan memang mahal harganya.
Dibanding pendapatan kita yang tak jauh seberapa sebagai pegawai negeri sipil, ditambah penghasilan ortupun tak bertambah, seiring makin banyaknya penjahit dan dept.store yang dibuka.

Gak banyak yang bisa dikatakan selain menghela nafas dalam-dalam dan berharap esok kami bisa mendapatkan rejeki untuk bisa menutupi biaya perawatan tersebut.
Gak heran pula jika rata-rata penduduk Indonesia kelas menengah kebawah lebih milih ke dukun ato malah membiarkan sakit itu hilang dengan sendirinya, dibanding disembuhkan melalui Rumah Sakit.

Biaya kesehatan itu bagaikan awan di langit. Jauh tak kan mungkin bisa digapai.
Ah, kapan ya pengobatan di Indonesia bisa meringankan beban hidup ?
Mungkin cuman mimpi disiang bolong…..

Indonesia hari ini

Category : tentang KeseHaRian

……..dan bendera merah putihpun berkibar dihari kamis, 17Agustus 1945. tak banyak yang tahu, namun segera berkumandang lewat radio Republik ini hingga ke pelosok desa. Tercapailah cita-cita Rakyat Indonesia dalam memerangi penjajahan yang selama 3,5 abad menginjak bangsa ini.Itu dulu.
Indonesia hari ini tak sepatriotik itu. Rakyat tak lagi berperang melawan penjajah, namun malah memerangi pejabat pemerintahannya sendiri, yang terkenal korup dan mengeruk keuntungan hanya demi kantong pribadi.
Dipimpinnya Indonesia oleh Presiden ke-2 selama 33 tahun, membuat terpuruknya perekonomian Indonesia, saat Beliau diturunkan dengan paksa oleh mahasiswa di tahun 1998 lalu.
Bobroknya birokrasi, amplop yang sudah menjangkau hingga kalangan bawah, menjadi buah yang dipetik selama 33 tahun kepimpinannya.

Kini Indonesia tak lagi megah. Tergolong papan atas tingkat korupsi sedunia. Apa lagi yang bisa dibanggakan ? jika negara lain berlomba-lomba memperbaiki perekonomiannya sehingga alam kurun 5 tahun kedepan, bangsa itu tak lagi masuk list ngara yang terpuruk lagi. Indonesia tidak. Malah makin asyik dengan hobi menghabiskan anggaran belanja negara maupun daerah untuk kepentingan pribadi maupun massa pendukungnya. Biasa parpol. Bukankah karena mereka, para pejabat tadi bisa naik dan menjabat ? kini saatnya balas budi.

Hingga apa yang menjadi prioritas utama seringkali kabur dan tak terurus. Bukan rahasia lagi jika Indonesia bukanlah negara yang tinggal landas, karena saat yang sama dibeberapa daerah, kemiskinan dan kelaparan menjadi momok utama rakyatnya. Seringkali tujuan utama masing-masing daerah hingga ketingkat pusat tak terwujud karena kerakusan para wakil rakyat yang berusaha mengeluarkan uang negara demi hal-hal yang seharusnya tak perlu.

Sudah saatnya kita memikirkan nasib bangsa ini.
Namun lagi-lagi saat kampanye begitu banyak dan mungkin semua yang berkepentingan, lantas mengumbar janji-janji palsu, yang herannya Rakyat Indonesia masih saja bisa termakan semua itu, lantas menyesal belakangan saat Beliau-beliau sudah menjabat.
Sudah banyak pemimpin yang menjanjikan kehidupan lebih baik, namun agaknya kehidupan lebih baik itu hanya berlaku bagi dirinya sendiri beserta keluarga dan sanak saudaranya. Tak lagi berbicara tentang Rakyat Indonesia.
Kami perlu bukti, bukan janji.

Tak usahlah kalian mengundang pers saat ingin menyumbang ato memberikan bantuan. Karena kebaikan itu toh akan menyebar sendirinya jika memang rakyat menerima dengan tulus hati.
Entah sampai kapan kita kan terpuruk, walo segelintir orang berbanding jutaan penduduk Indonesia, masih berusaha menegakkan keadilan, mengharumkan nama bangsa, hanya saja tak didukung oleh korupnya birokrasi bangsa ini.

Kami malu pada bangsa ini. Kami malu milikimu para pejabat birokrasi Indonesia.
Sudah seharusnya kalian malu pada kami. Namun tetap saja itu mustahil dilakukan. Karena mata sudah tertutup oleh lembaran kertas merah pimpinan Indonesia pertama ato birunya I Gusti Ngurah Rai.