Malangnya Sawah Negeri ini

1

Category : tentang KeseHaRian

Pulang survey Rabu kemarin, sempet mampir ke Rumah Jabatan Kadis di Jalan Kebo Iwa. Terpana sesaat ngliat sawah, yang dulunya jauh-jauh aku cari sampe ke Taman Ayun, Cuma ingin duduk diem di tengah hamparan hijau. Kata orang ‘sok puitis…’ Hehehe…

Terlintas bayangan, mau jadi apa sawah ini 10 tahun lagi ? eh 5 tahun lagi ? atau malah setahun lagi ? mungkin aja bakalan jadi bangunan yang katanya Semi Permanen, trus ijin membangun pun dikeluarkan, padahal menurut papan Peruntukan deket situ, ni areal merupakan Lahan Terbuka Hijau.

Lagi-lagi ndak bisa upload foto…. duuh

Pernah melintas di jalan menuju Legian Kuta, dari arah perempatan Kerobokan ? di jalur PetiTenget ?
Itu Lahan Terbuka Hijau… lihat papan Peruntukan Lahan di dekat perempatan lampu merah LP-PetiTenget.
Tapi kenyataannya ? kawasan ini malah penuh bangunan-bangunan yang bersifat semi permanen (dan itu diijinkan dibangun dikawasan tersebut), karena berbahan baku bambu dan kayu, bukan tembok bata, digunakan untuk ngejual kerajinan keramik atau tanaman hias… yang sayangnya… digunakan pula sebagai tempat tinggal yang bersangkutan. ealah…

Atau pernah melintas di kawasan Tanjung Bungkak menuju Sanur ? Areal sebelah timur jalan, setelah Kuburan di persimpangan pertigaan itu areal apa hayo ? Namun kenyataannya malah penuh pedagang tanaman hias yang juga tinggal dan tidur disitu…

Pernah maen ke pelosok Jalan Marlboro ‘Teuku Umar Barat ?
Lantaran keseringan dapet tugas nge-Tim bareng Dinas lain, sekedar untuk ngecek perijinan lahan yang akan dibangun Perumahan, berkesempatan pula melihat isinya. Sawah-sawah sudah berubah fungsi menjadi Ruko, Perumahan sampai rumah-rumah kumuh yang dipenuhi para pendatang.

Mungkin para petani sudah bosan menanam lahannya, karena bangsa ini lebih suka mendatangkan beras impor, daripada membeli beras lokal ?

Mungkin karena harga jual beras saat panen, tidak sebesar harga jual atau kontrak lahan pertahunnya, jika dipakai untuk fungsi lain ?

Jadi wajarlah, jika masih terpana demi melihat sawah terbentang luas dipenuhi padi yang menghijau.

Sampai kapan ya, sawah-sawah ini akan bertahan ?

Bapak adalah seorang Panutan bagi anak-anaknya

Category : tentang DiRi SenDiri

‘apalah arti seorang Penjahit dibandingkan Pegawai ?’
‘apalah arti tamatan smp dibandingkan sarjana ?’

Sampai kini masih saja terngiang kata-kata itu di telinga kami.
Diucapkan oleh seorang famili kepada Bapak, walaupun dengan nada bercanda berupa celetukan, namun benar-benar menusuk hati secara pribadi.

Ya, Bapak memang seorang Penjahit, tamatan SMP.
Ibu juga seorang Penjahit, tamatan SMA.
Tapi aku bangga pada mereka.

Kehidupan kami bisa lebih dari cukup untuk sehari-hari, hingga Bapak akhirnya bisa membeli mobil Kijang tahun 1988, sekedar untuk transportasi anak-anaknya nanti ataupun bersantai bersama keluarga. Dicapai kurang lebih tahun 1993-an, di umurnya yang ke 51, setengah abad.

