Kulit Gelap Kaum Hawa

1

Category : tentang KeseHaRian

Solusinya mungkin bisa dibaca disini ?

Blog karya Mbak Pipit.
Walo gak ada tips yang diungkap, tapi menurutku, patut untuk dibaca.
Utamanya bagi cewek-cewek yang masih merasa malu memiliki kulit gelap, dan merasa kalo kulit putihlah yang pualing cuantik….

Ironi PNS : Gaji ke-13

2

Category : tentang Opini

Sebelum masuk lagi ke dunia normal, aku pengen mengungkap beberapa hal yang masih terlintas dibenak, mulai dari yang paling banyak diprotes masyarakat.
Gaji ke-13 bagi pegawai negeri.Sejak awal diwacanakan, pemberian gaji ke-13 sudah banyak menuai protes dai masyarakat terutama dari golongan menengah ke bawah, yang rata-rata merupakan karyawan swasta dan petani. Mereka semua ditambah golongan masyarakat yang bertipe pemikir, banyak mengungkapkan keberatan di koran maupun radio setempat. Dikaitkan dengan kondisi bangsa yang kini sudah makin terpuruk.

Lantas bagaimana pandanganku selaku salah satu penerima gaji ke-13 ?
Surprise.
Ini aku rasakan untuk yang kedua kalinya, setelah menjalani keseharian sebagai pegawai negeri sipil, setelah kurang lebih bisa dibilang sekitar 4 tahunan menjalani hidup sebagai karyawan swasta, yang memiliki gaji dari 300 ribu sampe satu jutaan.

Kini setelah semua berubah, setiap bulannya aku mendapatkan gaji sekitar satu setengah juta rupiah, yang lantas dipotong-potong untuk biaya makan, telepon rumah, pulsa ha pe, dan juga kewajiban sebagai keluarga baru, bersosialisasi ke masyarakat.
Bersih aku dapat setiap bulan mungkin cuma sepertiganya. Gak percaya kan ?

Nah, dari paparan aku tadi, bisa dikatakan penerimaan gaji ke-13 adalah satu anugerah walopun bisa dibilang gak ada yang bisa aku belikan apa-apa berhubung uang itu langung habis, untuk ngecat sisi kanan mobil yang tempo hari ku bikin cacat karena mengesek pagar rumah.
Tapi setidaknya gak menghabiskan rupiah demi rupiah yang aku kumpulkan sejak aku menikah.

Jujur saja, bagiku penerimaan uang sekecil apapun sangat berarti bagiku, yang saat ini bisa dibilang gak banyak bila dibandingkan dengan teman-teman seumuran dari jalur pendidikan yang sama denganku. Namun tentu akan jauh bila dibandingkan dengan golongan masyarakat secara umum, yang rata-rata bergaji dibawah satu juta.
Jelas ini menimbulkan kecemburuan sosial, ya gak ?

Tapi bagi kami, yang masih menjadi staf dan belum menjabat, tentu gaji ke-13 sangat sangat berarti karena disamping artinya bisa digunakan untuk tambahan tabungan, bisa juga untuk membeli susu bagi orang-orang yang memiliki anak yang masih kecil, dimana mungkin saja, pengeluaran untuk susu anak sangat besar prosentasenya dari gaji mereka. Juga untuk biaya pendidikan anak, yang pada bulan ini adalah sedang rame-ramenya mendaftar ke sekolah lanjutan.

Lantas bagaimana dengan pemberian gaji ke-13 bagi yang sudah menjabat ?
Aku yakin gaji ke-13 bagi mereka bukanlah satu anugerah lagi, karena tunjangan jabatan atau sampingan yang didapat saat memegang satu dua proyek, mungkin bisa jadi malah jauh lebih besar dari gaji yang diterima setiap bulannya. Jadi enurutku, mungkin saja mubazir, mungkin juga tidak.
Karena ada satu dua orang atasan yang loyal pada bawahannya, staf maupun sopirnya, dengan membagi gaji tersebut sebagai wujud terima kasih mereka selama menjabat.

