MESJID di Pulau Dewata

Sebelumnya mohon maaf kepada umat Islam jika saya mengungkapkan uneg-uneg tentang keberadaan Mesjid sebagai sarana ibadah di pulau Bali, pulau Dewata.Mesjid di puau Dewata bisa dikatakan tersebar diberbagai penjuru tempat tinggal, bahkan tak jarang ada 2-3 Mesjid yang dibangun berdekatan. Besar-besar pula.

Namun keberadaan Mesjid di pulau Dewata, terkadang bisa dikatakan keterlaluan. Ini dikatakan kalo dilihat dari segi perilaku pengelola dan tingkah laku umat yang beribadah disitu.

Suara yang keras menggelegar, dengan corong diatas kubah, terdengar hingga radius ratusan meter. Padahal tak jauh dari sana, corong dari Mesjid lain pun seakan tak mau kalah mendengarkan suara Adzan saat waktu sholat tiba.
Ini mungkin yang menjadi pemicu bagi umat Hindu, ikut-ikutan memasang corong saat upacara agama digelar, gak jarang pula 24 jam sehari.
Bisa dibayangkan bagaimana orang-orang yang tidur disekitarnya.

Pagi hari, saat orang-orang yang dulunya mayoritas beragama Hindu, namun kini angka mayoritas justru berbalik arah ke umat Islam, masih tidur terlelap, terusik oleh suara adzan yang menggema hingga matahari terbit. Beberapa diantara mereka lantas memilih menghidupkan radio ato kaset yang mendengarkan tabuh maupun adat Hindu setempat.
Bisa dibayangkan bagaimana hiruk pikuknya Bali dipagi hari.

Apa sih tujuan pemasangan corong diatas kubah saat waktu sholat tiba ?

Padahal diluar negeri sana, yang namanya corong itu takkan ada ditempatkan di Mesjid manapun. Contohlah umat Islam yang berada di Inggris. Toleransi antar Umat Beragama yang dulunya milik Indonesia, kini telah berpindah ke negeri Diana. Sedang bangsa kita sendiri, yang namanya Toleransi itu 0 Persen. Catat dengan angka NOL BESAR !

Karena kalopun memang benar ada, mungkin takkan ada kerusuhan Ambon, Poso, pengeboman tempat Ibadah sampe ke fasilitas umum, ato perang Djihad untuk melawan kaum kafir. Huh, sungguh sebuah pemikiran yang picik.

Kembali pada Mesjid, kenapa dalam satu lingkungan, bisa terdapat dua sampe tiga Mesjid ?
Jika bertujuan untuk menyebarkan Agama, mereka Berhasil.
Namun apakah keberadaan mereka akan mengganggu lingkungan sekitarnya ?
Ya.

Lihat saja saat umat Hindu merayakan Tahun Barunya dengan suasana sepi, sunyi, tanpa keberadaan nyala lampu maupun listrik.
Lihat saja bagaimana arogannya Umat Islam yang memakai sepeda motor bahkan mobil melintas dijalanan yang seharusnya sepi dan lengang.
Lihat saja bagaimana arogannya Umat Islam yang ngotot memakaikan corong diatas kubahnya, demi menjalankan sebuah ajaran Agama, namun mengorbankan kepentingan umat lain, tak mau tau bagaimana efeknya dimasa akan datang.
Lihat saja bagaimana arogannya Umat Islam yang mempertanyakan Indonesia sebagai negara Mayoritas Islam, kok tidak bisa menjalankan haknya di Pulau Dewata ini ?

Hendaknyalah, kita ingat pada pepatah lama.
‘Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung’

Mungkin Umat Islam di Pulau dewata ini patut belajar untuk mengembalikan Toleransi antar umat beragama, ketimbang ngotot pada arogansi pribadi.
Salam.

pande

hanyalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang sangat biasa, mencoba hadir lewat tulisannya sebagai seorang blogger yang baik

