Hujan : Simbol Kebingungan

Category : tentang KHayaLan

Pagi ini, hujan kembali turun dengan derasnya.
Setelah dua hari lalu, hujan turun tanpa memakai tahap gerimis, namun langsung lebat, membuat hati bertanya-tanya, ada apa dengan alamku ?
Jika bulan-bulan ini, seharusnya menurut ramalan cuaca jaman Pak Harto, badai angin sudah berakhir, dan musim kemaraupun tiba.
Namun selama tahun terakhir, berapa kali sih, ramalan tadi bisa tepat adanya ?Kondisi alam Indonesia telah berubah seiring turunnya sang penguasa tahun 98 lalu.
Segala keserakahan dari para birokrat, mulai terlihat hasilnya hari ini.
Longsor maupun bencana alam lainnya, hingga kasusLumpur Lapindo yang hingga hari ini belum juga bisa diselesaikan.

Perubahan cuaca juga sepaham dengan perubahan kondisi kesehatan manusia.
Siapa sangka jika orang yang tadinya segar bugar, setengah jam kemudian sudah menjadi mayat, akibat serangan jantung ato terlena dengan angin duduk.
Siapa sangka jika sakit itu bisa berpindah-pindah namun secara medis tak ada masalah yang berarti. Sangkaan dokter tentu kecapekan, pegel-pegel ato malah pengaruh cuaca ?Masa sih, sakit bisa berpindah-pindah ?

Musibah : Merenungi Nasib

Category : tentang Buah Hati

Berkesempatan melihat kembali tempat makan yang tempo hari kabarnya sempat terbakar, kali ini sudah direnovasi dengan estetika yang lebih solid dan mantap.
Warung Be Pasih di jalan Pemuda, Renon.
Bangkit kembali dengan suasana villa, setelah mengambil resiko besar memakai alang-alang, untuk memunculkan nuansa Bali. Sungguh satu desain yang klasik.Namun yang dibicarakan kali ini bukanlah masalah desainnya.
Namun lebih pada kebangkitan akan semangat yang mungkin pernah hilang saat kebakaran terjadi.
Entah berapa investasi yang diperlukan untuk mengembalikan kondisi seperti semula.
Bersyukur, ceritanya happy ending, dengan sejuta penderitaan yang dialami sebelumnya.

Hari ini penderitaan secara pribadi kurasakan sebagai cobaan yang tiada henti dari-Nya.
Sempat terlintas akan ketidakadilan ini. Mengapa orang-oang yang bersikap melanggar aturan, tak taat pada-Nya, diberikan kehidupan yang mulus, bahkan cenderung bahagia.
Sedangkan kami yang berusaha untuk berbuat, berkata dan berpikir yang baik, harus menjalani hal seperti ini ?

Merenungi Nasib
Mungkin jika terus-menerus berpikir dan merenungi nasib tanpa berbuat apa-apa, takkan bisa merubah apapun. Kehidupan kan tetap berjalan turun.
Namun jika berusaha makin kuat, cobaan serta angin makin kencang menerpa.
Langkah yang mana harus diambil ?

Dalam kebingungan dan berbagai dugaan akan kuasa-Nya, terlintas pula jalan pendek, namun segera dijauhkan, demi tekad yang dimiliki dan berusaha dijalani selama ini.

Bila dibandingkan orang lain, mungkin ini belum apa-apa.
Tuhan takkan memerikan cobaan diluar kemampuan hamba-Nya.
Apakah Tuhan kali ini masih ingin menguji kesabaran kami ?
Entah sampai mana kami mampu bertahan.

Hanya satu yang bisa kami mohonkan.
Kehidupan yang lebih baik, dan juga kebahagiaan sebagai suami istri, dalam usaha membentuk satu keluarga yang penuh cinta kasih.

Sampai kapan ?

SELAMAT TAHUN BARU SAKA 1929

2

Category : tentang KHayaLan

 

 

 

 

 

Semoga damai dihati, damai didunia, damai diakhirat selalu.

 

PENGERUPUKAN : Sebuah Kreatifitas

1

Category : tentang KHayaLan

Saat untuk berkeliling sudah akan dimulai.
Kumpulan generasi muda Banjar Tainsiat yang tergabung dalam satu wadah, ‘Sekaa Teruna Banjar Tainsiat’, tampak memenuhi perempatan jalan raya, ditambah orang tua dan warga banjar lainnya, dilengkapi oleh Kelihan (pimpinan warga), juga Pecalang sebagai seksi Keamanan.Tak luput dari informasi, tampak beberapa anak muda menenteng kamera saku, handycam hingga video shooting layaknya BaliTV.
Inilah Dede Mahendra.
Berbekal Press Card yang dikalungkan di leher, walopun yang tertera bukanlah untuk kepentingan ogoh-ogoh, setidaknya menunjukkan kreatifitas secara sukarela dari generasi muda saat ini.
Tanpa bayaran, Bung !