Keberhasilan Bapak bukan cuma itu. Ketiga anaknya Sarjana.
Kakak pertamaku, cowok, Sarjana Mesin ITS, kini menjadi Dosen Mesin ITS, dan sedang menyelesaikan Doktor-nya di Kanada atas dana dari Bank Dunia.
Kakak kedua, cewek, Sarjana Hukum Unud, kini salah satu pegawai PDAM Kodya, dan setelah bekerja 5 tahun lebih, sudah bisa membeli mobil kecil sesuai impiannya, walaupun bekas.
Aku, bersyukur bisa selesaikan Sarjana Arsitektur Unud, kini salah satu pegawai negeri Pemkab Badung, ditempatkan di Dinas Bina Marga dan Pengairan, ketemu jodoh disana dan menikah, punya hobby baru, nge-Blog. Hehehe…

Kami juga kini sudah memiliki rumah tinggal sendiri, padahal saat Bapak menikah dulu, kamar tidurpun masih numpang, dan akhirnya diusir oleh kakaknya sendiri. Berkat bantuan orang tuanya dulu, Bapak diberi lahan kosong, yang kini sudah menjadi 2 biji rumah kecil, namun nyaman bagi kami.

Bapak Penjahit yang tamatan SMP, banyak mendapatkan pengalaman, sedari menjadi Ketua Pemuda Denpasar (yang katanya dulu kumpulan Preman) sampai menjadi pasukan pengawal (Tameng) setingkat Propinsi. Aktif di Organisasi politik PNI, hingga sekarang masih menjadi Sesepuh di Parpol PDI-P.
Pernah menolak dicalonkan menjadi Anggota DPR Propinsi, 2 kali malah (Tahun 1987 dan 1992), karena anak-anaknya masih membutuhkan biaya untuk sekolah (jaman itu DPR gak seenak jaman Reformasi) dan Penghasilannya sebagai Penjahit malah bisa lebih besar dibanding menjadi Anggota DPR.
Yang lucu, saat dicalonkan kembali setelah Reformasi bergulir, malah anak-anaknya yang ngelarang Bapak untuk jadi anggota DPR (syukur Bapak mau, kalo gak, mungkin bisa jadi Tersangka 22 APBD, hehehe…)

Aku bangga pada Bapak, di usianya yang kini sudah berkepala 6, walaupun diserang Diabetes tapi bersyukur ketahuan sejak awal, jadi sekarang Beliau masih sehat untuk bekerja, jalan pagi sampai menjalankan hobinya berkebun.

Anggrek, adalah satu hobi yang paling ia gemari sedari Remaja.
Kini selagi senggang, ia gemar menghias rumah kami dengan rumput, tanaman-tanaman hias yang seringkali dulunya dirusak ayam-ayam milik famili. Terakhir, ia mulai mencoba menanam Bayam dan Cabai di bidang tanah kosong yang kecil, disekitar tempat suci kami.

Bapak suka olah raga.
Dia menekuni Perisai Diri dan Judo. Seringkali ia bercerita tentang olah raga ini, apalagi saat bersua teman saat muda dulu, wah bisa panjang ceritanya… Tapi sayang, gak menurun ke anak-anaknya, kami bertiga sangat jarang berolah raga, hehehe…

Bapak juga sering bercerita saat kami rekreasi kesatu tempat, awalnya kami ragu untuk percaya, tapi setelah diajak berkunjung ke orang-orang yang dahulu ikut wara wiri dengan Bapak, baru deh di dalam hati ada rasa salut memiliki Bapak sepertinya.

Bapak orangnya keras, tegas, pendiam tapi sering bisa ramah pada orang yang sudah dikenalnya, bahkan anak-anak kecilpun menyukainya. Sikap ini keras akhirnya menurun pada kami anak-anaknya, terutama aku, bahkan oleh Istriku sendiripun, tapi gak lama kok, 1-2 hari udah bisa langsung senyum.

Ah, Bapak…. Aku bersyukur, selama aku menjalani kuliah, tamat dan hingga kini masih dapat menemaninya di rumah, tugas sebagai anak bungsu. Semoga ini akan berlangsung selama mungkin diberi waktu oleh-Nya.

PS: Syukur, Blog tumben mau nampilkan foto, duuuh….

Jodoh… atau…. ?

Category : Cinta

Percaya gak ma keajaiban ? atau malah kebetulan ?
Saat aku bertemu istriku di kantor Bina Marga, bertemu di ruangan yang sama, karena aku sebagai anak baru ditempatkan di ruangan dimana Istriku bertugas.Sedari awal, Ibu-ibu yang ada disana juga mulai menjodohkan kami, tapi kami berdua masih malu untuk mengakui bahwa saat itu kami berdua ‘falling in love at 1rst sight’.