Sekali lagi, bagi kami yang masih berstatus staf ataupun sopir, gaji ke-13 adalah satu anugerah yang kami terima tiap tahunnya dari pemerintah, ditengah korupnya para pejabat dan juga anggora DPR kita saat ini.

Bisa dibayangkan kalo gaji yang aku terima tadi kenapa bisa sepertiganya ? karena sebagian digunakan untuk membeli BBM mobilitasku ke proyek, ataupun rapat-rapat yang memang gak dapet amplop sama sekali.
Tapi yang penghasilannya disunat gak bisa bilang apa-apa, karena yang menentukan lagi-lagi anggota Dewan kita yang Terhormat.

Nah, sekarang, tentang pemberian gaji ke-13 bagi PNS, ya tergantung dari kacamata mana yang kita pakai untuk melihat….

Generasi Konsumtif

Category : tentang KeseHaRian

Berlomba-lomba untuk memiliki teknologi dan perkembangan terbaru jaman terkini. Dari keperluan rumah tangga yang makin dipermudah dan banyak jenisnya, keperluan transportasi yang beraneka ragam dan harganya pun makin turun karena daya beli masyarakat yang juga turun karena dollar yang makin naik, sampe keperluan kerja yang malah digunakan agar kliatan lebih bergaya, walopun mungkin gak semua fasilitas yang hadir didalamnya dipake, sekalipun fasilitas itu hadir untuk mendukung mereka yang memiliki bisnis dan rutinitas kesibukan berlebih, namun bagi anak sekolahan apa artinya dong, kalo bukan untuk sekedar gaya dan ingin dianggap up to date.So What ?
Yang penting punya uang lebih, usaha sendiri ato usaha ortu yang minta dibagi dikit ke anaknya, ato malah morotin pacar yang tajir n ortunya kaya ?
Mau digunakan untuk lifestyle diri sendiri, ngapain juga orang lain ngurusin ?

Tapi apa pantas kalo kita jadi lebih konsumtif dari sebelumnya, padahal disekitar kita, terjadi bencana yang meluluhlantakkan sebagian saudara kita nun jauh disana ?
Apa pantas kita membeli ini itu untuk tujuan gaya dan keren, namun jika kita masih mau melihat kebawah, masih banyak orang-orang yang benar-benar gak mampu untuk makan nasi seenak kita makan ?

Sisihkan sedikit anggaran dari keperluan konsumtif tadi, dan berikan pada yang benar-benar membutuhkan, yang fisiknya mungkin sudah benar-benar sulit untuk mendapatkan pekerjaan dan membeli makan kesehariannya.

Kita kini memang generasi Konsumtif, apa-apa yang baru keluar dan diproduksi, langsung dibeli, dan kalo keluar yang baru lagi, ya yang lama dijual dan beli yang baru lagi.

Titik Balik

Category : tentang DiRi SenDiri

Yeah, mungkin saja kekalutanku tempo hari memang terjadi karena tingkat kejenuhanku yang begitu tinggi, dan melewati hari dengan rutinitas yang sama.
Padahal disekitarku masih begitu banyak hal yang bisa ijalani dan dipelajari, namun karena waktu yang tersisa setiap hari kerja hanya sedikit di kala matahari masih bersinar, lebih banyak waktuku malah dipakai untuk tidur dan istirahat.Malam pun dilewatkan dengan sedikit mengerjakan sisa pe er agar esok ngantor gak terlalu capek mikir. Namun sekali lagi kepenatan pun memuncak dan akhirnya yang muncul jadi marah-marah deh. Sedikit aneh jadi emosi.

Tapi itu kemaren.
Hari ini, aku penuh harapan yang memenuhi pikiran, semoga bisa terwujud dengan baik.

Lupakan Kalut

2

Category : tentang KHayaLan

After nulis Blog, ga lama berselang, muncul ide tuk lupakan masa lalu, kesedihan juga rasa kalut yang terpendam dalam hati.
Kembali ke keseharian, yang penuh cinta dan warna.
Kembali pada jalur.Musik dan jalan-jalan.