Wajah garang ogoh-ogoh tampak menyeramkan dikegelapan malam, yang hanya diterangi beberapa lampu penerangan jalan, mulai menghias wajah Kota Denpasar.
Keberadaan ogoh-ogoh yang dibuat oleh generasi muda Banjar Tainsiat terlihat sangat kontras, dimana ogoh-ogoh lainnya berukuran kecil dibanding milik mereka.
Pantaslah foto-foto pun terpampang di halaman pertama beberapa media koran lokal. Termasuk Jawa Pos.

Saat diarakpun wajah garang ogoh-ogoh makin terlihat, dilengkapi lampu sorot, serta suara-suara lolongan dari para generasi muda yang kebagian menyangga ogoh-ogoh, makin membuat suasana mencekam.
Kejahilan anak muda tetaplah terlihat.
Saat melewati kuburan Desa Adat Bantas, tampaknya ogoh-ogohpun diarahkan kepintu gerbang kuburan tersebut, seakan menguatkan citra Celuluk sebagai penguasa kuburan.

Saat selesai dan tiba kembali di Banjar, sembari menunggu konsumsi dibagikan, ogoh-ogohpun dihancurkan dan dibawa ke Kuburan Desa Adat Badung, untuk kemudian dibakar.
Hilanglah sudah dana sebesar 8 juta yang telah diwujudkan dalam satu sosok besar, ‘Celuluk Bengong’.
Namun semangat generasi muda ditambah partisipasi warga banjar, Pengerupukan tahun ini berjalan tanpa masalah.
Bersyukur ini bisa tercapai, ditengah rasa was-was saat akan berangkat tadi.
Terima kasih untuk 2 orang Arsitek utama ogoh-ogoh, KEDUK juga ANTO’, yang sedemikian usahanya menyalurkan kenekadan aspirasi selama 3 tahun, menjadi satu wadah yang mampu menyatukan seluruh warga banjar.
Semoga tahun depan, bisa dibuatkan kembali.
Viva Sekaa Teruna Banjar Tainsiat ‘Yowana Saka Bhuwana’.
-Pande

PENGERUPUKAN : Sebuah Tradisi

Category : tentang KHayaLan

Malampun sudah menjelang, Umat hindu sebelum melakukan upacara Pengerupukan, terlebih dahulu melakukan persembahyangan bersama, sekaligus Natab Kaki, agar nantinya diharapkan kaki ini takkan menuntun diri kejalan yang salah.

Setelah natab selesai, barulah bunyi-bunyian bertalu-talu, sambil membawa percikan Tirta serta pelepah kelapa yang dibakar, berkeliling ke sudut-sudut rumah dan tempat-tempat yang diyakini ada penunggunya, berakhir di jalan raya depan rumah masing-masing.

Jalanan pun sudah mulai lengang, karena beberapa ruas jalan sudah ditutup agar arak-arakan ogoh-ogoh bisa dimulai.
Tampak pedagang duren yang hari ini sepertinya sepi pembeli, tak seperti biasanya.
Sebentar lagi, ogoh-ogoh akan diarak keliling Desa Pekraman, namun tentunya harus melewati Bali Hotel, dimana Gubernur Bali turut menyaksikan bersama ekspetariat asing serta wisatawan mancanegara lainnya,Bagaimana ceritanya ?Tunggu posting berikut….

Ogoh-ogoh : Sebuah Tradisi

Category : tentang KHayaLan

Menjelang hari Raya Nyepi, ada satu prosesi lagi yang dilakukan oleh sebagian besar Umat Hindu, khususnya generasi muda yaitu mengarak Ogoh-ogoh keliling Desa Pekraman setempat.Ogoh-ogoh sebagai simbol Bhuta Kala, salah satu unsur peran dalam kehidupan manusia, yang jika pada ajaran Agama Islam, malah diusir dari tempat tingalnya, seperti yang sering ditayangkan televisi, Umat Hindu malah memberikan sesaji dan persembahan pada mereka, agar mereka nantinya tak merusak tatanan kehidupan manusia.
Umat Hindu memang demikian.
Memberikan sesaji pada seluruh unsur kehidupan manusia, baik nyata maupun tak nyata. Baik hidup maupun benda mati.