Namun yang bikin sedikit terkejut, plat motor kami juga nyaris berjodoh. Aku 2584, Istriku 2585. He.. Kebetulan atau karena memang benar kami berjodoh ?

(Sayangnya Blog gak bisa meng-upload foto… ntah karena apa… jadi basi deh tulisanku tanpa ilustrasinya….)

Survey Astra Customer Care

Category : tentang KHayaLan

Bicara tentang bocornya tangki Tiger, jadi inget saat motor baru berusia 2 tahun, dapet tawaran wawancara dari Astra berkaitan dengan pengalaman selama make Tiger. Kalo gak salah di Jalan Cokroaminoto, tahun 2000.

Waktu itu pihak Astra sempet ga percaya, setelahdikatakan bahwa knalpot Tiger jebol setelah pemakaian 1 tahun lebih, karena dari survey yang mereka dapatkan diluar Denpasar juga begitu. Yang akhirnya, kepalang suaranya aneh, langsung dipermak abis-abisan ma bengkel knalpot depan rumah. Nah lo.

Akhirnya sebagai kompensasi waktu itu, my Tiger  dapet knalpot baru gres, langsung diganti tanpa bayar, plus uang cepek sebagai tanda terima kasih wawancara. Waaaahhh… kapan lagi ya ada yang kaya’gitu ???

Tangki Honda Tiger

6

Category : tentang KeseHaRian

Tangki Honda Tiger bocor.
1 orang teman, tangki Tigernya bocor setelah usia motor kurang dari 2 tahun, beli baru. Padahal mtornya punya strip stiker keluaran mutakhir, tapi sayang tangkinya bocor.
1 orang teman juga begitu, namun usia motornya sudah 4 tahun, beli baru, akhirnya setelah diakali dengan rinso atau sabun cair, bocornya bisa diatasi, tapi tetep aja bisa kambuh lagi.
1 orang saudara, di usia motor 4 tahun, juga mengalami hal sama, dan setelah 3 kali ditambal trus di las, akhirnya ntu motor dijual, padahal dulunya beli baru lho.

Aku sendiri, di usia motor yang sudah 8 tahun, masalah ini baru muncul, langsung tak ganti baru deh.
Sebab kalo di las, butuh biaya 200 ribuan, plus cat tangki dengan warna sama-silver- butuh biaya 200 ribuan juga.
Sementara kalo diganti baru Cuma 325 ribuan, plus ngejual tangki bocor laku 50 ribu, jadi ada selisih 125 ribu. Lumayan kan ?
Ganti baru kok malah lebih murah ya ?
Tapi hati hati deh kalo mo ganti baru, karena bisa aja itu stok lama yang mungkin aja tahun produksinya sama dengan umur motor kita, kan berabe ? sama juga bohong.Penyebabnya kata orang dan juga teknisi bengkel, karena air yang masuk saat nyuci motor pake kompresor, atau saat kehujanan. Sebab karet penahan yang ada di tutup tangki, gampang banget menyerap air atau malah bocor karena faktor usia. Sialnya lagi, ni karet dijual terpisah dengan tangki maupun penutup tangki.

Di tabloid motor, emang pernah diulas tentang kebocoran tangki tiger dan masalah karetnya, semoga saja pihak Honda mendengar keluhan konsumennya, berharap nantinya bisa dirilis motor Tiger yang lebih baik kualitasnya.
Tapi bisa saja ini trik penjualan, ya gak ?

Potret Pasar Tradisional Badung

Category : tentang KeseHaRian

Pasar Tradisional Badung yang letaknya di Gajah Mada turun temurun sedari aku kecil sampai kini tetap menjadi pasar tradisional yang ramai dan makin banyak dikunjungi masyarakat, dari yang berbelanja rutinitas, keperluan untuk rerainan atau hanya beli lauk yang sudah siap santap, tersebar di beberapa tempat.