Yeah, sekali-kali memanjakan diri sendiri, apa sih salahnya ?
Membeli keperluan diri, bersama Istri jalan-jalan keluar malam ke pasar Kreneng, mencari apa yang kira-kira belum dan ingin kita miliki.
Sekalian cari mp3 bajakan yang dijual cuma 7 ribuan sekeping, satu tindakan kejahatan heh ?

Tapi setidaknya apa yang dicari ternyata lebih dari apa yang diharapkan.
Sekeping hits Indonesia, sekepingnya lagi hits pop Bali, sekeping lainnya hits Anak-anak tempo dulu, persiapan kalo punya anak nanti, hehehe…
Sekeping lagi, dianjurkan untuk kuping yang sangat tebal, karena berisi album Sepultura yang baru, juga barisan Kontes Cuci Rambut, for Headbangers, dan sekeping yang kelima, isinya full album Nofx, yang sudah aku tunggu dari tahun 98 kemaren, karena di Bali sangat susah nyari semua albumnya mereka.

So ?
Malam harinya diisi dengan nyobain 5 keping mp3 asli bajakan, yang kesemuanya bikin aku puas, karena ngedapetin apa yang aku inginkan selama ini.
Tapi gak cuman itu kok.
Ditambah sekeping cd audio berisi 20 lagu pop Bali di tahun 90an, aku beli langsung dari studio rekamannya, Maharani Records. Tau siapa artisnya ?
Yong Sagita, Ketut Bimbo, Yan Bero, Yan Stereo.
Huehehe…

Come on, Men.
Lupakan kekalutan yang menumpuk, mencoba menikmati waktu dan manjakan diri sendiri.
Kenapa gak dari dulu ya ?

Lama ga nge-Blog…

Category : tentang DiRi SenDiri

Yeah, akhirnya kejenuhan mencapai titik puncaknya kali ini.
Banyak hal yang membuat aku jadi jarang dan males untuk nge-Blog, maen internet, ato cuman skedar baca mail.Kemarahan dan pertengkaran dalam hidup rumah tangga, akibat perbedaan dan perselisihan kecil diantara kami, namun syukur semua bisa diatasi dan kami kembali mesra walaupun ada sedikit yang berbeda dalam keseharian yang kami jalani.
Kesedihan dan kekecewaan karena apa yang kami harapkan, tak kunjung bisa terwujud, sedangkan orang yang menikah belakangan, saat ini sudah menimang buah hati, buah cinta mereka, tapi gak salah, karena mereka saat menikah, sang istri sudah mengandung 3 bulan lebih, sebaliknya kami bahkan belum melangkah.

Keterpurukan dan ga adanya kemajuan yang berarti dalam 3 bulan ini dalam hidup, ga ada pekerjaan sampingan lagi yang bisa buat nambah-nambah tabungan kami, juga rutinitas hidup yang berjalan datar dan gitu-gitu aja.
Pengen sih, skali-skali ngambil tantangan ato jalan baru yang mungkin bisa kami lewati dengan suasana yang lebih ceria, namun lagi-lagi terbentur akan masa lalu yang terus membekas dan membayang dalam pikiran.

Kalut, Bung.
Yeah, pikiranku kalut.
Kesibukan yang aku jalani di kantor, ditambah kesalahan-kesalahan yang aku lakukan, makin menambah beban yang harusnya bisa aku pikul sendirian, ato bareng Istri ?

Tuhan gak akan memberikan cobaan diluar kemampuan hamba-Nya.

Kadang aku pikir itu benar.
Dan aku pikir, sudah saatnya aku merubah jalan hidup yang datar menjadi lebih berwarna. Namun tetap saja yang namanya halangan selalu menghadang.
Ga ada lagi tawa, canda ataupun ceria.
Semua larut dalam keputus-asaan.

Mencoba melewati hari dengan menonton film-film lama, yang aku pinjam dari sepupu, mengingatkanku akan hal-hal yang selama ini aku lupakan.