Ogoh-ogoh yang sempat dilarang pembuatannya ditahun-tahun lalu, kini sesudah 3 tahun generasi muda Banjar Tainsiat mulai berani menyalurkan ekspresi kebebasannya.
Gak tangung2, ogoh-ogoh ukuran 8 meter panjang kali 3 meter pun dirancang dalam waktu 2 hari, dengan masa pengerjaan yang hanya 5 hari.
Menghabiskan dana sebesar 8 juta rupiah, diluar baju seragam yang disumbangkan oleh donatur ‘5 a Sec’.
Dana ini sebagian didapat dari sumbangan warga banjar juga orang-orang yang tergolong high class, setingkat Anggota DPR-lah.
Sekitar 2,5 juta dihabiskan untuk membuat topeng ogoh-ogoh. Lihat saja perbandingan antara 1 orang manusia, dengan tinggi dan panjang ogoh-ogoh.

Luar biasa untuk ukuran Kota Denpasar, yang setelah disurvey siang tadi, gak ada yang berukuran seperti ini.

Merancang tema ‘Celuluk Bengong’.
Satu tokoh dalam sejarah budaya Umat Hindu, yang mencerminkan tokoh jahat dimana perannya takkan pernah bisa hilang, sehingga disebut ‘Rwa Bineda’.
Seperti halnya sifat manusia yang ada 2, mutlak ada dalam setiap orang dimuka bumi ini.

Rencananya ogoh-ogoh ini akan diarak setelah ‘Sandya Kala’, dimana diyakini dalam rentang waktu tersebut, para Butha Kala berkuasa akan seluruh wilayah di Bali.
Jadi setelah dilakukan upacara ‘Mecaru’ di masing-masing rumah, dengan melakukan persembahyangan bersama, hingga berkeliling dengan kentongan dan pelepah kelapa yang dibakar, barulah prosesi ogoh-ogoh dimulai.

Mengambil rute yang tak biasanya, dimana seharusnya hanya disekitar Desa Pekraman setempat, kali ini malah akan keluar dari seputaran Desa, dengan pertimbangan besar Ogoh-ogoh yang mungkin takkan mampu dilalui lewat jalan kecil. Dan juga keegoisan generasi muda, yang telah susah payah melahirkan karya dalam waktu singkat dengan ukuran big size, menganggap mubazir jika ogoh-ogoh hanya diarak disekitar Desa Pekraman.

Satu harapan seluruh warga Banjar, semoga saja generasi muda mampu menahan diri dijalanan nanti, tak bentrok dengan sesamanya, sehingga bisa pulang kembali dengan selamat.
Semoga.

Meprani Banjar Tainsiat Denpasar

Category : tentang KHayaLan

Sehari sebelum Nyepi pun tiba.
Ibu-ibu pun berbondong-bondong, membawa gebogan diatas kepalanya, dan berkumpul di fasilitas warga, Banjar Tainsiat.
Terlihat deretan Gebogan yang dikumpulkan di 2 tempat, ditambah alunan tabuh tradisional Bali, membuat suasana Meprani pun tambah sakral dan suci.
Upacara berlangsung hingga jam menunjukkan angka 12 siang.Di pojok belakang, tampak anggota Sekaa Tabuh kolaborasi antara Dewasa Pria, Ibu-ibu PKK dan Anak-anak, saling mengisi tempat berbagai instrument yang ada. Walopun hasilnya kadang tak senada, namun keberanianlah yang dikedepankan. Utamanya bagi anggota Ibu-ibu PKK dan juga Anak-anak.

MEPRANI : Sebuah Tradisi…

Category : tentang KHayaLan

Dalam rangkaian perayaan Tahun Baru Saka bagi Umat hindu, yaitu ditandai dengan Nyepi, sehari sebelumnya Umat Hindu rata-rata melakukan tradisi Meprani, dimana berbagai jenis buah-buahan, dikombinasikan dengan jajan dan perlengkapan upacara, dalam satu tempat dan disajikan dengan ditusukkan pada sebuah batang pisang dan dinamakan Gebogan.Persiapan ini memakan waktu beberapa jam.
Tampak foto Istri, yang sedang mencoba membuat Gebogan, disusun dalam 4-5 tingkat.
Ini cukup hemat, karena terdahulu, tinggi gebogan bisa mencapai lebih dari 1 meter.

Nah jika sudah slesai, pada saat sehari sebelum Nyepi dipagi hari, Ibu-Ibu segera membawa Gebogan tersebut ke Banjar, dimana telah berkumpul seluruh warga, untuk melakukan persembahyangan bersama.

Mungkin nanti siang, bakal ada posting yang lebih lengkap tentang prosesi meprani di Bali.