(…..Beh, Plis dong…. fotonya ga mau di-upload…. So, bayangin aja sendiri, kondisi pasar yang sumpek, huehehe…)

Banyak hal yang bisa kita lihat saat ikut serta mengunjunginya. Berbagai macam aktifitas dilakukan oleh para pedagang untuk menarik konsumen, membeli barang dagangannya. Namun ada juga yang masih menyiapkan tempatnya berdagang, bahkan ada pula yang meringkuk di pojokan menghabiskan nasi bungkus dengan lahap.Yang namanya bau pasar, ya tergantung dari indra penciuman manusianya juga.
Bagi yang pedagang tentu sudah terbiasa dengan bau pasar, campur aduk antara bau amis ikan, bau wangi bunga atau bau sedap makanan maupun sate yang sedang dibakar.
Bagi konsumen-masyarakat yang sudah terbiasa masuk ke pelosok pasar, dimanapun ia tingal, tentu juga sudah terbiasa, dah sedikit hafal, pada lokasi-lokasi tertentu yang menyajikan bau amis, wangi ataupun sedap tadi.
Tetapi bagi masyarakat yang terbiasa masuk supermarket, dan merasa terpaksa masuk pasar tradisional, karena yang dicari tidak kunjung ada di supermaket, sudah barang tentu bau yang dicium, jauh dari yang diinginkan. Namun ini tak berlangsung selamanya, karena bau pasar juga kadang tercium di supermarket, terutama saat rerainan-hari suci bagi- umat Hindu, dimana sebagian besar yang dijual di pasar tradisional juga terdapat di supermarket. Becek dan kotor juga terjadi disini, apalagi kalo musim hujan, harus pandai-pandai melangkah diantara jubelan pedagang.

Bagi yang ingin merasakan nuansa kerakyatan yang ramah, karena setiap melewati satu pedagang dan lainnya selalu saja ada yang menawarkan dagangannya, tidak seperti supermarket yang self service sehingga cenderung tidak ada interaksi antara penjual dan pembeli.
Inilah yang membuat sebagian besar konsumen supermarket cenderung individual, penyakit jaman global. Datang, ambil, bayar, pulang. Berbeda dengan pasar tradisional, yang bisa saja interaksi tawar menawar antara penjual dan pembeli begitu hebat, hingga membuat puas salah satu atau kedua pihak. Ada juga interaksi keakraban antara para pedagang maupun dengan pembeli, yang telah lama tak bersua, saling menanyakan kabar.

Jadi, cobalah datang ke pasar tradisional terdekat, dimana anda tinggal, buang rasa gengsi yang selama ini melekat di tubuh anda dan rasakan perbedaan yang ada.

Kemacetan di Ruas Jalan Sulawesi

Category : tentang KeseHaRian

Sebelum mencapai Pasar Tradisional Badung, bagi yang datang dari arah timur, jalan terdekat untuk menuju lokasitentunya melewati Jalan Sulawesi dimana berkumpulnya para pedagang yang berjualan meubel dan kain, disepanjang jalan. Ada pemandangan menarik sekaligus menjengkelkan bagi yang melintas disitu dan mengendarai mobil, karena jalan sepanjang Sulawesi dari awal sampai akhir, kemacetan terjadi tak terhindarkan.

(….beh, fotonya gak muncul, ga bisa di-upload…. kenapa nih ? )

Yang paling awal menjadi tertuduh, tentu saja penataan parkir di sepanjang jalan Sulawesi. Dobel.

Jalan Sulawesi sudah ditempatkan larangan parkir bagi mobil, sehingga yang parkir disana tentu saja berderet sepeda motor berbagai jenis. Namun tetap saja ada mobil yang membandel. Deretan pedagang bermobil berjenis pick up, seakan antre menunggu giliran masuk ke areal pasar, dan menyisakan satu ruang memanjang yang hanya cukup dilewati satu buah mobil, sementara sepeda motor yang juga ingin melintas, harus pandai-pandai berzigzag menyelinap agar bisa cepat sampai di ujung jalan.

