Potret Pasar Tradisional Badung

Category : tentang KeseHaRian

Pasar Tradisional Badung yang letaknya di Gajah Mada turun temurun sedari aku kecil sampai kini tetap menjadi pasar tradisional yang ramai dan makin banyak dikunjungi masyarakat, dari yang berbelanja rutinitas, keperluan untuk rerainan atau hanya beli lauk yang sudah siap santap, tersebar di beberapa tempat.

(…..Beh, Plis dong…. fotonya ga mau di-upload…. So, bayangin aja sendiri, kondisi pasar yang sumpek, huehehe…)

Banyak hal yang bisa kita lihat saat ikut serta mengunjunginya. Berbagai macam aktifitas dilakukan oleh para pedagang untuk menarik konsumen, membeli barang dagangannya. Namun ada juga yang masih menyiapkan tempatnya berdagang, bahkan ada pula yang meringkuk di pojokan menghabiskan nasi bungkus dengan lahap.Yang namanya bau pasar, ya tergantung dari indra penciuman manusianya juga.
Bagi yang pedagang tentu sudah terbiasa dengan bau pasar, campur aduk antara bau amis ikan, bau wangi bunga atau bau sedap makanan maupun sate yang sedang dibakar.
Bagi konsumen-masyarakat yang sudah terbiasa masuk ke pelosok pasar, dimanapun ia tingal, tentu juga sudah terbiasa, dah sedikit hafal, pada lokasi-lokasi tertentu yang menyajikan bau amis, wangi ataupun sedap tadi.
Tetapi bagi masyarakat yang terbiasa masuk supermarket, dan merasa terpaksa masuk pasar tradisional, karena yang dicari tidak kunjung ada di supermaket, sudah barang tentu bau yang dicium, jauh dari yang diinginkan. Namun ini tak berlangsung selamanya, karena bau pasar juga kadang tercium di supermarket, terutama saat rerainan-hari suci bagi- umat Hindu, dimana sebagian besar yang dijual di pasar tradisional juga terdapat di supermarket. Becek dan kotor juga terjadi disini, apalagi kalo musim hujan, harus pandai-pandai melangkah diantara jubelan pedagang.

Bagi yang ingin merasakan nuansa kerakyatan yang ramah, karena setiap melewati satu pedagang dan lainnya selalu saja ada yang menawarkan dagangannya, tidak seperti supermarket yang self service sehingga cenderung tidak ada interaksi antara penjual dan pembeli.
Inilah yang membuat sebagian besar konsumen supermarket cenderung individual, penyakit jaman global. Datang, ambil, bayar, pulang. Berbeda dengan pasar tradisional, yang bisa saja interaksi tawar menawar antara penjual dan pembeli begitu hebat, hingga membuat puas salah satu atau kedua pihak. Ada juga interaksi keakraban antara para pedagang maupun dengan pembeli, yang telah lama tak bersua, saling menanyakan kabar.

Jadi, cobalah datang ke pasar tradisional terdekat, dimana anda tinggal, buang rasa gengsi yang selama ini melekat di tubuh anda dan rasakan perbedaan yang ada.

Post a comment

CommentLuv badge