6 thoughts on “MESJID di Pulau Dewata

  • February 11, 2009 at 7:00 am
    Permalink

    Salam kenal Bli,
    Terus-terang mungkin pikiran ni jg sempet muncul dibenak saya selaku putra bali-hindu dharma. Saya melihat dr sisi yg berbeda bahwa kita mesti tetap bertoleransi akan pluralisme & globalisasi ini. Kenyataan sekarang Bali sudah menjadi milik dunia, bukan kita lagi. Sebari itu, Saya juga berharap rekan-rekan pendatang lebih menghormati keberagaman ini, janganlah memaksakan sesuatu saat berada bukan dirumahnya. Mungkin usul saran agar masyarakat Bali lebih bersatu padu menjaga bali agar tetep ajeg & ingatlah budaya Bali ada krn Hindu.
    Om Sai Ram,

    Pramesemara´s last blog post..“Realita Dan Dilema Seorang Remaja” (not edited)

  • February 11, 2009 at 10:10 am
    Permalink

    Sebelumnya Mohon Maaf jika ada rekan lain yang tak berkenan dengan opini saya diatas. 😕
    Saya Setuju jika kita memang mampu mengedepankan Toleransi antar umat Beragama. Sayangnya, 😥 tak semua orang (khususnya pendatang) tak mau ambil pusing dengan itu semua, dan tetap ngotot bahwa Agama yang mereka anut-lah yang paling benar, dan apa yang mereka lakukan semata karena mayoritas di negeri ini. Heran aja…. 🙄

  • May 18, 2009 at 6:26 am
    Permalink

    Bali memang pulau cantik yang menjadi lirikan setiap penduduk pendatang yang ingin mengais rejeki di pulau ini. Saking banyaknya penduduk pendatang yang tidak terkontrol dengan misi-misi yang berbeda. Mungkin bebebapa tahun lagi istilah Bali Pulau Seribu Pura akan digantikan menjadi Bali Pulau Seribu Mesjid… 🙄

    Pembangunan tersebut memang agak sulit untuk dikendalikan, butuh penanganan dari banyak pihak terutama pejabat2 terkait di lokasi pembangunan yang mengeluarkan ijin tersebut. Tapi terkadang banyak juga yang mengecoh dengan membuat ijin rumah atau gudang, tapi tiba2 ketika sudah berdiri tegak ternyata Mesjid lah yang dibangun.

    Orang Bali memang terkenal dengan keluguan, kepolosan dan rasa welcome kepada setiap orang. Kita sebagai umat Hindu seharusnya tidak hanya bisa menggerutu sambil berdiam diri meratapi bagaimana nasib Bali kita tercinta serta hanya menjadi penonton melihat pesatnya perkembangan yang lain.

    Dimulai dari lingkungan terkecil, ditiap-tiap Banjar pada waktu Tri Sandya, Gaung kan lah Mantra Tri Sandya agar mengingatkan mayarakat Hindu untuk melaksanakan Puja Tri Sandya. Aktifkanlah pesantian dan pesraman untuk siswa2 belajar agama.

    Utamakanlah untuk membeli kuliner yang dijual oleh pedagang Bali, karena tanpa disadari kita pula yang membuat pendatang tumbuh subur di pulau kita tercinta.

    Satu harapan kami…. Jika memang kita mencari sesuap nasi di Bali, maka ikutlah untuk menjaga Bali, bukannya untuk menguasi Bali… Bukannya kami anti dengan pendatang, namun mari kita bersama-sama menjaga Bali kita tercinta…

    Suksema

  • May 19, 2009 at 5:45 am
    Permalink

    marilah kita saling menghargai sesama umat agama. Jangan baru mayoritas kita ingin menjadi pemberantas. Semua agama walau berbeda kitabsuci, sll mengajarkan saling menghargai dan tepo seliro. Aku adalah kamu, kamu adalah aku.

    Setuju banget dengan kalimat terakhir ayuk “Jika memang kita mencari sesuap nasi di Bali, maka ikutlah untuk menjaga Bali, bukannya untuk menguasi Bali… Bukannya kami anti dengan pendatang, namun mari kita bersama-sama menjaga Bali kita tercinta… 😆

    dewa rama´s last blog post..Hati Tenang Karena Ibu Selly

  • June 12, 2010 at 7:27 am
    Permalink

    Bli, Bali sing mungkin lakar berubah,,, selama iraga krama Bali ingat dengan kawitan kita…
    Ajegang gumi Bali.

  • June 12, 2010 at 10:42 pm
    Permalink

    Astungkara. Semoga…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.