Dedikasi Penghargaan untuk Istri

Category : Cinta

Pelatihan JICA yang tercecer : View Bali Beach

Category : tentang iLMu tamBahan

Sebagai seorang lulusan Teknik Arsitektur, kata View bukanlah satu hal asing didengar.
View ato pandangan yang diberikan oleh satu objek bangunan saat ditempati, bisa jadi lebih banyak mengutamakan keindahan dan kebersihan dibanding kesemrawutan lingkungan.Grand Bali Beach pula menjadikan View sebagai daya tarik utama bagi para tamu yang menginap di hotel ini.

Jika dari luarnya, View terbesar adalah Hijaunya lingkungan dipenuhi tanaman hias dan pohon besar, serta padang rumput di areal Golf, menjadikan suasana yang sangat jauh lebih nyaman, bila dibandingkan dengan tempat pelatihan terdahulu di Sahid Kuta.
Lumayan memberikan kesejukan pikiran saat melintas disekeliling hotel.

Dari dalam, tentu view yang ditawarkan, cenderung kearah pantai, dimana pada pagi harinya bakalan terlihat Sunset- matahari terbit, saat fajar tiba.
Menjulangnya hotel di kawasan Pulau Bali ini juga memberikan kesan mendalam bagi seorang pegawai negeri, dimana tempat tugasnya hanya mengijinkan tinggi bangunan cuman max 4 lantai ato 15 meter dari permukaan tanah.

Semua view yang diberikan oleh Hotel Grand Bali Beach ini, bisa menjadikan satu daya tarik yang menjual saat dipromosikan nanti.
Sungguh satu Hotel Terbaik di Bali, yang memberikan kepuasan sekaligus kenyamanan
bagi pengunjungnya.

Inilah hal pertama dan terakhir yang terekam alam benak, betapa hijaunya lingkungan dapat menentramkan hati begitu dalam.
Ah andai saja Amrozy ato Imam Samudra dan kawan-kawan sebelum berkeinginan meledakkan Bom Kuta, mau menginap sebentar di hotel ini, mungkin saja hati mereka takkan mengobarkan api dendam lagi….

Pelatihan JICA yang tercecer : Kamar Tidur

Category : tentang iLMu tamBahan

Diruangan inilah segala daya upaya juga semangat perjuangan muncul.
Saat ada kekhawatiran bakalan gak cocok dengan teman sekamar selama Pelatihan, malah pupus sendirinya, berhubung teman sekamar lebih milih tetap nginep di Hotel depan lokasi Pelatihan.
Mungkin ini sebagai bentuk kesederhanaan seorang pimpinan.Ya, yang seharusnya menjadi teman sekamarku ternyata seorang epala Sub Din Bina Program di PU Sumbawa sana, walopun awalnya kcele, karena menganggap ni orang masih muda.

Dengan bodi yang mirip denganku, dengan peyut ndut, huehehehe….
Tapi punya selera humor yang tinggi.
Kerjaannya nyeletuk dan ngomentarin terus. Bikin suasana ruang belajar jadi adem. Hehehe….

Anyway, menempati kamar mewah sendirian jadi kenangan yang indah saat Pelatihan.
Karena bebas melakukan apasaja didalam kamar, layaknya kamar tidur pribadi.
Mau nyetel musik kras2, ato jingkrak2 sendirian, sampe nonton yang aneh-aneh di laptop hingga malem, gak ada yang protes.

Namun waktu terbanyak selain tidur, adalah berendam aer hangat di bathub kamar mandi.
Menikmati kemewahan orkay, dengan kantong cekak, jadi dioptimalkan saja pemakaiannya. Walo keseringan menolak dengan halus, kesediaan pramu tamu dalam membawakan barang2 saat berada di areal hotel.
Khawatir gak bisa ngasi tips.
Huehehehe….

Sebuah kamar mewah dengan panel tambahan disamping tempat tidur, untuk mengakses lampu hingga tv yang gak bisa idup, jadi selama 3 hari gak nonton tv, termasuk pula pendingin ac, yang ktemu cara pengaturannya setelah nginep hari ke-2. itupun baru ditanyakan pada Resepsionisnya.
Dasar Udik !
Wuahahaha….

Secara keseluruhan, kamar yang diberikan sangatlah nyaman untuk ditempati saat liburan ke Bali, sekaligus memberikan view pantai yang indah.
Namun letaknya yang berbeda 1 lantai, dari tempat pelatihan, membuat trauma make lift pun muncul. Mungkin bisa dilihat sebag musababnya di Posting bulan Januari, saat pertama kali Goes to Jakarta….

Akhirnya tangga darurat jadi solusi utama.
Walo sdikit capek, tapi gak mengubah rasa dan semangat pelatihan.

So Thanks again pada pihak Grand Bali Beach, serta pihak Puslitbang yang telah memilih hotel ini sebagai akomodasi Pelatihan.
Semoga akan ada pelatihan-pelatihan selanjutnya.