Keseriusan Bapak

Category : tentang KeseHaRian

Tampaknya 3 bulan terakhir, Bapakku memang gak banyak kerjaan yang bisa diambil berkaitan dengan mata pencahariannya sehari-hari. Mungkin memang saatnya bapak memasuki masa Pensiun.
Selain itu, kesendiriannya sebagai Kakek dirumah mungkin menjadi sedikit beban pikiran, karena dua saudara laki-lakinya sudah meninggal tahun 1989 dan 2003 lalu.Tapi gak lantas Bapak lebih banyak berdiam diri saat waktu luangnya, Bapak malah mencoa menata areal kosong yang berada disekitar Merajan rumah. Mulai menanaminya dengan rumput, atau malah membongkar areal yang dulunya disemen, kemudian diisi dengan tanah biasa.

Hasil kesibukannya pun kini sudah mulai terlihat, namun baru sebatas batang kecil, yang beragam jenisnya. Dari cabai, bunga mitir, sampe bayam. Sedangkan rumput yang ia tanam, sudah mulai subur dibeberapa tempat.

Bagi Bapak, berkebun selain untuk mengembangkan hobinya saat remaja, juga untuk berolah raga, yang bagus untuk fisiknya di usia kepala 6.
Membawa ember penuh batu ditukar dengan ember penuh tanah, jongkok bangun sampe mencangkuli areal disela Peminggih yang ada.

Ah, semoga saja Tuhan masih berkenan memberikan umur panjang pada Bapak. Senang rasanya melihat Bapak saat ini.

Musim Panen Telah Usai

Category : tentang KeseHaRian

Panas matahari di siang yang terik gak memupuskan keinginanku untuk berjalan di silaunya limestone yang telah ditebarkan disepanjang jalan tembus, rencana peningkatan jalan dari Kubu Gunung ke LC Gatsu Utara, karena ini memang sudah tugas, Men.Di kanan kiri ruas jalan baru, terlihat sisa hamparan padi yang menguning namun sudah selesai di panen, menyisakan sedikit batang bawahnya saja. Mungkin sudah waktunya atau mungkin saja karena pengaruh pembangunan jalan baru yang memotong kurang lebih selebar 8 meter areal tersebut.

Pemandangan ini jelas berbeda dengan sawah yang ada didepan rumah Istri, Babakan – Canggu, yang pada hari itu sebagian padi yang ditanam sudah tinggi namun masih hijau, dan sebagian lagi baru saja ditanam dan dipupuk.

Petani kini mungkin tak lagi mengandalkan asap dapurnya dari penghasilan penjualan padi yang katanya rendah, namun ada sebagian yang aku ajak bincang-bincang, mulai menawarkan lahannya untuk dibangun ruko maupun rumah kos, berhubung jalan baru sudah setengah jadi dibangun.

Satu keuntungan bagi pemilik lahan yang letaknya dibagian pinggiran jalan.

Potret Pasar Baru ; Pagi Hari

Category : tentang KeseHaRian

Senin pagi sebelum ngantor, sempat mampir ke Pasar Baru di kawasan kereneng, guna membeli Canang, berhubung hari ini adalah Purnama (bulan penuh).
Ternyata yang namanya pasar tradisional dimana-mana sama saja, hanya ini pagi hari yang aku saksikan, pedagang yang ada boleh dikatakan lebih tertib, karena areal parkir sama sekali tidak dijamah untuk dijadikan areal dagangan mereka.
Namun jika malam hari, areal parkir didalam tembok pagar bisa dikatakan tak ada lagi, karena sampai pojokan sekalipun dipenuhi pedagang yang bermacam jenisnya.Hanya saja sampe hari ini, aku belum pernah merekam potret pasar yang ada didalam gedung berlantai. Mungkin lain kali bisa terwujud….