Ironisnya, diantara antrean tersebut, ada juga mobil-mobil pribadi yang diparkir, tanpa ada sopir-pengemudinya yang angkring disitu. Bisa saja milik pedagang yang ada disepanjang jalan atau familinya, bisa juga pembeli, yang kesemua kemungkinan pemilik tadi, dapet SIM dari nembak, minta tolong biro jasa, tanpa tau aturan lalu lintas dan parkir, barangkali. Tingal ngasi duit, trus foto, beres. Gak peduli dengan aturan-aturan yang ada.

Namun sekali lagi, pemandangan ini tak hanya terjadi di Jalan Sulawesi kok.
Jalan Gajah Mada juga begitu. Kemacetan tercipta dimana-mana, penyakit Kota Denpasar, kalau satu saja ruas jalan protokol ditutup atau terjadi kemacetan, artinya ruas jalan lainnya ya harus siap-siap juga dilanda macet.
Beh…

Wayang CenkBlonk ilhami DaLang BaLi

1

Category : tentang KeseHaRian

Wayang, kesenian tradisional dahulu mungkin akan membosankan jika ditonton remaja. Sedari aku kecil, sangat jarang pertunjukan wayang bisa menyedot ratusan penonton yang antusias. Paling hanya Wayang Lemah (Wayang yang dipentaskan siang hari), sedikit menghias upacara-upacara kecil, yang penontonnya mungkin lebih tertarik pada gadis-gadis yang bersliweran lewat membawa nampan berisi kopi dan camilan.Namun kini Wayang di Bali, telah mulai bangkit dengan begitu banyak kreasinya. Menyedot perhatian penonton tua muda hingga anak kecilpun antusias menanti, kapan pertunjukan akan diadakan. Bahkan tak jarang, tampa pamflet yang ditempelpun, informasi begitu cepat menyebar dari kuping ke kuping masyarakat yang memang menantikan hiburan ditengah krisis Indonesia berkepanjangan.

Cenk Blonk Belayu, pertama kali aku kenal dari seorang teman kerja, Ramaita, yang iseng membeli vcd original 2 keping, kalo gak salah tahun 2002, dan tak bosan-bosan kami tonton saat istirahat, maupun hanya didengar suaranya saja saat asyik bekerja, lantas mulai ditularkan pada sanak sodara hingga dibuatkan kopiannya dan dikirim ke Kanada, untuk kakak yang bersekolah disana.

Keluar dari pakem yang ada, menciptakan 2 penokohan baru, kalo tidak salah Nang Ncenk dan nang Eblonk, yang selalu keluar tampil menjelang berakhirnya cerita.
Hingga kini sudah 3 vcd originalnya yang beredar plus 1 vcd bajakan benar-benar menciptakan hiburan yang baru di mata masyarakat, yang mulai sering dipentaskan saat upacara-upacara besar di Pura maupun tempat-tempat pertunjukan.

Tidak salah jika kini banyak dalang-dalang yang latah, ikut-ikutan berusaha untuk eksis, seperti Wayang Joblar, namun bagiku pribadi, sangat disayangkan bahwa baik cerita maupun banyolan yang dibawakan sangat vulgar dan kasar, bahkan terkesan memaksa.
Tidak heran kalau para peniru ini tidak berumur panjang.

Ceng Blonk sampai hari ini, bagi kami pribadi ilingkungan rumah, makin bertambah saja penggemarnya. Anak-anak kecil keponakan kami, bahkan mulai merayu Bapak maupun Kakek mereka untuk dibuatkan Wayang dari karton maupun kertas manila, untuk kemudian berandai menjadi Dalang layaknya Cenk Blonk Belayu.

Yang lebih membuatku tersenyum, walaupun dalam hati, Istriku bahkan mulai ikut menyukai walau hanya baru sebatas mendengarkan banyolannya saja, yang iseng-iseng aku potong dan kumpulkan, hanya pada bagian lawakannya saja ‘Sangut Delem dan tokoh Cenk Blonk.
Ini terjadi, lantaran Om dari Istri baru sebulan ini resmi menjadi Dalang baru didesanya.

Semoga saja, apa yang telah dirintis oleh Cenk Blonk, benar-benar dapat membangkitkan Dalang-dalang baru yang tentunya diharapkan tanpa menjadi penjiplak, apa yang telah dilakukan Cenk Blonk sebelumnya.