Bapak adalah seorang Panutan bagi anak-anaknya

Category : tentang DiRi SenDiri

‘apalah arti seorang Penjahit dibandingkan Pegawai ?’
‘apalah arti tamatan smp dibandingkan sarjana ?’

Sampai kini masih saja terngiang kata-kata itu di telinga kami.
Diucapkan oleh seorang famili kepada Bapak, walaupun dengan nada bercanda berupa celetukan, namun benar-benar menusuk hati secara pribadi.

Ya, Bapak memang seorang Penjahit, tamatan SMP.
Ibu juga seorang Penjahit, tamatan SMA.
Tapi aku bangga pada mereka.

Kehidupan kami bisa lebih dari cukup untuk sehari-hari, hingga Bapak akhirnya bisa membeli mobil Kijang tahun 1988, sekedar untuk transportasi anak-anaknya nanti ataupun bersantai bersama keluarga. Dicapai kurang lebih tahun 1993-an, di umurnya yang ke 51, setengah abad.

Keberhasilan Bapak bukan cuma itu. Ketiga anaknya Sarjana.
Kakak pertamaku, cowok, Sarjana Mesin ITS, kini menjadi Dosen Mesin ITS, dan sedang menyelesaikan Doktor-nya di Kanada atas dana dari Bank Dunia.
Kakak kedua, cewek, Sarjana Hukum Unud, kini salah satu pegawai PDAM Kodya, dan setelah bekerja 5 tahun lebih, sudah bisa membeli mobil kecil sesuai impiannya, walaupun bekas.
Aku, bersyukur bisa selesaikan Sarjana Arsitektur Unud, kini salah satu pegawai negeri Pemkab Badung, ditempatkan di Dinas Bina Marga dan Pengairan, ketemu jodoh disana dan menikah, punya hobby baru, nge-Blog. Hehehe…

Kami juga kini sudah memiliki rumah tinggal sendiri, padahal saat Bapak menikah dulu, kamar tidurpun masih numpang, dan akhirnya diusir oleh kakaknya sendiri. Berkat bantuan orang tuanya dulu, Bapak diberi lahan kosong, yang kini sudah menjadi 2 biji rumah kecil, namun nyaman bagi kami.

Bapak Penjahit yang tamatan SMP, banyak mendapatkan pengalaman, sedari menjadi Ketua Pemuda Denpasar (yang katanya dulu kumpulan Preman) sampai menjadi pasukan pengawal (Tameng) setingkat Propinsi. Aktif di Organisasi politik PNI, hingga sekarang masih menjadi Sesepuh di Parpol PDI-P.
Pernah menolak dicalonkan menjadi Anggota DPR Propinsi, 2 kali malah (Tahun 1987 dan 1992), karena anak-anaknya masih membutuhkan biaya untuk sekolah (jaman itu DPR gak seenak jaman Reformasi) dan Penghasilannya sebagai Penjahit malah bisa lebih besar dibanding menjadi Anggota DPR.
Yang lucu, saat dicalonkan kembali setelah Reformasi bergulir, malah anak-anaknya yang ngelarang Bapak untuk jadi anggota DPR (syukur Bapak mau, kalo gak, mungkin bisa jadi Tersangka 22 APBD, hehehe…)

Aku bangga pada Bapak, di usianya yang kini sudah berkepala 6, walaupun diserang Diabetes tapi bersyukur ketahuan sejak awal, jadi sekarang Beliau masih sehat untuk bekerja, jalan pagi sampai menjalankan hobinya berkebun.

Anggrek, adalah satu hobi yang paling ia gemari sedari Remaja.
Kini selagi senggang, ia gemar menghias rumah kami dengan rumput, tanaman-tanaman hias yang seringkali dulunya dirusak ayam-ayam milik famili. Terakhir, ia mulai mencoba menanam Bayam dan Cabai di bidang tanah kosong yang kecil, disekitar tempat suci kami.

Bapak suka olah raga.
Dia menekuni Perisai Diri dan Judo. Seringkali ia bercerita tentang olah raga ini, apalagi saat bersua teman saat muda dulu, wah bisa panjang ceritanya… Tapi sayang, gak menurun ke anak-anaknya, kami bertiga sangat jarang berolah raga, hehehe…

Bapak juga sering bercerita saat kami rekreasi kesatu tempat, awalnya kami ragu untuk percaya, tapi setelah diajak berkunjung ke orang-orang yang dahulu ikut wara wiri dengan Bapak, baru deh di dalam hati ada rasa salut memiliki Bapak sepertinya.

Bapak orangnya keras, tegas, pendiam tapi sering bisa ramah pada orang yang sudah dikenalnya, bahkan anak-anak kecilpun menyukainya. Sikap ini keras akhirnya menurun pada kami anak-anaknya, terutama aku, bahkan oleh Istriku sendiripun, tapi gak lama kok, 1-2 hari udah bisa langsung senyum.

Ah, Bapak…. Aku bersyukur, selama aku menjalani kuliah, tamat dan hingga kini masih dapat menemaninya di rumah, tugas sebagai anak bungsu. Semoga ini akan berlangsung selama mungkin diberi waktu oleh-Nya.

PS: Syukur, Blog tumben mau nampilkan foto, duuuh….

Post a comment

CommentLuv badge