Potret Pasar Badung ; Aktifitas Pedagang

Category : tentang KeseHaRian

Memasuki areal parkir Pasar Badung, seolah memasuki jalinan benang kusut, dimana kanan kiri penuh oleh pedagang kaki lima sampai yang bermobil. Ironisnya, parkiran pun kini sudah mulai disesaki oleh aktifitas para pedagang tersebut, dan melarang kami untuk parkir didekat mereka.Merekam kegiatan para pedagang lewat kamera ha pe yang seadanya, sempat terhenyak akan kesombonganku selama ini. Terpana juga melihat mereka semua dengan beragam tingkah lakunya.

Seorang nenek tua renta yang menengadahkan tangannya pada setiap orang yang lewat, mengingatkanku pada sosok nenekku yang kini juga sudah mulai renta, namun memiliki nasib yang jauh lebih baik darinya. Tampak seorang anak kecil yang meminta uang pada Ibunya untuk isodorkan ke telapak tangan nenek yang yerbuka.
Teringat juga akan nasib Istri dari kakak Bapakku, yang kini hampir mengalami hal yang sama, hanya karena anak-anak mereka tak ada yang peduli pada tubuh Ibunya yang kini tinggal kulit membungkus tulang, tapi masih tetap berusaha mencari makan sendiri dengan berdagang di pasar.

Terlihat didepan Pura Melanting, sosok pria tua yang membawa gelas kosong bekas air mineral, mengais canang yang dihaturkan didepan candi, mungkin mencari uang kecil yang dihaturkan pedagang, guna makan malamnya nanti.

Di bawah tangga, 2 orang gadis duduk dengan cueknya, sedangkan disekelilingnya orang berlalu lalang, sambil mengigit sebatang jagung rebus sembari menunggu tawaran untuk membawa belanjaan Ibu-ibu yang berbelanja banyak dan berat.

Anak kecil yang bermain di kolam kecil asyik menunggu Ibunya yang berusaha secepat mungkin menyiapkan dagangannya, karena matahari sudah mulai condong kearah barat.

Seorang pria tinggi besar dan bertato disekujur tubuhnya, entah ia seorang preman ataukah hanya seorang suami yang menunggu dagangan sang istri agar tak diambil orang yang lalu lalang disampingnya.

Di trotoar pinggir parkiran, seorang pedagang korek api, yang mengacungkan tangannya mencoba menawarkan sekotak penuh korek pada orang-orang yang lewat didepannya.

Seorang nenek tua, namun terlihat masih kuat untuk berdagang, menyeruput kopinya disela kesibukannya menata dagangan sembari makan jajajan Bali.

Para pedagang lukisan, yang menggandongkannya dibahu, menawarkannya pada pedagang maupun orang-orang yang terlihat sedikit membawa uang lebih.

Pedagang bermobil lain lagi, mengambil jarak yang mungkin sudah ditentukan sebelumnya, diareal parkir yang kini udah penuh sesak oleh orang-orang dengan berbagai macam kepentingan.

Turis asing mancanegara, mencoba mendengarkan keterangan dari guide-nya, sembari makan buah-buahan yang mereka beli disepanjang jalur yang mereka lewati, dimana tinggi tubuh mereka terlihat sangat menjulang seperti halnya aku.

Semua itu sempat membuatku tertegun atas semua mimpi juga keangkuhanku menghadapi hari-hari yang penuh dengan persaingan juga gengsi orang-orang disekitarku.
Mungkin ini juga jalan dari-Nya agar aku tau kondisi mereka yang kini keadaannya jauh lebih terpinggirkan dan mungkin saja tak sebaik yang aku miliki sekarang.

Potret Pasar Badung ; Sungai Badung

Category : tentang KeseHaRian

Aliran air terbentang memanjang dari ujung pandang mata di Utara ke Selatan, kini sudah mulai bersih dan tertata rapi, berkat usaha dari Pemerintah Kota Denpasar, mengubah pemandangan sungai yang dulunya kotor dan berbau.Asrinya pinggiran sungai dipenuhi rumput, sempat membuat aku tersenyum, dan ingin menikmati lebih lama pandangan pada sungai ditengah hiruk pikuk pasar dan aktifitas pedagangnya.

Andai saja pemandangan ini terjadi di setiap ruas sungai yang ada di Bali, tentu bakalan Indah ya?