Wayang CenkBlonk ilhami DaLang BaLi

1

Category : tentang KeseHaRian

Wayang, kesenian tradisional dahulu mungkin akan membosankan jika ditonton remaja. Sedari aku kecil, sangat jarang pertunjukan wayang bisa menyedot ratusan penonton yang antusias. Paling hanya Wayang Lemah (Wayang yang dipentaskan siang hari), sedikit menghias upacara-upacara kecil, yang penontonnya mungkin lebih tertarik pada gadis-gadis yang bersliweran lewat membawa nampan berisi kopi dan camilan.Namun kini Wayang di Bali, telah mulai bangkit dengan begitu banyak kreasinya. Menyedot perhatian penonton tua muda hingga anak kecilpun antusias menanti, kapan pertunjukan akan diadakan. Bahkan tak jarang, tampa pamflet yang ditempelpun, informasi begitu cepat menyebar dari kuping ke kuping masyarakat yang memang menantikan hiburan ditengah krisis Indonesia berkepanjangan.

Cenk Blonk Belayu, pertama kali aku kenal dari seorang teman kerja, Ramaita, yang iseng membeli vcd original 2 keping, kalo gak salah tahun 2002, dan tak bosan-bosan kami tonton saat istirahat, maupun hanya didengar suaranya saja saat asyik bekerja, lantas mulai ditularkan pada sanak sodara hingga dibuatkan kopiannya dan dikirim ke Kanada, untuk kakak yang bersekolah disana.

Keluar dari pakem yang ada, menciptakan 2 penokohan baru, kalo tidak salah Nang Ncenk dan nang Eblonk, yang selalu keluar tampil menjelang berakhirnya cerita.
Hingga kini sudah 3 vcd originalnya yang beredar plus 1 vcd bajakan benar-benar menciptakan hiburan yang baru di mata masyarakat, yang mulai sering dipentaskan saat upacara-upacara besar di Pura maupun tempat-tempat pertunjukan.

Tidak salah jika kini banyak dalang-dalang yang latah, ikut-ikutan berusaha untuk eksis, seperti Wayang Joblar, namun bagiku pribadi, sangat disayangkan bahwa baik cerita maupun banyolan yang dibawakan sangat vulgar dan kasar, bahkan terkesan memaksa.
Tidak heran kalau para peniru ini tidak berumur panjang.

Ceng Blonk sampai hari ini, bagi kami pribadi ilingkungan rumah, makin bertambah saja penggemarnya. Anak-anak kecil keponakan kami, bahkan mulai merayu Bapak maupun Kakek mereka untuk dibuatkan Wayang dari karton maupun kertas manila, untuk kemudian berandai menjadi Dalang layaknya Cenk Blonk Belayu.

Yang lebih membuatku tersenyum, walaupun dalam hati, Istriku bahkan mulai ikut menyukai walau hanya baru sebatas mendengarkan banyolannya saja, yang iseng-iseng aku potong dan kumpulkan, hanya pada bagian lawakannya saja ‘Sangut Delem dan tokoh Cenk Blonk.
Ini terjadi, lantaran Om dari Istri baru sebulan ini resmi menjadi Dalang baru didesanya.

Semoga saja, apa yang telah dirintis oleh Cenk Blonk, benar-benar dapat membangkitkan Dalang-dalang baru yang tentunya diharapkan tanpa menjadi penjiplak, apa yang telah dilakukan Cenk Blonk sebelumnya.

Comments (1)

ayas, didik harianto, mahasiswa sastra indonesia universitas negeri malang (um), sedang menempuh mata kuliah kajian sastra pertunjukan. ayas sedang mencari data-data tentang wayang cenk blonk. mohon bantuannya. terima kasih.

didikharianto/0813 3467 3911

[Reply]

Post a comment

CommentLuv badge