‘Bali Pulau Porno’ Mendukung RUU APP ???

Category : tentang KeseHaRian

Mungkin belum banyak teman yang tau, kalo tulisanku tempo hari, tentang ‘Bali Pulau Porno’, dicomot begitu saja tanpa permisi, walaupun mereka tetap mencantumkan darimana tulisan itu berasal.
Bagi yang belum tau, bisa liat disini.Jujur saja, tulisan itu terwujud saat gencarnya penolakan pindahnya kantor majalah Playboy ke Bali, dan sama sekali bukan dalam rangka mendukung ataupun menolak RUU APP.

Namun bukan salahku juga jika tulisan itu kemudian disalahartikan malah mendukung rancangan tadi, karena dari dalam hati ini, rasanya undang-undang pornografi bila disahkan, malah akan membuat negara ini tambah kacau.
Karena sebagian besar menentang, dan sebagian lainnya meminta disahkan.

Jika saja yang mengelola blog ruu app tadi meminta ijin dariku, bisa dikatakan, aku tidak akan mengijinkan tulisanku dimuat bila itu berkaitan dengan hal-hal yang berbau politis. Karena bagaimanapun tulisanku bukanlah pendapat banyak orang atau mewakili suara sebagian kalangan tertentu, tapi hanya uneg-uneg dalam hati saja.

Kembali berbicara tentang antipornografi tadi, bagiku itu terlontar hanya karena sebuah ketidakpuasan dari seorang raja dangdut di negeri kita, yang merasa terancam jika lahannya direbut oleh artis lain yang secara kebetulan mengambil lahan dengan cara yang kemudian dianggap tabu.

Aku yakin, saat pemunculan pertama Inul dengan Goyang Ngebor-nya, sebagian masyarakat Indonesia, pasti membeli satu dua keping vcd bajakannya, yang lantas membuat Inul jadi secantik sekarang.
Padahal sang raja sendiri, seperti yang kita tau, gak luput dari syahwatnya yang sampe memiliki istri lebih dari satu. Bahkan Angel yang terakhir beredar, hanya kawin siri dengan sang raja.

Kemunafikan Sang Raja ?

Lantas terlontarlah ide cemerlang sang raja, untuk membungkam pesaingnya yang memilih jalan Ngebor ketimbang banyak gaya yang sama dengan personil lainnya.

So, aku gak mendukung RUU APP disahkan, jika itu hanya untuk kepentingan kalangan tertentu saja, mempertahankan ladang uang atau bahkan membungkam budaya serta ke-Bhinekaan Indonesia.
Karena sebagian tarian Bali yang bertujuan Seni, memang memperlihatkan bagian tubuh tertentu seperti pundak yang disesuaikan dengan pakaian tari, atau dada seperti tari Kecak.

Namun jika isi daripada RUU APP memang benar hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang mempertunjukkan bagian tubuh secara porno-jorok lantas dibungkus dengan arti Seni, seperti Striptease di tempat-tempat Dugem, atau Joged Porno, tentu saja…
Aku mendukung RUU APP disahkan.
Karena budaya yang ada di Indonesia, bukanlah Seni yang diekploitasi dengan mengumbar nafsu.

Tapi apakah draft yang sudah disusun untuk RUU APP ini akan mau merangkum seperti dua hal diatas, atau tidak ?
Entahlah.

Yang jelas, aku enggan untuk ikut masuk ke bidang yang berbau Politis.
That’s it.

Post a comment

CommentLuv badge