SEKS UNTUK PEJABAT

Category : tentang Opini

Sabtu, 29 September 2006, berita yang termuat dikoran lokal Bali cukup mengejutkan.
Bukan tentang cak 5 ribu orang, tapi lebih pada mantan orang nomor satu di Karangasem periode lalu, mulai terungkap menjadi salah satu tersangka dalam pelecehan ato pencabulan ABG yang menjadi atlet karate didaerah tersebut.
Bisa dilihat di situs web BaliPost juga NusaBali.Sumantara, mantan Bupati Karangasem periode 2000 – 2005, kini meringkuk di tahanan Polda Bali, setelah perbuatannya akhir tahun 2005 lalu, melanggar hukum negeri ini, untuk sebuah perbuatan yang sangat sangat buruk, memberikan contoh sekaligus membuka aib para pejabat yang haus akan seks saat sang Istri diluar jangkauan birahi atau malah sudah tidak mampu berfungsi dengan benar lagi ?

Anyway, dikalangan staf pemerintah, seks saat tugas keluar daerah pun sudah bukan hal asing lagi. Cerita dari para senior, yang memang tujuan nomor satu saat keluar daerah, baik akhir tahun untuk berlibur maupun saat menjalankan tugas adalah untuk mencicipi rumput tetangga yang kabarnya lebih nikmat dibanding istri sendiri. Bahkan ada pula yang nekat menawarkannya ke kamar-kamar hotel tempat mereka menginap.

Namun ada pula kalanya untuk satu kepentingan pribadi ato negara (katanya), demi melancarkan proposal yang ditujukan ke para pimpinan daerah, para investor melancarkan serangan seks ini pada para pejabat, emi mendapatkan apa yang diinginkan.

Kembali ke awal, Seks untuk pejabat, hari ini sudah mulai kelihatan taringnya. Namun apakah hukum akan mampu menyeret orang-orang yang terlibat dalam lingkup pelecehan ini ?
Agaknya hati ini meragukan.
Seperti halnya terdakwa korupsi yang baru kemarin divonis bebas, tak bersalah, karena mereka sudah melakukan admin yang sesuai hukum dan ketentuan berlaku, namun tetap saja negera dirugikan. So mau nuntut pengembalian kemana, Bung ?

Hukum kini bukanlah pedang yang mampu merobek hati para penjahat, yang menginjak-injak orang lain, untuk kepentingan mereka sendiri.
Namun hukum kini, sudah munafik ditengah amplop-amplop yang bersliweran, bahkan tekanan dari pihak-pihak tertentu yang membela penjahat tersebut.

Bukan hal asing, jika yang didakwa bersalah adalah pejabat, namun diluar gedung ada saja orang-orang yang mengaku pendukung mereka, siap untuk menghajar hakim juga jaksa jika keputusannya menyatakan bersalah bagi pejabat tersebut. Termasuk menghancurkan gedung pengadilan sampe rata dengan tanah.

Itu sudah bukan hal aneh lagi, dimana semua orang menuntut Demokrasi ditegakkan. Menuntut korupsi diberantas.
Bahkan menuntut keadilan untuk anak dibawah umur.
Kenyataannya?
Pejabat yang diharapkan bisa menjadi panutanpun gak ada beda dengan para penjahat tadi.
Gak heran ada pendapat bahwa beda antara PEJABAT dengan PENJAHAT hampir setipis kertas. Waah….

Post a comment

CommentLuv badge